Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu Air
"Hiiiii.... makhluk apa itu, Bar?" Damar langsung beringsut mundur, begitu juga dengan Akbar.
Sosok itu benar-benar mengerikan, siapapun yang melihatnya pasti takut. Apalagi cahaya di tempat itu, tidak terlalu terang. Karena tertutup, oleh rindangnya dedaunan. Wajah sosok itu, terlihat mengelupas dan seperti kulit terkena borok. Karena terlalu lama, di dalam air. Dia menggunakan baju seorang penari jaipong, tetapi rambunya yang sudah tak karuan. Sehingga menutupi sebagian wajahnya, matanya terlihat warna hitam semua.
Parahnya lagi, di dada sosok itu. Tertancap sebuah linggis, yang tembus sampai ke belakang. Dia merangkak naik, dengan posisi kepala berputar 180*.
'Astaghfirullah... Astaghfirullah.... Astaghfirullah.... kenapa harus liat yang kaya ginian? Padahal kan, mata batin gue kagak di buka?' ucap Damar dalam hati, tubuhnya bergetar. Sampai tangan Akbar pun ikut bergerak, Akbar yang tadi nya takut. Malah jadi merasa lucu, ternyata ada yang lebih parah darinya.
'Dia sangat mengerikan Ghaff, kayanya penghargaan hantu paling menakutkan di menangkan sama dia.' ucap Moon, membuat Ghaffar menoleh. Moon langsung membuat gerakan, menyeleting bibirnya.
'SIAPA YANG MENGGANGGU KU?' tanya sosok itu, ia masih dalam posisi yang sama, dengan saat dia naik tadi.
"Aku" jawab Ghaffar biasa saja
'ADA APA KAMU MEMANGGILKU?' tanya sosok itu lagi
"Aku hanya ingin, kamu lepaskan jasad nya. Sudah terlalu lama dia di dalam air, kasihan keluarganya mencari beberapa hari ini." jawan Ghaffar
'ITU KAN KELUARGANYA, BUKAN KELUARGA KU. JADI BUKAN URUSANKU, SEBAIKNYA KAMU PERGI DARI SINI. SEBELUM AKU MEMBUAT TEMAN-TEMAN MU, MENJADI SALAH SATU PENUNGGU DANAU INI.' balas si arwah
"Aku tidak bisa pergi sebelum kamu melepaskan jasad nya, karena memang bukan di situ tempatnya." ucap Ghaffar
'DIA DI SINI BUKAN AKU YANG MAU, DIA SUDAH DI SERAHKAN OLEH TEMANNYA. SEHARUSNYA TEMANNYA YANG ADA DI SINI, KARENA DIA SUDAH MEMBUAT KESALAHAN FATAL. YAITU MENGENCINGI DANAU INI, DIA SUDAH MENGOTORI TEMPATKU.' Ghaffar berdecak
"Lalu kenapa kamu bukan menahan orang itu, malah menahan teman ku?" tanya Ghaffar
'DIA MEMILIKI JIMAT PELINDUNG, MEMBUATKU TAK BISA MENAHANNYA. TAPI DIA BERJANJI AKAN MENCARI GANTINYA, DAN... DIA MENYERAHKAN ORANG YANG KATANYA SAHABAT. HIHIHIHI... MANUSIA MEMANG TIDAK ADA YANG BISA DI PERCAYA, DEMI KEPENTINGANNYA SENDIRI. RELA MENUMBALKAN ORANG TERDEKAT MEREKA, HIHIHIHIHI.' Damar memeluk lengan Akbar, membuat pria itu merasa risih
"Gue masih normal, Dam. LEEEPPPAAASSSS..." ucap Akbar pelan, seraya berusaha melepaskan belitan tangan Damar. Tapi tak berhasil, sampai ia menyerah meski kesal.
"Itu artinya, kamu sudah memaksa korban yang tidak bersalah. Kenapa kamu menahannya? Kenapa kamu tidak pergi dari danau ini?" tanya Ghaffar
'CIH... SAMPAI DUNIA INI KIAMAT PUN, AKU TAKKAN MENINGGALKAN TEMPAT INI. SEBELUM AKU BISA MEMBALASKAN DENDAM KU, AKU HARUS MEMBUNUH DIA SAMPAI KE KETURUNANNYA.' jawab sosok itu, Ghaffar menghembuskan nafas. Saat ia merasakan aura dendam, yang begitu kuat.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?" sosok itu terdiam, ia mengingat kembali hari kematiannya.
FLASHBACK
Ratih namanya, usianya barulah 17 tahun. Gadis yang begitu cantik, karena dia merupakan gadis blasteran. Antara pribumi dan orang Belanda, ia sangat menyukai pekerjaan ibunya. Yang seorang penari jaipong, sehingga membuat ibunya sering mengajaknya menari. Bila ada undangan acara besar, dari satu desa ke desa lain.
Sampai di mana, hari itu Ratih tak tau bila kematian tengah menunggunya. Sang ibu yang tiba-tiba sakit, tak bisa menghadiri undangan di desa sebelah. Sehingga Ratih, mau tak mau harus pergi dan tampil sendiri. Saat pulang dari acara, bencana kematian pun menimpa dirinya.
Salah satu pemuda desa tersebut, ada yang menyukai Ratih. Dan itu bukan hanya rasa suka, tapi sudah menjadi sebuah obsesi. Karena ternyata, pemuda itu sudah sangat lama memendam perasaannya. Bahkan kemana pun Ratih tampil, maka dia pasti ada di sana.
Malam itu, orang yang seharusnya menjemput Ratih. Tiba-tiba tidak bisa datang, dengan alasan ada kepentingan yang tidak bisa di tinggalkan. Padahal tanpa Ratih tau, pemuda yang terobsesi padanya sudah menghabisi orang itu lebih dulu. Ratih yang berpikir, jaraknya tidak terlalu jauh. Memilih untuk pulang sendiri, hari pun tak terlalu gelap. Karena acaranya memang siang hari, sehingga sore sudah selesai. Hanya menyebrangi jembatan, karena desanya ke desa sebelah. Terpisah oleh sebuah sungai, yang arus nya cukup kencang.
Ratih pulang dengan pakaiannya, yang belum dia ganti. Saat ia hendak menginjak jembatan, tiba-tiba ada yang membekap nya dari belakang. Lalu menyeret paksa Ratih, ke tempat yang sangat sepi. HUTAN... Ya, pemuda itu membawa Ratih ke dalam hutan. Dia mengikat tangan dan kaki Ratih, menyumpal mulutnya agar tidak berteriak.
Pemuda itu merudapaksa Ratih, bukan hanya satu kali. Tapi berkali-kali, jeritan tertahan dan tangisan menjadi pengisi suara. Pemuda itu terlihat begitu menikmati, apa yang sedang ia lakukan. Setelah ia memuaskan hasratnya, ia mengambil linggis dan ia tancapkan ke dada Ratih. Ratih mati dalam keadaan melotot, menatap wajah pria itu.
'AKAN KU TAGIH PEMBALASAN INI, SAMPAI KAPAN PUN. SEMUA ANAK CUCUMU, AKAN HABIS DI TANGANKU. MESKI AKU MENJADI ARWAH PENUH DENDAM, AKU TAKKAN MELEPASKAN MU' jerit Rati, sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir.
Tempat Ratih meninggal, lama-lama menjadi danau. Yang akhirnya, menjadi tempat jiwanya bersemayam sampai saat ini.
FLASHBACK OFF
"Tapi kamu, sudah membalaskan dendam mu ke orang yang salah. Dia tak tau apapun, bahkan mengenal pelaku nya saja tidak." ucap Ghaffar
'AKU TAK PEDULI, SIAPA PUN ITU... AKU TAK PEDULI!!!' teriak arwah itu, bahkan angin di sekitar Ghaffar dan yang lain berhembus kencang
"Moon... Sagara.. lindungi kedua sahabatku." titah Ghaffar, Moon dan Sagara langsung melesat. Mereka segera merasuki tubuh Akbar dan Damar, karena memang hanya itu cara agar tak sampai terseret masuk ke dalam danau.
'AAAAAAAAKKKKKKKK...... AAAAAAAAKKKKK.... ' sosok itu berteriak, suaranya begitu mengerikan dan memekakkan telinga.
"Asal kamu tau, orang yang sudah membuatmu seperti ini sudah mati. Bahkan, seluruh keluarganya juga tak ada yang selamat." ucap Ghaffar
'BOHONG!!!'
WUUSSSHHH
Hembusan angin semakin kencang, Ghaffar mengangkat tangan kanannya. Untuk menutupi wajahnya, dari angin yang sudah bercampur dengan tanah sekitar danau.
'TAK ADA YANG MEMBALASKAN DENDAM KU, AKU HARUS MEMBUNUH MEREKA DENGAN TANGAN KU SENDIRI' teriaknya lagi
"Ibumu...
DEG
"Ibumu yang sudah membalaskan dendam mu, beliau yang menghabisi pelaku dan juga keluarganya. Begitu menemukan jenazahmu, beliau begitu terpukul. Bahkan nyaris gila, dan ia menjadi benar-benar gila. Saat dia mengetahui, siapa yang sudah tega menghabisi nyawamu. Ibumu mengambil sebuah kapak, berjalan dengan menyeret kapak itu di tanah. Tak ada warga yang berani menghentikannya, karena takut menjadi korban mati sia-sia. Ibumu mendatangi rumah, yang sudah membunuhmu. Tanpa belas kasihan, ibumu membunuh mereka." jelas Ghaffar, sosok yang bernama Ratih itu menggelengkan kepalanya.
'Ibu...
"Ya, begitu ibumu sampai di rumah pelaku. Ia langsung membantai pelaku dan semua keluarganya, ibu mu juga memangkas habis alat reproduksi pelaku." ucap Ghaffar lagi
"Tenanglah, dendam mu selama ini sudah terbalaskan. Jangan jadikan perjuangan ibumu sia-sia, karena kamu yang membunuh orang-orang yang mendekati danau ini. Apa kamu tak ingin pulang?"
'Aku...
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰