Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguntit
"Ini bukan lagi omongan antara dosen dengan mahasiswanya. Melainkan dua orang yang mempunyai harga diri tinggi dan pintar bernegosiasi. Auranya juga berbeda dari mahasiswa berprestasi lainnya. Menurutku, Ronand ini kuliah hanya untuk mendapatkan gelar atau formalitas saja. Secara skill, mungkin dia sudah punya. Namun di negara ini, semua ada aturan hukumnya."
"Entah gebrakan apalagi yang akan kita lihat ke depannya selama dan sesudah Ronand lulus kuliah," ucap Pak Wawan, selaku wakil Rektor dari Universitas tempat Ronand dan Rachel berkuliah.
Saat ini di ruang rapat, Dosen pembimbing akademik dan wakil Rektor tengah membahas sesuatu. Tentu saja ini berkaitan dengan Ronand yang menolak ikut dalam tim IT kampus. Bahkan dengan gaji tetap sebesar 7 juta per bulan, laki-laki itu menolaknya. Padahal itu gaji paling besar untuk anggota tim IT kampus.
Tentang Ronand yang bisa menciptakan alat seperti CCTV tapi dalam bentuk hewan kecil. Hingga beberapa fakta tentang Ronand yang bisa membuat robot. Tentang robot, mereka mendapatkan informasi dari SMA Ronand dulu. Bahkan Ronand selalu ikut olimpiade dan berhasil juara. Namun mengenai identitas keluarga Ronand, mereka belum menemukan jawabannya. Semua data dikunci dan hanya pihak Yayasan yang mengetahuinya.
"Seharusnya dia ikut berkontribusi memajukan kampus karena berkuliah di sini. Namun dari yang saya lihat, dia adalah anak yang punya prinsip dan komitmen. Dari ucapannya saja, dia begitu berani. Aura kepemimpinannya sangat kuat. Sepertinya dia bukan dari kalangan orang biasa," ucap Pak Orlando memberikan berbagai dugaan tentang Ronand.
"Bahkan dia tidak takut sama sekali dengan tatapan saya. Biasanya orang yang berhadapan dengan saya akan takut," lanjutnya.
"Sudah pasti bukan dari kalangan keluarga biasa, Pak Orlando. Mobil yang digunakan saat hari terakhir OSPEK aja bukan untuk kalangan orang mendang mending." ucap seorang Dosen perempuan yang masih muda, Ibu Rizky. Dia melihat sendiri Ronand mengemudikan mobil yang harganya milyaran.
"Kembarannya juga outfitnya nggak kaleng-kaleng. Tadi pagi saya lihat pakai pakaian yang harganya udah bisa buat DP motor. Belum itu anting dan sepatunya," tambahnya sambil bergidik ngeri.
Padahal pakaian yang digunakan oleh Rachel, tampak biasa dan sederhana saja. Hanya setelan rok dan kemeja, tapi mereka seakan tahu harga pakaian itu berapa. Semuanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. Mereka ingin menguak siapa sosok di balik geniusnya Ronand, namun menemui jalan buntu.
Jangan dipikirkan. Nanti kita coba tawarkan saja dia beberapa kontes yang berhubungan dengan robot atau hal digital lainnya. Siapa tahu mau dan bisa membawa nama naik kampus,
Ya. Semoga saja dia mau,
Sebenarnya kita bisa tahu siapa keluarga Ronand Oliver itu saat kelulusan nanti,
Dan itu masih sangat lama, Bu.
***
Jangan sampai ketahuan. Ikuti Rachel dan Susan, mahasiswa baru yang tadi pagi membantuku.
Deg...
Jantung Ronand berdetak sangat kencang mendengar nama istri dan kembarannya disebut. Setahunya, nama Rachel pada mahasiswa baru kali ini hanya kembarannya saja. Saat ini Ronand berada di dalam mobilnya yang terparkir pada parkiran kampus karena akan pulang. Namun saat hendak menyalakan mobilnya, ada tiga orang yang tengah berbincang mengenai Rachel dan Susan. Salah satunya, meminta mereka mengikuti Rachel dan Susan.
"Kita hanya ikuti mereka saja kan, Jun? Aku nggak mau berbuat kriminal. Urusan sama hukum, repot. Apalagi katanya salah satu dari mereka itu orang kaya," tanya salah satu dari mereka memastikan misi kali ini.
"Iya. Kasih tahu tempat tinggal mereka dimana dan informasi apapun yang kalian temukan. Jangan dilukai karena aku tak rela dia terluka," ucap seseorang yang dipanggil "Jun" oleh kedua rekannya.
Oke...
Brumm... Brumm...
"Mau apa dia mencari informasi tentang Rachel dan Susan? Apa ini ada hubungannya denganku yang jadi incaran pihak kampus? Atau ada masalah lain?" gumam Ronand sambil menghela nafasnya pelan.
"Tapi tadi dia bilang suruh mengikuti orang yang membantunya. Bantuin apa?" lanjutnya.
Tak mau menduga-duga, Ronand segera mengeluarkan alat ciptaannya untuk mengikuti orang-orang itu lebih dulu. Sedangkan dia akan mengikuti dari belakang. Sedikit jauh agar tahu apa maksud dan tujuan dari mereka mengikuti kembaran juga istrinya. Sedangkan untuk orang yang dipanggil "Jun" oleh mereka, Ronand juga sudah mengeluarkan alatnya agar mengikutinya. Ia akan memantau apapun yang menyangkut tentang kembaran dan istrinya.
"Jika sampai terjadi sesuatu sama Rachel dan Susan, aku takkan membiarkan mereka pulang dengan tubuh yang lengkap. Mereka adalah dua orang yang sangat berharga untukku," gumam Ronand sambil mengepalkan genggaman tangannya pada kemudi mobil.
***
"Kok kaya ada yang ngikutin ya? Itu motol mengikuti mobil kita lho, Onty. Halus waspada," ucap Mika dengan nada was-was. Mika ternyata ikut menjemput Rachel dan Susan pulang dari kuliah.
Tadinya hanya sopir yang akan menjemput Rachel dan Susan, namun Mika ingin ikut. Kebetulan juga dia sudah pulang dari sekolahnya. Mika berhasil melewati hari di sekolahnya walaupun berangkat terlambat. Ia berhasil mengelabuhi satpam dan guru yang kebetulan mengajar. Mika masuk kelas setelah jam istirahat usai.
Mika melihat ke arah belakang mobil lewat kaca. Terlihat ada satu motor yang seperti mengikuti mereka. Pasalnya jalan sebelah mobil masih luas. Jika untuk menyalip, akan sangat mudah. Apalagi jalanan itu juga sepi. Rachel dan Susan pun langsung saja melihat ke arah belakang. Sopir pun segera bersikap waspada.
"Paman, coba tambah kecepatan mobilnya. Kalau dia mengikuti, pasti akan menambahkan kecepatan motornya juga." suruh Rachel pada sopir yang menjemput mereka.
"Baik, Nona."
Brumm... Brumm...
"Benal, itu meleka naik motolnya jadi cepat." seru Mika dengan mata memelotot.
"Mau apa ya meleka, Onty? Apa kalena kita olang kaya? Mau culik kita, telus minta tebusan." lanjutnya menduga-duga.
"Kalau mau menculik, udah dari tadi saat Onty tunggu jemputan. Ini lho ada orang dewasa, mana muka dan badan Paman sopir udah kaya bodyguard. Takut lah mereka," ucap Rachel menolak pemikiran dari Mika.
"Siapa tahu olangnya ndak takut. Kan Om sopil cuma sendili, meleka beldua lho." ucap Mika dengan tatapan kesalnya.
Dalam hati, Rachel membenarkan ucapan Mika. Belum tentu orang yang tengah mengikuti mereka itu takut pada sopir yang sebenarnya adalah bodyguard Papa Fabio. Sopir memilih diam kemudian mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Bahkan pengemudi motor itu sampai oleng saat mobil yang diikuti, tiba-tiba menurunkan kecepatan.
Udah pasti mereka mau mengikuti kita,
Sepertinya mereka bukan ingin menculik kita. Mereka ingin mencari informasi tentang kita,
Memangnya Onty olang penting? Sampai dicali infolmasinya saja. Apa setelah dapat infolmasi, telus dijual dan dipakai daftar pinjol.
Bisa jadi,