Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Jangan Digigit Dulu
Potongan kertas berharga itu beterbangan ditiup angin sore, mendarat di atas kubangan air kotor dekat kaki Jamilah.
Sutrisno berdiri tegak bak menara besi. Bayangannya menutupi tubuh Pak Parno yang masih memegangi pergelangan tangannya yang memar. Tatapan pria loreng itu menyapu satu per satu wajah keluarganya.
Warga desa mulai berkerumun di balik pagar bambu, saling berbisik melihat keributan di rumah menantu tertua keluarga Priyanto.
Pak Parno merasa wajahnya ditampar berkali-kali di depan tetangga. Pria tua itu membusungkan dada, berusaha menutupi rasa takutnya.
"Trisno! Koen berani ngelawan bapakmu sendiri demi perempuan ini?! Istrimu ini kurang ajar! Dia diam-diam beli sepeda, beli bata merah dari pabrik, bagus kalau buat benerin rumah kita, lah ini, malah dibuat bangun rumah bapaknya! Kalau Koen ndak ada di rumah, siapa yang berhak ngedidik dia kalau bukan aku?!"
Sutrisno mendengus pelan. Sepatu larsnya menggeser sisa pecahan gagang sapu di tanah.
Sukma melihat kerumunan warga di luar pagar. Otaknya berputar cepat. Ini momen emas.
Wanita itu perlahan merosot ke lantai. Tangannya menutupi pelipis yang masih merembeskan darah. Bahunya mulai bergetar. Isak tangis menyayat hati meluncur dari bibirnya, menghancurkan citra wanita beringas beberapa menit lalu.
"Kulo ini cuma menantu, Pak. Waktu Ibu minta rumah bata ini buat nikahannya Joko, kulo ngalah pindah ke gubuk reyot. Setiap bulan uang wesel dari Mas Trisno ngga pernah sampai ketanganku, alasannya dipinjam Ibu, dipinjam Ningsih, dipinjam Jamilah. Kulo dan anak-anak makan nasi jagung basi ndak apa-apa, asal keluarga rukun. Tapi kenapa sekarang kulo dituduh maling dan mau dibunuh...?"
Suara Sukma serak, putus asa, dan sangat meyakinkan.
Bisik-bisik tetangga langsung berubah menjadi gerutuan kasar yang menyudutkan keluarga Priyanto.
Pak Parno pucat pasi. Lasmi gelagapan melihat tatapan menghakimi dari ibu-ibu di luar pagar.
Sutrisno melirik istrinya sekilas. Ada kilat geli yang melintas di matanya, tapi wajahnya tetap sedingin es.
"Dengar sendiri, Pak? Uang weselku dihabiskan kalian, istrimu dan anak-anakmu masih berani pinjam uang istriku." Sutrisno melipat tangannya di dada. "Kalian semua berhutang. Kembalikan uang istriku sekarang."
Lasmi melotot, menunjuk wajah Sukma dengan jari gemetar. "Trisno! Koen gila?! Uangnya sudah habis buat makan sehari-hari! Lagipula istrimu itu akehe bohong!"
Sutrisno menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke kedalaman mata ibunya.
"Bu. Perlu aku ingatkan soal kejadian malam ruwahan tahun lapan puluh dua di sumur belakang?"
Warna darah seketika lenyap dari wajah Lasmi. Tubuh wanita tua itu gemetar hebat, kakinya melangkah mundur tanpa sadar.
"Koen... Koen tahu dari mana..." Lasmi tergagap, napasnya nyaris putus.
"Bayar hutangnya hari ini juga." Sutrisno tidak menaikkan nada suaranya sama sekali.
Lasmi berbalik, berlari terbirit-birit menembus kerumunan warga seperti melihat hantu di siang bolong.
Ningsih meremas ujung bajunya, keringat membasahi dahinya. "Mas, aku ndak punya uang sepeser pun! Sumpah, Mas!"
"Sigit, ambil kertas sama pulpen di dalam tasmu."
Anak sulung itu langsung berlari masuk ke kamar, kembali membawa selembar kertas buku tulis yang sobek pinggirannya.
Sutrisno menyodorkan kertas itu ke dada Ningsih.
"Tulis surat utang. Cap jempolmu di bawah."
Ningsih menangis tersedu-sedu, tangannya gemetar memegang pulpen. Ia menulis nominal yang didiktekan Sutrisno tanpa berani membantah.
Jamilah melihat situasi semakin kacau. Pekerjaan suaminya hangus, sekarang ia ditagih hutang berbulan-bulan.
"Mas Trisno! Aku ambil uangnya di rumah sekarang! Tolong cabut omonganmu soal kerjaan Mas Joko! Aku mohon, Mas!" Jamilah berlari kencang menerobos pagar, meninggalkan Ningsih yang masih menangis mengecap jempolnya dengan tinta pulpen yang bocor.
Pak Parno membuang muka, berjalan cepat meninggalkan pekarangan dengan rahang terkatup rapat, menanggung malu luar biasa.
Setengah jam kemudian, halaman rumah kembali sepi. Debu kemerahan mulai turun menyentuh tanah.
Priyambodo berdiri canggung di ambang pintu depan. Tangannya memegang gulungan uang lusuh dan secarik kertas berbau keringat.
Sutrisno baru saja hendak mengunci pintu pagar.
"Mas." Priyambodo menyodorkan uang dan surat utang itu. "Ini uang dari Jamilah. Dia bongkar celengan kalengnya. Ini surat utangnya Ningsih."
Sutrisno mengambil barang tersebut, memasukkannya ke saku celana lorengnya.
"Mas, aku minta tolong." Priyambodo menunduk menatap ujung sepatunya. "Dukung aku pisah Kartu Keluarga dari Bapak. Aku mau bawa Wati pergi dari rumah tua itu."
"Urus sendiri. Koen sudah jadi bapak, jangan terus berlindung di belakang orang."
Sutrisno menutup pintu kayu pelan, meninggalkan adiknya berdiri mematung di luar.
Di dalam kamar timur, suasana terasa canggung.
Sukma duduk di tepi ranjang kapuk. Darah di pelipisnya sudah ia bersihkan dengan kain basah, menyisakan luka gores memanjang yang berdenyut ngilu.
Keempat anak itu duduk berjajar rapat di depannya, membentuk barikade hidup menutupi ibunya. Syaiful memeluk erat paha Sukma, menyembunyikan wajahnya di sana.
Pintu kamar terbuka. Sutrisno masuk membawa ransel hijaunya.
Mata Sigit langsung menajam. Anak laki-laki itu merentangkan tangannya lebar-lebar.
"Bapak jangan dekat-dekat! Ibu lagi sakit!"
Sutrisno meletakkan ranselnya di lantai. Suara resleting ditarik memecah kesunyian ruangan.
Tangan besarnya mengeluarkan dua buah mobil-mobilan dari kayu jati berpelitur mengkilap, satu tank kecil dari kaleng bekas yang dimodifikasi, dan sebuah boneka kain sederhana.
Mata anak-anak itu langsung membesar. Syaiful bahkan melepaskan pelukannya dari paha Sukma, menatap mobil-mobilan kayu itu tanpa berkedip.
Sutrisno mendorong keempat mainan itu ke tengah tikar pandan.
"Bawa ke ruang depan. Bapak mau bicara sama Ibu."
Gito dan Sinta langsung meraup mainan itu ke pelukan mereka. Sigit menarik tangan adik-adiknya menuju pintu, tapi kakinya berhenti di ambang batas kamar.
Anak sembilan tahun itu menoleh menatap ayahnya lekat-lekat.
"Bapak, bicara saja. Jangan marahi ibuk." Sigit mengusap hidungnya yang meler. "Satu lagi. Jangan gigit Ibuk kenceng-kenceng. Kata Yanto, bapaknya suka gigit leher ibunya kalau malam sampai merah-merah. Kepala Ibu masih berdarah, jangan digigit dulu."
Pipi Sukma memanas hebat. Wajahnya memerah sampai ke telinga.
Sutrisno batuk pelan, salah tingkah meremas ujung kemejanya.
"Tutup pintunya dari luar, Sigit."
Pintu berderit menutup rapat. Langkah kaki anak-anak berlarian menjauh terdengar samar dari ruang depan.
Kamar itu kini hanya menyisakan mereka berdua. Udara mendadak terasa lebih tipis. Aroma tembakau bercampur keringat laki-laki mendominasi penciuman Sukma.
Jantung Sukma, berdetak kencang, ini kali pertama ia dekat dengan lelaki yang jadi suaminya Sukma Ayu, laki-laki yang kini mau tidak mau jadi suaminya.
Sutrisno melangkah maju. Sepatunya berhenti tepat di ujung jari kaki Sukma.
Tangan pria itu masuk kembali ke dalam ransel. Ia menarik sesuatu yang sedari tadi disembunyikannya di bagian paling bawah tas.
Kain merah menyala.
Sebuah gaun katun berbahu sabrina dengan motif bunga putih kecil-kecil jatuh terurai di atas pangkuan Sukma. Kainnya sangat lembut, jahitan luarnya rapi, jelas bukan barang murahan dari pasar tumpah desa.
Sukma menyentuh kain itu pelan. "Dari mana Mas dapat baju mahal begini?"
Sutrisno tidak menjawab. Tangannya justru terulur menyentuh luka gores di dahi Sukma. Jempolnya yang kasar mengusap pinggiran luka itu sangat pelan, seolah takut kulit wanita itu hancur berkeping-keping.
Matanya yang tajam kini berubah gelap dan dalam.
"Aku dengar semuanya tadi di depan." Suara Sutrisno sangat rendah, bergetar di dekat telinga Sukma.
"Kamu bilang, kamu sudah rela makan nasi jagung basi dan dipukul keluargaku."
Sukma mendongak, bersiap mencari alasan dari akting pura-puranya tadi di depan warga.
Tapi wajah Sutrisno terlalu dekat. Jarak mereka hanya tersisa satu jengkal.
"Mulai hari ini," bisik pria itu, napas hangatnya menyapu pipi Sukma.
"Kamu dan anak-anak ndak perlu lagi makan makanan sisa, dan tidak ada satu orang pun yang boleh menyakitimu."
Tangan Sutrisno turun dari dahi, menyusuri garis rahang Sukma, dan berhenti tepat di tengkuknya.