Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sore itu, studio utama riuh dengan kesibukan yang memuncak.
Bunyi hairdryer, aroma parfum yang menyengat, dan langkah kaki kru yang berlarian menciptakan simfoni ketegangan di balik layar.
Di depan cermin rias yang dikelilingi lampu bohlam kuning, Liana duduk mematung.
Rina, dengan tangan yang cekatan namun lembut, sedang memulas eyeliner pada kelopak mata Liana. Ia bisa merasakan sedikit getaran di bahu Liana yang tertutup jubah rias putih.
"Tarik napas, Liana. Jangan ditahan," bisik Rina menenangkan.
"Kamu terlihat sangat cantik sore ini. Gaun ini, benar-benar membuatmu seperti ratu."
Liana menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang menjuntai indah, menonjolkan lekuk tubuhnya yang selama ini ia benci namun kini tampak begitu elegan di bawah tangan penata busana profesional. Namun, di balik riasan yang sempurna itu, matanya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan.
"Rina, apakah aku sanggup menghadapi mereka?" suara Liana bergetar pelan.
"Pengumuman Adrian tadi siang, semua kamera pasti akan mengincar wajahku. Mereka akan mencariku, bukan untuk menanyakan aktingku, tapi untuk menghakimiku."
Rina meletakkan kuas riasnya, lalu menggenggam kedua bahu Liana dari belakang, menatapnya melalui cermin.
"Dengarkan aku. Kamu adalah bintang utama film ini. Kamu menari dengan hati, dan semua orang di studio ini tahu betapa kerasnya kamu bekerja. Jangan biarkan drama Adrian dan Arum menghapus prestasimu."
Liana menghela napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya.
Tepat saat itu, pintu ruang rias terbuka sedikit. Erwin melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang rapi—penampilannya sebagai manager benar-benar meyakinkan.
Di belakangnya, Adrian menyusul dengan wajah yang sudah dipulas concealer tebal untuk menutupi lebamnya, namun sorot matanya tetap tajam tertuju pada Liana.
"Mobil sudah siap di depan," ucap Erwin tegas, matanya beradu pandang dengan Liana di cermin.
"Aku akan berdiri di sampingmu sepanjang red carpet. Tidak akan ada satu wartawan pun yang boleh menyentuhmu."
Adrian melangkah maju, berdiri di sisi lain kursi rias Liana.
Ia memberikan sebuah kotak beludru kecil di atas meja rias.
"Ini sentuhan terakhirnya, Liana. Aku ingin kamu memakainya malam ini."
Liana melihat isinya—sepasang anting zamrud yang berkilau mewah, senada dengan warna gaunnya.
Ia menatap anting itu, lalu beralih menatap Adrian dan Erwin bergantian.
Dua pria itu kini berdiri mengapitnya, masing-masing dengan cara proteksi yang berbeda.
"Terima kasih," ucap Liana singkat, suaranya kini lebih stabil.
Ia berdiri, membiarkan jubah riasnya jatuh dan menampilkan kemegahan gaunnya.
"Mari kita selesaikan ini. Aku ingin dunia melihat Liana sang penari, bukan Liana yang ada di berita skandal."
Mobil mewah berwarna hitam itu berhenti tepat di ujung karpet merah yang membentang panjang menuju lobi bioskop.
Ratusan lampu flash kamera dari para jurnalis dan fotografer sudah berkedip liar, menciptakan suasana yang bising dan menyilaukan.
Aroma parfum mahal dan kegugupan yang pekat memenuhi udara Jakarta malam itu.
Pintu mobil dibuka oleh petugas keamanan. Erwin turun lebih dulu, berdiri tegak dengan setelan jas hitamnya, matanya menyapu tajam ke arah kerumunan wartawan seperti seekor elang yang siap melindungi sarangnya.
Ia mengulurkan tangan, namun sebelum Liana sempat menyambutnya, Adrian sudah melangkah keluar dari sisi lain dan berdiri tepat di samping pintu Liana.
Liana menarik napas panjang, menguatkan hatinya, lalu melangkah keluar.
Begitu gaun emerald-nya tertangkap cahaya lampu, teriakan para wartawan pecah seketika.
"Liana! Liana! Benarkah Anda penyebab putusnya Adrian dan Arum?!"
"Liana, bagaimana perasaan Anda disebut sebagai orang ketiga?!"
Kilatan kamera semakin menggila, membuat Liana sempat terhuyung sejenak karena silau.
Di saat itulah, Adrian melakukan hal yang membuat seluruh area red carpet mendadak hening selama satu detik sebelum kemudian meledak dalam kegaduhan yang lebih besar.
Adrian menggenggam tangan Liana. Ia menautkan jari-jarinya di antara jemari Liana yang dingin dan gemetar, memberikan kehangatan sekaligus pernyataan bisu di depan ratusan lensa kamera.
Adrian tidak peduli pada citra produser dingin yang selama ini ia jaga; ia hanya peduli pada wanita di sampingnya.
"Tetaplah tegak, Liana. Jangan menunduk. Kamu adalah bintang malam ini," bisik Adrian tepat di telinga Liana, suaranya mantap mengalahkan kebisingan di sekitar mereka.
Liana merasakan genggaman itu—kuat, protektif, dan penuh janji.
Ia melirik Erwin yang berada di sisi lainnya. Erwin tampak mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras melihat tangan Adrian yang menyatu dengan tangan Liana, namun ia tetap menjalankan tugasnya sebagai pelindung, menghalau wartawan yang mencoba merangsek maju terlalu dekat.
Dengan dagu yang terangkat dan tangan yang masih bertaut erat dengan Adrian, Liana mulai melangkah di atas karpet merah.
Keanggunannya terpancar nyata, kontras dengan gosip miring yang beredar.
Ia bukan lagi penari pasar yang malu-malu; malam ini, di bawah pengawalan dua pria yang memperebutkan hatinya, ia berjalan menuju puncak kejayaannya.
Namun, di antara kerumunan itu, sepasang mata tajam milik Arum yang tersembunyi di balik kacamata hitam terus mengawasi, menunggu momen yang tepat untuk menghancurkan senyum kemenangan Liana.
Lampu-lampu sorot di dalam studio besar itu perlahan meredup, menyisakan panggung utama yang bermandikan cahaya temaram.
Ratusan tamu undangan, kolega bisnis, hingga kritikus film terkemuka duduk dalam keheningan yang penuh antisipasi.
Di barisan terdepan, Arum duduk bersama Jordan dengan senyum sinis yang tak kunjung hilang, seolah menunggu sebuah kegagalan.
Adrian melangkah maju ke tengah panggung. Setelan jasnya tampak sempurna, menyembunyikan sisa lebam yang tadi sore masih terlihat jelas.
Ia memegang mikrofon dengan tangan yang mantap, meskipun matanya terus mencuri pandang ke arah sayap panggung tempat Liana bersiap.
"Malam ini bukan hanya tentang sebuah karya sinema," suara Adrian menggema berat, sarat akan emosi.
"Malam ini adalah tentang kejujuran, tentang akar budaya yang kuat, dan tentang seorang wanita yang mengajarkan saya arti dari dedikasi yang sesungguhnya. Sebelum film ini diputar, izinkan bintang utama kita membawa kalian masuk ke dalam jiwanya."
Adrian mundur, dan seketika musik gamelan yang mistis namun modern mulai mengalun.
Liana muncul dari kegelapan. Ia mengenakan kostum tari kontemporer yang menyatu dengan gaun emerald-nya yang tadi, namun lebih fleksibel.
Gerakannya gemulai, namun setiap hentakan kakinya di atas panggung kayu itu membawa kekuatan yang luar biasa.
Ia menari seolah-olah seluruh luka, hinaan Arum, dan tekanan Jakarta keluar melalui ujung jemarinya.
Penonton terpesona; tidak ada lagi yang berbisik soal skandal, yang ada hanyalah kekaguman pada sang penari yang seolah menyatu dengan udara.
Begitu tarian berakhir, riuh tepuk tangan membahana.
Liana membungkuk hormat, lalu turun menuju kursinya di antara Adrian dan Erwin.
Selama hampir dua jam, layar raksasa itu menampilkan akting Liana yang memukau.
Ia bukan sekadar "wanita kampung" di mata penonton lagi; ia adalah karakter yang hidup, bernapas, dan menderita di layar.
Setiap air mata yang jatuh dari mata Liana di film itu membuat penonton terisak, dan setiap senyumnya membawa kehangatan.
Kritikus film di barisan belakang mulai mencatat dengan antusias—mereka tahu, mereka sedang menyaksikan lahirnya seorang legenda baru.
Film berakhir. Kredit mulai berjalan diiringi lagu penutup yang menyayat hati.
Lampu studio perlahan dihidupkan, dan seluruh penonton berdiri memberikan standing ovation yang panjang.
Adrian berdiri dengan bangga, matanya berkaca-kaca menatap Liana.
Di sisi lain, Erwin juga berdiri, memberikan tepuk tangan paling keras untuk wanita yang selalu ia jaga.
Namun, di tengah kemeriahan itu, telinga Liana menangkap suara yang aneh.
Kriet....
Brak!
Liana mendongak ke atas. Sebuah besi penyangga lampu lighting yang besar di atas panggung utama tiba-tiba goyah.
Besi berat itu mulai miring, tepat mengarah ke posisi Adrian dan Erwin yang sedang berjabat tangan merayakan kesuksesan mereka.
"Awas!!" teriak Liana melengking, memecah kebisingan tepuk tangan.
Tanpa pikir panjang, dengan sisa tenaga dan refleks penarinya, Liana melompat maju.
Ia mendorong tubuh Adrian ke kiri dan menyikut Erwin ke kanan dengan kekuatan yang luar biasa hingga keduanya jatuh terjungkal ke lantai studio.
BRAKKKK!
Dentuman keras logam menghantam lantai mengguncang ruangan.
Debu dan percikan api kecil dari kabel yang terputus memenuhi udara.
Jeritan penonton pecah, suasana berubah menjadi kekacauan total dalam sekejap.
"Liana!" teriak Adrian dan Erwin hampir bersamaan saat mereka berusaha bangkit.
Mereka membeku. Liana tergeletak di lantai, separuh tubuhnya tertutup bayangan besi besar itu.
Kakinya yang ramping, yang baru saja menari dengan indah di atas panggung, kini tertindih ujung besi penyangga yang berat.
Darah merah segar mulai merembes, mengotori gaun emerald-nya yang megah.
Wajah Liana pucat pasi. Ia sempat menatap Adrian dan Erwin dengan tatapan yang sayu, memastikan keduanya baik-baik saja, sebelum akhirnya matanya terpejam rapat.
Liana jatuh pingsan di tengah riuhnya kepanikan, mengorbankan mimpinya di malam kejayaannya demi keselamatan dua pria yang ia cintai.
ditunggu crazy upnya