Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pengkhianatan Enam Puluh Detik
Hawa dingin di area tangga darurat itu terasa menusuk hingga ke tulang sumsum Nadin. Dia berdiri membeku di anak tangga, menatap Bastian Wirawan yang sedang tersenyum penuh kemenangan. Pria berjas biru gelap itu tahu bahwa dia telah berhasil memojokkan Nadin.
Nadin memejamkan matanya selama dua detik. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menjernihkan isi kepalanya yang sedang berputar hebat. Di satu sisi, Gilang Mahendra adalah pria yang menguasai tubuh dan kebebasannya, pria yang membiayai pengobatan adiknya. Namun di sisi lain, video itu adalah bukti mutlak. Gilang adalah monster yang menyiksa darah dagingnya sendiri.
"Apa jaminan Anda tidak akan menipu saya, Bastian?" tanya Nadin. Suaranya sudah tidak lagi bergetar. Insting bertahan hidupnya mengambil alih. Tatapan matanya kini berubah menjadi sangat dingin dan penuh perhitungan. "Anda dan Gilang sama-sama ular berbisa. Jika saya memberikan data rahasia Mahendra Corp kepada Anda, apa jaminannya Anda benar-benar akan membebaskan ayah saya dan tidak malah menjadikan kami sandera baru untuk memeras Gilang?"
Bastian mengangkat sebelah alisnya. Kekaguman di mata pria itu semakin terlihat jelas.
"Kamu benar-benar wanita yang luar biasa, Nadin. Pantas saja si manusia es itu sampai kehilangan akal sehatnya," puji Bastian pelan. Pria itu merogoh saku jasnya lagi dan mengeluarkan sebuah diska lepas atau flashdisk berukuran sangat kecil, berwarna hitam pekat tanpa merek apa pun.
Bastian menyodorkan alat kecil itu ke arah Nadin. "Aku adalah pebisnis. Menyekap ayahmu tidak akan memberikan keuntungan finansial apa pun bagiku. Tujuanku murni untuk menghancurkan dominasi Gilang di pasar properti. Data di dalam komputer utama Gilang adalah kunci kejatuhannya. Masukkan alat ini ke dalam komputer pribadinya di lantai enam puluh. Program di dalamnya akan berjalan otomatis dan menyedot semua data rahasia dalam waktu enam puluh detik."
Nadin melangkah turun, mendekati Bastian. Dia menatap flashdisk kecil di telapak tangan pria itu seolah benda itu adalah pemicu bom nuklir.
"Malam ini, tepat pukul delapan," lanjut Bastian dengan nada serius. "Saat sistem memberitahuku bahwa data itu sudah terunduh, pasukanku akan langsung mendobrak gudang itu dan membebaskan ayahmu. Anak buahku juga akan bersiap di area rumah sakit untuk membawa kamu dan adikmu pergi. Ini adalah satu-satunya tiket keluarmu, Nadin. Ambil, atau biarkan ayahmu membusuk di tangan kekasih psikopatmu itu."
Nadin tidak berpikir panjang lagi. Dia meraih flashdisk hitam itu dan menggenggamnya erat-erat di telapak tangannya.
"Enam puluh detik. Setelah itu, pastikan ayah dan adik saya aman. Jika Anda berani mengkhianati kesepakatan ini, Bastian, saya bersumpah akan menggunakan sisa hidup saya untuk menghancurkan Wirawan Group," ancam Nadin dengan suara desisan yang mematikan.
Bastian hanya tersenyum miring dan mengangguk. Pria itu segera berbalik dan berjalan menuruni anak tangga darurat, menghilang ke lantai bawah.
Nadin berdiri sendirian selama beberapa detik. Dia menekan flashdisk itu ke dadanya, lalu bergegas kembali menuju pintu putih. Dia menarik napas panjang, mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja, dan mendorong pintu itu kembali masuk ke dalam toilet wanita.
Di wastafel, Nadin membasuh wajahnya dengan air dingin. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Cincin ruby di jari manisnya memantulkan cahaya merah yang seakan mengejeknya. Dia mengambil flashdisk hitam itu dan menyembunyikannya di dalam saku rahasia beritsleting di bagian terdalam tas tangannya. Setelah merapikan riasan tipisnya, Nadin berjalan keluar dari toilet.
Dimas sedang berdiri tegak sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Begitu melihat Nadin keluar, tatapan mata asisten setia itu langsung menajam.
"Enam menit, Nona Kirana. Anda berada di dalam lebih lama dari biasanya," ucap Dimas dengan nada datar yang penuh selidik.
"Maaf, Dimas. Perut saya tiba-tiba terasa kram. Mungkin karena teh yang saya minum tadi," jawab Nadin dengan sangat tenang. Dia memijat pelipisnya sedikit, berakting seolah dia sedang merasa tidak enak badan. "Mari kita kembali ke rumah sakit sebentar untuk berpamitan pada Arya, lalu kita kembali ke kantor. Tuan Mahendra pasti sudah menunggu."
Dimas menatap mata Nadin selama tiga detik penuh, mencari tanda-tanda kebohongan. Namun Nadin membalas tatapan itu tanpa berkedip sedikit pun. Akhirnya, Dimas mengangguk kaku dan mempersilakan Nadin berjalan lebih dulu.
Perjalanan kembali ke markas besar Mahendra Corp terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan. Setibanya di lantai enam puluh, Nadin langsung menuju meja gambarnya di dalam ruang kerja CEO.
Gilang sudah berada di sana. Pria itu duduk di balik meja kayu eboninya yang raksasa, terlihat sangat sibuk dan sedang berbicara di telepon menggunakan bahasa Prancis yang fasih. Nadanya terdengar penuh amarah. Sepertinya masalah perizinan dari dinas tata kota belum juga selesai. Gilang hanya melirik sekilas saat Nadin masuk, memberikan anggukan singkat sebagai tanda bahwa dia menyadari kehadiran wanita itu, lalu kembali fokus pada teleponnya.
Nadin duduk di kursinya. Jantungnya berdebar sangat keras hingga dia takut Gilang bisa mendengarnya dari seberang ruangan. Tas tangannya terletak di atas meja, hanya berjarak beberapa sentimeter dari tangannya.
Jam berdetak sangat lambat. Pukul tiga sore. Pukul empat sore. Gilang sama sekali tidak beranjak dari kursi kebesarannya. Pria itu seolah terpaku di sana, memeriksa puluhan dokumen dan terus-menerus memanggil stafnya untuk masuk dan memberikan laporan. Nadin terus berpura-pura menggambar di atas kertas kalkir, padahal tangannya bergetar hebat dan garis yang dia buat benar-benar berantakan.
Jika Gilang tidak meninggalkan mejanya hari ini, Nadin tidak akan memiliki kesempatan untuk memasukkan flashdisk itu. Bastian mengatakan bahwa eksekusi penyelamatan ayahnya akan dilakukan malam ini. Nadin harus mendapatkan data itu sekarang juga.
Tepat pukul setengah lima sore, keajaiban yang menegangkan itu terjadi.
Dimas membuka pintu ganda ruang kerja dengan terburu-buru. Pria berjas hitam itu berjalan mendekati meja Gilang dengan ekspresi wajah yang sangat kaku.
"Tuan Mahendra, mohon maaf mengganggu," ucap Dimas setengah berbisik namun masih bisa didengar oleh Nadin. "Perwakilan dari dinas tata kota dan pihak kementerian tiba-tiba datang ke gedung ini. Mereka menolak untuk naik ke lantai enam puluh. Mereka bersikeras menunggu Anda di ruang mediasi lantai tiga. Jika Anda tidak turun sekarang, mereka mengancam akan menyegel lokasi proyek Menara Selatan dengan alasan pelanggaran prosedur lingkungan."
Mendengar laporan itu, Gilang membanting pena mahal di tangannya ke atas meja. Suara bantingan itu membuat Nadin tersentak. Urat-urat di leher Gilang menonjol keluar. Pria itu sangat membenci orang-orang birokrasi yang mencoba memerasnya.
"Bajingan-bajingan rakus itu," geram Gilang dengan suara yang sangat rendah dan berbahaya. Pria itu langsung berdiri dari kursinya dan mengancingkan jasnya dengan kasar. "Siapkan tim hukum. Aku akan menghancurkan karir mereka hari ini juga."
Gilang melangkah keluar dari balik mejanya. Sebelum mencapai pintu, pria itu berhenti dan menoleh ke arah Nadin. Matanya yang menyala oleh amarah perlahan melembut sedikit saat menatap wanita itu.
"Aku harus turun ke lantai tiga. Ini mungkin akan memakan waktu sekitar satu jam," ucap Gilang pada Nadin. Pria itu melangkah mendekati meja gambar Nadin, menunduk, dan memberikan kecupan cepat di kening wanita itu. "Tetaplah di sini. Jangan keluar ruangan. Kunci pintunya dari dalam. Aku tidak ingin ada siapa pun yang mengganggumu saat aku tidak ada."
"Baik, Gilang. Saya akan menunggu di sini," jawab Nadin patuh.
Gilang mengangguk puas. Dia dan Dimas segera berjalan keluar dari ruangan. Pintu ganda berbahan kayu tebal itu tertutup rapat dengan suara klik otomatis.
Nadin terdiam selama sepuluh detik, memastikan langkah kaki Gilang dan Dimas benar-benar sudah menjauh dari lorong. Begitu suasana benar-benar sunyi, Nadin langsung melompat dari kursinya.
Dia berlari menuju pintu ganda dan memutar kunci pengaman dari dalam seperti yang diinstruksikan Gilang. Setelah pintu dipastikan terkunci, Nadin berlari kembali ke mejanya, membuka ritsleting tas tangannya dengan tangan yang gemetar hebat, dan mengeluarkan flashdisk hitam pemberian Bastian.
Nadin melangkah cepat menuju meja kerja eboni milik Gilang yang sangat besar.
Komputer layar sentuh raksasa di atas meja itu masih menyala. Gilang terlalu marah hingga lupa mengunci layar komputernya. Layar itu menampilkan ratusan folder data keuangan, cetak biru rahasia, dan strategi akuisisi Mahendra Corp untuk lima tahun ke depan. Ini adalah jantung dari seluruh kerajaan bisnis Gilang Mahendra.
Keringat dingin menetes dari pelipis Nadin. Tangan kirinya mencengkeram tepi meja kayu untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas. Jika dia memasukkan alat ini, dia akan mengkhianati pria yang tidur di sebelahnya setiap malam. Pria yang membelanya di depan dewan direksi. Pria yang memeluknya saat dia menangis di rumah sakit.
Namun bayangan wajah ayahnya yang berlumuran darah di ruang bawah tanah itu menyapu bersih semua keraguannya. Gilang adalah penipu. Pria itu menciptakan neraka ini.
Dengan napas tertahan, Nadin mencari celah porta pada bagian bawah monitor komputer tersebut. Tangannya gemetar sangat parah hingga dia kesulitan memasukkan flashdisk kecil itu. Pada percobaan ketiga, alat itu akhirnya berbunyi klik dan masuk dengan sempurna.
Seketika itu juga, sebuah jendela program berwarna hitam muncul di tengah layar monitor. Tidak ada teks peringatan apa pun, hanya sebuah baris progres berwarna hijau terang yang langsung bergerak maju.
Sepuluh persen.
Nadin menatap layar itu dengan mata membelalak. Program retas milik Bastian bekerja dengan sangat sunyi dan cepat. Nadin melirik jam dinding. Waktu terasa berjalan sangat lambat, bagaikan direndam dalam cairan madu yang kental.
Tiga puluh persen.
Jantung Nadin berdetak sangat keras hingga telinganya berdenging. Dia membayangkan bagaimana Gilang akan bereaksi jika pria itu mengetahui hal ini. Gilang tidak akan hanya memarahinya. Pria itu mungkin akan benar-benar membunuhnya.
Lima puluh persen.
Suara detak jam dinding terdengar seperti suara palu godam. Nadin melirik ke arah pintu ganda yang terkunci. Bagaimana jika Gilang melupakan sesuatu dan kembali ke ruangan ini? Bagaimana jika mediasi di bawah dibatalkan?
Tujuh puluh persen. Delapan puluh persen.
Keringat membasahi kemeja sutra di bagian punggung Nadin. Dia terus menggigit bibir bawahnya hingga terasa anyir darah di mulutnya. Ayo, cepatlah. Cepatlah, batin Nadin menjerit putus asa.
Sembilan puluh lima persen. Seratus persen.
Jendela program berwarna hitam itu tiba-tiba menghilang tanpa bekas dari layar monitor. Bunyi notifikasi pelan terdengar dari alat kecil itu. Selesai.
Nadin buru-buru mencabut flashdisk hitam itu dari komputer. Dia mengepalkan alat itu di telapak tangannya sekuat tenaga.
Namun, tepat pada detik dia berbalik untuk kembali ke mejanya, suara gagang pintu ruang kerja ditekan dari luar.
Jantung Nadin seakan copot dari rongga dadanya. Pintu itu terkunci dari dalam, sehingga tidak bisa langsung terbuka. Terdengar suara umpatan pelan dari luar, disusul oleh suara logam bergesekan. Gilang menggunakan kunci master pribadinya.
Dalam hitungan tiga detik, pintu ganda itu terbuka lebar.
Gilang melangkah masuk dengan rahang yang mengeras. Mediasi di bawah tampaknya berjalan sangat buruk atau bahkan belum dimulai, karena pria itu kembali dalam waktu kurang dari lima menit.
Mata hitam Gilang langsung menyapu seluruh ruangan dan berhenti pada sosok Nadin. Wanita itu berdiri mematung tepat di belakang meja kerja pribadinya, meja yang sangat haram untuk disentuh oleh siapa pun.
Langkah Gilang terhenti. Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin dan mencekam. Tatapan Gilang berubah menjadi sangat tajam, menembus langsung ke dalam jiwa Nadin.
"Apa yang kau lakukan di belakang meja kerjaku, Nadin?" tanya Gilang. Suara baritonnya sangat rendah, tenang, namun memancarkan bahaya yang mutlak.
Nadin merasa seluruh darah di tubuhnya turun ke kaki. Flashdisk hitam itu masih berada di dalam genggaman tangan kanannya yang dia sembunyikan di balik punggung. Otaknya bekerja dengan kecepatan cahaya untuk mencari alasan. Jika dia tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal detik ini juga, Gilang akan menghancurkannya.
Nadin memaksakan sebuah senyuman tipis yang menggoda, menekan rasa takutnya ke dasar jurang terdalam. Dia melangkah keluar dari balik meja eboni itu dan berjalan perlahan mendekati Gilang.
"Anda membuat saya takut," ucap Nadin dengan suara yang sengaja dilembutkan. Dia membiarkan nada suaranya terdengar sedikit manja dan rapuh.
Nadin berhenti tepat di depan Gilang. Dengan tangan kirinya yang bebas, dia meraih kerah jas pria itu dan mengusapnya perlahan. Dia menatap lurus ke dalam mata gelap Gilang, memasang topeng kepolosan yang mematikan.
"Saya sedang mencari pena cadangan di atas meja Anda," dusta Nadin, berusaha menjaga kontak mata agar pria itu tidak melihat tangannya yang gemetar di belakang punggung. "Lalu saya mendengar suara kunci diputar dengan kasar dari luar. Saya pikir itu orang lain yang mencoba menerobos masuk. Anda berteriak sangat keras sebelum keluar tadi, Gilang. Saya takut."
Mendengar pengakuan yang terdengar sangat rapuh itu, otot-otot rahang Gilang perlahan mengendur. Kewaspadaan di mata pria itu tergantikan oleh rasa bersalah yang samar, bercampur dengan sifat posesifnya yang selalu mendominasi. Pria arogan ini sangat menyukai gagasan bahwa Nadin merasa lemah dan hanya bisa merasa aman di dekatnya.
Gilang menghela napas panjang. Dia mengangkat kedua tangannya dan menarik pinggang Nadin, merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku," bisik Gilang pelan di puncak kepala Nadin. Pria itu menenggelamkan wajahnya di rambut Nadin, menghirup aroma wanita itu dalam-dalam untuk menenangkan amarahnya. "Para birokrat sampah itu membuat emosiku tidak stabil. Aku hanya mengambil dokumen tambahan yang tertinggal. Tidak ada yang akan berani menyentuhmu di dalam ruanganku, Nadin. Kau aman bersamaku."
Nadin menyandarkan wajahnya ke dada bidang Gilang, mendengarkan detak jantung pria itu yang kuat dan teratur. Di balik pelukan hangat yang terasa sangat melindunginya ini, Nadin memegang bukti pengkhianatannya dengan sangat erat di belakang punggung Gilang.
Rasa mual tiba-tiba mengocok perut Nadin. Dia baru saja menjual pria yang memeluknya ini kepada musuh terbesarnya. Namun Nadin tahu, di dalam permainan catur antara iblis dan ular berbisa ini, tidak ada yang namanya keselamatan abadi. Dia hanya bisa berharap bahwa enam puluh detik pengkhianatannya tadi cukup untuk menukar nyawa ayah dan adiknya, sebelum Gilang menyadari bahwa burung di dalam sangkar emasnya ini baru saja membuka pintu menuju kehancurannya sendiri.