Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Novel dan Sistem ; Tua Menjadi Muda
Dingin.
Itu adalah sensasi pertama yang menjalar melalui kesadarannya. Bukan dinginnya angin malam, melainkan dingin yang lahir dari keheningan absolut, jenis keheningan yang menggerogoti tulang dan membekukan aliran darah.
Wu Xuan perlahan membuka kelopak matanya. Pandangannya kabur selama beberapa detik sebelum perlahan memfokuskan diri pada dinding batu berlumut di hadapannya. Aroma dupa yang terbakar habis puluhan tahun lalu masih mengendap di udara, bercampur dengan bau debu dan kelembapan.
"Apa yang terjadi?"
"Perasaan apa ini?"
Dia tidak sedang berada di apartemennya. Dia juga tidak sedang berada di ranjangnya yang nyaman setelah kelelahan membaca novel maraton hingga pagi.
"Apa aku diculik? Sial siapa juga yang menculik pengangguran sebatang kara," gumamnya pelan. Suaranya terdengar serak, berat, dan tua. Menggema pelan di dalam gua batu yang remang-remang.
Rasa sakit yang tiba-tiba menusuk kepalanya seperti ribuan jarum yang dipanaskan. Ingatan yang bukan miliknya membanjiri otaknya secara paksa—potongan-potongan kehidupan, wajah-wajah asing, hierarki klan, metode pernapasan, dan sebuah nama yang sangat ia kenal.
Wu Xuan. Patriark Keluarga Wu.
Bibirnya perlahan melengkung ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang sama sekali tidak memancarkan kehangatan. "Dari sekian banyak cara untuk mati atau berpindah dimensi, tertidur setelah menamatkan novel fantasi kelas teri adalah yang paling lucu. Dan sekarang... aku menjadi karakter sampingan? Seorang ayah dari antagonis kelas rendahan yang hanya hidup untuk diinjak oleh tokoh utama?"
Dia mengingat jalan cerita novel yang baru saja ia selesaikan. Keluarga Wu adalah keluarga bangsawan besar, namun ditakdirkan menjadi batu loncatan pada arc pertama bagi sang Protagonis. Alasan utamanya? Putra dari tubuh ini, seorang pemuda sombong bernama Wu Shan, yang terus-menerus mencari masalah dengan karakter-karakter yang memiliki 'takdir surgawi'.
Dan di mana posisi patriark Wu Xuan yang asli dalam semua kekacauan itu? Dia sedang mengasingkan diri, buta terhadap kehancuran keluarganya, hanya untuk keluar di saat-saat terakhir dan dibunuh secara tragis karena mencoba membalas dendam untuk putranya yang bodoh.
"Kau punya kekuasaan, kau punya sumber daya, tapi kau memilih untuk menutup diri di gua lembap ini sementara anakmu menghancurkan segalanya yang kau kumpulkan di luar sana," Wu Xuan bermonolog, nadanya datar namun penuh dengan sarkasme yang mematikan. "Dan dari ingatan ini... kau melakukan semua ini karena kau terlalu mencintai istrimu yang sebenarnya tidak mencintaimu, mencoba mencari cara agar menjadi pria yang dicintainya? Pria tua yang bodoh dan malang. Sayangnya, Cinta buta tidak bisa menghentikan pedang yang mengiris leher keluargamu."
Wu Xuan menghela napas panjang. Dia tidak merasakan simpati sedikit pun pada pemilik tubuh sebelumnya. Di matanya, kebodohan emosional adalah dosa yang jauh lebih tak termaafkan daripada kelemahan fisik.
"Baiklah. Karena aku sudah ada di sini, menangisi nasib tidak akan mengubah fakta."
Alih-alih langsung duduk bermeditasi untuk memeriksa aliran energi spiritualnya seperti yang akan dilakukan oleh transmigrator lainnya, Wu Xuan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat sederhana. Tubuh tua ini terasa kaku. Dia menekan lututnya yang berderit, lalu berdiri tegak, merentangkan kedua tangannya ke atas, dan menguap lebar. Mengabaikan sirkulasi energi, mengabaikan gravitasi spiritual ruangan pengasingan.
Dia hanya ingin meregangkan otot. Kenapa harus duduk menyiksa diri jika kau bisa berdiri?
Tepat pada detik itu, sebuah suara mekanis yang dingin namun tanpa emosi bergema di dalam tengkoraknya.
[Ding!]
[Mendeteksi anomali perilaku. Host melakukan tindakan di luar logika kultivasi (Meregangkan badan dengan santai di tengah Array Pengasingan Hidup-Mati).]
[Sistem Random diaktifkan. Sistem ini akan aktif secara acak dan memberikan hadiah atau pilihan saat Host melakukan tindakan di luar kebiasaan atau logika umum dunia ini.]
[Menghitung probabilitas tindakan... Hadiah Random Ditetapkan!]
[Selamat! Host mendapatkan: Hak Terobosan Alam Tanpa Syarat (Satu Kali Penggunaan).]
Mata Wu Xuan sedikit menyipit. Senyum di bibirnya semakin jelas, namun matanya tetap mencoba mengikuti karakter yang sedingin es. "Sistem Random? Jadi, hanya karena aku malas duduk bersila, alam semesta memberiku kunci untuk naik tingkat? Dunia ini benar-benar tidak adil. Tapi aku... sangat menyukai ketidakadilan, selama itu menguntungkanku."
Dia tidak ragu. Dalam dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, menunda kekuatan adalah bentuk bunuh diri secara perlahan.
"Gunakan Hak Terobosan," perintahnya dalam hati.
[Dikonfirmasi. Memulai proses terobosan dari Ranah Kuno Puncak menuju Ranah Primordial Suci Tahap Awal. Peringatan: Sistem hanya memberikan 'Hak', Host tetap harus menanggung beban energi dan Tribulasi Dunia secara fisik dan mental.]
Seketika, keheningan gua itu hancur.
Bukan suara ledakan, melainkan suara udara yang dihisap secara paksa. Energi spiritual dari radius ratusan mil di luar kediaman Keluarga Wu tersedot, membentuk pusaran raksasa di langit yang langsung menembus atap gua.
Langit yang tadinya cerah berubah menjadi hitam pekat. Awan kosmik berwarna ungu dan emas berputar, memancarkan tekanan yang membuat setiap kultivator di sekitar kediaman keluarga Wu berlutut tanpa sadar. Ini bukan sekadar peningkatan kekuatan; ini adalah evolusi eksistensi.
Di dalam gua, Wu Xuan berdiri di tengah badai energi. Kulit keriputnya mulai retak, memancarkan cahaya menyilaukan dari dalam. Petir hitam dari Tribulasi Surgawi menyambar turun, menembus lapisan pelindung gua, dan menghantam tubuhnya secara langsung.
BZZZTTT! CRACK!
Rasa sakitnya berada di luar nalar manusia. Seolah-olah setiap sel di tubuhnya ditarik, dihancurkan, dan dibakar di atas api neraka. Namun, Wu Xuan tidak berteriak. Matanya tetap terbuka lebar, menatap lurus ke arah petir yang menyambarnya.
"Hanya ini?" bisiknya di tengah gemuruh guntur, suaranya nyaris tenggelam namun penuh dengan arogansi yang hening. "Kau menyebut dirimu ujian langit? Jika kau ingin membunuhku, kau butuh lebih dari sekadar kilatan cahaya."
Dia tidak melawan energi itu; dia menerimanya, menganalisisnya, dan memaksanya tunduk. Pola pikirnya yang dingin dan penuh perhitungan mengkalkulasi setiap kerusakan sel dan membiarkan energi regenerasi dari terobosan mengambil alih tepat pada waktunya. Ini bukan kemenangan karena kekuatan fisik, ini adalah kemenangan mental. Dia menolak untuk hancur.
Tiga belas sambaran petir hitam berlalu. Langit akhirnya kembali tenang, menyisakan aura dominasi absolut yang perlahan ditarik kembali ke dalam gua.
Di tengah kepulan asap dan debu batu yang hancur, siluet seorang pria perlahan melangkah maju.
Pakaian kultivator lamanya telah menjadi abu, digantikan oleh jubah esensi murni yang ditenun dari sisa energi spiritual. Wu Xuan mengangkat tangannya. Kulit yang tadinya dipenuhi bintik penuaan dan keriput kini sehalus porselen, namun memancarkan kepadatan yang bisa menghancurkan gunung.
Dengan jentikan jarinya, kelembapan di udara mengembun, membentuk sebuah cermin air yang mengambang di hadapannya.
Pria yang terpantul di sana bukan lagi kakek tua yang menunggu ajalnya di ruang pengasingan. Itu adalah seorang pria muda yang berada di jalan kedewasaan. Rambutnya putih panjang mengalir seperti bulan malam, fitur wajahnya tajam, terpahat sempurna tanpa cela. Ketampanannya melampaui batas manusia fana, melampaui masa jayanya sendiri di masa lalu.
Namun, yang paling menonjol adalah sepasang matanya. Emas kristal, dan memancarkan ketenangan predator yang baru saja terbangun. Saat dia tersenyum pada bayangannya sendiri, tidak ada kehangatan di sana. Itu adalah senyum yang akan membuat jenderal perang paling berani pun berkeringat dingin—senyum yang mengatakan, 'Aku memegang hidupmu, dan aku sedang mempertimbangkan apakah aku harus menghancurkannya.'
"Sisi kosmetik dari kultivasi ini benar-benar tidak mengecewakan, Pak tua Wu Xuan karakter sampingan kini menjadi muda dan tampan ditanganku," gumam Wu Xuan santai, mengibaskan tangannya hingga cermin air itu hancur menjadi uap.
[Terobosan Selesai.]
[Membuka Panel Status Host]
Tulisan bercahaya biru pucat muncul di retina matanya.
Nama: Wu Xuan
Tingkat Kultivasi: Ranah Primordial Suci (Tahap Awal)
Akar Spiritual:
• Akar Spiritual Air (Aktif)
• 1000 Akar Spiritual (Terkunci)
Wu Xuan terdiam sejenak. Matanya terpaku pada baris terakhir. Seribu Akar Spiritual Terkunci.
Di dunia ini, memiliki dua akar spiritual saja sudah dianggap Berkah dari surga. Memiliki akar spiritual elemen khusus membuat seseorang menjadi incaran sekte-sekte besar. Tapi seribu? Itu bukan lagi bakat, itu adalah cheat.
Dia kembali menggali ingatan pemilik tubuh asli. Dan saat kebenaran terungkap, Wu Xuan nyaris tertawa keras—tawa dingin yang merendahkan.
"Pemilik asli... kau benar-benar ketololan berjalan," ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Pemilik asli Wu Xuan ternyata memiliki tubuh cheat bawaan lahir. Namun, karena dia terlalu terobsesi dengan cinta—terlalu 'bucin' pada istrinya yang luar biasa cantik—dan kemudian menjadi ayah yang buta karena kasih sayang berlebih pada putranya, dia tidak pernah mencoba memahami tubuhnya sendiri. Dia menghabiskan seluruh waktunya mencari harta karun untuk keluarganya, melindungi keluarganya dari bayang-bayang, dan akhirnya mengurung diri karena depresi setelah istrinya berselingkuh, mencoba teknik terlarang yang justru merusak fondasinya.
"Wu Xuan kau bodoh sekali!! Kau punya pedang dewa, tapi kau menggunakannya untuk memotong bawang," Wu Xuan menghela napas panjang, ekspresinya kembali datar. "Menyedihkan. Terlalu banyak emosi, terlalu sedikit rasionalitas. Cinta dan kasih sayang buta adalah racun bagi seorang pemimpin. Tapi jangan khawatir, aku tidak memiliki emosi sentimental seperti itu."
Untuk memahami posisinya secara absolut, Wu Xuan memanggil informasi dunia melalui sistem. Hierarki kekuatan dunia ini langsung tergelar di benaknya.
Pembentukan Qi
Ranah Jiwa
Ranah Roh
Ranah Kuno
Ranah Primordial Suci (Posisi Wu Xuan Saat Ini)
Ranah Tribulasi Dunia
Ranah Jiwa Dunia
Ranah Dunia Sejati
Ranah Kaisar Dimensi
Ranah Leluhur Berdaulat
"Ranah Primordial Suci," gumamnya, merasakan aliran energi yang mampu menghancurkan ruang di ujung jarinya. "Di wilayah kekaisaran tingkat menengah seperti ini, seorang kultivator Ranah Kuno sudah cukup untuk menjadi menteri atau jenderal besar. Primordial Suci? Itu adalah ranah para leluhur yang bersembunyi di balik layar kekaisaran."
Dia belum menjadi entitas terkuat di dunia—masih ada lima ranah yang menjulang di atasnya—tapi di papan catur sekitarnya saat ini, dia adalah Menteri yang bisa memakan bidak apa saja tanpa perlawanan.
Saat Wu Xuan sedang menimbang langkah selanjutnya, sebuah ingatan spesifik menyengat pikirannya seperti alarm peringatan.
Matanya menyipit berbahaya. "Tunggu. Hari apa ini?"
Dia mengingat jadwal yang ditinggalkan oleh putranya, Wu Shan, sebelum dia memasuki pengasingan. Berdasarkan perputaran waktu di dalam gua, hari ini adalah hari di mana Wu Shan dijadwalkan menghadiri sebuah perjamuan penting.
Lebih spesifik lagi: Hari ini adalah hari di mana Wu Shan, putra bodohnya itu, berencana untuk membatalkan pertunangannya di depan publik.
Pertunangan dengan siapa? Qin Wuyan.
Qin Wuyan bukan sekadar gadis biasa. Dia adalah putri dari mantan Menteri Agung Qin. Sebuah keluarga bangsawan yang baru saja runtuh dan jatuh karena ayah gadis itu berselisih paham secara politik dengan Pangeran Mahkota Kekaisaran Yan. Jabatannya diturunkan drastis menjadi pejabat kelas tiga, dan keluarga Qin menjadi paria di mata kaum elit.
Dalam plot novel aslinya, pembatalan pertunangan ini adalah insiden krusial yang mengubah Qin Wuyan. Gadis itu tidak hanya dipermalukan, tapi dendamnya memicu bangkitnya garis keturunan kuno di dalam dirinya, menjadikannya salah satu Villainess paling kejam yang kelak beraliansi dengan tokoh utama untuk membantai Keluarga Wu hingga ke akar-akarnya.
Dan mengapa Wu Shan yang idiot itu tiba-tiba ingin membatalkan pertunangan?
Otak Wu Xuan yang kalkulatif langsung merangkai benang merahnya. Lin Huyan.
Putri dari Menteri Agung Lin—menteri baru yang menggantikan ayah Qin Wuyan, yang juga merupakan anjing peliharaan setia dari Pangeran Mahkota Kekaisaran Yan. Wanita ular itu telah menghasut Wu Shan, memainkan egonya, menggunakan kecantikannya untuk memanipulasi putra Wu Xuan agar memutuskan hubungan dengan keluarga Qin yang sedang jatuh, demi menjilat faksi Pangeran Mahkota.
"Luar biasa," puji Wu Xuan dengan senyum mematikan yang perlahan mekar di wajahnya. "Putraku tidak hanya dungu, dia juga pion buta yang dikendalikan oleh seorang wanita kecil dan faksi politik rendahan. Dia pikir dia sedang membuat pilihan cerdas, padahal dia sedang menggali kuburan massal untuk seluruh klan Wu."
Dalam cerita asli, tindakan ini sukses besar. Wu Shan mempermalukan Qin Wuyan, Lin Huyan mendapatkan poin politik untuk ayahnya, dan Pangeran Mahkota tertawa di atas penderitaan orang lain. Sementara Keluarga Wu? Mereka menjadi target balas dendam beberapa tokoh penting di masa depan tanpa mendapat perlindungan dari siapapun.
"Jika aku membiarkan drama murahan ini berlanjut, aku harus berhadapan dengan plot armor seorang tokoh utama dan villainess di masa depan," Wu Xuan mengetukkan jarinya ke dinding batu. "Mencegah masalah sebelum benihnya tumbuh adalah dasar dari efisiensi."
Mencegah pembatalan pertunangan? Tidak, itu terlalu pasif. Menampar putranya dan meminta maaf pada keluarga Qin? Itu membuat Keluarga Wu terlihat lemah dan tunduk.
Wu Xuan tidak bermain untuk bertahan. Dia bermain untuk membalikkan seluruh permainan.
"Lin Huyan dan ayahnya merasa mereka bisa menjadikan Keluarga Wu sebagai alat politik mereka," mata Wu Xuan berkilat dingin. "Mari kita lihat, apakah punggung mereka cukup kuat untuk menahan kekuatanku."
Menurut ingatan, perjamuan hari ini tidak diadakan di kediaman Wu, melainkan di kediaman Keluarga Lin. Sebuah jebakan psikologis yang sempurna yang disiapkan oleh Lin Huyan untuk memojokkan Qin Wuyan di kandang musuh, dengan Wu Shan sebagai eksekutornya.
Wu Xuan memutar lehernya, membunyikan persendiannya. Energi di sekitarnya mulai beriak tidak stabil.
Berjalan kaki ke sana akan memakan waktu. Terbang menggunakan pedang terlalu mencolok dan lambat.
Sebagai seorang Primordial Suci tahap awal, pemahamannya tentang hukum alam telah melampaui batasan fisik material. Ruang dan jarak bukan lagi rintangan absolut; mereka hanyalah kanvas yang bisa ditarik dan dilipat.
Wu Xuan mengangkat tangan kanannya, mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke ruang kosong di hadapannya. Ekspresinya setenang air kolam yang dalam, tidak menunjukkan sedikit pun ketegangan.
"Buka," perintahnya pelan.
Dia menggeser jarinya ke bawah.
SRIIIKKK!
Suara kain yang dirobek secara paksa bergema di dalam gua. Udara di hadapannya terbelah, menampilkan retakan dimensi berwarna hitam pekat dengan kilatan bintang-bintang kecil di dalamnya. Melalui celah tersebut, dia bisa melihat sekilas taman kediaman Keluarga Lin yang megah, dipenuhi para tamu bangsawan yang tertawa-tawa dengan gelas anggur di tangan mereka, tidak menyadari bahwa dewa kematian baru saja melirik ke arah mereka.
"Bermain politik dengan keluargaku..." Wu Xuan melangkah maju, membiarkan jubahnya berkibar oleh angin dimensi yang kencang. Senyum tenang yang mematikan itu kembali terukir di wajahnya yang terlalu tampan. "Langkah yang sangat, sangat buruk."
Satu langkah, dan dia menghilang ke dalam retakan ruang. Gua pengasingan itu kembali hening, namun sisa tekanan spiritual di sana cukup untuk membuat area itu menjadi zona kematian bagi siapa pun yang berani mendekat.
Panggung telah disiapkan. Dan sang sutradara baru saja tiba untuk mengubah seluruh naskah.
Bersambung...