NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAFNA SAFITRI

Setelah sembilan bulan sepuluh hari berlalu, akhirnya waktu itu tiba.

Rani kini terbaring di ruang operasi sebuah rumah sakit bersalin ternama di bilangan ibu kota. Lampu operasi menyala terang di atas tubuhnya. Udara dingin ruang steril membuat kulitnya meremang.

Persalinan harus dilakukan secara caesar. Posisi bayi melintang dan pembukaan tidak berkembang lebih dari enam sentimeter.

Farhan, sebagai suami siaga, terus berada di sisi kepala istrinya. Ia membisikkan doa-doa dan ayat-ayat suci untuk menenangkan hati Rani. Namun, dalam kondisi pengaruh obat penenang dan emosi yang labil, Rani justru merasa terganggu.

'Aku cuma mau melahirkan, bukan mau mati. Kenapa harus dibisikkan ayat-ayat terus, sih!" gerutunya walau hanya berani dalam hati.

"Kami akan memulai prosedurnya, Nyonya. Kami akan membuka kembali bekas operasi yang lama karena posisi kepala bayi tepat berada di sana," ujar dokter spesialis kandungan itu dengan tenang.

Obat bius mulai bekerja sempurna, membuat bagian bawah tubuh Rani mati rasa.

Tirai operasi dipasang sebelum operasi dilakukan.

Kulit perutnya dibuka selapis demi selapis dengan hati-hati. Suara alat medis berdenting pelan, sementara Farhan terus melafalkan doa tanpa henti.

Beberapa menit terasa seperti selamanya. Lalu ....

Oeeek! Oeeek! Suara tangisan bayi yang sangat keras terdengar. Memecah ruangan dingin.

Semua bernafas lega, Farhan sujud syukur Ia cepat berdiri dan mencium istrinya.

"Alhamdulillah, Alhamdulillah!" ujarnya bersyukur.

"Selamat Pak, Bu ... Anaknya sehat, tak kurang dari apapun Cantik, seperti ibunya!"

Deg! Pemberitahuan itu seperti bom atom di telinga Rani.

"Alhamdulillah sayang, ini putri kedua kita," ujar Farhan penuh haru.

Dada Rani dibuka, wanita itu belum mau. Ia masih menolak, ia tak yakin dengan apa yang ia dengar tadi.

"Mas ... Anak kita laki-laki kan?" tanyanya lirih.

"Sayang, anak kita perempuan. Cantik seperti kamu," jawab Farhan menenangkannya.

Harapan yang selama ini ia bangun runtuh dalam satu kalimat sederhana.

Saat bayi itu hendak diletakkan di dadanya untuk proses skin to skin, Rani sempat menoleh menolak.

Namun belaian lembut tangan Farhan di kepalanya membuatnya diam.

Bayi kecil itu akhirnya diletakkan di dada Rani.

Tubuh mungil itu bergerak mencari sumber kehidupan. Mulut kecilnya membuka… mencoba mengisap.

Namun beberapa detik kemudian, bayi itu hanya mengisap udara.

Tangisnya pecah semakin keras.

“Dok, ASI belum keluar. Padahal tanda produksi sudah ada,” ujar suster sambil menenangkan bayi yang terus menangis.

Dokter melirik ke arah monitor detak jantung Rani yang sedikit meningkat.

"Kondisi psikis ibu sangat memengaruhi hormon oksitosin untuk mengeluarkan ASI. Bu Rani harus rileks dan bahagia agar air susunya bisa mengalir." jelasnya.

“Tidak apa-apa. Ini sering terjadi pada ibu pasca operasi. Kita bantu dulu dengan observasi dan stimulasi laktasi," lanjutnya menenangkan.

Rani hanya memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya menetes, bukan karena haru, melainkan karena kecewa yang luar biasa. Ia merasa rencana besarnya untuk menggeser posisi Leo dan Adrian gagal di tangan takdir.

Setelah beberapa lama, Rani sudah berada di sebuah ruangan eksklusif. Claudia ada di sisinya, memeluknya erat. Rani menenangkan putri pertamanya itu.

"Mama .. Aku nggak suka adek bayi," bisiknya cemburu melihat ayahnya tengah bersama dokter di sisi boks bayi.

Rani hanya diam, ia tak mengatakan apapun. Farhan mengangguk dan dokter pun pergi. Lalu ia mendekati istrinya. Menenangkan Rani dan membuatnya bahagia adalah tujuannya sekarang.

"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanyanya lembut.

Rani masih pucat, tapi ia mengangguk sambil memaksakan tersenyum. Claudia terus menempel pada ibunya.

"Jadi dia minum ASI, siapa?" tanya Rani dengan nada dingin.

"Sayang?" Farhan menatap istrinya.

"Maafkan aku, Mas. Aku gagal sebagai ibu. Tak bisa beri Asi pertama yang begitu penting untuk kesehatannya," ujar Rani lalu terisak.

Farhan sedih, dulu waktu Sinta melahirkan. Perempuan itu sama, belum bisa memberikan ASI pertamanya untuk putra pertama mereka, Leo. Tetapi itu hanya berselang tidak lebih dari dua puluh empat jam. Sinta bisa memberikan ASI untuk Leo.

"Tidak apa-apa, sayang. Yang penting sekarang adalah apa yang kamu rasakan. Putri kita bisa menunggu," ujar Farhan menenangkannya.

"Tapi bagaimana jika aku tak bisa menyusui anak ... Kita?" sahut Rani ragu mengucap kata-kata terakhir.

"Ada susu formula, sayang. Atau aku akan beli susu pengganti dari ibu lain jika kau berkenan," jawab Farhan cepat.

"Susu dari ibu lain?" tanya Rani dengan kening berkerut.

"Sayang ... Dengarkan aku," ujar Farhan lalu mengelus kedua bahu istrinya lembut. Matanya menatap Rani penuh ketegasan.

Rani terbaring kaku di ranjang rumah sakit yang empuk. Di sampingnya, Claudia terus merengek minta perhatian, seolah merasakan ibunya kini telah "terbagi".

Namun, perhatian Rani tertuju pada boks bayi transparan di sudut ruangan. Rafna tampak tertidur, meski sesekali bibir mungilnya bergerak mencari sesuatu—haus.

"Susu dari ibu lain?" Rani mengulang tawaran Farhan tadi dengan nada getir.

"Mas, aku tidak mau putriku berbagi persaudaraan dengan orang asing!"

"Itu hanya saran, Sayang. Jika memang ASI-mu tetap tidak keluar. Kita tidak boleh membiarkan Rafna kelaparan," sahut Farhan sabar.

Rani memalingkan wajah. Ia merasa tubuhnya sendiri sedang mengkhianatinya. Ia tidak sadar bahwa penolakannya terhadap jenis kelamin bayinya adalah sumbat utama yang membuat hormon oksitosinnya macet total.

"Rafna akan baik-baik saja. Kau tak perlu memikirkan apapun. Yang penting kamu bahagia dan bayi kita sehat walafiat!" imbuh Farhan tegas.

"Rafna?"

"Iya sayang, aku menamai putri kita gabungan dari nama kita berdua. Rafna Safitri, karena ia lahir secara suci," jawab Farhan tersenyum.

Rani mengangguk pelan, Claudia masih menempel padanya Farhan mengangkat tubuh gadis kecil itu. Ada sedikit penolakan.

"Nggak mau!" rengek Claudia.

"Sayang, sama Ayah ya. Kita cari makan dulu yuk. Kamu mau apa?" tanya Farhan lembut membujuk putri sambungnya itu.

"Boleh sama boneka nggak Yah?" tanya Claudia polos ada nada pengharapan di sana.

"Claudia mau boneka?" bocah perempuan itu mengangguk kuat.

"Oke, Ayah belikan boneka!" jawab Farhan membuat Claudia bersorak.

"Hore!"

"Shhhh ... Tenangkan sayang. Ada Adek bobok," ujar Farhan lalu ia pamit.

"Aku bawa Claudia makan dulu ya," Rani mengangguk.

Tak lama dua perawat datang hendak membawa bayi itu ke ruangannya.

"Bunda mau lihat bayinya lagi?" tanya salah satu perawat.

"Tidak!" jawab Rani tegas.

Dua perawat saling tatap, tapi mereka tak berani bersuara. Keduanya pun mendorong boks itu keluar dari ruangan .

Rani menatap langit-langit rumah sakit. Putih, bersih tanpa noda. Satu titik bening lolos dari ujung matanya.

"Perempuan ... Hahaha. .. Perempuan!" sinisnya, ia tertawa.

"Apa gunanya?" lanjutnya bergumam kesal.

Bersambung.

Huwaaa ada ibu gitu?

Noh ...Rani noh!

Next?

1
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
Atik Marwati
kelihatan belangnya sekarang...rasakan Farhan
Atik Marwati
🧐🧐🧐
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sungguh malang nasib Farhan istri tua yg setia tapi mandiri dan ambisius istri muda yg manja, tamak dan rakus hanya ingin menguasai harta saja Farhan saja.
dewi: tp ms mending yg pertama lah mnrt aq ms bisa di beri pengertian pelan2 dr pd istri kedua
total 1 replies
nurry
lanjuuuuttt
nurry
nah sekarang puyeng kan Bu Rani 😄
nurry
sama-sama gila kakak 😄😄😄
nurry
wah wah wah Rani mulai gak jujur sama Farhan, hati2 main api kalo kebakar gosong 😄
nurry
set dah Rani 😬
nurry
astaga Rani 😬
Atik Marwati
berharap dapat berlian ternyata krikil...
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
sama sama anak kandung kok begitu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!