Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Selain menyebalkan, kamu juga sok tahu!"
"Bukan sok tahu, tapi aku tahu betul jika orang sedang mengumpat di dalam hati."
"Terserah apa katamu, mulutmu bawel seperti wanita!"
"Hanya kau yang membuat aku selalu naik darah, wanita lain banyak membuatku bungkam karena etikanya yang baik."
"Oh ya? Apakah aku iri? Tentu saja jawabannya ... tidak!" Sahut Nisa sambil menaikan kedua bahunya.
Gian menggelengkan kepalanya, lalu berjalan ke arah pintu untuk keluar kamar lebih dulu.
"Hey! Curang!" Ucap Nisa sambil sedikit berlari.
Gian menyunggingkan senyumnya saat Nisa mengejarnya dari belakang.
"Curang, curang!" Nisa sedikit memukul pelan bahu Gian karena kesal.
"Curang apa? Kau yang lamban dan banyak bicara."
"Tapi—" Belum selesai Nisa menjawab, suara lembut Lulu dari arah meja makan terdengar.
"Nisa ... Gian." Panggilnya.
Bahkan namaku ada di urutan kedua, benar-benar kehadiran wanita ini membuat posisiku sebagai anak satu-satunya tergeser.
Nisa berlari kecil mendahului Gian, "Pagi Bu ... Ayah." Sapanya dengan senyum ceria.
"Pagi-pagi udah kalian sudah berdebat, terdengar loh sampai sini." Kata Akbar sambil terkekeh.
Nisa tersipu malu, "Maaf ayah."
"Rumah jadi ramai berkat Nisa disini." Ucap Lulu.
"Ramai karena keributan." Sahut Gian, menarik kursi makannya tepat di samping Lulu.
"Duduk samping istrimu sana, kamu ini!"
"Gak mau mau deket ibu."
Nisa tersenyum, "Gak apa-apa Bu ... Tidak usah di paksa."
"Dasar kamu Gian,seperti anak-anak saja." Lulu menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai mengabiskan sarapan, Gian hendak berangkat bekerja. Untuk pertama kalinya dia menyerahkan tas hitam yang berisi laptop pada Nisa, "Bawakan tas kerjaku!"
Lulu melirik ke arah Akbar dengan senyum yang penuh arti, sedangkan Akbar berusaha menahan lekukan di bibirnya itu.
"Oh ya Nis, nanti siang Hari mau kesini, kamu udah kenal kan?"
Gian langsung menghentikan langkahnya, "Siapa? Hari? Temanku?" Tanya Gian pada Lulu.
"Iya, tadi dia chat Ibu ... Tanya Nisa ada di rumah atau tidak, kenapa?"
"Lalu ibu mengizinkannya?"
"Kenapa tidak? Bagus dong Nisa ada yang ajak jalan-jalan ... Sekaligus dia belajar kebiasaan orang-orang di kota, biar dia bisa cepat berbaur. Kenapa kamu? Cemburu?"
Gian langsung menggelengkan kepalanya, tapi wajahnya berkata lain.
"Tuh kan gak cemburu, berarti gak masalah ya kalau Nisa pergi sama Hari. Lagipula kamu kan tidak serius dengan pernikahan ini. Jika Ibu tidak bisa menjadi ibu Mertua Nisa, Ibu akan menjadi ibu angkatnya Nisa saja, kebetulan kan ibu ingin sekali anak perempuan."
Gian berdecak, lalu membalikan tubuhnya dan terus melangkah keluar rumah di ikuti oleh Nisa, dia sama sekali tak memperdulikan apa yang Ibunya katakan.
Akbar dan Lulu terhenti di ruang keluarga, mereka berdua saling memandang. "Semangat Bu!" Kata Akbar, pria paruh baya itu mengecup kening istrinya lalu berpamitan untuk bekerja.
Nisa terhenti di samping pintu kemudi mobil Gian. "Ini tasmu!"
Gian terbayang kebersamaan Hari dan Nisa beberapa jam kedepan, dia kemudian melihat ke arah kaki Nisa yang menggunakan celana pendek. "Kau sengaja menggunakan celana pendek untuk menggoda Hari, iya kan?"
"Kalau iya, memang apa pedulimu?"
"Jangan kotori mata temanku, di belakang sana ... Di mempunyai banyak perempuan cantik, tentunya kau tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan mereka."
"Oh ya? Tapi dia rela datang menemuiku di sela-sela kesibukannya."
"Jadi kau bangga di perlakukan seperti itu?"
"Kalau iya, memang apa pedulimu? Sudah 2x aku mengulang pertanyaan ini." Nisa melipat kedua tangannya, raut wajahnya sama sekali tidak bersahabat.
"Tidak ... Sama sekali tidak ada rasa perduliku padamu Nisa."
"Lalu, untuk apa kamu terus mengoceh disini? Cepat sana berangkat bekerja!" Nisa hendak mendorong pintu mobil Gian, tapi Gian menahannya.
"Sebagai rasa hormatmu pada suamimu ini, cium tanganku ketika aku hendak bekerja dan pulang bekerja, ingat ... Om Guntur pernah mengatakan, dosa besar jika seorang istri tidak mematuhi apa yang suaminya katakan."
"Itu tidak berlaku untuk suami sepertimu."
"Nisa!" Gian tak memperdulikannya, dia tetap mengulurkan sebelah tangannya pada Nisa.
Dengan gerakan ragu, Nisa mulai mengarahkan punggung telapak tangan Gian ke arah bibirnya, tapi Gian menghentikannya, "Cukup di tempelkan di kening, jangan sampai tanganku ternodai oleh bibirmu itu."
Ah sial! Batin Nisa.
Nisa dengan cepat menempelkan punggung tangan Gian pada keningnya, lalu melepasnya dengan cepat dan pergi menjauh masuk ke dalam rumah meninggalkan Gian yang tak kunjung pergi.
Gian tertawa kecil karena puas sudah membuat Nisa kesal pagi ini, tapi fikirannya tetap pada apa yang Ibunya katakan beberapa menit sebelumnya.
***
"Hati-hati ya Hari ... Jangan sampe lecet." Ucap Lulu saat Hari menjemput Nisa untuk di ajak jalan-jalan.
Siang ini Hari menggunakan pakaian casual, sedangkan Nisa menggunakan dress semi formal dengan rambut yang di biarkan tergerai polos tapi tetap indah di lihatnya.
"Siap Tante."
Nisa tak banyak bicara, dia takut Lulu membahas status yang sebenarnya, karena Nisa mengenalkan dirinya sebagai sepupu Gian, bukan istrinya.
"Bu, Nisa pamit."
"Iya, senang-senang ya kalian." Kata Lulu, dia lalu membantu menutup pintu mobil saat Nisa memasukinya.
Di dalam mobil, berkali-kali Hari menoleh ke arah Nisa sambil tersenyum. "Nisa, kamu mau bergaya seperti orang Kota atau orang desa pun rasanya tetap enak di pandang, kok bisa begitu ya?"
Pipi Nisa memerah saat mendengar pujian dari mulut Hari. "Ah kak Hari, bisa saja." Sahut Nisa.
.
.
Hari membawa Nisa ke sebuah mall yang ramai, dia mengajak Nisa ke sebuah toko yang menjual berbagai merk ponsel.
"Aku belikan ponsel ya, biar aku bisa berkomunikasi langsung ... Bukan melalui Gian atau Tante Lulu."
"Eh jangan Kak, ini harganya mahal-mahal banget."
"Gak mahal Nis, memang harganya segitu kok. Semakin mahal ... fiturnya semakin bagus, jadi gak ada yang di rugikan."
"Gak ada ponsel bekas aja Kak? Yang buat telpon aja gitu, gak usah aneh-aneh."
"Nisa ... Cantik, please jangan di tolak ya." Pinta Hari dengan wajah memelasnya.
"Ng .... B-baiklah."
Andai saja, pria menyebalkan itu sikapnya seperti kak Hari, mungkin aku akan bersikap baik padanya !
***
Setelah selesai makan siang, Gian sudah berada di rumah.
"Tumben kamu, udah selesai urusan?" Tanya Lulu saat Gian masuk ke dalam rumah.
"Mana Nisa?" Tak menjawab pertanyaan Gian langsung pada intinya, sejujurnya sepanjang dia berangkat sampai berada di cafe, dia sangat penasaran apa yang sedang Nisa lakukan dengan Hari.
"Nisa? Bukannya Ibu udah bilang tadi pagi ya? Dia kan pergi sama Hari."
"Loh? Bukannya Hari yang ke rumah?"
"Iya betul, tapi setelah itu mereka berdua jalan-jalan. Saking senangnya melihat ekspresi Nisa dan Hari ... Ibu lupa menanyakan kemana mereka akan pergi. Memang ada apa?" Tanya Lulu yang berusaha menahan senyumnya, ternyata sedikit demi sedikit sikap anaknya itu bisa melunak.