NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Kontrak yang Mengikat Takdir

Hujan turun tanpa ampun malam itu, mengguyur kaca-kaca tinggi gedung Wijaya Group hingga tampak seperti tirai air yang tak berujung. Kilatan petir sesekali membelah langit Jakarta, memantulkan bayangan cahaya pada lantai marmer yang licin dan berkilau.

Aluna Maheswari berdiri terpaku di depan pintu putar gedung megah itu.

Jas hujannya sudah basah di bagian bahu. Rambut panjangnya yang biasanya rapi kini sedikit berantakan karena angin. Di tangannya, ia menggenggam sebuah map cokelat yang sudutnya mulai lembap. Map itu berisi satu hal yang bisa menyelamatkan—atau menghancurkan—hidupnya.

Kontrak pernikahan.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak terlalu cepat. Kata-kata ayahnya kembali terngiang.

“Maafkan Ayah, Luna… Ayah tidak punya jalan lain.”

Bisnis kecil keluarga mereka bangkrut enam bulan lalu. Investasi gagal. Rekan kerja menghilang membawa dana. Hutang menumpuk. Penagih datang silih berganti. Rumah hampir disita.

Lalu datanglah tawaran itu.

Menikah dengan Arkan Wijaya.

Nama itu bukan nama asing. Semua orang mengenalnya. CEO muda Wijaya Group, konglomerat besar yang bergerak di bidang properti, investasi, dan teknologi. Tampan. Kaya. Berpengaruh.

Dan terkenal dingin.

Tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun setelah pertunangannya dengan Cemalia Pratama batal dua tahun lalu. Sejak itu, ia seperti berubah menjadi manusia tanpa ekspresi.

Aluna tidak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan pria seperti itu.

Namun malam ini, takdir memaksanya.

“Silakan masuk, Nona Aluna. Pak Arkan sudah menunggu.”

Suara resepsionis membuatnya tersadar. Ia mengangguk pelan dan melangkah masuk.

Lift khusus menuju lantai teratas terasa begitu sunyi. Hanya ada suara detak jarum jam dan napasnya sendiri. Setiap angka yang menyala di panel terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak bisa ia hindari.

Ting.

Pintu lift terbuka.

Lorong panjang dengan karpet abu-abu gelap menyambutnya. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu besar berdiri kokoh dengan papan nama berukir emas: ARKAN WIJAYA – CEO.

Sekretaris pria berkacamata berdiri di samping pintu.

“Silakan.”

Pintu terbuka perlahan.

Ruangan itu luas dan elegan. Dinding kaca menampilkan panorama kota yang basah oleh hujan. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan hawa dingin yang entah kenapa terasa menekan.

Di balik meja kayu hitam besar, duduk seorang pria dengan setelan jas hitam sempurna.

Arkan Wijaya.

Wajahnya tegas. Rahangnya tajam. Rambutnya tersisir rapi. Tatapannya fokus pada layar laptop di depannya, seolah kehadiran Aluna tak cukup penting untuk membuatnya segera mengalihkan pandangan.

Beberapa detik terasa seperti menit.

Lalu akhirnya, ia menutup laptopnya.

Tatapan gelap itu terangkat dan bertemu dengan mata Aluna.

Dingin.

Tanpa emosi.

“Kau Aluna Maheswari?” suaranya rendah, stabil, tanpa getaran.

“Iya, Pak,” jawab Aluna pelan.

Arkan berdiri. Tingginya membuat Aluna refleks menegakkan tubuh. Ia berjalan memutar meja, lalu berdiri beberapa langkah di depannya.

Jarak mereka tak sampai satu meter.

Aluna bisa mencium aroma parfum maskulin yang elegan—dingin, seperti pemiliknya.

“Duduk.”

Perintah singkat itu membuatnya patuh. Ia duduk di kursi tamu, berusaha menjaga punggung tetap tegak meski tangannya mulai berkeringat.

Arkan mengambil map dari tangannya tanpa meminta izin. Ia membuka isinya, memeriksa sekilas, lalu meletakkan satu dokumen tebal di atas meja kecil di antara mereka.

“Baca dengan teliti. Tidak ada yang disembunyikan.”

Aluna menelan ludah.

Matanya menyusuri setiap baris kalimat.

Pernikahan kontrak selama satu tahun.

Tidak ada kewajiban sebagai suami istri di ranjang kecuali atas kesepakatan bersama.

Tidak boleh mengumumkan sifat kontrak kepada publik.

Tidak boleh menuntut warisan.

Sebagai imbalan: seluruh hutang keluarga Maheswari dilunasi, rumah diselamatkan, serta biaya pengobatan ayah ditanggung penuh.

Tangannya bergetar.

“Kenapa… saya?” akhirnya ia memberanikan diri bertanya.

Arkan menatapnya lurus.

“Karena kau tidak punya koneksi dengan dunia bisnis. Tidak punya ambisi terhadap hartaku. Dan—” ia berhenti sejenak, seolah menimbang kata berikutnya, “kau cukup meyakinkan untuk menjadi istri CEO.”

Aluna tak tahu apakah itu pujian atau penilaian dingin semata.

“Kenapa Anda membutuhkan ini?” tanyanya lagi, pelan.

Arkan berjalan menuju dinding kaca, menatap hujan yang tak berhenti.

“Dewan direksi dan keluargaku menekan agar aku segera menikah. Stabilitas citra perusahaan penting.” Suaranya datar. “Aku tidak punya waktu untuk hubungan emosional.”

Hubungan emosional.

Seolah cinta hanyalah gangguan yang tidak efisien.

“Kita menikah di atas kertas. Kau menjalankan peranmu. Aku menjalankan tugasku. Setelah satu tahun, kita berpisah secara baik-baik.”

Ia berbalik, menatap Aluna lagi.

“Tidak ada cinta. Tidak ada drama.”

Kalimat itu terasa seperti batas yang digambar jelas di lantai.

Aluna menatap lembar terakhir kontrak.

Di sana sudah ada tanda tangan Arkan Wijaya.

Tinta hitam yang tegas, kuat, tanpa ragu.

Ia memikirkan ayahnya yang terbaring lemah. Ibu yang menangis diam-diam di dapur. Telepon ancaman dari penagih hutang.

Ini bukan tentang dirinya lagi.

Dengan napas panjang, ia mengambil pena yang disodorkan Arkan.

Jari-jarinya gemetar saat menyentuhkan ujung pena pada kertas.

“Setelah kau tanda tangan,” kata Arkan pelan, “hidupmu akan berubah. Pikirkan baik-baik.”

Aluna menatapnya sekilas.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang samar di balik tatapan dingin itu.

Keletihan.

Kesepian.

Entah kenapa, hatinya bergetar.

Tinta hitam menggores kertas.

Aluna Maheswari.

Satu tanda tangan.

Satu keputusan.

Satu takdir baru.

Arkan mengambil kembali dokumen itu, memeriksanya, lalu mengangguk singkat.

“Selamat, Nyonya Wijaya.”

Kata itu terdengar asing.

Nyonya Wijaya.

Jantung Aluna berdetak semakin cepat.

“Kita akan menikah lusa. Secara tertutup. Setelah itu, kau pindah ke rumah utama.”

“Cepat sekali?” gumamnya tanpa sadar.

Arkan menatapnya lagi.

“Semakin cepat selesai, semakin sedikit gosip.”

Ia melangkah mendekat.

Kini jarak mereka begitu dekat hingga Aluna bisa melihat pantulan dirinya di mata gelap pria itu.

“Ingat satu hal, Aluna,” ucap Arkan rendah.

“Aku tidak akan pernah mencintaimu.”

Kalimat itu menancap tajam.

Namun anehnya, bukan rasa sakit yang pertama kali muncul.

Melainkan tantangan.

Aluna berdiri perlahan, mengumpulkan sisa keberaniannya.

“Saya juga tidak menikah untuk dicintai, Pak,” jawabnya lirih namun tegas. “Saya menikah untuk menyelamatkan keluarga saya.”

Hening.

Untuk sepersekian detik, sudut bibir Arkan seolah bergerak tipis.

Hampir seperti senyum.

Namun itu menghilang secepat kilat.

“Bagus. Kita sepakat.”

Sekretaris kembali masuk untuk mengurus administrasi.

Aluna berjalan keluar ruangan dengan langkah yang terasa ringan sekaligus berat.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia berhenti.

Ia menoleh sekali lagi ke arah pintu besar itu.

Di baliknya, ada pria yang akan menjadi suaminya.

Pria yang tak menginginkan cinta.

Pria yang mungkin lebih terluka dari yang terlihat.

Lift membawanya turun.

Saat pintu terbuka di lobi, hujan masih turun deras.

Namun entah kenapa, langkah Aluna terasa berbeda.

Ia bukan lagi gadis biasa yang terdesak hutang.

Ia adalah calon istri seorang CEO.

Tanpa cinta.

Tanpa harapan.

Atau… mungkin, tanpa ia sadari, dengan harapan yang mulai tumbuh diam-diam.

Karena ketika Arkan menatapnya tadi—

Ada sesuatu di matanya.

Dan Aluna tahu, satu tahun mungkin cukup untuk banyak hal berubah.

Termasuk hati yang paling dingin sekalipun.

Hujan terus turun.

Dan malam itu, sebuah kontrak tidak hanya mengikat dua nama.

Ia mengikat dua takdir yang tak pernah menyangka akan bertemu.

Ini baru permulaan.

1
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!