NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Runtuhnya Benteng Ketegaran

Lampu ring light berpendar terang di ruang tengah butik. Hana berdiri dengan senyum profesional yang manis, tangannya dengan sigap menunjukkan detail jahitan pada sebuah gamis premium. Kolom komentar di layar ponselnya bergerak cepat, pesanan demi pesanan masuk, membuat suasana hati Hana sempat membubung tinggi.

Namun, dalam hitungan detik, alur komentar yang tadinya berisi pujian berubah menjadi aliran racun yang mematikan.

@User_99: Loh, ini bukannya yang lagi viral itu ya?

@AntiPelakor: Oalah, ini wajah aslinya? Pantesan, emang tipe-tipe penggoda.

@DuniaHijab: Kok nggak malu ya? Jualan baju muslim tapi kelakuan ngerebut suami orang. Kedok doang itu hijabnya.

Hana tertegun. Kalimat terakhir itu menghujam tepat di ulu hatinya, membuatnya kehilangan kata-kata di depan kamera. Senyumnya membeku. Tangannya yang memegang gantungan baju mulai gemetar hebat. Komentar pedas lainnya terus bermunculan seolah-olah mereka adalah saksi mata dari sebuah kejahatan yang tidak pernah Hana lakukan.

Mama Hana yang mengawasi dari balik layar segera menyadari perubahan raut wajah putrinya. Ia melangkah maju, membaca sekilas rentetan cacian itu, dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak. Tanpa membuang waktu, sang Mama menarik Hana menjauh dari jangkauan kamera.

"Bi, teruskan livenya sebentar, lalu matikan!" perintah Mama Hana pada salah satu karyawan dengan suara bergetar.

Hana luruh ke lantai tepat setelah lampu kamera padam. Ruangan itu seketika terasa begitu sempit dan menyesakkan.

"Ma... Hana bukan perebut suami orang, Ma. Hana bukan pelakor..." lirih Hana dengan suara yang nyaris hilang.

Air matanya tumpah, membasahi pipi yang tadinya dipoles makeup tipis untuk bekerja.

"Iya sayang, Mama tahu. Kita semua tahu itu fitnah," Mama Hana memeluk putrinya erat, ikut merasakan perih yang luar biasa.

Hana meraih ponselnya dengan jari gemetar, membuka satu tautan berita yang dikirimkan oleh seseorang. Di sana, foto-foto dirinya bersama Arlan terpampang nyata. Namun yang paling menyakitkan adalah narasi di bawahnya yang menyebutkan bahwa Hana telah "mengincar" Arlan sejak Inggit masih terbaring sakit.

"Siapa yang tega, Ma? Siapa..." Hana bangkit dengan gerakan linglung.

Hana meraih tasnya, mencoba memakainya namun tangannya terlalu lemas hingga tas itu jatuh kembali ke lantai. Ia seperti kehilangan arah, jiwanya terguncang hebat.

"Tenang, Hana. Arlan pasti akan mengurusnya. Kita akan hapus berita itu," hibur sang Mama, mencoba menopang tubuh Hana yang mulai limbung.

"Hana bukan pelakor... Hana bukan..."

Racauan itu terus keluar dari bibir Hana yang memucat. Ia kembali terduduk di lantai, memeluk dirinya sendiri seolah sedang berusaha melindungi jiwanya yang sedang dihujam ribuan belati tak terlihat.

Tiba-tiba, pintu butik terbuka dengan kasar. Arlan muncul di ambang pintu dengan napas memburu dan wajah penuh kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan lagi. Begitu melihat Hana yang hancur di lantai, Arlan merasa separuh nyawanya ikut tercabut.

Arlan mendekat, berlutut di depan Hana.

"Hana... saya di sini. Lihat saya," ucap Arlan lembut, mencoba meraih jemari Hana yang dingin.

Namun, Hana justru menarik tangannya. Ia meringkuk, menutup telinganya seolah masih mendengar ribuan komentar jahat itu bergema di kepalanya.

"Hana bukan pelakor... Mas, bilang ke mereka Hana bukan perusak rumah tangga orang..."

Hati Arlan mencelos. Ia melihat Hana, gadis yang sepuluh tahun lalu begitu berani menolongnya, kini hancur lebur hanya karena keserakahan orang lain yang menggunakan jarinya untuk membunuh karakter seseorang.

"Saya tahu. Kamu adalah wanita paling terhormat yang pernah saya temui, Hana," bisik Arlan pilu.

Namun, pertahanan Hana benar-benar sudah mencapai batasnya. Tubuhnya melemas, matanya terpejam lambat saat kesadarannya menghilang. Hana pingsan di pelukan ibunya.

"Hana!" Arlan dengan sigap menangkap tubuh istrinya.

Tanpa membuang waktu, ia menggendong Hana dengan sangat hati-hati, seolah membawa beban paling berharga di dunia ini.

"Mama, ayo kita ke rumah sakit sekarang," tegas Arlan.

Sambil melangkah lebar menuju mobil, Arlan menatap wajah Hana yang pucat dengan sisa air mata di sudut matanya. Di dalam hati, Arlan bersumpah, siapa pun yang telah menyulut api ini, ia akan memastikan mereka merasakan dinginnya ruang gelap di balik jeruji besi. Ia tidak akan membiarkan air mata Hana jatuh sia-sia.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!