"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Malam itu, Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Deru mesin motor berkapasitas besar memecah kesunyian di kawasan sirkuit pinggiran kota. Cahaya lampu sorot yang tajam memantul di atas aspal hitam yang masih menyimpan sisa panas matahari siang tadi. Di tengah keriuhan itu, sebuah notifikasi Ting! masuk ke ponsel Dayana.
Itu adalah notifikasi dari akun media sosial yang diam-diam ia ikuti. Sebuah siaran langsung singkat menunjukkan lokasi sirkuit dan keterangan: "Final Heat Night Race." Tanpa pikir panjang, seolah digerakkan oleh rasa penasaran yang tak terbendung, Dayana langsung memesan taxi.
Saat Dayana tiba, suasana sirkuit sudah memuncak. Bau bensin dan karet ban yang terbakar memenuhi udara. Dayana melangkah di antara kerumunan penonton dengan pakaian yang meskipun ia anggap modis terasa sangat kontras dengan hawa malam yang dingin. Ia mengenakan tank top ketat yang dilapisi kemeja tipis transparan dan celana hot pants denim. Rambutnya terurai, tertiup angin malam yang kencang.
Di lintasan, sebuah motor hitam melesat seperti bayangan. Itu Aydan. Dengan nomor start yang ia banggakan, ia melibas tikungan terakhir dengan kemiringan yang ekstrem sebelum akhirnya melewati garis finis di posisi pertama. Sorak-sorai penonton pecah, namun sang pemenang tampak tetap tenang di balik helm full face-nya.
Dayana berdiri di dekat pagar pembatas saat Aydan menepikan motornya ke area paddock. Aydan membuka helmnya, menyingkap wajah yang berkeringat namun tetap memiliki ketajaman yang mengintimidasi. Saat matanya menangkap sosok Dayana di tengah kerumunan pria-pria yang menatap gadis itu dengan pandangan lapar, rahang Aydan mengeras.
Aydan turun dari motornya, melangkah cepat menghampiri Dayana tanpa memedulikan ucapan selamat dari teman-temannya. Tanpa sepatah kata pun, ia melepas jaket balap kulitnya yang tebal dan berat, lalu menyampirkannya ke bahu Dayana, menutupi tubuh gadis itu sepenuhnya.
Dayana tertegun. Aroma maskulin yang khas bercampur sedikit wangi kayu cendana wangi yang sama dengan rumah Aydan meresap ke indranya melalui jaket itu.
"Ay..." panggil Dayana lirih. "Kenapa kau lakukan ini?"
"Malam ini dingin, Dayana. Dan tempat ini bukan tempat yang aman untuk pakaian seperti itu," jawab Aydan dingin, namun kali ini nadanya tidak mengandung hinaan, melainkan perlindungan.
Dayana menatap mata Aydan lama. Segala gengsinya runtuh. Bayangan foto Ameera yang ia lihat tadi sore terus menghantuinya. "Ay... apa boleh aku bertemu ibumu?"
Aydan mengernyitkan dahi, benar-benar tidak menyangka akan mendengar kalimat itu. "Untuk apa?"
"Aku ingin belajar... aku ingin tahu bagaimana cara memakai hijab yang baik dari ibumu. Aku ingin belajar tentang prinsip yang kau bicarakan di kelas kemarin," ucap Dayana dengan suara yang nyaris berbisik.
Aydan menatap Dayana, mencari-cari kebohongan di mata gadis itu, namun ia hanya menemukan ketulusan yang rapuh. "Malam-malam begini?" tanya Aydan, melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Iya... kalau kamu tidak keberatan. Aku merasa jika tidak sekarang, aku akan kehilangan keberanianku besok pagi," jawab Dayana tegas.
Aydan terdiam sejenak, lalu ia menoleh ke arah Leo yang berada tak jauh dari sana. "Leo! Pinjam mobilmu sebentar. Aku harus mengantar temanku."
Leo melempar kunci mobil SUV-nya sambil mengedipkan mata, namun Aydan tidak menghiraukannya. Ia membimbing Dayana menuju mobil. Sepanjang perjalanan, tidak ada musik. Hanya ada keheningan yang penuh dengan pikiran masing-masing. Aydan menyetir dengan tenang, sementara Dayana terus merapatkan jaket kulit Aydan ke tubuhnya, merasa aman dalam dekapan benda itu.
Saat mobil memasuki gerbang rumah keluarga Al-Gazhi, Dayana merasa jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Rumah itu tidak megah secara berlebihan, namun sangat asri dengan lampu-lampu taman yang hangat dan suara gemericik air dari kolam kecil.
Aydan membuka pintu rumah. "Bunda... Bunda..." panggilnya dengan suara yang jauh lebih lembut daripada saat ia berada di sekolah.
Seorang wanita keluar dari arah ruang tengah. Ia mengenakan gamis rumahan yang simpel namun tetap dengan jilbab yang tertutup rapi. Itulah Ameera Nafeeza. Wajahnya yang damai seketika berubah menjadi senyum hangat saat melihat putranya pulang.
"Aydan? Kamu sudah pulang, Nak? Loh, ini siapa?" tanya Ameera lembut.
"Bunda, ini Dayana. Teman sekolah Aydan. Dia... dia ingin bertemu Bunda," ucap Aydan sambil melirik Dayana yang berdiri kaku di belakangnya.
Ameera melangkah maju. Ia melihat Dayana yang mengenakan jaket balap putranya yang kebesaran, melihat mata gadis itu yang sembab, dan dengan insting keibuannya, Ameera langsung mengerti. Ia tidak memandang pakaian minim Dayana di balik jaket itu dengan tatapan menghakimi. Sebaliknya, ia justru melihat cerminan dirinya puluhan tahun yang lalu seorang gadis yang sedang mencari jalan pulang.
Ameera tersenyum tulus, senyuman yang begitu menenangkan hingga membuat pertahanan Dayana runtuh. "Masya Allah, cantik sekali temannya Aydan. Mari masuk, Nak. Di luar dingin."
Dayana merasakan tangan hangat Ameera menyentuh bahunya, membimbingnya masuk ke dalam rumah yang dipenuhi aroma ketenangan itu. Ia menoleh ke arah Aydan yang masih berdiri di dekat pintu. Aydan hanya mengangguk tipis, seolah memberikan tanda bahwa ia telah menyerahkan Dayana ke tangan yang tepat.
Malam itu, di ruang tamu yang hangat, Dayana menyadari bahwa pencariannya akan kebebasan selama ini salah arah. Dan di depan sosok Ameera, ia merasa bahwa perjalanan panjangnya dari Eropa menuju Indonesia sebenarnya hanyalah untuk sampai ke titik ini, belajar menjadi wanita yang sesungguhnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰