menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
BAB 14: Pasir di Dalam Jam Kaca
Malam itu, langit Tokyo tidak berbintang. Hanya ada hamparan awan kelabu yang memantulkan cahaya lampu kota, menciptakan rona ungu yang tidak wajar di cakrawala. Ren kembali ke apartemen dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Sepatu botnya tidak lagi mengeluarkan bunyi ketukan yang tegas; ia menyeret kakinya sedikit, seolah-olah gravitasi dunia tiba-tiba berlipat ganda hanya untuk dirinya.
Di dalam penthouse, Hana sedang menunggunya. Ia sudah mengganti jubah mandinya dengan gaun tidur sutra berwarna merah muda pucat yang jatuh lembut di lekuk tubuhnya. Wajahnya sudah bersih dari noda oli, menyisakan kulit porselen yang tampak bersinar di bawah lampu temaram. Saat melihat Ren masuk, Hana segera berdiri, matanya mencari jawaban di wajah pria itu.
"Ren-san... bagaimana pertemuan dengan ayahmu?" bisik Hana, melangkah mendekat dan meraih tangan Ren yang dingin.
Ren menatap mata Hana sejenak. Ada guncangan hebat di dalam dadanya—sebuah badai yang ingin meledak dan menceritakan bahwa mereka hanya punya tujuh hari lagi. Bahwa di ujung minggu ini, ia harus memilih antara kehilangan Hana selamanya atau membiarkan wanita ini hancur di tangan ayahnya.
Namun, Ren menarik napas panjang. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, jenis senyum yang hanya menyentuh bibir tapi tidak sampai ke matanya. "Hanya urusan bisnis biasa, Hana. Ayahku... dia memang selalu dramatis sebelum terbang kembali ke Eropa. Dia hanya ingin memastikan aku tidak lupa cara memegang pena setelah terlalu lama memegang kunci pas."
"Benarkah?" Hana menyipitkan mata, merasa ada sesuatu yang disembunyikan di balik nada bicara Ren yang terlalu tenang. "Tapi Yoto bilang dia sangat marah."
"Dia selalu marah, Hana. Itu adalah bahan bakarnya," jawab Ren sambil mengelus pipi Hana. "Lupakan soal dia. Malam ini, aku hanya ingin bersamamu. Tanpa bicara soal perusahaan, tanpa bicara soal ayahmu, dan tanpa bicara soal masa depan. Hanya malam ini."
Hana mengangguk, meski hatinya masih menyimpan keraguan. Ia menyandarkan kepalanya di dada Ren, tidak menyadari bahwa jantung pria itu sedang berdegup kencang karena ketakutan yang disembunyikan dengan sempurna.
Hari Pertama: Gema Kesunyian
Keesokan harinya, Ren melakukan sesuatu yang tidak biasa. Ia tidak pergi ke kantor pusat Hohenzollern di Marunouchi, dan ia juga tidak membuka bengkelnya. Ia mematikan semua ponselnya, meninggalkan perangkat komunikasi canggih itu di atas meja marmer.
"Kita akan pergi ke Kamakura," ucap Ren pagi itu.
Mereka berkendara dengan Bugatti, membelah jalanan menuju pesisir pantai. Sepanjang perjalanan, Ren menggenggam tangan Hana dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Hana akan terhisap oleh angin laut.
Di Kamakura, mereka berjalan di sepanjang garis pantai. Angin musim gugur yang mulai dingin menusuk kulit, namun Hana merasa hangat di dalam jaket besar milik Ren yang sengaja dipasangkan padanya. Mereka makan di kedai ramen pinggir jalan yang kecil, tertawa karena Hana tidak sengaja menumpahkan kuah ke ujung hidungnya.
Ren menatap Hana yang sedang tertawa, dan di dalam pikirannya, ia sedang memotret momen itu. Ia merekam setiap getaran suara tawa Hana, setiap kerutan di sudut matanya, dan bagaimana cara Hana menyelipkan rambut di belakang telinganya. Foto mental, pikir Ren. Sesuatu yang akan ia bawa ke Eropa jika ia terpaksa pergi.
Hari Ketiga: Labirin Kenangan
Memasuki hari ketiga, ketegangan mulai merayap di bawah kulit Ren. Yoto terus memberinya kode melalui tatapan mata—isyarat bahwa persiapan keberangkatan ke Eropa sudah 40% selesai. Paspor diplomatik Ren sudah siap, dan pesawat pribadi Maximilian dijadwalkan kembali menjemputnya dalam empat hari.
Namun, Ren mengabaikan Yoto. Ia membawa Hana ke sebuah taman rahasia di pinggiran Tokyo, tempat yang dulu sering ia kunjungi saat ia pertama kali melarikan diri dari kehidupan bangsawan untuk menjadi mekanik.
"Kenapa kau memilih menjadi mekanik, Ren?" tanya Hana saat mereka duduk di bangku taman yang dikelilingi pohon maple yang mulai memerah.
Ren menatap tangannya yang memiliki beberapa bekas luka kecil akibat kerja keras. "Karena mesin tidak pernah berbohong, Hana. Jika sebuah mesin rusak, itu karena ada bagian yang tidak berfungsi, dan kau bisa memperbaikinya dengan logika. Manusia... manusia jauh lebih rumit. Kau bisa memberikan segalanya pada seseorang, namun mereka tetap bisa menghancurkanmu. Di bengkel, aku merasa memegang kendali atas hidupku sendiri. Di mansion... aku hanyalah bidak yang dipoles."
Hana menatap profil wajah Ren yang tajam dari samping. "Kau tidak akan pernah menjadi bidak bagiku, Ren. Kau adalah pria paling bebas yang pernah kukenal."
Ren tersenyum pahit. Bebas? Ia merasa seperti narapidana yang sedang menikmati makanan terakhirnya. "Jika suatu saat nanti aku tidak ada di sisimu, berjanjilah kau akan tetap menjadi wanita yang berani ini. Jangan biarkan ayahmu atau pria seperti Kaito mendikte hidupmu lagi."
Hana tersentak. "Kenapa kau bicara seolah-olah kau akan pergi jauh?"
Ren langsung menarik Hana ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya dengan intensitas yang menyakitkan. "Aku hanya bicara tentang kemungkinan, Hana. Dunia ini tidak pasti."
Hari Kelima: Perjamuan Terakhir
Dua hari sebelum batas waktu habis, Ren mengundang Hana untuk makan malam di apartemen. Kali ini, ia tidak memasak sendiri. Ia meminta pelayan terbaik dari restoran keluarganya untuk menyiapkan hidangan paling mewah, namun ia meminta mereka pergi sebelum Hana datang.
Meja makan dihiasi lilin-lilin putih dan bunga lili kesukaan Hana. Musik jazz pelan mengalun di latar belakang. Ren mengenakan kemeja hitam yang sangat rapi, sementara Hana mengenakan gaun sutra hijau zamrud yang membuatnya tampak seperti dewi.
Malam itu, mereka berdansa di ruang tengah yang luas, dengan pemandangan lampu kota Tokyo yang berkelap-kelip di bawah mereka. Ren memeluk pinggang Hana, sementara tangan Hana melingkar di leher Ren. Gerakan mereka lambat, seirama dengan detak jantung mereka yang kini seolah menyatu.
"Hana," bisik Ren di telinga wanita itu. "Apapun yang terjadi besok atau lusa, ingatlah bahwa setiap detik yang kuhabiskan bersamamu adalah momen paling berharga dalam hidupku yang membosankan ini. Kau bukan sekadar 'alat' atau 'pinjaman'. Kau adalah satu-satunya alasan aku merasa hidup."
Hana mendongak, matanya berkaca-kaca. "Ren, kau membuatku takut. Kau bicara seperti sedang mengucapkan perpisahan."
Ren tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membungkam bibir Hana dengan sebuah ciuman yang sangat dalam, penuh dengan rasa takut kehilangan dan gairah yang tertahan. Malam itu, mereka kembali menyatu, namun kali ini bukan hanya tubuh yang bicara. Ada keputusasaan dalam setiap sentuhan Ren, seolah ia sedang mencoba mengukir namanya di dalam jiwa Hana agar tidak terhapus oleh jarak ribuan kilometer yang akan membentang di antara mereka.
Hari Keenam: Pagi yang Dingin
Sabtu pagi. Hari terakhir.
Ren terbangun lebih awal. Ia berdiri di balkon, menatap matahari terbit dengan tatapan kosong. Yoto berdiri di belakangnya, membawa sebuah koper hitam kecil berisi dokumen perjalanan.
"Tuan Muda," suara Yoto sangat rendah. "Mobil akan menjemput pukul sepuluh malam ini. Pesawat dijadwalkan lepas landas pukul satu dini hari dari Haneda."
Ren tidak menoleh. "Bagaimana dengan tim pengaman untuk Hana?"
"Sudah diatur, Tuan. Dua belas agen elit akan mengawasi kediaman Asuka secara bergantian selama dua puluh empat jam. Jika Daichi Asuka mencoba melakukan sesuatu yang membahayakan Nona Hana, mereka memiliki izin untuk mengambil tindakan tegas."
"Bagus," Ren berbalik, wajahnya kini menyerupai es yang tak tertembus. "Pastikan dia tidak tahu aku pergi sampai pesawatku sudah berada di atas udara internasional. Aku tidak ingin dia mengejarku ke bandara."
"Apakah Anda yakin tidak ingin memberitahunya, Tuan? Ini mungkin akan menghancurkannya," tanya Yoto dengan nada iba yang jarang ia tunjukkan.
"Memberitahunya hanya akan membuat penderitaannya dimulai lebih awal," jawab Ren tajam. "Biarkan dia membenciku karena pergi tanpa pamit. Kebencian lebih mudah dikelola daripada rasa rindu yang tidak ada ujungnya."
Ren kembali ke dalam kamar. Hana masih tertidur, sinar matahari pagi menyinari wajahnya yang damai. Ren duduk di tepi ranjang untuk terakhir kalinya. Ia membelai rambut Hana, jari-jarinya bergetar. Ia ingin sekali membangunkan Hana, memeluknya, dan mengajaknya lari ke ujung dunia. Tapi ia tahu Maximilian. Ayahnya akan melacak mereka, dan Hana akan menjadi korban pertama dalam perburuan itu.
Ren meninggalkan sebuah surat di atas meja nakas, tertindih oleh kunci bengkel Ota—kunci yang dulu ia berikan pada Hana.
Malam Penentuan: Bandara Haneda
Pukul 22.00.
Tokyo diguyur hujan deras. Ren berdiri di lobi apartemen, mengenakan mantel hitam panjangnya. Bugatti-nya sudah dibawa oleh staf lain, dan kini ia masuk ke dalam limosin hitam yang akan membawanya menuju takdir yang ia benci.
Di dalam mobil, Ren menatap keluar jendela. Setiap gedung, setiap lampu jalan, seolah meneriakkan nama Hana. Ia merasa seperti seorang pengkhianat. Ia telah menyelamatkan Hana dari Kaito, hanya untuk meninggalkannya dalam kesunyian yang lebih dalam.
Sesampainya di terminal pribadi Haneda, Maximilian sudah menunggunya di depan tangga pesawat. Pria tua itu tampak puas, kemenangan terpancar dari matanya yang licik.
"Pilihan yang tepat, Aurelius," ucap Maximilian saat Ren mendekat. "Kau menyelamatkan nyawa wanita itu dengan ketaatanmu. Sekarang, mari kita kembali ke tempat kau seharusnya berada. Kerajaanmu di Eropa sedang menanti."
Ren berhenti di depan ayahnya. Ia tidak menunduk. Ia menatap Maximilian dengan kebencian yang begitu murni hingga ayahnya sedikit tersentak.
"Aku akan kembali ke Eropa, Ayah," suara Ren terdengar seperti guntur yang tertahan. "Tapi jangan pernah berpikir bahwa kau telah menang. Aku kembali bukan untuk menjadi putramu yang patuh. Aku kembali untuk mengambil semua yang kau miliki, sampai kau tidak punya kekuatan lagi untuk mengancam siapa pun yang kucintai."
Maximilian tertawa meremehkan. "Kita lihat saja seberapa cepat kau bisa melakukannya, Putraku."
Ren melangkah naik ke pesawat tanpa menoleh ke belakang. Saat pintu pesawat tertutup, ia merasa jantungnya seolah tertinggal di apartemen itu, di samping Hana yang mungkin saat ini sedang terbangun dan menemukan suratnya.
Di Apartemen: Kehancuran Hana
Hana terbangun karena suara guntur yang menggelegar. Ia meraba sisi ranjangnya, namun tempat itu sudah dingin.
"Ren-san?" panggilnya dengan suara parau.
Hana bangkit, berjalan keluar kamar dengan harapan menemukan Ren di dapur atau sedang membaca buku di sofa. Namun, apartemen itu sunyi senyap. Terlalu sunyi.
Ia kembali ke kamar dan matanya tertuju pada meja nakas. Di sana, terletak kunci bengkel Ota dan sebuah amplop putih dengan inisial A.R.
Hana membuka surat itu dengan tangan gemetar.
Hana,
Maafkan aku karena harus pergi dengan cara ini. Jika aku mengucapkannya secara langsung, aku takut aku tidak akan pernah bisa melangkah pergi.
Aku harus kembali ke Eropa untuk menyelesaikan urusan keluarga yang tidak bisa kuhindari. Ini adalah satu-satunya cara untuk memastiskan kau tetap aman dan bebas dari gangguan ayahmu maupun keluarga Shimada. Aku telah menjamin keamananmu selamanya.
Jangan mencariku. Jangan menungguku. Hiduplah sebagai Hana yang bebas, Hana yang berani yang pertama kali menyapaku di bengkel. Gunakan kunci ini jika kau merindukan tempat itu, namun ketahuilah bahwa pria yang kau kenal sebagai Ren telah pergi.
Kau adalah satu-satunya hal nyata dalam hidupku yang penuh dengan kepalsuan. Terlepas dari identitasku sebagai Aurelius, ketahuilah bahwa cintaku padamu adalah kebenaran yang mutlak.
Selamat tinggal, Hana.
— Ren.
Surat itu jatuh dari tangan Hana. Lututnya melemas, dan ia jatuh terduduk di lantai. Isak tangis yang tertahan selama ini akhirnya meledak, memecah kesunyian apartemen megah itu. Ia memeluk kunci bengkel itu ke dadanya, merasakan logam dingin yang kini menjadi satu-satunya peninggalan dari pria yang ia cintai.
"Kau pembohong, Ren..." isaknya di antara tangis. "Kau bilang kau akan melindungiku... tapi kau meninggalkanku sendirian di sini."
Di atas udara, pesawat jet pribadi Hohenzollern membelah awan badai menuju Benua Biru. Di dalam kabin yang mewah, Aurelius Renzo duduk sendirian di kegelapan, menatap ke arah Jepang yang semakin menjauh. Air mata yang jarang ia keluarkan kini jatuh, membasahi tangannya yang masih membawa aroma parfum Hana.
Permainan baru saja dimulai. Sang Kaisar Hitam memang pergi, namun ia pergi untuk mengumpulkan kekuatan besar yang akan meratakan siapa pun yang menghalangi jalannya untuk kembali menjemput ratunya.