Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Cahaya fajar menyelinap malu-malu melalui celah gorden kamar lantai dua, menyapa sepasang insan yang baru saja melipat sajadah mereka.
Suasana pagi di rumah baru itu begitu tenang, hanya terdengar suara kicauan burung dari pohon di halaman belakang.
Adnan menatap Kinan yang sedang merapikan mukenanya.
Wajah istrinya tampak jauh lebih segar, sisa-sisa sembab di matanya telah hilang berganti dengan binar kehidupan yang baru.
"Kinan, mumpung matahari belum terlalu tinggi, ayo kita ke pasar pagi di ujung jalan sana. Kita beli bahan makanan untuk mengisi kulkas kita yang masih kosong," ajak Adnan dengan semangat.
Kinan mengangguk patuh. Ia melangkah menuju lemari kecil, mengambil sebuah hijab instan berwarna krem yang baru dibelikan Adnan kemarin.
Dengan jemari yang mulai terampil, ia mengenakannya, merapikan setiap sudutnya hingga menutupi dada dengan sempurna.
Saat Kinan berbalik, Adnan terpaku di ambang pintu.
Ia menatap istrinya tanpa berkedip. Dalam balutan hijab sederhana itu, kecantikan Kinan terpancar begitu alami, bersih, dan meneduhkan.
"Masya Allah, cantik sekali kamu, Kinan," puji Adnan tulus.
Kinan yang mendengarnya langsung menundukkan kepalanya dengan pipi yang memerah.
Kinan menunduk malu, mencoba menyembunyikan senyumnya.
"Mas bisa saja. Oh iya, Mas. Nanti di pasar, Mas mau dimasakkan apa untuk sarapan dan makan siang?"
Adnan mengangkat alisnya, sedikit terkejut namun terlihat senang."Kamu bisa masak?"
Kinan menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Dulu, sebelum keadaan jadi sulit. Aku sering membantu Ibu di dapur. Aku rindu bau tumisan bawang."
Adnan tersenyum lebar. Ia merasa sangat beruntung.
"Kalau begitu, Mas ingin yang sederhana tapi nikmat saja. Bagaimana kalau sop sayuran, ayam goreng, sama sambal kecap? Mas paling suka sambal kecap yang pedas manis."
"Siap, Mas. Ayo kita berangkat sebelum sayurannya layu," jawab Kinan riang.
Mereka pun turun ke bawah. Adnan sengaja tidak memakai mobil mewah, ia memilih berjalan kaki santai sambil menggandeng tangan Kinan menuju pasar pagi yang tak jauh dari komplek perumahan mereka.
Di sepanjang jalan, Adnan dengan bangga memperkenalkan Kinan pada beberapa tetangga yang mereka temui sebagai istrinya.
Pasar pagi itu masih riuh rendah dengan suara tawar-menawar dan aroma segar sayuran yang baru turun dari mobil bak.
Adnan menggandeng tangan Kinan, menembus kerumunan ibu-ibu yang sedang sibuk memilih cabai.
"Bu, sayur sopnya sepuluh ribu, sama ayamnya satu kilo bagian paha atas ya," ucap Kinan dengan suara lembut namun cekatan.
Adnan hanya berdiri di sampingnya, memperhatikan bagaimana istrinya dengan teliti memilih sayuran yang paling segar.
Ia tersenyum melihat sisi lain Kinan—sosok wanita rumah tangga yang mulai tumbuh.
Tak lupa, mereka mampir ke pelapak kue tradisional.
Adnan membeli sebungkus besar jajanan pasar; ada lupis, klepon, dan nagasari yang masih hangat.
"Ini untuk camilanmu sambil masak nanti," bisik Adnan, membuat Kinan tersenyum kecil.
Sesampainya di rumah baru, suasana dapur yang tadinya sunyi kini menjadi hidup.
Suara pisau yang beradu dengan talenan dan gemericik air mengisi ruangan.
Kinan lekas merebus ayam dan memotong sayuran dengan gerakan yang sudah terbiasa.
Aroma harum bawang putih yang ditumis mulai memenuhi seisi rumah.
Adnan masuk ke dapur, namun ia tidak hanya tangan kosong.
Ia mengeluarkan sebuah kartu ATM berwarna emas dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja marmer dekat tempat Kinan memasak.
"Kinan, ini ada kartu. Pin-nya tanggal lahir Mas, nanti Mas catat," ucap Adnan pelan.
"Mas sebentar lagi harus berangkat mengajar ke pondok. Kalau ada keperluan rumah yang kurang atau kamu ingin beli sesuatu, kamu bisa belanja sendiri. Pakai saja kartu ini."
Kinan menghentikan kegiatannya memotong wortel. Ia menatap kartu itu dengan tatapan ragu.
"Tapi Mas, ini berlebihan. Mas sudah membelikan rumah, baju, dan makanan. Aku tidak butuh uang sebanyak ini."
Adnan melangkah mendekat, berdiri di belakang Kinan dan meletakkan tangannya di bahu istrinya yang mungil.
"Sayang, ini nafkah dari suamimu. Ini hakmu," bisik Adnan tepat di telinganya.
"Mas ingin kamu tidak merasa kekurangan saat Mas tidak ada di rumah. Simpanlah dan anggap ini sebagai tanda bahwa Mas mempercayaimu sepenuhnya untuk mengelola rumah kita."
Kinan terdiam sejenak, merasakan ketulusan dalam suara Adnan.
Ia menyadari bahwa menolak pemberian suami yang ingin memuliakannya justru akan melukai hati lelaki itu.
Kinan menganggukkan kepalanya pelan, menyimpan kartu itu di saku celemeknya.
"Terima kasih, Mas. Aku akan menjaganya dengan baik."
"Sama-sama. Sekarang lanjutkan masakannya, Mas sudah tidak sabar mencicipi sambal kecap buatanmu sebelum berangkat," goda Adnan sambil mencuri satu potong nagasari yang tadi mereka beli.
Kinan tertawa kecil dan kembali memasak, merasa bahwa hidupnya yang baru benar-benar telah dimulai di dapur ini.
Dapur rumah baru itu kini dipenuhi aroma gurih yang membangkitkan selera.
Uap panas mengepul dari mangkuk porselen putih berisi sop sayuran yang jernih, bersanding dengan sepiring ayam goreng yang kuning keemasan dan sambal kecap yang menggoda.
Beberapa menit kemudian masakan sudah siap. Kinan menata semuanya di atas meja makan kayu yang minimalis namun elegan.
Ia melepaskan celemeknya, merapikan sedikit jilbabnya, lalu menarik kursi untuk Adnan.
"Ayo Mas, silakan dicicipi. Semoga rasanya cocok di lidah Mas," ucap Kinan dengan nada sedikit cemas.
Mereka pun sarapan bersama dalam suasana pagi yang tenang.
Adnan meraih sendok, mengambil sedikit kuah sop yang masih panas, lalu menyuapkannya ke mulut.
Tiba-tiba, gerakan Adnan terhenti. Ia terpaku dengan sendok yang masih menggantung di udara.
Matanya menatap lurus ke arah mangkuk sop itu, namun pikirannya seolah melayang jauh ke masa lalu.
Adnan terdiam saat memakan sop yang rasanya sama persis buatan mendiang ibunya.
Rasa kaldu yang ringan, aroma lada yang pas, hingga potongan seledri yang segar—semuanya memicu memori masa kecil Adnan saat mendiang uminya masih ada di dapur pesantren. Sudah bertahun-tahun ia tidak merasakan kehangatan rasa yang seperti ini.
Melihat suaminya yang mendadak mematung dan terdiam cukup lama, jantung Kinan berdegup kencang.
Ia meremas jemarinya di bawah meja, merasa sangat tidak percaya diri.
"Nggak enak ya Mas? Apa keasinan?" tanya Kinan lirih, suaranya bergetar karena takut telah mengecewakan suaminya di masakan pertamanya.
"Maaf, Mas. Lidahku mungkin sudah mati rasa karena terlalu lama di jalanan. Kalau tidak enak, tidak usah dimakan, Mas. Biar aku masak yang lain."
Adnan tersentak dari lamunannya. Ia menatap Kinan yang sudah hampir berkaca-kaca.
Dengan cepat, Adnan meletakkan sendoknya dan menggenggam tangan Kinan di atas meja.
"Bukan tidak enak, Kinan," bisik Adnan, suaranya serak karena emosi yang tiba-tiba meluap.
"Rasanya sangat luar biasa. Mas seolah sedang merasakan masakan Umi."
Satu tetes air mata jatuh di pipi Adnan, membuat Kinan terperanjat.
"Kamu memberikan Mas lebih dari sekadar makanan pagi ini, Sayang. Kamu memberikan Mas rasa rindu yang terobati," Adnan tersenyum haru, lalu kembali menyuap nasi dan sop itu dengan lahap.
"Habiskan ya? Ini masakan terbaik yang pernah Mas makan setelah sekian lama."
Kinan menghela napas lega, sebuah senyum syukur merekah di wajahnya.
Ia mulai menyuap nasi miliknya sendiri, merasa bahwa tangannya yang pernah dianggap kotor oleh dunia, ternyata bisa membawa kenangan suci bagi suaminya.
Meja makan itu kini bersih, menyisakan kehangatan yang menjalar di dada keduanya.
Adnan bangkit, merapikan baju koko pemberian istrinya yang masih melekat pas di badannya.
Ia mengambil tas berisi kitab-kitabnya, namun langkahnya terhenti saat Kinan menyodorkan sebuah tas kain kecil yang berisi kotak makan siang.
"Ini bekal yang sudah disiapkan untuk makan siang Adnan, Mas," ucap Kinan lembut.
"Ayam gorengnya masih hangat, sambal kecapnya juga sudah aku pisahkan biar tidak tumpah."
Adnan menerima bekal itu dengan binar mata yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Selama ini, ia selalu makan di kantin pondok atau masakan dari dapur umum, namun hari ini, ia membawa cinta istrinya dalam kotak plastik sederhana itu.
Adnan melangkah mendekat, lalu dengan perlahan ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Kinan yang terbalut hijab. Kecupan yang lama dan penuh rasa syukur.
"Assalamualaikum, Sayang," bisik Adnan tepat di depan wajah Kinan.
Kinan memejamkan mata, merasakan ketulusan yang mengalir dari sentuhan itu. Dunia yang dulu gelap kini terasa begitu terang hanya karena satu lelaki ini.
"Waalaikumsalam, Mas," jawab Kinan lirih sambil meraih tangan Adnan dan menciumnya dengan takzim.
Setelah mobil Adnan perlahan keluar dari pagar dan menghilang di belokan jalan, Kinan masuk kembali ke dalam rumah.
Suasana mendadak sunyi, namun tidak lagi terasa sepi.
Dengan senyum yang tak kunjung hilang, Kinan membersihkan piring-piring kotor di wastafel.
Denting piring yang beradu dengan air mengalir menjadi musik yang menenangkan baginya.
Selesai dengan urusan dapur, Kinan menatap kartu ATM emas yang diletakkan Adnan tadi.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberaniannya.
Ia tidak boleh terus bersembunyi. Rumah ini adalah amanahnya, dan ia harus mengisinya agar suaminya merasa nyaman saat pulang nanti.
Setelah itu, ia bersiap untuk belanja keperluan rumah.
Ia mengganti hijab instannya dengan kerudung yang lebih rapi, membawa tas belanja, dan melangkah keluar rumah.
Ia ingin menjadi istri yang pantas untuk lelaki sehebat Adnan.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅