Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Kembali
Pagi itu cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela kamar Naya. Sudah berhari-hari ia mengurung diri sejak kepergian Damar. Foto mereka di meja kecil masih berdiri di tempatnya, seolah waktu berhenti di sana. Naya duduk di tepi ranjang dengan mata sembab, memandang kosong.
Malam sebelumnya ia bermimpi.
Dalam mimpi itu, Damar berdiri di tempat yang terang, mengenakan kemeja biru kesukaannya. Wajahnya tenang seperti biasanya ketika mencoba menenangkan Naya.
“Naya.....wanita istimewaku” suara Damar terdengar lembut dengan senyum khasnya.
Naya dalam mimpi itu menangis melihat wajah Damar dan mendengar suaranya dengan jelas.
Mereka berhadapan dengan jarak yang tak begitu jauh.
“Kenapa kamu pergi, Dam? Aku nggak bisa tanpa kamu...... Kamu tahu itu kan?”tanya Naya.
Damar tersenyum tipis.
“Kamu bisa. Kamu selalu bisa, kamu mandiri. Dan itu yang aku tahu pasti.”
Naya menggeleng.
“Kamu bilang pergi hanya sebentar, kamu bilang aku cuman menunggu. Tapi kenapa kamu tak pernah kembali lagi.” Suara Naya bergetar.
Damar melangkah mendekat, meski tidak benar-benar menyentuhnya.
“Kamu harus maju ke depan, jangan terpuruk begini. Aku sedih lihat kamu selalu menangis.”
“Aku takut......”Naya menangis, ingin memeluk Damar. Namun langkahnya berhenti saat Damar mundur satu langkah.
“Mulai pelan-pelan ya. Terus melangkah,” kata Damar meyakinkan.
Sebelum Naya sempat menjawab, sosok Damar perlahan memudar bersama cahaya.
Naya terbangun dengan napas tersengal. Air matanya mengalir, tapi kali ini tidak seberat biasanya.
Naya berdiri tegak, "Dam.....kamu datang?" sambil melihat sekeliling kamarnya.
Naya berdiri, mengambil foto Damar, "Kamu mau aku melangkah lagi?"
Naya berusaha meyakinkan diri untuk mengikuti kata Damar, "aku akan mencoba, seperti kata kamu, pelan-pelan." mengusap foto Damar sambil tersenyum.
Ia melihat layar ponselnya, jam menunjukkan 06.00, ia menarik handuk dari gantungan dan bergegas ke kamar mandi.
Ia mandi dengan gerakan cepat, seolah takut keberaniannya hilang kalau ia berhenti. Segera ia mengenakan pakaian kerja yang sudah lama tergantung rapi namun tak tersentuh.
Ia duduk sebentar di tepi tempat tidur, memakai sepatu kerja dengan tangan sedikit gemetar. Dan tangannya sempat berhenti.
Bayangan Damar muncul lagi.
Suara Damar dalam mimpinya yang terdengar jelas.
“Naya......kamu harus maju, jangan terpuruk begini.”
Naya menarik napas panjang, mengambil tas yang terletak di meja.
Ketika pintu kamar dibuka, suara engselnya membuat kedua orangtuanya yang sedang duduk di ruang makan langsung menoleh.
Ibunya adalah orang pertama yang menyadari.
“Naya…..?”
Naya melangkah keluar kamar dengan pelan. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya masih pucat tapi rapi.
Ayah dan ibunya tidak menyangka Naya bisa melakukan itu sendiri setelah sudah cukup lama mengurung diri.
Ayahnya berdiri dari kursi.
“Kamu mau kemana, Nak?” tanyanya terkejut.
Naya berhenti. Dia menelan ludah.
“Naya mau ke kantor, Yah.” Jawabnya pelan.
“Benar kamu mau masuk kerja?” suara ibunya bergetar.
Naya mengangguk kecil.
“Iya, Bu.” Jawabnya singkat.
“Kamu nggak memaksakan diri kan nak?” tanya ayahnya lembut.
Ibunya langsung menjawab, “Pak, biarkan Naya ke kantor dong, itu kan bagus.”
“Ayah, Naya pasti bisa. Naya mau coba pelan-pelan.” senyumnya mencoba meyakinkan orangtuanya.
Ibunya langsung mendekat dan merapikan kerah baju Naya yang sebenarnya udah rapi.
“Iya sayang…..kamu harus bisa. Tapi sebelum ke kantor, sarapan dulu, ya."ajak ibunya.
"Engga usah, Bu. Naya langsung berangkat aja, takut telat."
Naya pamit sama Ibu dan ayahnya.
Naya membuka pintu perlahan.
Udara pagi menyentuh wajahnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri.
Ibunya memastikan kembali bahwa Naya sudah berangkat. Ibu Naya kembali berbicara kepada ayahnya.
“Pak, Naya sudah seharusnya melupakan Damar. Damar tidak akan pernah kembali lagi. Kita berharap aja, semoga Naya semakin bahagia setelah kepergian Damar.”
Ayah Naya terkejut.
“Ibu bilang apa sih?”
Ayah, ibunya saling menatap.
“Intinya Ibu senang Naya sudah bisa bangkit lagi. Ibu lega.”
Ibunya kembali duduk dan melanjutkan sarapannya.
Ayah Naya hanya terdiam dan menggeleng pelan.
_
Setibanya di kantor, ia terus melangkah. Naya berjalan menuju mejanya. Kursi itu masih di tempat yang sama, meja yang tetap rapi. Namun kursi Damar di seberang kini kosong.
Naya duduk tanpa banyak bicara. Ia menyalakan komputer dan mulai membuka berkas pekerjaan, meski gerakannya lambat.
Beberapa rekan kerja saling berbisik.
“Naya masuk…..”
“iya ……akhirnya.”
“Kasihan ya….”
Naya mendengar tapi memilih diam.
Dan seorang rekan kerjanya mendekat, Nadira. Sahabat Naya sekaligus tetangganya itu.
“Nay……” memeluk Naya
Naya hanya tersenyum tanpa menjawab apa pun. Dia tak membalas pelukan itu.
Jam hampir menunjukkan pukul sepuluh ketika suasana kantor tiba-tiba berubah. Langkah sepatu yang tegas terdengar dari lorong utama.
CEO perusahaan itu berjalan melewati deretan meja kerja. Biasanya dia jarang turun langsung ke ruang staf kecuali untuk urusan penting.
Beberapa karyawan langsung duduk lebih tegak.
“Pak…..” bisik seseorang.
CEO itu berhenti tepat di depan meja Naya.
Naya terlihat kaget.
“Selamat pagi, Naya,” kata CEO itu dengan suara tenang.
“Pa-Pagi Pak,” jawab Naya gugup sambil berdiri.
“Duduk saja,” katanya lembut.
“Naya kembali duduk, tangannya saling menggenggam di pangkuan.”
“Saya senang melihat kamu kembali,” lanjut CEO itu.
Naya menunduk.
“Terimakasih, Pak.”
Suasana kantor menjadi sangat hening. Semua orang diam-diam memperhatikan.
CEO itu melanjutkan dengan nada hangat,
“Kalau masih butuh waktu atau bantuan, jangan ragu bilang. Perusahaan ini bukan hanya tempat kerja, tapi juga tempat orang saling mendukung.”
Mata Naya mulai berkaca-kaca.
“Iya Pak, Terimakasih.”
Selama CEO itu berdiri di hadapan Naya, Naya tidak menatapnya sama sekali.
CEO itu tersenyum tipis. Dan meninggalkan ruangan itu.
Begitu ia pergi, suasana kantor langsung dipenuhi bisikan pelan.
“Pak CEO langsung nyamperin….”
“Jarang banget….”
“Dia perhatian sekali ya…..”
Naya kembali menatap layar komputernya.
Nadira di sebelahnya, mengucap pelan, ”Kami senang kamu kembali, Nay.”
Naya menoleh sedikit dan tersenyum.
“Makasih.”
Langkah CEO itu tiba-tiba terhenti, Ia kembali menoleh ke belakang. Pandangannya tertuju pada Naya yang kembali mengetik.
Asistennya berdiri di sampingnya.
“Pak, rapat direksi lima menit lagi.”
CEO itu mengangguk, tatapannya masih tetap kepada Naya. Lalu berjalan menuju ruang rapat.
_
Hari kerja itu berakhir tanpa hal istimewa. Tapi bagi Naya, itu adalah langkah besar.
Dia hanya fokus mengerjakan pekerjaannya hari itu, tanpa ada cerita.
Nadira yang sedang di sampingnya menatap Naya, "Nay.... kita pulang sama yok," ajak Nadira hati-hati.
"aku pulang sendiri aja, Dir. Makasih,ya." Naya merapikan berkas di mejanya. Lalu melangkah keluar dari gedung kantor, langit sore terlihat lebih terang dari biasanya.
Ia berdiri di depan pintu masuk, dan menarik napas panjang.
“Ini semua untukmu Dam, aku berani mencoba.” Bisiknya pelan sambil tersenyum.