NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

BAB 18

DI BALIK LOGIKA, DI ATAS SAJADAH

​Hujan rintik-rintik menyapu kaca jendela kantor lantai 47, menciptakan tirai air yang memburamkan kerlip lampu Jakarta. Di dalam ruangan, lampu utama telah dipadamkan, hanya menyisakan pendar lampu meja kerja yang remang dan cahaya dari monitor yang menampilkan grafik struktural.

​Adrian duduk di sofa kulitnya, sementara Aisha berdiri di dekat jendela, menatap ke kejauhan. Suasana setelah penolakan hadiah jam tangan kemarin menciptakan jarak baru di antara mereka—jarak yang bukan lagi karena amarah, melainkan karena sebuah rasa hormat yang sunyi.

​"Aisha," suara Adrian memecah keheningan, terdengar lebih berat dan kurang percaya diri dibandingkan biasanya. "Aku ingin bertanya sesuatu. Dan kali ini, tolong jangan jawab dengan bahasa arsitektur atau laporan kemajuan proyek."

​Aisha berbalik perlahan. "Apa itu, Pak Adrian?"

​Adrian menghela napas, matanya menatap kosong ke arah gelas wiski yang sudah lama tidak ia sentuh. "Mengapa kau melakukannya? Mengapa kau begitu taat? Segala batasan ini... cadarmu, sholatmu yang tak pernah putus, caramu menolak kemewahan yang diinginkan semua wanita... apa yang sebenarnya kau cari? Apakah kau tidak merasa lelah hidup dalam penjara aturan yang diciptakan oleh sesuatu yang bahkan tidak bisa kau buktikan keberadaannya?"

​Aisha terdiam sejenak. Ia berjalan mendekat, namun tetap menjaga jarak tiga meter yang menjadi batas suci mereka. Ia duduk di kursi kayu di seberang meja Adrian.

​"Pak Adrian, Anda melihat ini sebagai penjara karena Anda melihatnya dari luar," ucap Aisha lembut, suaranya seperti aliran air di tengah gurun. "Bagi saya, ketaatan ini adalah kemerdekaan yang sesungguhnya."

​"Kemerdekaan?" Adrian tertawa kecil, sebuah tawa yang getir. "Bagaimana mungkin membatasi diri dari kesenangan dunia disebut kemerdekaan? Aku punya segalanya, Aisha. Aku bisa pergi ke mana saja, melakukan apa saja, memiliki siapa saja. Itulah kemerdekaan."

​"Apakah Anda benar-benar bebas, Pak?" tanya Aisha, matanya menatap tajam ke arah Adrian. "Anda budak dari opini publik. Anda budak dari angka-angka di bursa saham. Anda budak dari keinginan untuk terus-menerus membuktikan bahwa Anda adalah yang terbaik. Jika besok Aratama Group runtuh, apakah Anda masih akan merasa bebas?"

​Adrian terbungkam. Pertanyaan itu menghujam tepat ke titik paling rapuh dalam jiwanya.

​"Saya taat," lanjut Aisha, "karena saya telah memilih untuk hanya menjadi hamba dari satu entitas. Dengan bersujud kepada Allah, saya tidak perlu lagi membungkuk kepada manusia. Saya tidak perlu memakai pakaian terbuka hanya untuk mendapatkan validasi kecantikan dari pria. Saya tidak perlu mengejar kekayaan hanya untuk merasa berharga. Saya sudah selesai dengan dunia, Pak, sebelum dunia selesai dengan saya."

​Adrian memajukan duduknya, tangannya bertumpu pada lutut. "Tapi bagaimana kau bisa yakin Dia ada? Aku percaya pada gravitasi karena aku jatuh. Aku percaya pada beton karena ia menopang berat. Tapi Tuhan? Itu hanya konstruksi sosial untuk menenangkan orang-orang yang takut akan kematian."

​Aisha tersenyum di balik cadarnya. "Anda membangun Green Oasis dengan presisi yang luar biasa, bukan? Anda menghitung setiap milimeter pemuaian baja, setiap derajat kemiringan tanah. Mengapa?"

​"Karena tanpa presisi, semuanya akan runtuh. Alam semesta bekerja dengan hukum fisika yang pasti," jawab Adrian mantap.

​"Tepat," sahut Aisha. "Lalu, bagaimana mungkin Anda percaya bahwa gedung ini butuh arsitek untuk berdiri, tapi Anda percaya bahwa alam semesta yang jutaan kali lebih kompleks ini—dengan orbit planet yang tak pernah melesat dan detak jantung manusia yang otomatis—terjadi hanya karena kebetulan tanpa ada Desainer Agung di baliknya?"

​Aisha berdiri, berjalan mendekati jendela lagi, menunjuk ke arah bintang-bintang yang sesekali terlihat di balik awan.

​"Logika Anda mengatakan bahwa setiap desain butuh pendesain. Tapi logika Anda berhenti saat melihat desain terbesar di depan mata Anda. Mengapa? Karena mengakui adanya Pencipta berarti mengakui adanya otoritas yang lebih tinggi dari ego Anda. Dan itulah yang paling ditakuti oleh orang-orang seperti Anda, Pak Adrian. Anda takut tidak lagi menjadi pusat dari semesta Anda sendiri."

​Kata-kata itu menggoyahkan pandangan hidup Adrian seperti gempa tektonik yang meretakkan fondasi gedung pencakar langit. Selama ini, Adrian menganggap ateismenya sebagai puncak intelektualisme. Namun sekarang, di hadapan argumen Aisha, ateismenya tampak seperti pelarian dari sebuah tanggung jawab moral yang besar.

​"Lalu bagaimana dengan penderitaan?" tanya Adrian lagi, suaranya sedikit gemetar. "Jika Tuhanmu ada dan Dia Maha Baik, mengapa ada sabotase? Mengapa ayahmu sakit? Mengapa kau harus menangis karena tekanan keluarga?"

​"Dunia ini bukan tempat tinggal, Pak. Ini adalah tempat ujian," jawab Aisha tenang. "Sama seperti kita menguji kekuatan beton di laboratorium dengan tekanan ribuan ton sebelum memasangnya di gedung. Tekanan itu bukan untuk menghancurkan beton, tapi untuk membuktikan kekuatannya. Penderitaan saya, kesedihan saya, bahkan kehadiran pria skeptis seperti Anda dalam hidup saya... semuanya adalah alat uji untuk melihat apakah iman saya asli atau hanya pajangan."

​Aisha menoleh ke arah Adrian, matanya memancarkan kedamaian yang belum pernah Adrian temukan di pesta-pesta mewah atau di puncak pencapaian bisnisnya.

​"Saya tidak takut kehilangan apa pun di dunia ini, karena saya tahu saya tidak memiliki apa pun. Semuanya hanya titipan. Dan saat Anda menyadari itu, Anda akan menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan jam tangan emas putih mana pun."

​Adrian terdiam cukup lama. Ia merasa seperti seorang pengembara yang baru saja menemukan peta yang benar setelah bertahun-tahun tersesat di hutan belantara. Logikanya yang kaku mulai melunak, bukan karena ia tiba-tiba menjadi religius, tapi karena ia menyadari bahwa dunia Aisha memiliki kedalaman yang tidak bisa ia ukur dengan penggaris miliknya.

​"Kau membuatku merasa sangat... kecil, Aisha," bisik Adrian.

​"Kita memang kecil, Pak Adrian," balas Aisha. "Tapi di situlah letak keindahannya. Kita kecil, namun kita dicintai oleh Yang Maha Besar. Itu adalah paradoks paling romantis di alam semesta."

​Malam itu, setelah Aisha pulang, Adrian tidak langsung pergi. Ia duduk sendirian di ruangannya yang gelap. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak memikirkan laba-rugi. Ia menatap tangannya, lalu menatap langit malam.

​Ia teringat saat ia memegang bahu Aisha di lorong kemarin. Ia teringat air mata di mata wanita itu. Dan kini, ia memikirkan tentang "Mizan" atau keseimbangan yang sering dibicarakan Aisha.

​Tanpa sadar, Adrian berdiri. Ia berjalan menuju sudut ruangan, tempat Aisha biasanya meletakkan tasnya. Ia melihat sebuah buku kecil yang tertinggal—sebuah buku saku berisi doa-doa harian. Adrian mengambilnya dengan tangan gemetar. Ia membukanya, melihat tulisan tangan Aisha yang rapi di margin halaman.

​“Ya Allah, perbaiki hatiku sebelum aku mencoba memperbaiki dunia.”

​Adrian menutup buku itu. Ia merasa ada sesuatu yang pecah di dalam dadanya, namun kali ini bukan rasa remuk yang menyakitkan. Ini adalah pecahnya sebuah cangkang keras yang selama ini membungkus hatinya dari kebenaran.

​Ia belum siap untuk bersujud, ia belum siap untuk percaya sepenuhnya. Namun, malam itu, untuk pertama kalinya, Adrian Aratama mengakui dalam hati kecilnya bahwa ia ingin mengenal "Desainer" yang membuat Aisha menjadi wanita sehebat itu.

​Ia menyadari bahwa perjuangannya untuk mendapatkan Aisha bukan lagi sekadar soal cinta pria kepada wanita. Ini adalah perjalanan seorang pria yang mencoba menemukan kembali jiwanya yang hilang melalui mata seorang wanita yang sudah menemukan Tuhannya.

​"Ajari aku, Aisha," gumam Adrian pada kesunyian malam. "Bahkan jika itu berarti aku harus kehilangan seluruh egoku."

​Di luar, hujan berhenti. Bulan muncul dari balik awan, menyinari rangka besi Green Oasis yang mulai meninggi. Untuk pertama kalinya, Adrian melihat gedung itu bukan sebagai monumen kesuksesannya, melainkan sebagai sebuah doa yang sedang diwujudkan dalam bentuk baja dan beton.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!