NovelToon NovelToon
Dua Hati Mencintai

Dua Hati Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 24

Pagi menyingsing pelan.

Cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar Ken.

Hangat. Lembut. Seolah tidak tahu bahwa semalam dunia seseorang berubah.

Ken tertidur dalam posisi duduk di kursi samping ranjang.

Kepalanya sedikit menunduk.

Tangannya masih menggenggam ujung selimut.

Ia tidak pernah pindah.

Tidak pernah benar-benar tidur nyenyak.

Hanya tertidur karena tubuhnya akhirnya kalah dengan lelah.

Di atas ranjang,

Aveline bergerak pelan.

Alisnya berkerut kecil.

Napasnya berubah.

Kelopak matanya bergetar.

Perlahan… ia membuka mata.

Cahaya pagi menyilaukan.

Ia memicing.

Butuh beberapa detik untuk mengingat di mana ia berada.

Langit-langit putih.

Aroma ruangan yang familiar.

Dan… sosok di sampingnya.

“Ken…”

Suaranya lirih.

Serak.

Seperti suara seseorang yang terlalu lama menangis.

Ken langsung terbangun.

“Eve?”

Ia berdiri cepat, kursinya sedikit bergeser.

“Kamu sadar? Bagaimana rasanya? Bagian mana yang sakit?”

Tangannya otomatis menyentuh dahinya.

Tidak demam.

Ia mengecek infus.

Masih menetes stabil.

“Kamu harus makan nanti. Tubuhmu lemah sekali. Dokter bilang kamu kekurangan gizi. Kamu mendengar ku?”

Nada suaranya panik.

Terlalu panik.

Aveline menatapnya.

Tersenyum tipis.

Mata yang dulu selalu ia hafal.

Namun kini,

Terlihat lebih dalam.

Lebih rapuh.

Air mata langsung menggenang.

“Ken…”

Tangannya yang kurus terangkat pelan.

Menyentuh lengan Ken.

Seolah memastikan ini bukan mimpi.

“Ken….Ini nyata kan? Ini bukan mimpikan?”

Ken menahan napas.

Kalimat itu seperti memutar waktu.

“Ya….ini nyata, ini bukan mimpi eve.”

Aveline tersenyum kecil.

Senyum yang dulu pernah membuat dunia Ken berwarna.

Tapi sekarang,

Ada luka di baliknya.

“Aku pikir… aku nggak akan pernah lihat kamu lagi.”

Ken tidak tahu harus menjawab apa.

Karena beberapa tahun lalu.

Ia memang mengira gadis itu sudah tidak ada.

Dinyatakan meninggal oleh orang tuanya.

Karena kecelakaan dan mobilnya terbakar.

Orang tuanya pun menunjukkan makamnya.

Eve mencoba bangun sedikit.

Tubuhnya masih lemah.

Ken langsung sigap.

“Pelan-pelan. Jangan dipaksa.”

Namun tiba-tiba…

Aveline memeluknya.

Erat.

Seperti orang yang tenggelam dan akhirnya menemukan daratan.

Tangannya melingkar di pinggang Ken.

Wajahnya tersembunyi di dada Ken.

Tangisnya pecah.

Bukan tangis manja.

Bukan tangis dramatis.

Tapi tangis seseorang yang terlalu lama menahan rasa sakit.

“Aku takut…” suaranya gemetar.

“Aku pikir aku nggak akan keluar hidup-hidup…”

Ken membeku sepersekian detik.

Ia ragu, namun perlahan

Ia membalas pelukan itu.

Tangannya mengusap punggung Aveline.

Hangat.

Protektif.

“Sudah. Kamu aman sekarang.”

Kalimat itu keluar otomatis.

Seperti dulu.

Aveline makin menangis.

“Aku nggak mau Kembali ke tempat itu… aku nggak mau…”

“Tidak ada yang akan menyakitimu lagi.”

Suara Ken rendah. Tegas.

Janji.

Dan entah kenapa,

Ia sendiri terkejut betapa alami kalimat itu keluar dari mulutnya.

Aveline mengangkat wajahnya.

Mata mereka bertemu.

Begitu dekat.

“Aku selalu tahu… kalau cuma kamu yang nggak akan pernah menyakiti aku.”

“Dan aku selalu tahu….kalau Cuma kamu yang bisa melindungiku.”

Tangannya mencengkeram kemeja Ken.

“Kamu cintaku, Ken…”

Hening.

Kalimat itu seperti menggantung di udara.

Ken tidak langsung menjawab.

Namun ia juga tidak menjauh.

Ia hanya memandang wajah di hadapannya.

Wajah yang dulu ia jaga sepenuh hati.

Wajah yang dulu membuatnya percaya pada masa depan.

Dan sekarang.

Wajah itu penuh luka.

Penuh bekas penderitaan.

Aveline kembali memeluknya.

Lebih erat.

Seakan takut jika ia melepaskan.

Ken akan menghilang lagi.

Dan Ken…

Tetap membiarkannya.

Tangannya masih di punggung Eve.

Masih mengusap pelan.

Melindungi.

Menenangkan.

Seperti refleks yang tidak pernah hilang.

Di luar kamar…

Pagi semakin terang.

Rumah itu sunyi.

Tak ada yang tahu bahwa di dalam kamar itu.

Dua orang dari masa lalu kembali saling memeluk.

Saling menemukan.

Saling memastikan bahwa ini bukan mimpi, ini nyata…

Dan di saat yang sama.

Tanpa Ken sadari.

Ada satu hati lain yang tadi malam pulang dengan langkah pelan.

Hati yang baru saja merasakan kebahagiaan.

Hati yang baru saja berani mencintai.

Dan pagi ini.

Belum tahu bahwa cinta pertama Kenzy Maheswara

Telah kembali ke pelukannya.

1
Azahra Wicaksono
🤣🤣😄
Retno Isusiloningtyas
jodoh Ken ore nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!