Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Harta Karun di Tumpukan Kardus
"Nanti, kalau aku ujian kesetaraan, siapa yang mau bantuin aku belajar? Buku-bukunya juga harus pakai yang terbaru, kan? Susah banget nyarinya." Siman menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Masalah buku adalah prioritas utama. Itu yang Siman pikirkan, selain uang untuk sekolah. Apalagi kalau buku pelajaran itu sudah teramat mahal harganya, Siman pasti berpikir ratusan kali.
Ia melirik akik biru laut di jarinya. Dingin, tak ada denyutan seperti biasanya. Hanya sebuah batu biasa yang membisu di jari Siman, seolah menertawakan segala keraguannya. Atau, mungkin, akik itu hanya memantau Siman. Ia mengamati sekitar, tempat yang lumayan ramai dan dekat dengan sekolah-sekolah yang mewah itu, banyak murid lalu-lalang memakai seragam biru tua dan abu-abu.
Murni terdiam sesaat, seolah sedang berpikir. Matanya berkeliling, kemudian menatap Siman lagi dengan keyakinan yang Siman butuhkan saat ini. "Jangan pesimis begitu! Kan ada aku! Aku kan udah lumayan pintar, paling nggak lumayan pinter bahasa Indonesia."
"Aku bukan mikirin bahasanya, Mur." Siman tersenyum samar. "Ini fisika, matematika, kimia. Banyak banget yang harus aku ulang." Wajahnya muram lagi. Itu adalah kenangan buruk dari dirinya saat di sekolah dulu. Dina sangat terkenal dengan kemampuannya di mata pelajaran ilmu pasti itu. Siman hanyalah sampah. Dan semua itu adalah ejekan nyata untuk dirinya. Bagaimana dia bisa menjadi anak yang paling pintar di antara teman-temannya? Ini gila.
Murni merogoh sakunya, mengeluarkan sebungkus kerupuk ikan. "Kan itu bukan kamu banget yang malas! Ini makan kerupuk dulu, Man. Habis itu kita pulang." Murni tertawa kecil. "Kalau masalah buku... nanti kita cari bareng, aku bantuin tanya teman-teman alumni. Atau mungkin... Ibu Marni tahu. Dia kan guru di TPQ kita, dia pasti tahu kenalan guru lain. Kali aja ada yang punya buku bekas tapi masih layak."
Hati Siman sedikit menghangat. Tulusnya perhatian Murni adalah anugerah terbesar dalam hidupnya, melebihi keberadaan akik biru laut. Bahkan rasa cinta yang selama ini terkubur dalam-dalam pun kini meronta, perlahan muncul ke permukaan. Kenapa ia selalu menolak Murni? Kenapa ia tidak pernah berkata jujur pada Murni? Ini berat.
Mereka berdua terdiam sesaat, menikmati kerupuk ikan yang renyah dan angin sore yang mulai menerbangkan bau rempah dari rumah tetangga. Obrolan sepasang ibu-ibu paruh baya di samping toko tiba-tiba menarik perhatian Siman. Akiknya kembali berdenyut pelan, terasa hangat, memusatkan fokusnya pada percakapan mereka.
"Astaga, Bu Rita, kemarin saya dengar ada Ibu Endang di sebelah toko Pak Jamal itu ya? Katanya dia mau bersih-bersih rumah besar," ujar salah seorang ibu, suaranya sedikit mendesah karena lelah. "Dia itu kan baru pensiun. Anak-anaknya sudah pada di luar kota semua, rumahnya jadi terlalu sepi. Dia mau sumbangkan semua buku pelajaran sekolah anaknya, itu sampai menumpuk banyak banget lho di gudang."
Jantung Siman berdegup kencang. Ia dan Murni sontak saling menatap. Matanya terbelalak penuh tanya.
"Oalah, kasihan Ibu Endang. Kan dia juga sudah nggak pakai, ya? Ngapain simpan buku bekas lagi," sahut ibu yang satu lagi. "Padahal kata anak saya, buku-bukunya Ibu Endang itu komplit semua lho, dan yang terbaru semua itu! Katanya buku ujian kesetaraan yang paket C juga ada. Barusan aja kemarin baru lulus anaknya!"
Paket C. Ujian Kesetaraan. Buku terbaru. Kata-kata itu seolah merangkai dirinya menjadi sebuah melodi yang indah. Siman meremas jari Murni. Matanya terpaku pada ibu-ibu itu, tanpa berani berbicara. Akiknya kini memancarkan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh Siman. Sebuah sinyal. Ini dia!
"Aku… aku harus ke sana, Mur!" Siman berbisik, antusias, tidak sabar lagi.
Murni, yang juga kaget mendengar kebetulan itu, mengangguk cepat. "Ya, ampun! Ayo, buruan! Sebelum ada orang lain yang datang!"
Mereka segera bangkit, bakul sayur ditaruh begitu saja di dekat tiang listrik, seolah lupa bahwa barang itu berharga. Mereka pun berlari menuju toko Pak Jamal, menelusuri lorong gang yang Siman tidak pernah bayangkan bahwa ada sebuah rumah di sana. Akik itu terasa terus berdenyut, mengarahkan Siman dengan setiap detakannya.
Ketika tiba di depan rumah yang disebut, sebuah rumah megah bergaya arsitektur zaman Belanda kuno yang berdiri kokoh, Siman ragu sesaat. Rumah itu terlihat sangat besar dan terawat. Apa iya mereka benar-benar membuang buku? Ada sedikit kegamangan. Ketakutan lama, takut ditertawakan dan diusir, muncul kembali.
"Kita... kita yakin, Mur? Ini rumah orang kaya, lho." Siman menatap Murni dengan gurat kecemasan. Rasa mindernya seolah tak mau sirna. Bagaimana dia harus mendapatkan buku-buku ini secara gratis, padahal pemiliknya orang kaya? Kenapa ia tidak dapat membayarnya? Uangnya ada, tapi terlalu muluk untuk Siman menghabiskan uang hasil keringatnya. "Apa mereka benar-benar membuangnya?"
Murni menggeleng, wajahnya tersenyum optimis. "Jangan banyak tanya, Man! Kalau iya kenapa? Kalau bukan kenapa?" Murni menyeret tangan Siman, membawanya ke bagian samping rumah, tempat mereka biasanya melihat sampah besar ditumpuk.
Di sana, di tumpukan sampah bekas renovasi, teronggok sebuah kotak kardus besar. Matanya menangkap sampul buku yang familier: deretan buku-buku pelajaran, tebal, bersampul warna-warni, bertuliskan "Paket C – Ujian Kesetaraan". Ada Fisika, Matematika, Biologi, Kimia, hingga Bahasa Indonesia dan Kewarganegaraan. Terbitan tahun ini! Mereka persis yang dibutuhkan Siman!
"Ya, Allah! Ini beneran, Mur!" Siman meraih salah satu buku, membalik-balik halamannya yang masih mulus. Tidak ada coretan, tidak ada robekan. Ini seperti buku baru! Tapi ini dibuang?
Murni ikut menganga. Ia bahkan memeriksa detail tanggal terbitnya. "Ini benar-benar buku baru, Man! Paling-paling cuma dibaca sekali habis ujian. Gila! Banyak banget! Sebegini banyak! Gimana cara kita bawa pulangnya ini?"
Senyum Siman lebar, terlukis hingga telinganya, sebuah ekspresi tulus yang tak pernah dilihat Murni di wajah Siman. Sejak Dina hadir. Ia kini tidak terlalu memikirkan hal itu. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, hanya sebuah ambisi murni untuk belajar lagi. Akiknya berdenyut pelan, terasa seperti berbisik padanya. Ini adalah hadiahnya. Hadiah untuk Siman.
"Kita pakai gerobak Ibu Marni saja!" usul Siman, tangannya bergerak cepat, menyusun buku-buku itu ke dalam kotak kardus bekas air mineral. Beberapa plastik hitam yang lumayan tebal ditemukan Siman tak jauh dari sana. Itu adalah kotak buku yang Siman butuhkan.
"Idih, ke sana balik lagi! Repot ah! Tapi ya sudah, daripada nanti kamu pakai motor pinjaman!" Murni tertawa lepas, ia pun tidak keberatan jika dirinya kembali membantu Siman. Dia tahu persis bahwa itu yang akan ia lakukan, seperti Murni di masa SMA, tidak ada orang yang peduli pada Siman. Hanya dirinya sendiri.
Mereka kembali bergegas. Perjalanan singkat kembali ke rumah Murni terasa seperti misi yang mendebarkan. Setelah meminjam gerobak kecil milik Ibu Marni dan sedikit menjelaskan kejadian 'kebetulan' itu, mereka pun kembali lagi ke rumah Ibu Endang, membawa semua tumpukan buku yang nyaris menggunung itu.
***