NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persaiangan

Matahari kian meninggi, memancarkan panas yang menyengat aspal jalanan Desa Sukomaju. Eko memarkirkan motor tuanya tepat di depan gerbang megah rumah gedong milik Ratri. Di tangannya, ia menjinjing sebuah kantong plastik besar berisi buah-buahan—mangga harum manis dan beberapa butir jeruk—yang ia beli di pasar kecamatan tadi pagi. Baginya, itu adalah modal untuk mengambil hati sang primadona, sebuah "sesajen" kecil agar akses menuju tubuh dan uang Ratri semakin terbuka lebar.

Dengan langkah tegap dan senyum yang dipaksakan terlihat tampan, Eko masuk setelah dipersilakan oleh Pak Hans, sang satpam. Di ruang tamu yang sejuk karena hembusan angin dari jendela-jendela besar, Ratri sudah menunggu. Ia duduk di sofa beludru dengan menyilangkan kaki, mengenakan daster sutra tipis yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya, membiarkan kulit bahunya yang mulus tertimpa cahaya lampu kristal.

"Ini, Rat... ada sedikit buah tangan yang ku beli barusan. Buat camilanmu siang-siang begini," ucap Eko sambil meletakkan bungkusan itu di atas meja marmer yang mahal.

Ratri hanya melirik sekilas ke arah kantong plastik itu. Matanya yang tajam tidak menunjukkan binar kegembiraan sedikit pun. Baginya, buah-buahan itu tak lebih dari sampah yang dibawa oleh serangga pengganggu. Namun, ia tetap memulas senyum tipis di bibirnya.

"Simbok! Bawa masuk ini ke dapur," panggil Ratri dengan suara datar.

Simbok Nah muncul dari balik tirai. Sebagai orang kepercayaan yang sudah menyatu dengan aura kegelapan rumah itu, Simbok Nah hanya butuh satu tatapan mata dari nyonyanya untuk mengerti. Ia mengambil bungkusan buah itu dengan tangan gemetar, lalu membawanya ke belakang. Tanpa ragu, Simbok Nah langsung melemparkan seluruh buah pemberian Eko ke dalam tempat sampah besar di dekat sumur tua. Baginya, segala sesuatu yang berasal dari tangan para pendosa itu adalah najis yang hanya akan mengotori kesucian rumah Ratri.

Simbok kemudian keluar lagi membawa nampan berisi dua gelas sirup merah dingin dan beberapa potong kue kering. Ia meletakkannya di depan Eko, lalu kembali menghilang ke dapur tanpa suara.

"Bagaimana, Mas Eko? Tidurmu nyenyak semalam?" tanya Ratri dengan nada menggoda, sambil memainkan ujung rambutnya.

Eko tertawa kecil, meskipun hatinya sedikit mencelos mengingat rintihan sakit istrinya tadi pagi. Namun, gairah liarnya lebih kuat menutupi rasa bersalah. "Nyenyak sekali, Rat. Rasanya aku tidak ingin bangun kalau ingat kejadian di gubuk itu. Kamu benar-benar luar biasa."

Baru beberapa menit mereka berbincang tentang rencana pembelian tanah, tiba-tiba terdengar deru suara motor dari arah luar. Suaranya kasar, khas motor yang dipacu dengan terburu-buru. Pak Hans segera melaporkan melalui interkom bahwa Agus, sang hansip, kembali datang untuk menemui nyonya rumah.

"Bawa masuk saja, Pak Hans," perintah Ratri singkat.

Pintu depan terbuka, dan Agus melangkah masuk dengan gaya jumawa. Seragam hansipnya tampak sedikit lebih rapi dari kemarin, dan wajahnya memancarkan aura persaingan yang kental. Namun, langkah Agus terhenti seketika saat matanya menangkap sosok pria yang sedang duduk santai di sofa Ratri.

"Eko?!" Agus membelalakkan mata. "Sejak kapan kamu pulang dari kota? Bukannya kamu sedang cari duit buat biaya lahiran istrimu?"

Eko yang juga kaget melihat kedatangan Agus, mencoba menetralkan raut wajahnya. Ia berdiri perlahan, menatap Agus dengan tatapan yang tidak kalah sinis. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba membakar dadanya melihat Agus masuk ke rumah ini seolah sudah menjadi penghuni tetap.

"Baru sampai kemarin sore, Gus. Kamu sendiri... rajin sekali main ke Sukomaju. Tugas hansipmu sudah pindah ke sini?" sindir Eko.

Suasana di ruang tamu itu mendadak menjadi sangat kaku. Ada ketegangan yang merambat di antara kedua pria itu—dua dari sepuluh orang yang dulu bersama-sama menghancurkan hidup Ratri. Kini, mereka berdiri di hadapan korban mereka, bersaing memperebutkan perhatian sang wanita yang diam-diam sedang menyiapkan liang lahat bagi mereka berdua.

Agus mendengus kasar. Ia meletakkan tas kerjanya di meja dengan sedikit hentakan. "Aku ke sini urusan penting. Urusan tanah Juragan Tono. Bukan sekadar bertamu tanpa tujuan jelas."

Melihat gelagat perselisihan yang mulai memanas, Ratri segera mengambil alih kendali. Ia tidak ingin kedua "pionnya" itu bertengkar di sana sebelum waktunya. Dengan gerakan anggun, ia memperbaiki posisi duduknya, membuat belahan dasternya sedikit tersingkap, sengaja memancing perhatian kedua pria itu.

"Sudah, sudah... jangan malah berdebat. Mas Eko ini sepupu Bayu, tentu saja dia ingin silaturahmi denganku," ucap Ratri dengan suara lembut yang menenangkan. "Kebetulan sekali, Mas Eko. Tadi kita sedang bicara soal kebutuhanmu. Kamu bilang butuh uang untuk biaya persalinan Ruminten, kan?"

Eko mengangguk cepat, merasa mendapat angin segar di depan Agus. "Iya, Rat. Kamu tahu sendiri kan, di kota lagi susah. Aku butuh pinjaman untuk biaya di rumah sakit nanti."

"Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Ratri langsung.

Eko sempat melirik Agus sesaat sebelum menjawab. Ia ingin terlihat "berharga" di mata Ratri. "Kalau bisa... sepuluh juta, Rat. Untuk jaga-jaga kalau nanti harus operasi atau ada kendala lain."

Ratri tersenyum manis, senyum yang bagi orang berilmu tinggi akan terlihat seperti taring yang menyeringai. "Sepuluh juta? Ah, itu kecil, Mas Eko. Tunggu sebentar."

Ratri bangkit dari sofa, berjalan menuju kamarnya di lantai atas dengan langkah yang sengaja diperlambat, membuat kedua pria itu terpaku menatap punggung dan pinggulnya yang bergoyang indah. Tak lama kemudian, ia turun membawa sebuah amplop cokelat yang cukup tebal.

Ia duduk kembali dan menyerahkan amplop itu kepada Eko. "Di dalam sini ada lima belas juta. Sepuluh juta sesuai permintaanmu, dan lima juta lagi itu cuma-cuma dariku untuk membeli perlengkapan bayi. Anggap saja itu hadiah dari saudara."

Eko nyaris tidak percaya. Ia menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Lima belas juta! Uang sebanyak itu tidak pernah ia pegang seumur hidupnya selama merantau. "Terimakasih... Ratri, terima kasih banyak. Kamu benar-benar baik sekali. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa."

"Jangan dipikirkan sekarang," potong Ratri sambil mengelus lengan Eko sekilas, sebuah sentuhan yang membuat bulu kuduk Agus meremang karena cemburu. "Tapi, besok kamu harus datang lagi ke sini. Kita harus bahas jaminan peminjamannya. Biar bagaimanapun, ini urusan uang, harus ada hitam di atas putih agar tidak ada masalah di kemudian hari."

Agus yang sejak tadi hanya bisa diam dengan muka masam, mendengus keras. "Dapat uang kaget ya, Ko? Awas, jangan dipakai buat jajan pelacur di jalanan. Ingat istrimu lagi megap-megap di rumah."

Eko yang merasa sudah mendapatkan apa yang diinginkan, tidak ingin memperpanjang urusan dengan Agus di depan Ratri. Ia menyimpan amplop itu di balik bajunya, merasakannya menempel erat di dadanya.

"Aku pulang dulu, Rat. Terima kasih sekali lagi. Besok aku pasti datang lagi seperti janjiku," ucap Eko sambil berdiri. Ia memberikan tatapan kemenangan kepada Agus sebelum melangkah keluar menuju pintu depan.

Setelah deru motor Eko menghilang di kejauhan, suasana kembali sunyi. Kini hanya tersisa Agus dan Ratri di ruangan itu. Agus segera menggeser duduknya, berpindah ke samping Ratri, di tempat yang tadi diduduki Eko. Ia merasa memiliki hak lebih karena ia merasa sudah "berjasa" dalam urusan tanah.

"Untuk apa si Eko itu datang ke sini, Rat?" tanya Agus dengan nada menyelidik, tangannya mencoba meraba jemari Ratri yang diletakkan di atas sofa. "Cuma pinjam uang? Aku tidak percaya. Dia itu licik, Rat. Dari dulu dia itu tukang main perempuan. Kamu jangan terlalu percaya dengan tampang melasnya."

Ratri membiarkan Agus memegang tangannya. Ia menatap Agus dengan tatapan sayu yang menghanyutkan. Di dalam batinnya, Suanggi sedang tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana kedua pria ini saling menjatuhkan demi mendapatkan dirinya.

"Hanya soal uang, Mas Agus. Kasihan, istrinya mau melahirkan tapi dia tidak punya biaya," jawab Ratri tenang. "Tapi... kenapa kamu kelihatannya kesal sekali? Apa kamu cemburu melihat sepupu Bayu itu ada di sini?"

Agus terdiam sejenak, lalu ia tertawa hambar. "Cemburu? Mana mungkin aku cemburu dengan kuli bangunan seperti dia. Hanya saja, aku tidak suka kalau ada orang lain yang mengganggu waktu kita. Aku ke sini mau menuntaskan yang tertunda kemarin, Rat. Juragan Tono sudah tidak mencariku lagi hari ini."

Agus mulai mendekatkan wajahnya, menghirup aroma melati dari leher Ratri. Namun, di balik kenyamanan yang dirasakan Agus, ia tidak menyadari bahwa di balik punggung Ratri, bayangan hitam Suanggi mulai muncul kembali, merayap di dinding ruang tamu, bersiap untuk menghisap sisa-sisa energi pria yang merasa paling jantan di desa itu.

Ratri hanya tersenyum manis, membiarkan Agus semakin masuk ke dalam jeratannya. Ia tahu, persaingan antara Agus dan Eko adalah bumbu yang sangat lezat untuk dendamnya. Satu per satu, pion-pion itu datang menyerahkan nyawa mereka sendiri, tergiur oleh harta dan kemolekan tubuh yang sebenarnya adalah racun mematikan.

Di Desa Karang Jati, Ruminten masih merintih kesakitan di rumah Mak Itam, sementara di Sukomaju, para pemangsa sedang bersiap melakukan perjamuan di atas penderitaan orang lain.

1
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!