NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setitik Perhatian

Kabar baiknya, Kak Satya hanya bekerja setengah hari. Setelah Dzuhur, ia sudah berada di ruangan tempatku dirawat. Mungkin, di dalam hati kecilnya masih tersisa rasa iba pada istri yang tak pernah benar-benar ia anggap. Sejak tadi, kulihat ia sibuk dengan laptopnya, fokus menatap layar tanpa banyak bicara.

Baru satu hari dirawat, aku sudah merasa bosan. Kegiatanku hanya rebahan, menonton televisi, lalu tertidur—berulang begitu saja. Memang, kondisiku sudah mulai membaik, hanya saja tubuhku masih terasa lemas dan belum bertenaga.

Setelah makan siang dan minum obat, tiba-tiba perutku terasa sakit. Nyeri yang datang seperti kram menjelang datang bulan. Saat itu juga aku tersadar—tanggalnya memang sudah mendekati. Dengan langkah pelan dan sedikit tertatih, aku berjalan menuju toilet.

Dan benar saja.

Setelah memeriksa, aku ternyata benar-benar datang bulan.

Aku terdiam sejenak, bingung harus bagaimana. Masa iya aku harus menyuruh Kak Satya? Rasanya malu sekali, tapi aku juga tidak punya pilihan lain.

Setelah dari toilet, aku kembali ke tempat tidur dengan langkah perlahan. Kuberanikan diri untuk meminta tolong padanya. Meski canggung, tetap harus aku lakukan.

Aku melirik ke arahnya. Kak Satya masih fokus pada layar laptopnya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Aku jadi ragu untuk mengganggu.

"Kak… boleh nggak aku mau minta tolong?" ucapku pelan.

"Hm, apa?" jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

"Kak… maaf banget, aku mau minta tolong dibelikan pembalut."

Tak ada jawaban sejenak. Aku langsung menyesal telah mengatakannya. Mungkin dia keberatan…

"Sama apa lagi yang mau dibeli, Ndra?"

Aku terkejut. Spontan aku menoleh. Kini ia sudah berdiri tegap, merapikan ujung kemejanya yang sedikit kusut.

"Hmm… sama cokelat," jawabku ragu.

Kak Satya hanya mengangguk singkat, lalu berjalan keluar meninggalkanku seorang diri. Pria itu memang sulit ditebak. Sikapnya sekarang terasa begitu berbeda dibandingkan Kak Satya yang dulu kukenal.

*

Ponselku berdering, menampilkan panggilan video dari Sandrina. Wajah kecilnya muncul di layar, tampak ceria sambil duduk dengan buku-buku di depannya.

"Assalamualaikum, Mama Ndra," sapanya riang.

"Wa’alaikumussalam, Drina sayang. Sedang apa kamu? Betah menginap di rumah Oma Can dan Opa Naz?" tanyaku lembut.

"Seru banget di sini, Mama Ndra! Drina bisa sepedaan, ikut mancing ikan, terus main sepuasnya!" jawabnya antusias, matanya berbinar.

Aku tersenyum kecil melihatnya.

"Oh, jadi Drina nggak kangen sama Mama Ndra?" godaku pelan.

Sandrina langsung terdiam sejenak, lalu mendekatkan wajahnya ke kamera.

"Kangen, dong… kangen banget," ucapnya dengan suara yang melembut. "Mama Ndra kapan pulang? Drina mau cerita banyak…"

Dadaku terasa hangat sekaligus perih.

"Sebentar lagi, ya sayang. Mama Ndra lagi istirahat dulu biar cepat sembuh. Nanti kalau sudah pulang, kita main bareng lagi."

"Iya… janji ya, Ma?"

"Iya, janji," jawabku sambil tersenyum, meski hati terasa sedikit sesak menahan rindu.

Di balik layar, tawa kecil Sandrina kembali terdengar, mengisi ruang sepi di kamar rawatku dengan kehangatan yang sederhana namun berarti.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Aku yang masih menatap layar ponsel, seketika mengalihkan pandangan. Kak Satya sudah kembali. Tangannya membawa kantong plastik putih dari minimarket, dan satu kantong kecil berisi sesuatu yang tampak familiar.

Ia masuk tanpa banyak suara, seperti biasa.

"Ini," ucapnya singkat sambil meletakkan kantong itu di meja samping tempat tidurku.

Aku menatapnya sejenak, lalu meraih kantong tersebut. Di dalamnya ada beberapa bungkus pembalut—bahkan lebih dari yang kuminta—dan beberapa batang cokelat dengan merek yang berbeda.

Aku sedikit tertegun.

"Kak… ini kebanyakan," kataku pelan.

"Biar nggak bolak-balik," jawabnya singkat, lalu kembali duduk di kursinya, membuka laptop seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku menggigit bibir, menahan sesuatu yang tiba-tiba terasa mengganjal di dada. Perhatian kecil seperti itu… entah kenapa terasa asing, tapi juga hangat.

"Terima kasih, Kak," ucapku lirih.

Ia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu, hanya suara ketikan keyboard yang terdengar.

"Hm," sahutnya singkat.

Aku menghela napas pelan, lalu bangkit menuju toilet lagi untuk mengganti pembalut. Setelah selesai, aku kembali ke tempat tidur dan menyandarkan tubuhku dengan hati-hati. Rasa nyeri di perut masih ada, tapi sedikit lebih tertahan.

Aku membuka salah satu cokelat yang ia belikan.

Tanpa sadar, aku melirik ke arahnya lagi.

"Kak…"

Ia berhenti mengetik, tapi kali ini tidak langsung menoleh.

"Kenapa?"

"Makasih ya… udah mau repot. Dan aku minta maaf sudah terlalu banyak merepotkan," kataku, sedikit lebih jelas dari sebelumnya.

Kali ini ia menoleh. Tatapannya singkat, tapi cukup untuk membuatku gugup.

"Udah makan obat?" tanyanya, bukan menjawab ucapanku.

Aku mengangguk. "Udah."

"Kalau masih sakit, bilang ke perawat."

"Iya."

Percakapan itu berhenti lagi. Canggung. Sunyi. Tapi entah kenapa tidak lagi terasa setajam sebelumnya.

Beberapa menit kemudian, tanpa melihat ke arahku, ia kembali bicara.

"Kalau butuh apa-apa, bilang aja."

Aku sedikit terkejut. Perlahan, sudut bibirku terangkat.

"Iya, Kak."

Aku menggenggam bungkus cokelat di tanganku, lalu menggigitnya pelan. Rasanya manis—tapi bukan hanya dari cokelatnya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kehadiran Kak Satya di ruangan ini tidak lagi terasa dingin sepenuhnya.

Dan mungkin…

Hanya mungkin…

Masih ada sesuatu yang tersisa di antara kami, yang belum benar-benar hilang, rasa sayang sebagai sahabat.

Dukung novel pertama aku ya gais, like, komen dan vote.

1
roses
sipp di tunggu ya kak
Aimee Aiko
lanjut seru
Buku Matcha
Bagus
roses
kok jadi ikut deg degan ya ndra
roses
sabar ya sandra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!