Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19| Bersamamu
Ara menatap Jason masih setia di dalam ruangannya, padahal jam istirahat sudah selesai sepuluh menit yang lalu.
Jason duduk di sofa dan fokus dengan laptop yang di bawanya, Ara juga mendengar beberapa kali decakan kesal dan helaan napas keluar dari mulut suaminya. Ia juga dapat melihat wajah serius Jason yang begitu tampan saat dalam keadaan sangat serius.
“Kau tidak kembali ke kantor?” Ara membuka suaranya, setelah cukup lama ia menikmati pemandangan di hadapannya itu.
“Tidak,” jawab Jason yang membuat Ara bingung.
“Aku akan menemanimu di sini, dokter bilang kau bisa pulang hari ini. Tapi, jamnya masih belum bisa di tentukan. Jadi, aku membawa pekerjaanku ke sini agar bisa menemanimu, sekaligus nanti kita pulang ke rumah kita,” lanjut Jason dengan senyuman lembut.
Ara merasa senang mendengarnya, ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
“Terima kasih, karena sudah menemaniku,” ucap Ara dengan sangat tulus.
Jason bangkit dari duduknya dan menghampiri Ara, ia duduk di sebelah sang istri dan tangannya mengusap lembut pipi Ara.
“Kau tidak perlu berterima kasih sayang, ini adalah tugasku sebagai suamimu,” ujar lembut Jason di depan wajah Ara, Jungkook menatap bola mata Ara yang lebih bersinar dari sebelumnya.
Jason erlalu larut dalam tatapan lembut itu, sehingga ia mulai tenggelam.
“Matamu sangat indah,” gumam Jason membuat Ara terkejut, kalimat yang sama dengan yang di ucapkan seseorang di masa lalu Ara.
Membuat hati Ara mulai merasa sesak saat bayang-bayangnya masih tersimpan di memorinya. Tanpa sadar air mata Ara kembali jatuh, tanpa ia memintanya. Selalu saja, setiap mengingatnya air matanya tidak bisa di simpan.
“Kenapa kau menangis? Apa aku sudah menyakitimu?” tanya lembut Jason menatap Ara dengan wajah khawatirnya, Ara menggelengkan kepalanya.
“Tidak, aku hanya terharu saja,” bohong Ara dan Jason menariknya ke dalam pelukan hangat yang bisa membuat jiwa Ara kembali tenang.
Dalam sekejap, tangisannya berhenti dan Ara memeluk erat Jason seakan tak mengizinkan lelaki itu untuk melepaskan pelukannya itu.
Tangan Jason mengusap pelan punggung Ara dan hal itu membuat Ara merasa lebih baik.
“Apakah aku mengganggu kalian?” pertanyaan dari dokter yang merawat Ara membuat mereka melepaskan pelukannya.
Ara menundukkan kepalanya, karena malu. Sedangkan Jason hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mereka sama-sama canggung. Dokter tersebut menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anak muda di hadapannya itu.
“Kau sudah di perbolehkan pulang dan perawat akan melepas infusmu. Tapi, ingat jangan lupa untuk kembali ke sini setiap hari senin untuk melakukan check up!” jelas sang dokter.
“Baik, dok. Terima kasih,” balas Ara dengan senyum bahagianya.
...***...
“Kau ingin mampir ke suatu tempat?” tanya Jason yang sedang mengemudikan mobilnya, Ara yang di duduk di sebelahnya menoleh sekilas kepadanya.
Satu tangan Ara di genggam erat oleh Jason dan hal itu sangat berhasil membuat jantungnya berdebar lebih kencang.
“Aku ingin langsung pulang saja,” jawab Ara.
“Baik, tuan putri!” seru Jason dengan suara yang terdengar imut dan membuat Ara tertawa kecil.
Ara memperhatikan wajah Jason yang sedang fokus menyetir dari samping, ia sangat terpesona dengan ketampanan suaminya itu. Pantas saja, begitu banyak wanita yang menginginkan Jason, tapi ia sangat beruntung memiliki Jason sebagai suaminya, apalagi sekarang Jason sudah mulai berubah.
“Aku tahu aku tampan, tapi tidak perlu sampai begitu kau melihatku,” kekeh Jason membuat Ara mengalihkan pandangannya ke arah jalanan, ia sangat malu saat ketahuan oleh lelaki itu.
Jason melihat ke arah Ara yang sedang malu-malu itu, ia membawa tangan Ara ke arah bibirnya untuk di kecup.
Ara terkejut saat merasakan tangannya di kecup oleh Jason, reflek ia mengalihkan pandangannya dan saat berbalik wajah Jason sudah di depan wajahnya, sangat dekat.
“Istriku ini sangat menggemaskan,” ucap Jason dengan mencuri satu kecupan di bibir Ara sebelum ia kembali menjalankan mobilnya setelah lampu lalu lintas berubah warna.
Wajah Ara sangat merah dan ia tidak berani menunjukkannya kepada Jason. Ara terus menunduk.
“Kita sudah sampai,” ucap Jason di telinga Ara.
Ara melihat ke depan dan ia baru tersadar kalau sudah berada di pekarang rumah. Ara segera turun dari mobil setelah Jason melepaskan tangannya, ia melangkah cepat memasuki rumah meninggalkan sang suami yang terus memanggilnya.
“Ara!” panggil Jason yang masih di abaikan oleh Ara, ia terus melangkah ke arah kamarnya.
Tapi, tangannya langsung di cekal oleh Jason dan Jason menariknya pelan sehingga Ara jatuh ke dalam pelukannya. Ara mendongakkan kepalanya menatap sang suami yang lebih tinggi darinya.
“Kau mau ke mana?” tanyanya yang membuat Ara bingung.
“Ah—aku ingin istirahat di kamarku,” jawab Ara.
“Kamarmu bukan di situ!” kata Jason yang membuat Ara mengernyit bingung, kalau kamarnya bukan di situ terus di mana lagi?
Di sini hanya ada dua kamar, karena satu kamar di dekat tangga di gunakan sebagai tempat penyimpanan barang dan satu kamar lagi yang berada tepat di sebelah kamar Jason di gunakan sebagai ruang olah raga oleh lelaki itu.
“Sini akan ku tunjukkan di mana kamarmu,” Jason menarik lembut tangan Ara, mereka melangkah ke arah tangga dan mulai menaiki satu-persatu anak tangga.
Ara masih bingung dengan maksud Jason membawanya ke atas. Tidak mungkin ia tidur di kamar yang sudah di jadikan sebagai ruangan olah raga kan?
“Kita sudah sampai,” ujar Jason yang berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
“Maksudmu?” tanya Ara yang masih tidak mengerti perkataan suaminya.
“Mulai sekarang kau akan tidur di kamarku,” jawab Jason, membuat Ara melebarkan matanya.
“Tapi, bukannya kau tidak in—”
Jason langsung memotong kalimat Ara dan tersenyum. “Itu dulu, sekarang aku sudah berubah dan aku ingin kita tidur sekamar seperti pasangan suami-istri semestinya.”
Jason membuka pintu kamarnya dan menarik Ara untuk masuk ke dalam. Ara yang memang belum pernah memasuki kamar milik Jason, hanya merasa sedikit asing.
“Kau bisa merubahnya semaumu, aku tidak akan marah. Karena, kamar ini juga milikmu,” ujar Jason saat Ara melihat isi kamarnya yang tidak beda jauh dari kamar di rumah tuan Jeon.
“Apa boleh?” tanya Ara dengan mata berbinar, Jasin menganggukan kepalanya.
“Tentu, di kamar ini kita akan menghabiskan waktu bersama, kamar ini juga harus terlihat nyaman untukmu dan juga aku. Jadi, terserah kau mau merubahnya seperti apa! Aku akan menerimanya, karena aku ingin tahu selera yang dimiliki oleh istriku ini,” jelas Jason ambil memeluk Ara dari belakang, wanita itu tersenyum senang mendengarnya.
Bersambung...