Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Seperti Yang Terlihat
"Kamu tahu namaku?" Naura memicingkan alis. Ia berdiri di depan Rara yang terlihat kaku, bahunya menegang dan kedua tangan menyilang di dada. "Pasti Aksara sudah menceritakan banyak hal, ya?"
Rara hanya diam, matanya menatap lurus ke arah Naura tanpa sedikit pun ekspresi yang terlihat jelas.
"Pasti dia bercerita aku cuma temannya sedari kecil. Ah... lelaki itu selalu saja." Naura tertawa kecil, suaranya terdengar menusuk. Ia mulai mengitari Rara dengan langkah lambat, tatapannya sinis dan mengendus seperti pemangsa yang akan menerkam mangsanya. "Yang paling enak itu memang jalur orang dalam. Tidak perlu bersusah payah, maka kamu akan mendapatkan hal yang kamu inginkan dengan mudah." Ucap Naura dengan nada nyelekit.
"Apa maksud kamu?" Rara bertanya dengan wajah datar, meskipun hatinya sudah mulai berdebar kencang.
"Tidak usah berlagak bodoh!" Balas Naura dengan tatapan tajam yang menusuk, bibirnya sedikit mengerut ke bawah. "Bagaimana rasanya, seorang gadis desa bisa berhasil bekerja di tempat elite seperti ini? Pasti suatu kebanggaan, kan?"
Rara menarik nafas dalam perlahan, mencoba menenangkan diri. Ia tidak ingin berdebat dengan orang yang dianggapnya tidak penting. Ia tetap menjaga sikap tenang.
"Jangan senang dulu. Aku tentu tidak akan tinggal diam. Akan ku buat kamu tidak betah berada di sini." Ucap Naura dengan penekanan yang kuat di setiap kata, seperti sedang mengucapkan janji yang pasti akan ditepati. "Oh iya satu lagi... Aksara tidaklah sebaik yang terlihat." Sambungnya, sambil memberikan senyuman menyimpang yang berhasil membuat Rara sedikit mengerutkan alis dan pikirannya mulai penuh dengan pertanyaan.
Pintu ruangan kerja tiba-tiba terbuka dengan suara sedikit keras. Aksara datang, tangannya memegang beberapa lembar kertas. Wajahnya sedikit terkejut ketika melihat Naura ada di sana.
Naura langsung berbalik arah dan memasang senyum manis yang lebar, langkahnya menjadi lebih ringan saat mendekati pria itu. "Kenapa kamu di sini, Nau?" Tanya Aksara dengan wajah heran.
"Aku mau melanjutkan rapat kita yang tertunda kemarin. Kamu kan bilang akan segera menyelesaikannya."
"Ah! Kenapa harus hari ini?" Aksara menggaruk kepalanya, kemudian menoleh ke arah Rara yang masih berdiri mematung. "Hari ini aku ingin menghabiskan waktu untuk mengajari Rara dan mengajaknya keliling kantor – ini hari pertamanya bekerja di sini,"
"Itu bisa lain kali, kan? Apa kamu pikir rapat kita ini tidak penting? Aku sengaja datang kesini menyempatkan waktu dari jadwal yang padat." Naura mulai menunjukkan ekspresi kesal di wajahnya.
"Tidak, tidak, tidak! Sana kembali ke kantor kamu dulu. Rapatnya bisa kita atur lain waktu." Jawab Aksara dengan tegas, fokusnya kini lebih ke arah Rara.
"Ih! Dasar nyebelin!" Naura mengerutkan dahi dan menoleh ke arah Rara.
Rara hanya memberikan senyuman kecil yang tidak terasa ramah, seolah-olah sedang mengejek kegagalan Naura membuat Aksara mengikuti keinginannya. Hal itu membuat wajah Naura semakin memerah karena kesal.
"Yasudah! Aku pulang saja!" Ucap Naura dengan wajah yang benar-benar ditekuk ke bawah.
"Em," Jawab Aksara singkat sambil mengangguk, tanpa sedikit pun ingin menghentikannya. Hal itu membuat Naura semakin marah, ia meninggalkan ruangan dengan menutup pintu secara kasar.
"Huh! Dasar tukang merajuk!" Ucap Aksara menyeringai sambil menggeleng-geleng kepala.
Ia kemudian mendekati Rara yang masih berdiri dengan posisi yang sama. Wajah gadis itu terlihat jutek, alisnya sedikit terangkat dan bibirnya menonjol ke depan.
"Ada apa? Kamu tidak apa-apa, kan? Naura tidak bicara yang aneh-aneh, kan?" Tanya Aksara dengan nada khawatir.
Rara tidak menjawab, ia lebih memilih berbalik dan duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan, wajahnya menghadap ke arah jendela.
"Apa benar yang dikatakan Naura? Dia bilang, Aksara tidak sebaik yang terlihat? Ih... tapi kan aku memang sudah tau! Kenapa aku sekarang malah merasa ragu?" Pikiran Rara berlarut tanpa bisa dikendali.
"Ayolah. Jangan diam saja seperti ini." Aksara membujuk sambil duduk di sisi lain sofa.
"Tidak ada apa-apa. Aku dan Naura cuma ngobrol biasa saja. Tidak ada membahas kamu, kok. Ngapain juga membahas hal yang tidak penting. Jangan terlalu percaya diri!" Jawab Rara dengan nada dingin, tanpa melihat wajah Aksara.
Aksara hanya menyunggingkan senyum paham. "Oh. Syukurlah kalau begitu."
"Aku tidak mau bicara hal lain selain yang berkaitan dengan pekerjaan."
"Iya, Nona Rara. Maaf, ya. Bersabarlah, ini baru hari pertamamu di sini. Nikmati saja dengan santai, jangan terburu-buru atau terpengaruh hal tidak penting."
Rara memalingkan wajah dan mendengus pelan. "Huh! Sekarang hari-hariku akan selalu bersama lelaki ini sepanjang waktu – di kantor sebagai atasan dan bawahan, di rumah sebagai istrinya. Semoga aku kuat! Cuma melihat wajahnya saja rasanya sangat menyebalkan!"
"Ayo, sekarang ikut aku . Aku akan mengajakmu keliling kantor untuk memperkenalkan ruangan-ruangan penting di sini." Aksara berdiri dan menoleh ke arah Rara.
Rara hanya diam, matanya masih menatap jendela tanpa gerakan sedikit pun.
"Mau jalan sendiri atau aku gendong?" Canda Aksara dengan suara yang sedikit tinggi membuat Rara langsung terkejut dan berdiri dengan cepat, wajahnya sedikit memerah karena kesal.