Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kurir
Suasana kafe itu hangat di permukaan.
Bunyi sendok bertemu cangkir, uap kopi yang naik pelan, dan percakapan ringan dari meja-meja kecil membuat tempat itu tampak seperti tempat yang aman untuk orang yang cuma ingin lupa. Fred duduk dekat bar, menjaga wajahnya tetap biasa, jari-jari mengitari cangkir yang mulai dingin.
Namun sejak Maëlle masuk dan duduk dekat kaca, udara seperti punya lapisan kedua—lapisan tipis yang tidak terlihat, tapi terasa.
Bukan lama, setelah itu, pintu belakang kafe terbuka.
Seorang wanita keluar dari sana—mungkin pemilik, mungkin manajer—berjalan dengan langkah yang tidak terburu-buru, tapi penuh kepastian. Tubuhnya agak gemuk, pipinya bulat, dan ia mengenakan apron sederhana. Wajahnya ramah dalam cara yang dibuat-buat: senyum kecil yang tidak menyentuh mata.
Ia tidak menuju kasir. Ia langsung menuju meja Maëlle.
Fred menahan napas. Ia berpura-pura fokus pada majalah tipis yang ia ambil dari rak, tapi telinganya menajam.
Wanita itu duduk di kursi tepat di hadapan Maëlle, tanpa bertanya.
Kalimat pertamanya keluar pelan, santai, tapi terasa seperti sandi.
“Kau tidak mengantar pesanan bir sebelumnya,” kata wanita itu, seolah menegur pegawai yang telat.
Maëlle tidak terkejut. Ia menatap cangkirnya, lalu mengangkat mata.
“Ada yang mengantar duluan,” jawab Maëlle. “Dan lebih dari satu kurir.”
Wanita gemuk itu mengernyit, heran—atau pura-pura heran. “Lebih dari satu kurir?”
Fred merasakan jantungnya berdetak lebih keras.
Di telinga orang biasa, ini percakapan aneh tentang pengantaran barang. Tapi Fred… Fred sudah hidup cukup lama di bayangan Maëlle untuk memahami bahasa yang dibungkus.
Kurir.
Pesanan.
Pengantar.
Itu bukan bir. Itu kontrak.
Maëlle mencondongkan tubuh sedikit, suaranya tetap normal, tidak berbisik, tapi tajam.
“Pesanan itu bukan dari tempat ini,” kata wanita gemuk itu, nada suaranya berubah lebih serius.
“Justru itu,” jawab Maëlle, dan ada nada ngotot yang jarang ia tunjukkan. “Aku ingin tahu siapa yang memesan.”
Wanita gemuk itu mendecak kecil. “Itu melanggar kode etik kurir.”
Fred menahan diri agar tidak menatap mereka terlalu jelas.
Kode etik kurir.
Berarti benar. Ini jaringan. Ada aturan. Ada perantara. Ada orang yang menjaga supaya nama pemesan tetap kabur.
Wanita gemuk itu menggerakkan jari di atas meja, gerakan kecil seperti mengetuk ritme.
“Aku cuma ditelepon,” katanya. “Aku tidak tahu siapa pemesannya.”
Maëlle menatapnya lama.
Keheningan kecil muncul, seolah dua orang ini sedang menimbang risiko di kepala mereka masing-masing: siapa yang punya leverage lebih besar, siapa yang lebih butuh.
Fred bisa merasakan Maëlle menahan amarah.
Ia tahu Maëlle tidak suka dinding.
Ia suka pintu.
Maëlle berdiri.
Kursinya bergeser pelan, tidak membuat keributan. Ia merapikan coat-nya dengan gerakan rapi, lalu mengambil langkah mundur seolah percakapan sudah selesai.
“Mau ke mana kau?” tanya wanita gemuk itu, cepat.
Ada sesuatu di suaranya—bukan sekadar penasaran, tapi kontrol. Seolah ia tidak suka “kurir”-nya pergi tanpa izin.
“Ada pesanan baru,” tambah wanita itu, seperti melempar umpan.
Maëlle tidak duduk kembali. Ia hanya menatap wanita itu dengan mata dingin.
“Aku tidak bisa,” jawab Maëlle.
Wanita gemuk itu mengangkat alis. “Kenapa?”
Maëlle menjawab tanpa emosi, tapi kalimatnya menusuk.
“Karena ada kurir lain… yang mau antar pesanan ke rumahku.”
Wanita gemuk itu membeku sebentar, senyumnya hilang satu detik.
Satu detik saja—cukup bagi Fred untuk melihat bahwa ini bukan lagi percakapan café.
Ini ancaman.
Maëlle menoleh sedikit ke arah kaca, memindai jalan. Lalu ia melangkah pergi, keluar kafe tanpa menoleh lagi.
Fred tetap duduk beberapa detik, menahan impuls untuk langsung mengikuti. Ia menunggu seperti yang diajarkan Maëlle: jangan bergerak serentak. Jangan terlihat sebagai satu tim.
Namun ketika Maëlle sudah keluar, rasa penasaran Fred—rasa ingin tahu yang terlalu lama dikekang—membuatnya melihat kafe itu dengan mata yang lebih tajam.
Dan barulah ia sadar.
Ada kamera.
Bukan satu.
Bukan dua.
Di sudut dekat pintu masuk—kamera kecil menghadap kasir.
Di atas rak roti—kamera lain menghadap area meja.
Di dekat toilet—kamera lagi.
Di langit-langit—lebih dari satu, mengawasi seluruh ruangan dari berbagai sudut.
Untuk kafe kecil seperti ini, dua kamera sudah cukup. Bahkan satu pun kadang berlebihan.
Tapi di sini, setiap sudut punya mata.
Fred merasakan kulitnya merinding.
Mereka tidak cuma jual kopi.
Mereka mengawasi.
Dan karena Maëlle duduk di sini dengan sengaja… berarti ini tempat transaksi informasi. Tempat orang datang dan pergi tanpa terlihat mencurigakan karena semua orang datang untuk “kopi.”
Fred berdiri pelan, menaruh uang di meja seperti orang yang selesai minum, lalu berjalan keluar dengan ritme biasa. Bel pintu berbunyi lagi. Udara luar menampar wajahnya.
Di pinggir jalan, sebuah taksi menunggu. Maëlle sudah duduk di kursi belakang, sisi kiri, posisi yang membuatnya bisa melihat jalan belakang lewat kaca.
Fred mendekat, membuka pintu, masuk.
Ia hendak bicara—banyak hal ingin keluar sekaligus: tentang kamera, tentang “kurir”, tentang “rumah Maëlle”—tapi sebelum satu pun kata keluar, Maëlle mengangkat jari ke bibirnya.
Bukan “diam” dramatis.
Lebih seperti kode sederhana: ada telinga.
Fred menelan kata-katanya.
Ia menatap sopir taksi lewat kaca depan.
Pria itu tampak biasa. Tapi “biasa” sudah tidak lagi berarti aman.
Maëlle menyebut tujuan dengan suara datar: “Stasiun.”
Sopir mengangguk, menyalakan mesin, dan taksi bergerak menyatu dengan arus London.
Di dalam mobil, tidak ada pembicaraan.
Fred memandang keluar jendela, mencoba menahan gemetar kecil di tangannya. Ia menatap pantulan kaca—wajahnya sendiri tampak seperti orang asing.
Maëlle duduk diam, tapi matanya bergerak, membaca jalan. Ia tidak terlihat seperti sedang panik. Tapi Fred bisa merasakan ketegangan di garis rahangnya. Seolah Maëlle sedang menghitung mundur sesuatu yang tidak ia bagi.
Mereka sampai di stasiun. Maëlle membayar, turun duluan, lalu memberi isyarat pada Fred untuk mengikuti, tetap dengan jarak kecil.
Di peron, orang berlalu-lalang. Kereta datang. Mereka naik.
Baru di dalam kereta—ketika pintu tertutup dan suara kota sedikit meredam—Fred berharap Maëlle akan bicara.
Tapi Maëlle tetap diam.
Fred menatap jendela, melihat London mundur perlahan.
Ia ingin bertanya: apa rencanamu? apa yang kamu temukan? siapa wanita gemuk itu? apa maksudnya “kurir ke rumahku”?
Namun setiap kali ia hendak membuka mulut, ia teringat mata-mata kamera di kafe. Terlalu banyak mata di dunia ini.
Dan mungkin… bahkan di sini pun ada telinga.
Maëlle menatap ke depan, datar, seolah sedang menyusun langkah berikutnya di papan catur yang semakin sempit.
Fred akhirnya mengerti satu hal yang menyakitkan:
Mereka belum “menemukan jawaban.”
Mereka baru saja menyentuh pintu yang salah.
Dan pintu itu baru saja mengirim kurir… ke rumah Maëlle.