NovelToon NovelToon
Kupilih Keduanya

Kupilih Keduanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:951
Nilai: 5
Nama Author: A19

Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.

Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.

Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.

Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?

ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Tau Diri

Vano telah sampai di rumah mewah berlantai 2 milik keluarga Pramono. Saat memasuki rumah, suara musik DJ mulai terdengar di telinga.

Vano menuju ke sebuah ruangan yang biasa Radit gunakan untuk mengadakan party jika kedua orangtuanya sedang tidak berada di rumah.

Disana hanya terdapat Radit, Tian dan seorang wanita berpakaian sexy yang sedang memainkan alat DJ.

"Woah ahirnya datang juga" Vano dan Tian bertos ria seperti biasa.

"Napa lagi dah tuh temen lo" sindir Vano saat melihat Radit yang hanya duduk diam sambil menghisap rokoknya.

Mereka bertiga ini pernah beberapa kali minum alkohol. Mereka juga sering merokok. Namun mereka merokok hanya saat pikiran sedang kacau saja. Seperti saat ini yang sedang Radit lakukan.

"Udahlah bro. Lupain aja. Dengan dia ninggalin lo demi sahabat kecilnya itu udah nunjukkin siapa yang lebih penting" Vano mencoba menasehati sahabatnya.

Diantara mereka bertiga, hanya Radit yang pernah benar-benar menjalin hubungan dengan seorang wanita karena memang rasa cinta.

"Nggak segampang itu Van! Lo tau se berapa effort gw buat tuh cewe" sentak Radit sambil mematikan putung rokok nya ke dalam asbak kaca.

"Makannya itu. Effort lo ngga di hargai sama tuh cewe, ngapain masih ngarepin. Mau jadi orang goblok lo gara-gara cinta" Tian ikut menimpali.

"Lupain! Habis ini kita pindah sekolah. Cari cewe disana, kali aja jodoh lo sahabatan sama tunangannya Tian. Ntar lo bisa doble date" canda Vano.

"Gw habis nyelidikin tunangan gw. Dan kalian tau apa? Dia punya dua sahabat cewe. Pas tuh bisa kalian berdua deketin. Kali aja jodoh" Tian menatap 2 sahabatnya bergantian.

"Ogah. Gw lagi males cinta-cintaan. Gw mau fokus bales tuh anak haram dulu" tekad Vano dengan wajah serius.

"Yaelah Van, apa salahnya coba?" tanya Tian.

Radit menyuruh cewe sexy itu untuk menghentikan musik. Radit juga mengusirnya pergi. Kini tinggalah mereka bertiga di dalam ruangan itu.

"Boleh juga" ucap Radit tiba-tiba.

"Apanya?" tanya Tian dan Vano bebarengan.

"Ide kalian. Gw mau move on aja. Masa pewaris Pramono Grub gamonin cewe" ucap Radit dengan serius.

"Nah ini baru sahabat gw" Vano menepuk bahu Radit seolah bangga.

Sedangkan di tempat lain, seorang gadis sedang menatap ke arah bulan dari balkon kamarnya.

Cklek. Pintu terbuka menampilkan kakaknya yang sudah memakai piyama tidur. Kakaknya pun menghampiri Vanya yang sedang berdiri sambil berpegang pada pembatas balkon.

"Kok belum tidur? Ini udah jam 9 lebih loh" tanya Fian dengan nada lembut.

"Belum ngantuk kak"

"Mau kakak bacain buku dongeng?" tanya Fian lagi dengan nada bercanda.

"ishh apasih kak! Aku udah besar ya" rengek Vanya dengan manja.

'Glek. Bibirnya lucu banget astaga ' Fian menelan saliva nya sambil membatin.

"Adik kakak yang manja ini apa udah punya pacar?" Fian menatap serius ke arah manik mata Vanya yang berkedip lucu.

"Ngga ada kak" jawab Vanya.

"Nanti kalau udah ada harus langsung kenalin kakak ya" ucap Fian sambil memandang ke arah langit. Ia tak ingin Vanya melihat kesedihan dalam manik matanya.

"Ah nggak mau! Kalo Vanya pacaran sama kak Fian aja gimana? kakak mah udah ganteng, pinter, soft spoken, greenflag deh pokoknya. Yang pasti juga banyak duit hehe" ucap Vanya di sertai cengiran khas nya.

"Kamu ini ada ada aja Van" Fian mengacak gemas puncak kepala Vanya.

'Andai bisa seperti itu Van, kakak juga pasti mau. Tapi kakak harus tau diri ' batin Fian.

"Kak Fian" panggil Vanya pelan. Fian langsung menoleh dan mendapati raut wajah Vanya berubah lebih serius tidak seperti biasanya.

"Kalau aku suka sama kakak gimana?" lanjutnya.

"Suka? Kalau kamu nggak suka sama kakak, kamu nggak akan terima kakak sebagai kakak kamu. Iyakan?" Fian mencoba menepis pikiran anehnya.

"Bukan suka yang seperti itu kakak ishh" kesal Vanya.

"Yuk tidur. Udah malem loh" Fian mencoba mengalihkan pembicaraan.

Tanpa menunggu respon Vanya, Fian langsung melenggang pergi begitu saja dari kamar bernuansa abu silver itu.

'kak Fian kenapa?' Vanya bertanya-tanya di dalam hati.

Setelah keluar dari kamar Vanya, Fian langsung menuju kamarnya yang terletak 10 langkah dari kamar adiknya.

Fian bersandar pada pintu kamar yang baru saja ia kunci. Pikiran nya sangat kacau saat ini. Bukan Fian tak tau apa yang ingin Vanya sampaikan, namun Fian cukup tau diri untuk mundur dari perasaan yang mungkin terlalu tinggi untuk ia gapai.

"Aku sangat berutang budi dengan keluarga ini. Nggak mungkin mereka mengijinkan putri tunggal nya bersama anak yang tidak jelas asal usulnya seperti aku" monolog Fian kepada dirinya sendiri.

"Mama, Papa, apa kalian masih mengingat aku?" tanya Fian dengan sendu.

Fian masih sangat mengingat jelas siapa orangtua kandung nya. Namun ia tak ingin pulang atau sekedar mencari informasi. Fian tak ingin sakit hati dengan fakta yang mungkin belum ia ketahui kejelasan nya.

"Kalau memang Vanya menyukai ku, aku harus membuat nya menyerah. Ya, aku harus buat Vanya membenci ku" sebuah ide terlintas di pikiran nya.

******

Pagi pun tiba, seperti biasa keluarga Vanya akan sarapan bersama sebelum melakukan aktifitas masing-masing.

"Kakak hari ini anterin aku ke sekolah kan?" tanya Vanya. Sesi sarapan pagi mereka hampir usai.

"Duh maaf ya, kakak nggak bisa. Hari ini kakak ada pertemuan sama seseorang" ucap Fian dengan nada bersalah.

'Semoga aja ini yang terbaik buat kita' batin Fian.

"Pertemuan sama siapa sih kak? Emang lebih penting ya dari aku" rengek Vanya.

"Sayang, Kakak kamu udah besar loh. Udah ya jangan di ganggu. Kali aja kakak kamu udah mulai memikirkan pendamping hidupnya" peringat Sinta dengan lembut.

Seketika Vanya langsung merubah raut wajahnya menjadi tak senang, 'Gak boleh gak boleh! Kak Fian hanya milik aku! ' kesal batin Vanya.

"Putrinya Pak Firman cantik loh, smart juga. Mau papa kenalin nggak, siapa tau aja cocok sama kamu" ucap Danu sambil melirik Fian.

"Papa sama mama tuh apaan sih! Kak Fian tuh masih muda tau, belum juga genap duapuluh satu. Biarin kejar karir dulu lah" sentak Vanya. Kedua tangannya ia lipat di depan dada sambil menampilkan wajah kesal.

"Yaudah deh. Terserah kakak kamu aja, papa nggak akan maksa. Lagian perusahaan kita sudah besar. Tidak perlu perjodohan atau semacamnya hanya untuk kepentingan bisnis" ucap Danu.

Memang benar apa yang Danu katakan. Perusahaan Wiratmadja sudah sangat sukses di bawah kepemimpinannya dan juga sedikit bantuan dari Fian. Dan lagi pula Danu tak ingin membuat kesal putri kesayangannya. Akan sulit di bujuk nantinya jika sudah terlanjur merajuk.

"Satu bulan lagi sweet seventeen kamu sayang. Kamu mau pesta yang seperti apa?" tanya Sinta mencoba mengalihkan agar Vanya melupakan kekesalannya.

"Em belum tau ma, nanti coba aku pikirin dulu konsepnya ya" nahkan, manjur. Raut wajahnya yang semula kesal kini sudah berubah menjadi seperti biasa.

"Oh iya pa, ma, aku pengen motor sport. Boleh ngga? hehe" ucap Vanya disertai cengiran khasnya.

"Punya kakak kan ada, lagipula jarang di pakai juga. Kamu pakai aja Van" Fian menimpali.

"Nggak mau ah, warna nya merah sama ijo. Terlalu gonjreng banget. Aku mau warna hitam dan merk lain. Motor Honda RC213V-S" Vanya menyebutkan sebuah motor sport mahal kisaran harga 7-9 milyar yang biasa di pakai untuk balapan, namun sudah legal jika di pakai di jalan raya.

"Nggak nggak nggak! Kakak tau itu tipe motor balap Vanya. Kamu cewe! Bahaya!" peringat Fian dengan nada lembut, namun tatapan matanya menyorot tajam.

"Betul itu sayang. Papa nggak masalah dengan harga nya. Tapi jika itu membahayakan keselamatan kamu, papa nggak akan setuju" ucap Danu tak ingin di bantah.

"Arghh! nggak sekalian aja beliin aku motor listrik biar aman" geram Vanya.

"Nah itu boleh. Bilang aja kamu mau yang gimana? Mau berapa?" Sinta yang sedari diam dan menyaksikan saja kini pun ikut menimpali.

"Nggak! Memon ku nggak akan aku ganti ganti. Motor sport nya gak jadi!!!" dengan kesal Vanya melenggang pergi sambil menghentak-hentakkan kedua kaki nya.

Memon yang Vanya maksut adalah motor scoopy berwarna biru yang sudah Vanya tempeli stiker doraemon hampir di setiap body nya. Bahkan helm yang ia pakai pun berwarna biru dengan motif sama. Vanya itu pecinta doraemon garis keras.

Kecuali pada tembok kamarnya, Vanya meminta nuansa abu-silver dengan semua barang berwarna biru di dalam nya. Termasuk kamar mandi yang ada di dalam kamarnya juga. Ia sangat menyukai 3 warna itu. Jadi ia pilih saja semua warna nya untuk dipadukan menjadi 1 konsep yang Vanya inginkan.

Apalagi ia adalah putri tunggal kesayangan keluarga Wiratmadja. Apapun yang ia inginkan,akan selalu dengan mudah ia dapat kan. Kedua orangtuanya pun juga anak tunggal. Hubungan persaudaraan nya dengan Rain terjadi karena Rain adalah cucu dari adik kakeknya. Maka dari itu nama belakang Vanya adalah Wiratmadja, sedangkan nama belakang Rain adalah Wiradjaya.

Kedua keluarga dengan nama besar itu menjadi keluarga harmonis tanpa ada drama perebutan warisan karna sudah memiliki bagian masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!