Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angin Biru
Koridor panjang di dalam Istana Risvela terasa tenang. Langkah kaki Reyd dan Lein bergema pelan di lantai marmer.
Setelah pertemuan dengan Raja Ryvons, Reyd langsung mengantar Lein menuju tempat beristirahatnya. Sebuah kamar tamu khusus di bagian dalam istana. Tidak terlalu mencolok, namun tetap mewah dan nyaman.
Reyd berhenti di depan pintu.
“Ini tempatmu sementara.”
Lein melihat sekeliling dengan kagum. Istana ini jauh berbeda dari tempat mana pun yang pernah ia tinggali.
“Terima kasih.”
Reyd mengangguk kecil.
Namun sebelum mereka masuk, dua orang sudah menunggu di dekat pintu.
Seorang pemuda dengan pakaian sederhana. Rambutnya sedikit berantakan. Tatapannya santai, namun tajam.
Di sampingnya, seorang gadis dengan seragam pelayan rapi. Tatapannya tenang dan serius.
Reyd tersenyum tipis.
“Ternyata kalian sudah di sini.”
Pemuda itu menyeringai kecil.
“Tentu saja.”
Ia melipat tangannya.
“Kami mendengar kau kembali, jadi kami langsung datang.”
Gadis di sampingnya membungkuk sopan.
“Selamat datang kembali, Tuan Reyd.”
Reyd mengangguk. Kemudian ia menoleh pada Lein.
“Aku ingin mengenalkan mereka.”
Ia menunjuk pemuda itu terlebih dahulu.
“Dia Vaks Brinnert.”
Vaks mengangkat tangan santai.
“Pengguna sihir petir biru.”
Sedikit kilatan listrik berwarna biru muncul di ujung jarinya.
Lalu ia menambahkan dengan santai, “Dan… teman lama.”
Lein tersenyum kecil.
“Kamu terlihat seperti orang santai.”
Vaks tertawa ringan.
“Karena memang begitu.”
Reyd lalu menunjuk gadis di sampingnya.
“Dia Felixa Tironsytlh.”
Felixa membungkuk lagi dengan anggun.
“Saya pelayan pribadi Tuan Reyd.”
Api kecil berwarna biru muncul di telapak tangannya. Api itu menyala tenang tanpa membakar apa pun di sekitarnya.
“Pengguna sihir api biru.”
Lein sedikit kagum melihatnya.
Reyd melanjutkan.
“Mereka bukan hanya pelayan.”
Ia berkata dengan nada lebih santai.
“Mereka juga temanku sejak kecil.”
Vaks mengangguk.
“Kami tumbuh bersama di istana ini.”
Felixa menambahkan.
“Kami selalu berada di pihak Tuan Reyd.”
Lein menatap mereka berdua. Ia bisa merasakan mereka bukan sekadar pelayan, namun benar-benar orang yang percaya pada Reyd.
Reyd kemudian membuka pintu kamar.
“Masuklah. Istirahatlah.”
Lein mengangguk.
---
Aula latihan kerajaan cukup luas dan tertutup. Dinding batu tebal mengelilingi area itu, dirancang khusus untuk menahan benturan sihir tingkat tinggi.
Di tengah aula, Reyd berdiri dengan tenang. Di hadapannya, Vaks dan Felixa memperhatikan dengan serius.
Vaks menyilangkan tangan.
“Jarang sekali kau mengajak kami ke sini.”
Felixa berdiri tegak.
“Apakah ada sesuatu yang ingin Tuan Reyd tunjukkan?”
Reyd tidak langsung menjawab. Ia hanya menutup matanya perlahan.
Udara di sekitarnya mulai berubah. Angin tipis berhembus. Awalnya biasa saja. Namun perlahan… warna angin itu berubah dari transparan menjadi hijau samar.
Vaks mengangkat alisnya.
“Hanya angin biasa.”
Namun Reyd tidak berhenti. Tekanan mana di sekitarnya meningkat. Angin itu mulai berputar lebih cepat. Warna hijaunya semakin dalam, lalu…
Felixa sedikit terkejut.
“Angin biru?”
Angin di sekitar Reyd kini berputar lebih kuat. Namun tidak liar. Justru terlihat sangat terkendali. Seperti mengikuti kehendaknya sepenuhnya.
Reyd membuka matanya. Kilatan biru terlihat di sekelilingnya. Ia mengangkat tangannya sedikit. Angin itu langsung bergerak mengikuti arah tangannya.
Vaks tersenyum tipis.
“Jadi kau sudah sampai tahap itu.”
Reyd menurunkan tangannya. Angin perlahan mereda. Namun aura kekuatannya masih terasa.
“Aku baru menyadarinya di akademi,” ucapnya tenang.
“Dalam sihir angin…”
Reyd menatap telapak tangannya.
“Warna menunjukkan tingkat kekuatan.”
Ia melanjutkan.
“Hijau adalah dasar. Dan biru…”
Ia mengangkat pandangannya.
“Adalah tahap yang jauh lebih tinggi.”
Felixa memperhatikan dengan serius.
“Dengan kata lain… sihir Tuan Reyd hampir sempurna.”
Reyd tidak menjawab langsung. Namun ekspresinya menunjukkan: ia belum puas.
Vaks berjalan mendekat.
“Dengan kekuatan seperti ini…”
Ia menatap Reyd.
“Kau benar-benar berniat melakukannya, bukan?”
Reyd terdiam sejenak. Kemudian ia menjawab singkat.
“Ya.”
Tidak perlu penjelasan panjang. Vaks dan Felixa sudah mengerti maksudnya.
Mengambil alih takhta.
Bukan lagi sekadar keinginan. Namun sesuatu yang sedang ia siapkan.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?