Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Arga tidak menyembunyikan apa pun dan menceritakan sedikit tentang pengkhianatan yang hampir menimpa Hadi. Sherly tertegun. “Semua itu... kamu tahu dari hitungan primbon?”
Arga hanya tersenyum tipis. “Lalu... apakah benar ramalanmu bahwa masa depan Pak Hadi akan sangat berjaya?”
“Ya.” Dalam kehidupan sebelumnya, Hadi memang sosok yang kompeten. Tanpa pengkhianatan istrinya, ia seharusnya menjadi tokoh finansial nasional.
Sherly terdiam sejenak, lalu wajahnya memerah. “Kalau begitu… bisakah kamu meramal masa depanku juga?”
“Tentu.” Arga tersenyum nakal. “Kamu akan memiliki pernikahan yang sangat bahagia. Kamu akan memberikan tiga anak untuk suamimu—”
“Siapa yang mau punya tiga anak sama kamu!” Sherly refleks menyahut. Begitu menyadari senyum menggoda di wajah Arga, wajahnya semakin merah padam. Ia menunduk malu.
“Tuan, Nona, ingin minum apa?”
“Dom Pérignon P2, tahun 2000,” jawab Arga santai.
Sherly sedikit terkejut. Itu adalah sampanye favoritnya! Namun kini ia sudah terbiasa dengan “keajaiban” Arga.
Saat minuman dihidangkan, alunan piano yang lembut dan elegan mulai mengalir dari tengah restoran. Seorang pianis wanita cantik tampak sangat mahir memainkan tuts piano.
“Indah sekali!” puji Sherly. “Kak Arga, menurutmu bagaimana?”
Arga mengangguk. “Permainannya bagus. Hanya saja, ritme pada beberapa nada di bagian tengah sedikit terlalu cepat. Selain itu, hampir sempurna.”
Mendengar itu, sang pianis yang berada tak jauh langsung melirik Arga dengan tatapan tajam. Sebagai seniman muda yang selalu dipuji, ia merasa tersinggung.
“Sepertinya Tuan ini sangat ahli dalam musik,” ujar sang pianis dingin. “Bagaimana kalau Anda sendiri yang memainkan satu lagu?”
Ia ingin mempermalukan Arga di depan Sherly. Jika kau berani mengkritik, buktikan kemampuanmu.
Pelayan perempuan berparas cantik itu pun menangkap maksud tersembunyi di balik ucapan sang pianis, Manda.
"Mbak Manda, Mas Arga hanya mengucapkannya secara santai. Jangan dimasukkan ke hati," ujarnya cepat berusaha menengahi.
Lalu, dengan suara direndahkan, ia berbisik kepada Arga, "Mas Arga, Mbak Manda sangat menjunjung tinggi keahlian pianonya. Anda adalah tamu terhormat, mohon jangan diambil hati ucapannya."
Pelayan itu benar-benar pandai menjaga suasana dan menempatkan diri. Arga tersenyum tipis, menandakan bahwa ia tidak keberatan. Namun, Manda sama sekali tidak menghargai itikad baik itu. Ia mencibir dingin.
"Jika seseorang berani mengkritik, tentu ia juga mampu melakukannya. Saya yakin ucapan Mas Arga barusan bukan sekadar angin lalu. Barangkali Anda ingin mengajari saya cara memencet tuts piano yang benar?"
Pelayan cantik itu tampak semakin canggung, tetapi pada saat itu Arga justru berdiri. Ia merapikan kerah kemeja batiknya, lalu berkata sambil tersenyum, "Daripada bersikap sungkan, lebih baik saya turuti tantangannya. Kebetulan hari ini adalah kencan pertama saya dengan Sherly dan suasananya sangat menyenangkan. Saya pinjam pianonya sebentar."
Setelah berkata demikian, Arga benar-benar melangkah menuju piano besar di tengah restoran.
Sherly berbisik dengan cemas, "Kak Arga, apa Kakak yakin tidak apa-apa?"
"Sebagai laki-laki," Arga tersenyum sambil menepuk pundak Sherly lembut, "ada dua kata yang tidak boleh diucapkan—'tidak bisa'! Tunggu saja, Kak Arga akan tampil khusus untukmu."
Kemudian ia menoleh ke arah Manda. "Mbak cantik, izinkan saya meminjam instrumennya sebentar."
Manda menyingkir ke samping dengan wajah penuh ejekan. Melihat Arga benar-benar duduk di hadapan piano, Sherly justru semakin gelisah. Pianis seperti Manda telah berlatih sejak kecil. Lalu bagaimana dengan Arga? Setahu Sherly, semasa SMA dulu, Arga sama sekali tidak pernah menyentuh piano.
Manda menyilangkan kedua tangan di dada dan menatapnya dingin. Demi menarik perhatian seorang gadis, pria ini nekat mempermalukan diri sendiri? Keterlaluan! "Tunggu saja sampai dia selesai, aku akan membuatnya malu habis-habisan!" batin Manda.
Namun tepat ketika Manda sedang menyusun kata-kata pedas, Arga telah membuka penutup piano. Tanpa banyak persiapan, jemarinya meluncur di atas tuts—lalu musik pun mengalun.
Nada piano yang ringan, namun menyiratkan kesedihan yang mendalam, mengalir perlahan. Melodi pilu itu menyerupai gerimis tipis di malam gelap yang sunyi di sudut kota lama Semarang. Perlahan, alunan musik menjadi semakin terang. Kesedihan samar meluap seperti gelombang, meresap ke dalam sanubari setiap orang yang mendengar.
Jari-jari Arga terus menari. Matanya terpejam, seolah seluruh jiwanya tenggelam dalam lagu yang sarat duka itu. Lagu ini adalah karya favorit Arga—Piano Music of the Night. Karya yang seharusnya baru tercipta pada tahun 2006.
Di kehidupan sebelumnya, saat mengetahui Sherly mengakhiri hidupnya, Arga terpuruk sangat lama. Karena tahu Sherly mencintai musik piano, ia mempelajari lagu ini dan setiap tahun memainkannya di depan pusara Sherly. Lagu ini adalah air mata, puisi, dan kerinduan yang tak tersampaikan.
Saat emosi mencapai puncaknya, mata Arga memerah. Ia menatap Sherly dan berbisik lirih, "Kali ini... aku tidak akan kehilanganmu lagi."
Tanpa tahu mengapa, Sherly merasakan kesedihan yang luar biasa menghantam dadanya. Matanya yang bening telah dipenuhi air mata. Ia menatap Arga tanpa berkedip; ia merasa ingin memeluk pria ini dan menyembuhkan luka misterius di dalam hatinya.
Di sampingnya, Manda awalnya mengerutkan kening, lalu terkejut, dan akhirnya tatapannya dipenuhi kekaguman. Semakin seseorang memahami piano, semakin ia mampu menangkap kualitas sejati sebuah karya. Musik ini dipenuhi emosi yang mengalir seperti angin laut yang membelah keheningan malam.
Bahkan gurunya yang seorang maestro kelas dunia pun tidak pernah mampu memainkan lagu dengan kedalaman perasaan seperti Arga. Teknik bisa dilatih, namun emosi yang lahir dari puluhan tahun kerinduan—itu tidak bisa dipalsukan.
Bum!
Nada terakhir ditekan. Seluruh Restoran Cakrawala tenggelam dalam keheningan selama satu menit penuh. Hingga tiba-tiba...
Braak!
Beberapa pelayan dan tamu mulai bertepuk tangan dengan riuh. Tepuk tangan membahana seperti ombak besar yang memenuhi ruangan. Arga melangkah ke arah Sherly, menggenggam tangannya, lalu berucap lembut:
"Cahaya bulan malam membuat hati terhanyut,
Bayang bambu jarang, raga terasa kaku.
Kolam senja sunyi, wajah pucat tersapu,
Beberapa kata tulus, lahir dari kalbu."
Dalam sekejap, Sherly tak mampu menahan diri lagi. Ia memeluk Arga erat-erat di depan umum. Setelah beberapa saat, barulah ia melepaskannya dengan wajah merona. Manda melangkah maju dengan wajah penuh ketulusan.
"Mas, maaf... apa judul lagu yang barusan Anda mainkan?"
"Piano Music of the Night."
"Apakah itu karya asli Anda?"
"Ya. Saya menciptakannya khusus untuk Sherly."
Arga tanpa rasa malu mengakuinya sebagai ciptaannya sendiri, toh di tahun 2000 ini lagu itu memang belum ada yang membuat. Mendengar itu, mata Sherly berbinar. Pria ini... sungguh memikat jiwanya.
Manda tersipu malu. "Mas, mohon maafkan kesombongan saya sebelumnya. Saya sungguh merasa malu."