Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Jebakan Batas Kota
Gerimis tipis mulai membasahi kaca depan mobil yang melindas pas di garis putih di gerbang tol Pasteur. Bandung menyambut kami dengan hawa sejuk yang merayap masuk lewat ventilasi, bawa aroma pegunungan yang sebenarnya puitis, jenis suasana yang biasanya bakal bikin gue langsung buka laptop dan ngetik ribuan kata buat akun Senja_Sastra.
Tapi, alih-alih ngetik, tangan gue justru membeku di atas paha. Jantung gue masih berdetak kencang setelah insiden "tanjakan maut" di Cipularang tadi. Suasana di dalam mobil mendadak berubah. Bukan lagi sekadar canggung, tapi sudah masuk ke level intensitas tinggi yang bikin oksigen berasa mahal harganya.
Genta mengurangi kecepatan. Antrean kendaraan di depan gerbang tol bikin kami terjebak macet. Suara wiper yang menyapu rintik hujan srek, srek, srek jadi satu-satunya musik latar yang tersisa setelah gue matiin lagu indie remah biskuit gue karena terlalu grogi.
Gue menelan ludah. Gue ngerasa kalau nggak bicara sekarang, gue bisa meledak karena tekanan batin. Gue melirik profil samping wajah Genta. Rahang pria itu tegas, matanya fokus ke lampu rem mobil di depan, tapi ada ketegangan yang nggak bisa disembunyiin di bahunya yang lebar.
“Pak Genta,” panggil gue pelan. Suara gue sedikit serak, bikin gue harus berdeham kecil biar nggak kedengaran kayak orang bangun tidur.
“Ya?” jawab Genta. Singkat, tapi kali ini nggak ada nada memerintah. Suaranya terdengar... lebih lunak.
Gue memutar tubuh sedikit, menyandarkan siku di antara jok kami. Gue mencoba pasang wajah sok filosofis, meski sebenarnya gue cuma mau memancing rahasia besar di balik kacamata itu. “Bapak... pernah nggak ngerasa kenal banget sama seseorang? Maksud saya, bener-bener tahu isi kepalanya, tahu apa yang dia suka, tahu kapan dia lagi sedih... padahal secara fisik, Bapak belum pernah bener-bener ngobrol santai sama dia?”
Mobil berhenti total. Kemacetan di depan gerbang Pasteur bener-bener mengunci kami. Genta melepaskan tangannya dari kemudi, lalu perlahan-lahan dia menoleh sepenuhnya ke arah gue.
Cahaya lampu jalan yang mulai nyala di sore mendung itu memantul di lensa kacamatanya, bikin tatapannya sulit terbaca. Dalam mobil mulai mengembun karena beda suhu, nyiptain sekat dari dunia luar yang bikin kami seolah cuma berdua saja.
Genta nggak langsung menjawab. Dia menatap gue cukup lama, merhatiin gimana gue menggigit bibir bawah karena gugup, kebiasaan yang sering Senja_Sastra sebutin dalam tulisan-tulisannya.
“Pernah,” jawab Genta akhirnya. Suaranya rendah dan berat, bergema di ruang kabin yang sempit. “Bahkan, saya merasa jauh lebih kenal dia lewat tulisan-tulisannya. Lewat tanda baca yang dia taruh sembarangaBahkann, lewat diksi-diksinya yang kadang terlalu emosional, daripada lewat kata-kata yang keluar dari mulutnya yang... biasanya berisik.”
Gue ngerasa dunia gue berhenti berputar.
Deg.
Itu dia. Pengakuan paling telanjang, paling jujur, dan paling nggak Genta yang pernah gue dengar.
Pria ini lagi bicara soal gue. Bukan soal Senja_Sastra secara abstrak, tapi soal Aruna yang duduk di depannya. Aruna si editor berisik yang hobi protes dan sering bikin typo.
“Pak...” Gue mau membalas. Gue mau nanya, “Jadi Bapak beneran Kaka’s?” atau “Kenapa Bapak galak banget kalau di kantor?”. Tapi kata-kata itu tertahan di bibir. Mata gue terkunci sama mata Genta yang sekarang kelihatan capek banget nyimpen rahasia. Ada semacam kerinduan yang aneh di sana, seolah Genta juga sudah bosan pura-pura jadi monster demi profesionalitas.
Suasana jadi intim banget. Jarak kami cuma terpaut puluhan sentimeter. Aroma kopi Caramel Macchiato yang tersisa campur sama parfum kayu jatinya bikin suasana makin memabukkan. Genta sedikit memajukan tubuhnya, seolah ada magnet yang menariknya buat bicara lebih banyak lagi.
Ting-ting-ting!
Suara dering telepon nyaring banget memecah keheningan puitis itu. Gue tersentak kaget sampai kepala gue hampir mentok langit-langit mobil. Genta pun langsung menarik diri dengan gerakan kaku, kayak habis kesengat listrik.
HP Genta di dashboard getar hebat. Nama “Pak Hermawan” terpampang di layar.
Genta berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang baru saja runtuh berkeping-keping. Dia menyambar HP-nya dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Halo? Iya, Pak Hermawan. Kami sudah di Pasteur. Macet total,” ucap Genta. Suaranya balik jadi robot kantor yang disiplin. “Iya, seminar besok jam delapan. Kami langsung ke hotel setelah ini. Baik, Pak.”
Genta matiin telepon. Dia nggak menoleh lagi ke arah gue. Fokusnya balik seratus persen ke jalan, meskipun antrian mobil masih belum gerak jauh.
Gue narik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Gue nyender ke jendela, menatap rintik hujan yang mengalir di kaca mobil. Jantung gue deg-degan dua kali lebih cepat dari biasanya.
Gue sadar satu hal yang menakutkan sekaligus mendebarkan: Di mobil ini, nggak ada lagi Genta sang Editor Kepala yang perfeksionis. Nggak ada lagi Aruna si asisten editor yang sering kena semprot.
Yang ada di sini cuma dua penulis yang lagi jatuh cinta sama isi kepala masing-masing, tapi terjebak dalam tubuh dua orang musuh yang harus tetap profesional. Kaka’s dan Senja lagi berada dalam satu ruang hampa, bersembunyi di balik gengsi dan kemeja kantor, nunggu waktu yang tepat buat bener-bener lepas topeng.
“Pak Genta,” bisik gue pelan, nyaris nggak kedengaran di antara suara hujan.
“Ya?” sahut Genta tanpa menoleh, tapi gue bisa lihat tangan Genta mencengkeram setir sedikit lebih erat.
“Lain kali, kalau mau denger suara napas saya... nggak usah pakai musik klasik. Bilang aja langsung.”
Gue bisa lihat leher Genta mendadak memerah. Pria itu nggak membalas, tapi dia langsung menekan tombol radio, matiin musik Chopin-nya, dan membiarkan keheningan Bandung jadi saksi kepura-puraan kami yang mulai renggang.
Selamat datang di Bandung, Pak Monster, batin gue sambil tersenyum penuh kemenangan di balik telapak tangan. Perang sesungguhnya baru saja dimulai.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻