"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5.
## **Bab 5: Badai di Bursa Saham**
Pagi itu, aroma kopi murah di warnet pinggiran kota terasa lebih tajam dari biasanya. Arka duduk di bilik paling pojok, matanya yang sedikit sembab terus menatap layar monitor cembung yang berkedip. Jari-jemarinya yang kasar—sisa dari ribuan paket yang ia antar di bawah terik matahari—menari di atas *keyboard* yang huruf-hurufnya sudah mulai terhapus.
Sistem di kepalanya tidak berhenti memberikan denyut informasi.
**[Status: Operasi 'Retakan Pertama' Berjalan.]**
**[Koneksi: Jalur Enkripsi Aman. Server Target: Redaksi Star Media & Bursa Efek Regional.]**
Arka menarik napas panjang. Ia menekan tombol *Enter* terakhir. Seketika, ribuan baris data yang ia curi dari Skyview Mall meluncur ke dunia digital. Bukan sekadar angka, tapi sebuah bom waktu yang dibungkus dalam narasi tentang kebohongan publik.
---
Hanya dalam tiga puluh menit, dunia bisnis Tanjungbalai berguncang. Di layar monitor warnet, Arka melihat portal berita mulai memuat judul besar dengan tinta merah: *"Skandal Skyview Mall: Manipulasi Data Parkir dan Risiko Runtuh Struktural!"*
Arka bersandar di kursi plastiknya yang reyot. Ia bisa membayangkan apa yang terjadi di lantai atas gedung Wijaya Group sekarang. Ruang rapat yang biasanya angkuh itu pasti sudah berubah menjadi neraka kecil.
**[Analisis Pasar: Saham Wijaya Group (WJY) Terjun 4,5% dalam 15 Menit Pertama Pembukaan.]**
**[Saran: Pantau Pergerakan Elina Clarissa.]**
"Dia pasti sedang tersenyum sekarang," gumam Arka.
Namun, senyum Arka sendiri memudar saat ia teringat Sarah. Sarah bekerja di divisi Humas. dialah yang akan berada di garis depan untuk memadamkan api ini. Dan Rian... Rian bukan tipe orang yang mau disalahkan atas kegagalannya sendiri.
---
Di kantor pusat Wijaya Group, suasana mencekam menyelimuti lobi yang biasanya tenang. Sarah berdiri di tengah ruangan, tangannya yang dingin memegang setumpuk kliping berita. Di depannya, Rian Wijaya sedang mengamuk. Pria itu membanting vas bunga porselen hingga pecah berkeping-keping di dekat kaki Sarah.
"Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa data internal ini bocor?!" teriak Rian, wajahnya merah padam hingga urat-urat di lehernya menonjol. "Kau! Kau yang memegang akses log parkir minggu ini, Sarah!"
Sarah gemetar, bahunya menciut. "Rian, aku berani bersumpah... aku tidak pernah membuka akses itu tanpa perintahmu. Aku bahkan tidak tahu kata sandi untuk server teknis."
Rian melangkah maju, mencengkeram rahang Sarah dengan kasar. "Jangan bohong padaku! Siapa lagi kalau bukan orang humas yang punya hubungan dengan wartawan?! Kau pasti sengaja membocorkannya untuk menaikkan posisimu, atau mungkin... kau masih berhubungan dengan si kurir sampah itu?"
Sarah terbelalak, rasa sakit di rahangnya tidak sebanding dengan hinaan itu. "Arka? Arka tidak tahu apa-apa tentang ini, Rian! Dia bahkan tidak punya komputer yang layak!"
"Diam!" Rian mendorong Sarah hingga gadis itu jatuh terduduk di atas karpet mahal. "Jika saham ini tidak stabil dalam dua jam, aku akan memastikan ibumu dipindahkan ke bangsal kelas bawah rumah sakit hari ini juga. Kau tahu aku tidak main-main!"
Sarah terisak pelan, menatap lantai. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas yang pilar-pilarnya mulai runtuh menimpanya. Ia mengkhianati Arka untuk menyelamatkan ibunya, tapi sekarang ia justru terperangkap dalam kemarahan monster yang ia pilih.
---
Arka melihat semuanya melalui akses kamera CCTV kantor humas yang telah ia retas. Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. Melihat Sarah diperlakukan seperti itu membuat insting pelindungnya bangkit, sebuah sisa-sisa perasaan yang ia benci tapi tak bisa ia bunuh sepenuhnya.
"Sistem, aku tidak bisa membiarkan dia menuduh Sarah," bisik Arka.
**[Peringatan: Intervensi Langsung Akan Mengekspos Identitas Pengguna.]**
**[Alternatif: Alihkan Fokus Investigasi Rian.]**
Arka berpikir cepat. Mode Analisisnya mulai bekerja, memetakan jaringan internal Wijaya Group. Ia menemukan satu nama: Manajer Operasional Skyview Mall, seorang pria bernama Baskoro—kaki tangan Rian yang diam-diam sering menggelapkan dana renovasi untuk membayar hutang judi.
"Maaf, Pak Baskoro. Kau adalah tumbal yang sempurna," gumam Arka.
Dengan beberapa ketukan *keyboard*, Arka mengirimkan sebuah pesan anonim ke komputer pribadi Rian. Pesan itu berisi riwayat transfer bank dari rekening operasional mall ke rekening pribadi Baskoro, lengkap dengan catatan percakapan palsu (namun berdasarkan fakta nyata penggelapan dana) yang seolah-olah menunjukkan Baskoro-lah yang menjual data ke Elina Clarissa.
Hanya butuh sepuluh detik bagi Rian untuk menerima pesan itu.
Arka melihat melalui kamera CCTV, Rian mendadak berhenti berteriak pada Sarah. Pria itu menatap layar ponselnya, lalu matanya menyipit penuh dendam.
"Baskoro... Tua bangka itu berani mengkhianatiku?!" geram Rian. Ia melepaskan cengkeramannya pada ponselnya, lalu berteriak memanggil pengawalnya. "Cari Baskoro! Seret dia ke sini!"
Rian keluar dari ruangan tanpa melirik Sarah lagi, meninggalkan gadis itu yang masih terisak di lantai.
---
Arka menutup laptopnya. Ia merasa mual. Ia baru saja menyelamatkan Sarah dengan cara menghancurkan orang lain. Meskipun Baskoro memang bersalah, cara ini terasa... dingin.
Ia keluar dari warnet, menghirup udara Tanjungbalai yang berdebu. Ia butuh modal lebih banyak. Saham Wijaya sedang jatuh, dan inilah saatnya ia mulai menggunakan uang hasil jualan timbangan digitalnya untuk membeli saham 'sampah' itu melalui akun perdagangan mikro yang sulit dilacak.
Namun, saat ia berjalan menuju motornya, sebuah mobil Lexus putih berhenti di depannya. Kaca jendela turun perlahan, menampakkan wajah cantik namun dingin milik Elina Clarissa.
"Naiklah," perintah Elina singkat.
Arka tidak punya pilihan. Ia masuk ke dalam mobil mewah yang aromanya sangat kontras dengan bau keringat di warnet tadi.
"Kau melakukan apa yang kau janjikan," ucap Elina tanpa basa-basi sambil menatap lurus ke depan. "Saham Wijaya turun 8% hari ini. Aku sudah mulai mencaplok aset-aset kecil mereka di pelabuhan."
"Itu baru permulaan, Nona Elina," jawab Arka, berusaha menjaga suaranya tetap datar di balik maskernya.
Elina menoleh, menatap Arka dengan rasa ingin tahu yang besar. "Aku menyelidiki data yang kau kirim. Sangat rapi. Tapi ada satu hal yang menggangguku. Kau sepertinya punya dendam pribadi pada Rian Wijaya. Ini bukan sekadar bisnis, bukan?"
Arka terdiam. Ia menatap gedung Wijaya Group di kejauhan yang tampak seperti raksasa yang sedang terluka. "Dalam dunia bisnis, dendam adalah katalis terbaik untuk efisiensi. Kau tidak perlu tahu sejarahnya, kau hanya perlu tahu bahwa aku akan membawa mereka ke titik nol."
"Aku suka ambisimu, Tuan Misterius," Elina mengeluarkan sebuah kartu hitam. "Gunakan ini. Ada modal 500 juta rupiah di dalamnya. Ini bukan hadiah, ini investasi. Aku ingin kau membeli sisa-sisa saham ritel yang akan dijual oleh para investor yang ketakutan sore ini. Kita akan menggoyang kursi Rian dari dua sisi."
**[Sistem: Tawaran Diterima. Dana Investasi Terdeteksi.]**
**[Peringatan: Dana ini Memiliki Syarat. Pengguna harus memberikan laporan balik pada Elina.]**
Arka menerima kartu itu. Tangannya bersentuhan dengan jari Elina yang halus. Ada sedikit kejutan listrik statis, atau mungkin itu hanya ketegangan di antara mereka.
"Kau tidak takut aku akan lari dengan uang ini?" tanya Arka.
Elina tersenyum tipis, jenis senyum yang bisa membekukan air terjun. "Jika kau lari, kau hanya akan jadi pencuri kecil. Jika kau tinggal, kau bisa menjadi raja. Aku tahu kau lebih pintar dari sekadar pencuri."
---
Sore harinya, Arka berdiri di depan rumah sakit pusat kota. Ia tidak memakai masker sekarang, kembali menjadi Arka si kurir. Ia membawa sekantong jeruk kecil, buah favorit ibu Sarah.
Ia berdiri di balik pilar lobi, melihat Sarah keluar dari pintu otomatis dengan wajah yang sangat pucat. Sarah tampak membawa beberapa tas plastik berisi obat-obatan. Saat ia hendak menyeberang jalan, sebuah mobil sport meluncur cepat dan hampir menyerempetnya.
"Sarah!" Arka refleks berteriak, namun suaranya tertelan bising jalanan.
Sarah jatuh terduduk karena terkejut. Tas obatnya berhamburan. Tidak ada yang menolongnya. Orang-orang hanya berlalu lalang, sibuk dengan dunia mereka sendiri.
Arka ingin berlari ke sana. Ingin menggenggam tangannya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ia melihat kartu hitam di sakunya. Ia melihat data bursa di penglihatannya.
Jika ia muncul sekarang, ia tetaplah Arka si kurir yang tidak berdaya. Ia tidak akan bisa mengubah nasib Sarah hanya dengan seplastik jeruk.
**[Logika: Muncul Sekarang \= Kegagalan Rencana Jangka Panjang.]**
**[Saran: Biarkan dia menguat dalam penderitaan, atau biarkan dia sadar akan kesalahannya.]**
Arka meremas kantong jeruknya. Ia melihat Sarah perlahan bangkit, memunguti obat-obatannya sendirian dengan air mata yang mengalir di pipi. Sarah tampak begitu kecil di bawah bayang-bayang gedung rumah sakit yang megah.
"Satu hari lagi, Sarah," bisik Arka, suaranya pecah oleh emosi yang ia tahan. "Hanya satu hari lagi, dan aku akan memiliki cukup kekuatan untuk memastikan tidak ada lagi orang yang berani menjatuhkanmu."
Arka berbalik, meninggalkan rumah sakit itu tanpa menoleh lagi. Ia tidak memberikan jeruk itu. Ia meninggalkannya di atas bangku taman di dekat sana.
Malam itu, bursa saham ditutup dengan berita tragis bagi keluarga Wijaya. Kehilangan nilai pasar sebesar 120 miliar rupiah dalam sehari. Dan di sebuah kontrakan sempit, seorang kurir sedang menatap monitor, bukan lagi sebagai korban, tapi sebagai pemangsa yang sedang mengatur jamuan makannya.
Bom sesungguhnya bukan data parkir. Bom sesungguhnya adalah kejeniusan Arka yang baru saja menyentuh modal pertamanya.
---
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.