1. Konsep Utama (The Core)
Protagonis: Kaelan Veyris (Reinkarnasi Ryan Hartman).
Bakat: EX-Grade Talent "All" (Potensi melampaui dewa, penguasaan semua elemen & jalur).
Organisasi: Nox Astra (Simbol: 9 Bintang). Bergerak dari bayangan untuk menguasai 5 benua.
Misi Utama: Membangun kekuatan absolut melalui panti asuhan rahasia dan jaringan teleportasi kuno.
2. Hierarki Kekuatan (Power System)
Grade Bakat: F (Terendah) sampai S (Legenda), SS (Mitos), dan EX (Kaelan).
Jalur Utama:
Sword Path: Sword Trainee hingga Transcendent Sword (Tebasan Dimensi).
Mage Path: Mana Initiate hingga Transcendent Mage (Manipulasi Realitas).
Hybrid Path: Gabungan keduanya (Kaelan & Nox).
Sihir Langka: Teleportasi jarak jauh (Teknik kuno yang hanya dikuasai Kaelan/Nox Astra).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seat Bos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA TAHUN DALAM BAYANGAN
Tiga tahun telah berlalu sejak malam berdarah di mansion Veyris. Bagi penduduk luar, wilayah Veyris masih terlihat seperti wilayah perbatasan yang tenang namun miskin, dipimpin oleh seorang Count yang sakit-sakitan. Namun, di balik tembok-tembok batu yang dingin dan hutan-hutan berkabut yang mengelilinginya, sebuah kekuatan baru telah tumbuh—liar dan tak terlihat.
Kaelan kini berusia enam tahun. Tubuh balitanya telah berganti menjadi sosok anak laki-laki yang ramping dengan mata biru yang tampak semakin dalam, seolah menyimpan galaksi rahasia di dalamnya.
Di sebuah tanah lapang tersembunyi di balik hutan pinus belakang mansion, Kaelan berdiri dengan tangan bersedekap. Di depannya, dua bayangan bergerak dengan kecepatan yang mustahil diikuti mata manusia biasa.
Ting! Ting! Jasss!
Nox, yang kini berusia sembilan tahun, melesat seperti kilat hitam. Rambut putihnya berkibar, dan mata merahnya menyala redup akibat aliran Destruction Mana. Ia memegang belati pendek yang diselimuti aura hitam pekat—teknik Sword Soul yang telah ia sempurnakan di bawah bimbingan Kaelan.
Lawan tandingnya adalah Mira. Pelayan itu tidak lagi tampak canggung. Ia berdiri tenang, namun setiap kali belati Nox hampir menyentuh lehernya, tubuh Mira akan memudar dan muncul tiga meter di belakang Nox.
"Terlalu lambat, Nox," ucap Mira datar. Ia menjentikkan jarinya, dan sebuah Spatial Compression (Kompresi Ruang) tercipta di bawah kaki Nox, membuatnya terjatuh karena gravitasi yang mendadak menjadi sepuluh kali lipat.
"Cukup," suara Kaelan menginterupsi.
Seketika, kedua bayangan itu berhenti dan berlutut serentak di depan bocah berusia enam tahun itu.
"Nox, koordinasi kakimu masih goyah saat menggunakan atribut destruksi. Kau membuang terlalu banyak mana untuk emosi," kritik Kaelan tajam. "Mira, kau terlalu bergantung pada jarak. Jika lawanmu adalah penyihir tingkat tinggi yang bisa mengunci ruang, kau akan mati dalam sekejap."
"Mohon maaf, Tuan Kaelan," jawab mereka serempak.
Kaelan berjalan mendekati mereka. Selama tiga tahun ini, ia telah membangun fondasi Nox Astra. Mira telah menjadi penyihir ruang tingkat menengah secara rahasia, sementara Nox telah menjadi mesin pembunuh yang setara dengan ksatria Level 4, meskipun usianya masih anak-anak.
"Papa akan mengadakan pertemuan dewan darurat malam ini," ucap Kaelan sambil menatap ke arah mansion. "Mata-mata kita di perbatasan melaporkan bahwa Drakmor telah mengerahkan Batalion Serigala Besi. Mereka tidak lagi melakukan gesekan kecil. Mereka akan melakukan invasi penuh dalam tiga hari."
"Apa Count Aldric tahu tentang skala ini, Tuan?" tanya Mira cemas.
"Papa tahu, tapi dia tidak tahu bahwa ada pengkhianat di dalam dewan kita sendiri yang telah membocorkan rute suplai logistik," jawab Kaelan dingin. Matanya berkilat. "Malam ini, Nox Astra akan melakukan tugas pertamanya yang sebenarnya."
"Targetnya?" Nox bertanya, tangannya sudah meraba gagang belatinya.
"Baron Silas. Dia yang menjual informasi ke Drakmor demi kursi di pemerintahan pusat Valdoria. Eksekusi dia malam ini. Jangan tinggalkan jejak, jangan ada saksi. Buat seolah-olah dia mati karena serangan jantung akibat kelebihan mana."
"Dimengerti, Tuan," Nox menghilang ke dalam bayang-bayang pohon dalam sekejap.
Malam harinya, Kaelan masuk ke ruang kerja ayahnya. Count Aldric tampak jauh lebih tua. Rambutnya mulai memutih, dan wajahnya pucat. Racun mana itu semakin dalam, namun Kaelan telah memberikan "obat herbal" rahasia (yang sebenarnya adalah mana murni yang dimurnikan) untuk menjaga ayahnya tetap hidup.
"Kaelan? Kenapa belum tidur?" Aldric mencoba tersenyum, meski tangannya gemetar saat memegang peta militer.
"Papa, Kaelan bawakan teh hangat," ucap Kaelan, menaruh cangkir di meja. "Kaelan dengar Baron Silas sedang sakit ya? Tadi Kaelan lewat kamarnya, baunya aneh."
Aldric mengerutkan kening. "Silas? Dia baru saja keluar dari sini satu jam yang lalu. Dia sehat-sehat saja."
Tepat saat itu, seorang pelayan berlari masuk dengan wajah pucat pasi. "Count! Count Aldric! Baron Silas... dia ditemukan tewas di koridor paviliun tamu! Tabib bilang jantungnya meledak karena serangan mana mendadak!"
Aldric berdiri tersentak. "Apa?! Silas mati?!"
Kaelan hanya berdiri diam di samping meja, menyesap tehnya sendiri dengan tenang. Ia menatap peta perbatasan yang terbuka di meja ayahnya.
Satu pengkhianat mati. Sekarang jalur logistik kita aman untuk sementara, batinnya.
"Papa, jangan sedih," ucap Kaelan sambil memegang tangan ayahnya. "Veyris tidak akan jatuh. Kaelan janji."
Aldric menatap putranya. Ia merasakan aura yang sangat kuat dan menenangkan mengalir dari tangan kecil Kaelan ke tubuhnya, meredakan rasa sakit akibat racun mana. Ia tidak tahu bagaimana Kaelan melakukannya, tapi ia merasa seolah-olah ada dewa pelindung yang sedang berdiri di sampingnya.
"Terima kasih, Kaelan. Kau benar. Kita tidak boleh menyerah," ucap Aldric dengan tekad yang baru.
Kaelan keluar dari ruang kerja ayahnya dan berjalan menuju balkon menara. Di sana, Mira sudah menunggu di dalam dimensi ruang yang ia ciptakan agar tidak terlihat.
"Tugas selesai, Tuan. Nox sudah kembali ke barak kadet tanpa ada yang menyadari," lapor Mira.
Kaelan menatap ke arah kegelapan hutan di perbatasan. Di sana, ia bisa merasakan ribuan aura musuh yang mulai mendekat.
"Drakmor akan datang. Valdoria akan membiarkan kita hancur agar mereka punya alasan untuk menguasai lahan ini secara langsung," gumam Kaelan. "Mereka semua mengira Veyris hanyalah bidak catur yang bisa dibuang."
Ia mengepalkan tangannya. Sebuah pusaran mana biru pekat muncul di sekelilingnya, jauh lebih kuat daripada Grade A yang ia tunjukkan pada orang tuanya.
"Nox Astra, bersiaplah. Perang ini bukan untuk mempertahankan Veyris bagi kerajaan Valdoria. Perang ini adalah untuk menyatakan bahwa Veyris adalah milik kita sendiri."