Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Malam itu turun dengan suasana yang berat di rumah Tama.
Jam dinding berdetak terlalu keras di telinga Selina. Ia duduk di tepi sofa ruang tamu, punggungnya tegak, jari-jarinya sibuk mengusap ponsel yang layarnya mati. Tatapannya sesekali melirik ke arah lorong, tempat kamar-kamar berjajar rapi—termasuk kamar kecil yang kini ditempati Dita.
“Barang itu pasti ada di rumah ini,” gumam Selina pelan, tapi cukup terdengar.
Bu Diana yang duduk di kursi rodanya menoleh. “Barang apa?”
Selina tersenyum cepat, seolah baru sadar. “Gelang emas Tante. Yang biasa Tante pakai. Saya ingin lihat lagi tadi siang, tapi kok nggak ada di laci.”
Bu Diana mengernyit. “Gelang itu biasanya saya simpan di kotak kayu.”
“Nah itu,” Selina berdiri. “Tadi saya lihat kotaknya terbuka.”
Hening jatuh.
Bu Diana menatap Selina lama, seolah mencoba membaca maksud di balik senyum tipis itu. “Saya tidak merasa memakainya hari ini.”
“Justru itu yang bikin saya khawatir,” jawab Selina cepat. “Takutnya tercecer.”
Langkah kaki Tama terdengar dari arah tangga. “Ada apa?”
Selina menoleh, wajahnya langsung berubah cemas. “Tam, gelang Tante hilang.”
“Hilang?” Tama mendekat. “Yang mana?”
“Yang emas, peninggalan almarhum Om.”
Bu Diana menghela napas. “Kita cari pelan-pelan saja.”
Selina mengangguk, tapi sorot matanya tajam. “Tentu. Tapi sebaiknya semua kamar diperiksa.”
Tama terdiam sepersekian detik. “Maksudmu…?”
“Rumah ini banyak orang keluar masuk, Tam,” Selina menatapnya lurus. “Lebih baik jelas dari awal.”
Kalimat itu menggantung, berat dan beracun.
Tak lama kemudian, Dita muncul dari lorong. “Tuan Tama, obat Ibu Diana—”
Kalimatnya terhenti saat melihat wajah-wajah tegang di ruangan.
“Ada apa?” tanyanya hati-hati.
Selina menoleh perlahan. “Kamu.”
Dita membeku. “Saya?”
“Gelang Tante hilang,” kata Selina datar. “Kamu lihat?”
Dita menggeleng cepat. “Tidak. Saya tidak tahu.”
“Semua orang bilang begitu,” sahut Selina dingin. “Tapi barang itu tidak punya kaki.”
Tama mengangkat tangan. “Sel, jangan langsung—”
“Tam,” potong Selina. “Aku cuma minta diperiksa. Supaya jelas.”
Bu Diana menggenggam sandaran kursi rodanya. “Selina…”
“Kalau Tante tidak keberatan,” Selina menoleh. “Justru orang yang paling dekat itulah yang bisa berhianat.”
"Maksudnya, anda menuduh saya?"
"Kau merasa?"
Dita menelan ludah. “Silakan periksa kamar saya. Saya tidak mengambil apa pun.”
Nada suaranya tenang, tapi matanya mulai berkaca.
Mereka berjalan menuju kamar Dita.
Langkah Selina terdengar paling cepat. Begitu pintu terbuka, ia langsung menuju lemari kecil di sudut kamar.
Kotak kayu kecil jatuh ke lantai dengan bunyi kering.
Hening.
Selina membungkuk, membukanya. Gelang emas itu terbaring di dalam, berkilau di bawah lampu kamar.
“Nah,” ucap Selina lirih, tapi menusuk. “Ketemu.”
Dita terpaku. “Itu… bukan punya saya.”
Tama menatap gelang itu, lalu menatap Dita. “Dit…”
“Saya bersumpah,” suara Dita bergetar. “Saya bahkan baru melihat itu sekarang. Saya tidak mengambilnya.”
“Barang itu ada di kamarmu,” Selina meninggikan suara. “Apa lagi penjelasannya?”
“Saya benar-benar tidak mengambilnya...”
“Lalu siapa?” Selina mendekat. “Hantu?”
Air mata mulai jatuh di pipi Dita. “Saya tidak mencuri.”
Tama menghela napas berat. “Dita, aku sudah percaya sama kamu. Semua kebutuhan kamu aku penuhi. Gajimu tidak kurang. Apa masih kurang sampai harus...”
“Kamu juga mulai, Tam?” Selina memotong, tajam. “Atau kamu masih mau membela?”
Dita menggeleng putus asa. “Tuan… demi apa pun, saya tidak melakukannya.”
“Drama,” dengus Selina. “Menangis biar dikasihani.”
“Tolong jangan begitu,” suara Dita pecah. “Saya bekerja di sini dengan niat baik.”
“Kalau niatmu baik, kenapa barang Tante ada di kamarmu?”
Dita tak mampu menjawab. Dadanya sesak, kepalanya berdenyut. "Saya tidak tau. Saya tidak mengambilnya."
Selina melangkah mendekat, jarak mereka tinggal sejengkal. “Kamu pikir kami bodoh?”
Plak!
Suara tamparan memecah ruangan.
Dita terhuyung, pipinya memanas, telinganya berdenging. Ia terjatuh duduk di lantai, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.
“Selina!” Tama terkejut.
“Jangan sentuh aku!” Selina menepis tangan Tama. “Aku muak melihat maling berpura-pura suci.”
Bu Diana, yang sejak tadi diam di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan mata membesar. Tangannya gemetar di atas pangkuan.
Selina menoleh ke Tama. “Pecat dia. Sekarang.”
“Sel—”
“Sekarang, Tam,” desaknya. “Apa kamu mau tinggal serumah dengan pencuri.”
Tama memijat pelipisnya. pusing. Ini bukan perkara mudah.
“Demi Tante,” Selina menoleh ke Bu Diana. “Apa kamu mau memelihara maling di rumah?”
Bu Diana menatap Dita yang masih terduduk di lantai, pipinya merah, matanya sembab. Ada sesuatu di dada Bu Diana yang terasa nyeri, seperti ingatan lama yang terusik.
“Dita…” panggilnya lirih.
Dita mengangkat wajahnya. “Saya tidak mencuri, Bu. Percayalah pada saya...”
Nada itu bukan pembelaan berlebihan. Bukan drama. Hanya kejujuran yang lelah.
Bu Diana menelan ludah.
“Tama,” Selina kembali mendesak. “Apa yang akan kamu lakukan sekarang?”
Pertanyaan itu menekan seperti batu besar di dada Tama.
Ia menatap gelang di lantai. Menatap Dita. Menatap Selina. Lalu menatap ibunya.
“Aku…” suaranya serak.