NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:94.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Langkah Pertama di Medan Perang

Di dalam ruangan, Are masih duduk di kursi. Tangannya masih menggenggam lembut tangan wanita itu.

Matanya tenang, tapi dalam diamnya ada sesuatu yang berat. Sesuatu yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

Beberapa detik berlalu. Akhirnya ia mengembuskan napas pelan.

“Aku janji… semuanya akan baik-baik saja.”

Suara monitor tetap berdetak stabil.

Akhirnya bahu Are sedikit rileks, hanya sedikit, cukup untuk menunjukkan bahwa di ruangan kecil ini, ia akhirnya bisa menurunkan pertahanannya.

 

Sementara itu, Atyasa yang pergi dengan kegagalan dan semakin penasaran siapa Are.

Ia berjalan menyusuri koridor dengan langkah tenang, namun rahangnya mengeras tanpa ia sadari. Suara sepatu kulitnya terdengar jelas di lantai yang sunyi, memantul pelan di dinding putih rumah sakit.

Tangannya masuk ke saku celana, mengepal samar.

Tatapan pria itu… masih terasa jelas di kepalanya. Datar. Tenang. Seolah ancaman barusan tak berarti apa pun.

Sudah lama sekali ia tidak merasakan tekanan seperti itu.

"Seorang tukang parkir." Sudut bibirnya terangkat tipis, namun matanya tetap dingin."Tidak mungkin sesederhana itu."

Ia berhenti sejenak di depan jendela kaca koridor. Pantulan dirinya menatap balik dengan ekspresi tanpa senyum. Napasnya keluar perlahan.

Pengawasan penuh. Kamera dua puluh empat jam. Orang yang tidak akan ia suka.

Tatapannya menyempit sedikit.

"Siapa sebenarnya kau…"

Bukan uang yang membuatnya terganggu. Bukan juga penolakan itu.

Tapi cara pria itu berbicara seolah semuanya sudah berada dalam kendalinya.

Perasaan tidak nyaman merayap pelan di dadanya. Dan Atyasa sangat membenci perasaan itu. Jarinya meraih ponsel, ragu sesaat.—

Pintu mobil tertutup pelan kabin terasa hening. Atyasa menyandarkan tubuh ke kursi, menatap lurus ke depan. Cahaya parkiran samar di wajahnya yang gelap.

"Kalau kau pikir bisa melindungi semuanya, aku akan uji kekuatanmu."

Ia menoleh ke jendela, mata menyipit. Ponsel menyala, menerangi wajah tanpa emosi. Satu pesan singkat:

Cari tahu semuanya tentang pria itu.

Pesan terkirim.

Mesin mobil meraung rendah. Kendaraan itu meninggalkan rumah sakit, namun ada satu pikiran yang tertanam di benak Atyasa.

"Pria itu bukan masalah kecil."

Dan Atyasa tak pernah biarkan masalah tumbuh.

***

Zelia menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tengah, memijit pelipisnya pelan. Di atas meja, laptop masih terbuka bersama setumpuk dokumen yang sebagian berserakan, beberapa halaman bahkan masih terbuka seolah menuntut perhatian.

"Ini tidak mudah…" gumamnya lirih.

Suara pintu terbuka lalu tertutup membuat Zelia menoleh. Tak lama kemudian, Are muncul dari arah pintu. Senyum langsung mengembang di bibir Zelia, menghapus sedikit lelah di wajahnya.

“Kau sudah pulang?”

Entah kenapa, ada kehangatan yang menjalar di dada Are setiap kali ia disambut senyum ceria wanita itu.

"Ini tidak benar," batinnya menyangkal, berusaha menjaga jarak yang seharusnya ada.

Zelia buru-buru bangkit dari duduknya dan menghampiri Are. Tanpa ragu, ia memeluk lengan pria itu, seolah itu hal paling alami di dunia.

“Kamu yang setuju tantangan enam bulan dan janji bakal bantu aku, jadi kamu harus tanggung jawab,” ucapnya ringan sambil menarik Are ke sofa.

Are menghela napas pelan. "Kenapa aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya setiap kali bersama dia…" batinnya, heran pada dirinya sendiri yang tak pernah benar-benar bisa menolak.

Bahkan sekarang, saat lengannya dipeluk dan ia ditarik duduk di sofa, ia tetap mengikuti tanpa protes.

“Lihat ini,” ucap Zelia sambil menunjuk salah satu dokumen.

Are menatap kontrak di meja itu tanpa terburu-buru.

Enam bulan.

Waktu yang cukup bagi seseorang untuk jatuh… atau membuktikan siapa yang pantas bertahan.

“Kau tahu sendiri,” ucap Zelia, suaranya berubah lebih serius. “Kalau aku gagal melampaui Papa, kursi CEO harus kuserahkan.”

Nada suaranya tenang, tapi matanya menyimpan kelelahan yang tak ingin ia tunjukkan.

Ruangan itu terasa terlalu sunyi untuk ukuran ruang tengah sebesar ini.

Are mengangkat pandangannya. “Dan kamu benar-benar sendirian di sini,” katanya datar.

Zelia tersenyum tipis, pahit. “Sejak awal.”

Beberapa saat ruangan kembali hening.

Lalu Are meraih kontrak itu. Sikapnya santai, tapi sorot matanya tajam. “Kalau begitu,” katanya pelan, “aku akan di sisimu.”

Zelia mengernyit. “Maksudmu?”

“Jadikan aku asisten pribadimu.”

Zelia terdiam beberapa detik, jelas tak menyangka.

“Itu bukan posisi kecil,” lanjut Are tenang. “Itu posisi paling dekat dengan medan perang.”

Tatapan mereka bertemu.

“Aku tidak janji akan membuatnya mudah,” kata Are. “Tapi aku janji… kamu tidak akan berdiri sendirian.”

Entah mengapa, dada Zelia terasa sedikit lebih ringan.

“Oke. Mulai sekarang kau asisten pribadiku,” ucapnya dengan senyum lebar.

Saat bersama Are, ia merasa lebih percaya diri, seolah akhirnya punya tempat bersandar. Ia sendiri tak mengerti kenapa bisa merasa seperti itu.

"Padahal kami baru beberapa kali bertemu…" batinnya.

Dan Are, entah kenapa merasa senang hanya dengan melihat senyum itu. Senyum yang jelas terlihat tulus, tanpa menutupi apa pun, tanpa kepura-puraan.

***

Keesokan harinya, usai sarapan, mereka berangkat ke kantor.

Are mengemudikan mobil Zelia dengan tenang. Tak ada banyak percakapan, hanya keheningan yang terasa nyaman di antara mereka.

Mobil berhenti di parkiran khusus CEO. Saat mereka keluar, Zelia tiba-tiba menahan langkahnya.

“Tunggu dulu.”

Tanpa ragu, ia merapikan dasi dan jas Are dengan gerakan lembut namun teliti.

“Suamiku harus terlihat keren,” ucapnya ringan.

Senyum terbit di bibirnya, seolah ia benar-benar menikmati melakukan hal kecil itu.

Dan lagi-lagi Are membenci perasaan hangat yang selalu merayap di dadanya setiap kali wanita ini melakukan sesuatu yang sederhana… tapi terasa begitu berarti.

Bukan karena tak ada yang mau memperlakukannya seperti ini.

Tapi karena ia selalu memasang tembok tinggi, hingga tak ada yang berani mendekat.

Namun entah mengapa… ia membiarkan wanita di depannya ini melangkah semakin jauh masuk ke dalam hidupnya.

“Sudah rapi,” ucap Zelia sambil mengibaskan jas Are seolah ada debu tak kasat mata.

“Ayo masuk.”

Seolah sudah menjadi kebiasaan, ia langsung memeluk lengan Are dengan bangga dan penuh percaya diri.

Are melirik lengannya sekilas, lalu melangkah sejajar dengannya tanpa berkata apa pun.

"Apa wanita ini mengguna-gunaiku?"

Batinnya sendiri terdengar konyol, jelas tak sesuai dengan cara berpikirnya yang selalu logis.

Pintu lobby terbuka otomatis saat mereka melangkah masuk.

Suasana yang semula riuh mendadak mereda, seolah ada tombol tak terlihat yang menekan volume ruangan.

Beberapa karyawan yang sedang berjalan langsung melambat.

Bisik-bisik mulai terdengar di sana-sini.

Tatapan mereka tertuju pada satu hal, pria di samping Zelia.

Zelia melangkah dengan tenang, dagunya sedikit terangkat, tangannya masih melingkar di lengan Are seolah itu tempat paling wajar di dunia.

Are bisa merasakan puluhan pasang mata memerhatikan mereka, tapi ekspresinya tetap datar, tak terganggu sedikit pun.

“Sepertinya aku langsung terkenal,” gumamnya pelan.

Zelia tersenyum kecil. “Biasakan saja.”

Mereka baru beberapa langkah ketika suara langkah sepatu terdengar dari arah depan.

Tegas. Terukur.

Zelia berhenti. Senyumnya memudar sedikit. Are mengikuti arah pandangannya.

Di ujung lobby, berdiri seseorang dengan setelan abu gelap, sorot mata tajam penuh penilaian.

 

...✨"Di dunia yang penuh perhitungan, ia memilih berdiri di sisinya tanpa alasan yang bisa dijelaskan logika."...

..."Hari itu bukan hanya tentang memasuki gedung perusahaan....

...Itu adalah hari ketika pertarungan dimulai."...

..."Beberapa orang melindungi dengan kekuatan....

...Yang lain melindungi dengan keheningan."✨...

.

To be continued

1
anonim
Zelia ganti yang memeluk Are. Are diam, tapi bahunya menegang.

Zelia bicara jujur, ada rasa takut - tahu Are bukan orang biasa. Zelia tidak mau Are jadi menyesal mendapatkannya.

Are berbalik menghadap Zelia. Are tidak menyesal telah memilih Zelia. Are memeluk Zelia.

Are sudah bilang pada Zelia untuk berhenti memikirkan siapa yang pantas atau tidak.

Zelia masih bicara - merasa tidak yakin cukup pantas untuk berdiri di samping Are.
anonim
Zelia ketahuan belum tidur - dikecup Are lehernya, nambah lagi kecupannya.

Nah lo diajak latihan malam pertama wkwkwk.

Dah langsung praktek saja Are - ini kan yang Zelia mau - dulu...

Zelia jantungnya berdebar kuat pastinya.

Are tahu yang Zelia mau.

Zelia malah diam, ragu - merasa tidak pantas berdiri di sisi Are yang Zelia tahu ia bukan orang biasa.

Are jadi kecewa dengan Zelia yang cuma diam saja.

Tembok yang di bangun Are sudah runtuh, ia merasa Zelia tidak serius dengannya yang seorang tukang parkir.

Are kecewa dengan Zelia. Iya melepas pelukannya. Tidur membelakangi Zelia.
Yunita Sophi
Zel klo menjauh berarti si kutu kupret menang... jgn biarkan dia bahagia krn merasa bisa mengalah kan kamu Zel... maaf kan Are, manusia itu kan ada salah nya... Are terlambat tp Are sdh berusaha
Wardi's
tidak usah bingung harus apa., hanya cukup bersama.,
Dek Sri
lanjut
abimasta
begitulah ibu hamil susah dipahami
Dew666
💜💜💜
phity
zelia maafkan are jgn egois coba dengar alasan are knp dia dtngnya terlambat, are sdh berusaha cepat tp keadaan yg buat dia terlambat bukan keinginannya. klo kmu ad di posisi are bgmna???
Kyky ANi
semoga saja
Anitha Ramto
Maafkanlah Are Zelia...ia sudah mengaku salah
Anitha Ramto
Bayinya biar pengen deket terus sama Papa Are😄
Kyky ANi
sabar ya Are,, Zelia belum siap MP,,
Kyky ANi
semoga rencana Are,, tidak diketahui oleh Atyasa,,,
Kyky ANi
ayo,, Are,, selamatkan Zelia,,
Ina Yulfiana
penjagaan buat Zelia lebih d perketat dan ksih liht jgn pernah main² cm kesayngn Are...

next semngt sukses selalu
Ina Yulfiana
keras hati sekali kau Zelia penyesalan dong terakhir loh jgn sampai nyesel nantinya ...Are mungkin slh krn tk mempublis hbungnya langsung tp kau jgn egois Zelia jgn Bikin muak deh...
love_me🧡
bundir itu namanya kalian 😂
Yunita Sophi
maka nya Re datang nya klo malam aja biar sll dekat 🤭😂
asih
malam pelukan pagi berantem lagi😄😄😄
abimasta
are tetap jaga zelya dari viona
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!