NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Roda pesawat jet pribadi itu akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Incheon dengan mulus, menandai babak baru perjuangan mereka di Negeri Ginseng.

Di luar jendela, kabut tipis musim dingin menyelimuti bandara, namun di bawah lampu-lampu sorot landasan, sebuah iring-iringan tim medis dengan seragam putih bersih dan peralatan mutakhir sudah siaga menunggu.

Pintu pesawat terbuka, membiarkan udara dingin Korea merangsek masuk ke dalam kabin yang hangat.

Saat para perawat mulai bersiap memindahkan tandu Liana ke lift hidrolik, Liana tiba-tiba menarik ujung jas Adrian.

"Adrian..." panggil Liana, suaranya sedikit lebih bertenaga namun ada nada manja yang tak biasa.

"Iya, Li? Ada yang sakit? Atau kamu kedinginan?" Adrian langsung membungkuk, wajahnya penuh kecemasan.

Liana menggeleng pelan, matanya berbinar jenaka meski wajahnya masih pucat.

"Adrian, aku mau manisan mangga. Yang asam, pedas, dan segar, seperti yang biasa ada di pasar dekat rumah Mama."

Adrian membelalakkan matanya. Ia terdiam sejenak, otaknya yang biasa berpikir tentang kontrak film dan jadwal syuting mendadak macet.

"Manisan mangga? Li, kita baru saja mendarat di Seoul. Ini musim dingin, dan kita harus segera ke rumah sakit."

Sebelum Adrian sempat memproses permintaan "ngidam" pertama Liana itu, Erwin yang berdiri di dekat pintu kabin sambil menyampirkan jaket tebalnya langsung tertawa pendek.

Ia melangkah maju dengan gaya yang sangat percaya diri.

"Sudahlah, Adrian. Biar aku yang mencarikan manisan mangganya. Di sini pasti ada supermarket internasional atau toko Asia," ledek Erwin sambil menepuk bahu Adrian dengan keras. Ia lalu menunduk ke arah Liana dan mengedipkan sebelah matanya.

"Tenang saja, Li. Biar aku yang carikan. Aku kan 'ayahnya', jadi aku lebih tahu apa yang bayi ini mau."

Mendengar bualan Erwin yang begitu percaya diri menyebut dirinya "ayah", Liana tidak bisa menahan diri lagi.

Rasa tegang, takut, dan mual yang sejak tadi menghimpitnya seolah menguap begitu saja.

"Hahaha! Erwin, kamu ini bicara apa!" Liana tertawa terbahak-bahak, tawa lepas pertamanya yang membuat suasana kabin yang kaku itu mendadak cair.

Bahkan Mama Liana yang tadinya tegang ikut tersenyum melihat putrinya bisa tertawa kembali. Adrian hanya bisa mendengus kesal namun dalam hati ia merasa lega luar biasa melihat tawa itu.

Ia tahu Erwin hanya bercanda untuk menghibur Liana, meski rasanya tetap saja agak "panas" di telinganya.

"Sudah, sudah. Ayo turun dulu," ucap Adrian sambil membantu tim medis mengarahkan tandu Liana.

Beberapa perawat Korea dengan sigap namun sangat hati-hati mengangkat tandu Liana keluar dari pesawat.

Mereka memasukkannya ke dalam mobil ambulans VVIP yang interiornya sudah dilengkapi peralatan pemantau saraf tercanggih.

Sirine ambulans itu menyala tanpa suara, hanya lampu biru yang berkedip, membelah jalanan Seoul menuju pusat rehabilitasi, membawa harapan yang kini sedikit lebih cerah berkat tawa Liana.

Iring-iringan ambulans VVIP itu akhirnya berhenti tepat di depan lobi utama sebuah rumah sakit pusat rehabilitasi saraf paling bergengsi di distrik Gangnam, Seoul.

Udara musim dingin yang menusuk tulang segera menyambut mereka, namun kecanggihan fasilitas di sana memberikan rasa aman yang tak ternilai.

Pintu ambulans terbuka, dan beberapa perawat dengan sigap mendorong tandu Liana masuk ke dalam lobi yang luas dan elegan.

Di sana, seorang pria berdiri menunggu dengan jubah putih dokter yang sangat rapi.

Ia adalah Dokter Kim. Sosoknya tinggi tegap dengan garis wajah yang tegas namun memiliki senyum yang sangat hangat.

Ketampanannya bahkan sempat membuat para perawat muda di sana mencuri pandang.

Ia melangkah maju, lalu membungkuk hormat dalam budaya Korea yang kental.

"Selamat datang di Seoul, Nona Liana. Saya Dokter Kim Min-jun yang akan menangani rehabilitasi saraf Anda," ucapnya dalam bahasa Inggris yang sangat fasih dan suara yang bariton menenangkan.

Ia mendekat ke tandu Liana, lalu memeriksa denyut nadi dan pupil mata Liana dengan gerakan yang sangat lembut dan profesional.

Liana sempat terpana sejenak melihat keramahan dan ketampanan dokter yang akan merawatnya.

"Terima kasih, Dokter Kim," bisiknya malu-malu.

Adrian, yang berdiri di samping tandu, merasa ada desiran aneh di hatinya.

Ia berdeham keras, mencoba mengalihkan perhatian.

"Jadi, kapan kita bisa memulai pemeriksaan menyeluruh dan terapinya, Dokter? Kami ingin hasil yang cepat."

Dokter Kim tersenyum simpul, menyadari ketegangan di wajah Adrian.

Ia melirik catatan medis di tabletnya, lalu menatap Liana dengan tatapan yang sangat membesarkan hati.

"Sebenarnya jadwal pemeriksaan intensif adalah malam ini. Namun," Dokter Kim menjeda kalimatnya sambil menoleh ke arah Erwin yang baru saja masuk ke lobi sambil menenteng kantong plastik berisi manisan mangga yang ia temukan di sebuah toko kelontong Asia di dekat bandara.

"Saya mendengar pasien kita sedang memiliki permintaan khusus?"

Erwin nyengir lebar, mengangkat kantong

plastiknya.

"Tentu saja, Dok. Manisan mangga paling segar untuk 'ibu dan bayi' ini."

Dokter Kim tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat ramah dan tulus.

"Baiklah. Kondisi psikis pasien adalah kunci utama penyembuhan saraf. Jika Nona Liana ingin menikmati manisan mangganya dulu, kita akan menunda pemeriksaan besar dan terapi pertamanya hingga besok pagi. Biarkan dia beristirahat dan merasa bahagia malam ini."

Adrian mengernyitkan dahi. "Besok? Bukankah setiap detik sangat berharga untuk sarafnya?"

"Tentu, Pak Adrian. Tapi memaksakan pasien yang sedang stres atau 'ngidam' justru bisa menghambat respons sarafnya. Biarkan dia makan dan tidur dengan nyenyak malam ini," jelas Dokter Kim dengan sabar.

Liana menatap Adrian dengan wajah memohon yang sangat menggemaskan.

"Hanya malam ini saja, Adrian. Aku benar-benar ingin makan ini..."

Adrian akhirnya mengalah. Ia mengembuskan napas panjang dan mengangguk.

"Baiklah. Besok pagi kita mulai semuanya."

Malam itu, di kamar perawatan VVIP yang menghadap keindahan lampu kota Seoul, Liana menikmati manisan mangga dari Erwin dengan lahap di bawah pengawasan ibunya.

Sementara itu, di koridor rumah sakit, Adrian dan Erwin kembali bersandar di dinding, menatap pintu kamar Liana dengan pikiran masing-masing—terutama tentang kehadiran Dokter Kim yang ternyata tidak hanya pintar, tapi juga memiliki pesona yang bisa menjadi ancaman baru bagi mereka berdua.

Suasana kamar VVIP yang seharusnya tenang mendadak berubah menjadi pusat intelijen dadakan.

Sementara Liana asyik mengunyah manisan mangganya di atas tempat tidur, Adrian dan Erwin tampak sibuk dengan ponsel masing-masing di sudut ruangan, duduk berdampingan dengan jarak yang sangat tidak nyaman.

"Lulusan Seoul National University, spesialis bedah saraf di Jerman, dan, astaga, dia juga seorang filantropis?" gumam Adrian sambil men-scroll layar tabletnya dengan dahi berkerut.

"Ini tidak masuk akal. Pasti ada celahnya. Mana ada manusia sesempurna itu?"

Erwin mendengus sinis, jempolnya bergerak cepat di layar ponsel.

"Jangan sok tahu, Adrian. Aku sedang mencari akun media sosial pribadinya. Lihat ini, pengikutnya hampir seratus ribu, tapi dia hanya memposting tentang jurnal medis dan anjing golden retriever-nya. Tidak ada foto pacar. Ini mencurigakan."

"Mencurigakan? Itu namanya dia profesional, Erwin!" bantah Adrian ketus.

"Tapi tetap saja, dia terlalu ramah. Dokter yang terlalu ramah biasanya punya maksud tersembunyi."

"Bilang saja kau takut tersaingi karena dia lebih tinggi dua senti darimu," ledek Erwin tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Liana yang sejak tadi memperhatikan tingkah konyol kedua pria itu dari tempat tidurnya akhirnya tidak tahan lagi.

Ia menghentikan kunyahannya, menatap mereka dengan tatapan jengah sekaligus terhibur.

Mama Liana yang sedang merapikan baju di lemari hanya bisa tersenyum simpul, menggelengkan kepala melihat tingkah dua

"pelindung" anaknya itu.

"Kalian ini sedang apa, sih?" tanya Liana lantang.

"Kenapa mukanya ditekuk semua begitu? Dokter Kim itu baik, sopan, dan sangat ahli. Bukankah itu yang kita butuhkan?"

Adrian dan Erwin serentak menoleh, menatap Liana dengan wajah defensif yang hampir serupa.

"Dia terlalu tampan untuk jadi dokter, Li. Itu distraksi," cetus Adrian cepat.

Liana tertawa kecil, lalu dengan nada iseng yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, ia menyandarkan punggungnya ke bantal tinggi.

"Hm, dipikir-pikir, Dokter Kim memang paket lengkap ya. Pintar, perhatian, ramah, dan visualnya, luar biasa. Kalau aku sembuh nanti, sepertinya lebih baik aku menikah dengan Dokter Kim saja."

Seketika, suasana kamar membeku. Gerakan tangan Adrian di tablet terhenti, sementara ponsel Erwin hampir saja terlepas dari genggamannya.

"LIANA!!" teriak Adrian dan Erwin bersamaan, suara mereka memenuhi ruangan hingga membuat burung-burung di luar jendela beterbangan.

"Jangan bicara sembarangan!" protes Adrian dengan wajah yang mendadak merah padam.

"Aku yang membawamu ke sini, aku yang membayar biaya rumah sakit ini!"

"Dan aku yang mencarikanmu manisan mangga sampai ke ujung Seoul!" timpal Erwin tak mau kalah, wajahnya tampak sangat tersinggung.

"Dokter itu baru bertemu denganmu sepuluh menit, jangan langsung terpikat begitu saja!"

Liana tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa sedikit kram.

Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat ekspresi panik luar biasa di wajah dua pria dewasa yang biasanya begitu berwibawa itu.

"Ternyata menggoda kalian jauh lebih manjur daripada obat penenang mana pun," goda Liana sambil kembali mengambil potongan mangganya.

Adrian dan Erwin hanya bisa terdiam dengan napas memburu, saling lirik dengan penuh dendam, lalu kembali menatap Liana dengan protektif.

Sepertinya, musuh mereka di Korea bukan hanya kelumpuhan saraf, tapi juga pesona Dokter Kim yang membuat posisi mereka berdua terancam.

1
Dewi Anjani
kirain cuman di baperin aja,,ternyata malah sampe sejauh itu
Dewi Anjani
kasian liana malah di buat baper sama adrian,,,
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!