Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Ruangan itu kembali hening setelah Nick keluar.
Clara pamit untuk menyiapkan sentuhan akhir riasan.
Tessa akhirnya duduk perlahan di kursi dekat cermin.
Begitu heels dilepas, rasa perih langsung terasa lebih jelas.
Bagian belakang tumitnya memerah. Sedikit lecet.
Ia mengusapnya pelan, mencoba tidak mengeluh.
Satu jam lagi.
Ia hanya perlu bertahan beberapa jam.
Suara langkah tegas terdengar lagi mendekat.
Tessa refleks berdiri, tapi sedikit meringis saat tumitnya menyentuh lantai.
Nick berhenti tepat di ambang wardrobe.
Tatapannya turun tanpa komentar.
Dari wajahnya.
Ke gaun.
Ke kaki yang kini tanpa sepatu.
Ia melihat lecet itu.
“Kenapa dilepas?” tanya nick pelan,
“Supaya tidak tambah sakit.”
“Kau baru latihan dua jam.”
Nada suaranya tidak peduli.
Tapi tatapannya tetap sama,
Tessa tidak ingin terlihat lemah.
“Aku bisa pakai lagi nanti.”
Nick melangkah masuk.
Ia jongkok tanpa banyak bicara.
Gerakannya cepat dan praktis, bukan dramatis.
Tangannya memegang pergelangan kaki Tessa sebentar, memutar sedikit untuk melihat lebih jelas.
Sentuhannya tetap kuat. Tidak lembut.
“Ini akan terasa perih saat kau berdiri lama.”
“Aku tahu, tidak apa apa, biarkan saja," tessa mencoba terlihat baik-baik saja,
“Dan kau tetap memaksakan diri?”
Tessa terdiam beberapa detik.
“Aku tidak mau terlihat tidak siap.”
Nick terdiam sepersekian detik lalu berdiri kembali.
“Duduk.” perintah nick,
Tessa langsung duduk lagi.
Nick mengambil kotak kecil dari laci wardrobe, entah sejak kapan itu sudah ada di sana.
Ia mengeluarkan plester khusus tumit, menempelkannya dengan gerakan efisien.
Tidak pelan tapi tidak kasar.
Hanya cepat dan tepat.
“Jangan bergerak.”
Ia memakaikan kembali heels itu pada kakinya.
Mengencangkan strap dengan presisi.
Tessa hanya bisa menahan napas, bukan karena sakit.
Tapi karena situasinya terasa… berbeda.
Nick berdiri lagi.
“Kalau kau jatuh di depan keluargaku malam ini, itu bukan karena mereka terlalu tajam.”
Tatapannya turun ke mata Tessa.
“Itu karena kau tidak cukup disiplin.” ucap nick debgan kalimatnya yang tajam, seperti biasa,
Tapi kali ini Tessa tidak merasa dikecilkan.
Ia berdiri perlahan.
Tumitnya masih perih.
Tapi lebih tertahan.
“Aku tidak akan jatuh.”
Nick menatapnya beberapa detik.
Seolah menilai apakah itu keberanian… atau keras kepala.
“Bagus.”
Ia meraih jasnya.
“Kita berangkat.”
Saat mereka berjalan keluar kamar, Tessa berjalan sejajar dengannya, langkahnya stabil.
Masih terasa sedikit sakit tapi tessa tidak goyah.
Dan tanpa disadari Tessa,
Nick memperlambat langkahnya setengah tempo.
Hanya sedikit.
Cukup agar ritme mereka tetap sama.
Mobil melaju mulus di jalanan malam yang mulai padat lampu kota.
Di dalam suasananya hening.
Tessa duduk tegak di kursi belakang, gaun emerald-nya jatuh rapi. Kalung berlian itu berkilau setiap kali mobil melewati cahaya lampu jalan.
Nick duduk di sampingnya, dengan masih memainkan handphone nya,
Beberapa menit berlalu tanpa suara.
“Kau tahu siapa saja yang akan hadir malam ini?”
Tessa menggeleng kecil. “Tidak.”
“Direksi senior keluarga. Beberapa kerabat jauh. Dan tentu saja ayahku.”
Nada suaranya datar.
“Tante Livia,” lanjutnya, “akan menjadi yang pertama mengujimu.”
“Bagaimana?” tanya tessa mulai penasaran,
“Dia tidak pernah berbicara langsung. Tapi kalimatnya selalu punya dua makna.”
Tessa menelan ludah pelan.
“Jangan tertipu nada manis.”
Ia akhirnya menoleh sedikit ke arahnya.
“Kalau dia bertanya tentang keluargamu, jawab singkat.”
“Kalau dia membandingkanku dengan pasanganmu sebelumnya?”
Hening sepersekian detik.
Tatapan Nick berubah lebih dingin.
“Jangan pernah membahasnya lebih dulu.”
“Aku hanya..."
“Aku tidak suka spekulasi.”
Nada suaranya mulai tajam.
Tessa langsung diam.
Beberapa detik kemudian Nick melanjutkan, lebih rendah.
“Jika seseorang berbicara di luar batas, kau lihat aku. bukan mereka.”
Tessa menoleh perlahan.
“Kenapa?”
“Karena aku yang akan menghentikannya.”
Kalimat itu tidak terdengar manis, lebih seperti pernyataan wilayah.
Mobil berbelok memasuki kawasan perumahan elite yang lebih tua dan megah dari rumah mereka.
Lampu taman menyala terang.
Rumah utama keluarga terlihat di kejauhan, lebih besar, lebih klasik, lebih… berkuasa.
Nick kembali berbicara.
“Jangan terlalu banyak tersenyum.”
Tessa berkedip.
“Kenapa?”
“Kau bukan tamu yang ingin disukai.”
Suasana kembali hening.
“Kau istriku.”
Kalimat itu jatuh berat di udara mobil.
“Duduk di sampingku. Bicara saat perlu. Diam saat harus.”
Nada suaranya tidak meninggi.
Tapi jelas, tidak ada ruang untuk kesalahan.
Tessa menarik napas perlahan.
“Dan kalau aku melakukan kesalahan?”
Nick menatap lurus ke depan.
“Jangan.” hanya satu kata tegas dari nick, membuat tessa tidak berani untuk membantahnya,
Mobil akhirnya berhenti di depan tangga besar rumah keluarga.
Seorang pelayan tua sudah berdiri menunggu untuk membukakan pintu.
Nick keluar lebih dulu.
Lalu ia berbalik, mengulurkan tangan.
Bukan lembut.
Lebih seperti memastikan ia turun tanpa goyah.
Tessa meletakkan tangannya di atas tangan Nick.
Tumitnya menyentuh lantai batu.
Perihnya masih ada.
Tapi ia berdiri stabil.
Nick mencondongkan sedikit wajahnya ke arahnya sebelum mereka melangkah naik tangga.
Suara rendah. Hanya untuknya.
“Jangan buat aku terlihat salah memilih.”
Tessa menatap lurus ke depan dengan senyuman tipis,
“Tidak akan pernah.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu,
Ia benar-benar mempercayai kalimatnya sendiri.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna