"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
...
...
Lampu merah di atas pintu ruang operasi masih menyala, membiaskan warna kemerahan yang pekat di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi. Kalea duduk meringkuk di kursi besi yang dingin, memeluk kedua lututnya sendiri. Tubuhnya terasa remuk, namun pikirannya jauh lebih hancur. Resi pembayaran senilai satu miliar di saku kemejanya terasa seberat batu nisan. Ia telah memberikan segalanya demi detak jantung ibunya yang kini sedang diperjuangkan di balik pintu baja itu.
Tiga jam berlalu dalam siksaan ketenangan. Setiap kali seorang perawat lewat, jantung Kalea berdegup kencang, takut akan kabar buruk. Di tengah penantian yang melelahkan itu, bayangan Liam Jionel kembali menghantui. Hinaan pria itu tentang "wanita murahan" terus berdengung di telinganya. Kalea memejamkan mata erat, mencoba menghapus memori tentang tangan kokoh Liam yang mencengkeramnya dan tatapan matanya yang sedingin kutub utara.
“Kau adalah properti milik Liam Jionel sampai aku bosan.”
Kalimat itu bukan sekadar ancaman, itu adalah vonis. Kalea tahu pria seperti Liam tidak pernah bermain-main dengan kata-katanya. Namun, ia tidak peduli. Jika ibunya selamat, ia rela menanggung neraka apa pun yang disiapkan Liam untuknya.
Tiba-tiba, lampu merah di atas pintu operasi padam. Jantung Kalea seakan berhenti berdetak sesaat. Ia berdiri dengan kaki gemetar saat seorang dokter keluar dengan wajah yang kuyu dan penuh gurat penyesalan. Dokter itu melepas maskernya, menatap Kalea dengan tatapan yang sangat ia takuti.
"Nona Kalea... kami sudah melakukan segalanya yang kami bisa," ucap dokter itu lirih. "Namun, tubuh Ibu Elena terlalu lemah. Beliau... tidak bisa bertahan saat proses operasi berlangsung. Saya minta maaf, Ibu Anda telah tiada."
Dunia Kalea seketika runtuh. Pendengarannya berdenging hebat. Kalimat dokter itu seolah-olah diledakkan tepat di depan telinganya.
"Tidak... tidak mungkin," gumam Kalea. Suaranya hilang di tenggorokan. "Uangnya sudah dibayar! Kalian bilang uang itu bisa menyelamatkannya!"
"Nona, tenanglah—"
"BOHONG!" Kalea berteriak, suaranya pecah memenuhi lorong rumah sakit yang sunyi. Ia menjerit sekencang-kencangnya, sebuah jeritan penuh keputusasaan yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Ia memukul-mukul lantai dengan tangan kosongnya hingga memerah. Pikirannya kacau balau. Pengorbanan yang ia lakukan semalam, rasa sakit yang masih merayap di tubuhnya—semuanya sia-sia. Ia telah memberikan segalanya untuk sebuah harapan kosong yang kini menguap bersama nyawa ibunya.
"Ibu! Bangun! Jangan tinggalkan aku sendiri!" Kalea mencoba merangkak menuju pintu operasi, namun beberapa perawat menahannya. Ia meronta-ronta, menangis sejadi-jadinya hingga napasnya tersengal. Kehancuran itu begitu telak. Ia merasa seperti baru saja ditikam tepat di ulu hati berkali-kali.
Di tengah jeritan histerisnya, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang kaku muncul di ujung lorong. Mereka berdiri diam, memperhatikan pemandangan tragis itu tanpa ekspresi sedikit pun. Mereka adalah kaki tangan Liam Jionel.
Salah satu dari mereka mendekat, mengabaikan kondisi Kalea yang sedang hancur lebur. "Nona Kalea, Tuan Jionel meminta kami untuk menjemput Anda. Sekarang."
Kalea mendongak dengan wajah yang basah oleh air mata dan tatapan mata yang kosong. "Ibu saya meninggal... kalian tidak lihat?! Dia meninggal!"
"Tuan Jionel sudah tahu. Dan beliau tetap meminta Anda datang. Urusan pemakaman akan diurus oleh tim kami, tapi Anda... harus ikut kami sekarang juga," ucap pria itu datar, seolah nyawa manusia tidak lebih dari sekadar angka di laporan tahunan.
"Aku tidak mau pergi! Pergi kalian!" Kalea mencoba meronta, namun tenaganya sudah habis. Ia ditarik berdiri secara paksa. Ia terlalu lemah untuk melawan saat kedua pria itu memapahnya keluar dari rumah sakit, mengabaikan duka yang baru saja menghantamnya.
Kalea dimasukkan ke dalam mobil mewah hitam yang sudah menunggu. Di dalam kabin yang senyap, ia hanya bisa terisak tanpa suara. Harum parfum sandalwood milik Liam yang tertinggal di dalam mobil itu kini terasa seperti aroma kematian baginya. Ia merasa seperti mayat hidup. Hidupnya sudah berakhir di meja operasi itu bersama sang ibu, dan kini yang tersisa hanyalah raga yang telah menjadi milik seorang iblis.
Mobil itu melaju menuju mansion megah milik Liam Jionel. Sepanjang perjalanan, Kalea hanya menatap resi pembayaran rumah sakit di tangannya. Satu miliar untuk sebuah kematian. Ia tertawa kecil dalam isaknya—sebuah tawa getir yang penuh dengan kegilaan.
Sesampainya di mansion, Kalea dipandu masuk menuju ruang kerja Liam. Pria itu duduk di balik meja besarnya, tampak tenang seolah dunia tidak sedang berakhir bagi wanita di hadapannya. Ia menyesap minumannya, lalu menatap Kalea yang berdiri dengan penampilan sangat kacau—rambut berantakan, baju kusut, dan mata yang bengkak.
"Duduklah, Kalea," perintah Liam dingin tanpa melihat ke arahnya.
Kalea tidak bergerak. Ia menatap Liam dengan kebencian yang begitu pekat hingga rasanya bisa membakar ruangan itu. "Ibu saya meninggal. Anda puas sekarang? Semuanya sudah tidak ada gunanya lagi!"
Liam meletakkan gelasnya dengan dentingan halus. Ia berdiri, berjalan perlahan mengitari mejanya hingga berdiri tepat di depan Kalea. Ia mencengkeram dagu gadis itu, memaksa mata Kalea yang hancur untuk menatap mata kelamnya.
"Kematian adalah sesuatu yang tidak bisa kubeli, Kalea. Tapi hidupmu... sudah kubeli. Aku turut berduka, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa kau adalah propertiku sekarang."
"Aku tidak punya alasan lagi untuk hidup! Ambil saja nyawaku jika itu yang Anda mau!" tantang Kalea, suaranya parau namun penuh amarah.
Liam mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat yang membuat Kalea merasa jiwanya benar-benar telah mati. "Nyawamu terlalu murah untuk harga satu miliar, Kalea. Aku ingin kau hidup. Aku ingin kau merasakan setiap detik bagaimana rasanya menjadi milikku di tengah rasa kehilanganmu."
Liam menatap tajam ke dalam manik mata Kalea yang basah. "Kau akan tinggal di sini. Kau akan melayaniku. Dan jangan pernah berpikir untuk menyusul ibumu, karena aku tidak akan membiarkanmu mati sebelum aku bosan menyiksamu dengan kehadiranmu di sisi pria yang paling kau benci."
Kalea tidak lagi berteriak. Ia hanya menatap Liam dengan pandangan kosong. Air matanya sudah kering, menyisakan rongga hampa di dadanya. Di ruangan mewah yang dingin itu, Kalea menyadari satu kenyataan pahit: Ia baru saja masuk ke dalam neraka yang sebenarnya, di mana kematian pun terasa seperti sebuah kemewahan yang tidak bisa ia raih.
Liam melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Kalea nyaris terjatuh. "Bersihkan dirimu. Pelayan akan menunjukkan kamarmu. Jangan biarkan aku memanggilmu dua kali."
Kalea berbalik dengan langkah gontai, mengikuti pelayan menuju lantai atas. Kamar yang diberikan padanya sangat luas dan mewah, namun bagi Kalea, itu tak lebih dari sebuah sel penjara yang dihias emas. Ia mengunci pintu, lalu merosot di balik daun pintu, menangisi nasibnya yang kini terikat selamanya pada sang iblis berwajah malaikat.