sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAMUAN KELUARGA DAN RAHASIA DIBALIK TUMPENG
Minggu pagi yang seharusnya menjadi momen "afterglow" bagi Kira dan Arlan justru diawali dengan ketegangan yang merambat pelan. Sinar matahari yang masuk ke apartemen Kira tidak terasa sehangat biasanya saat ia melihat Arlan duduk di tepi tempat tidur dengan dahi berkerut, menatap layar ponselnya yang tak berhenti bergetar.
"Ada apa, Lan? Dari tadi HP kamu bunyi terus," tanya Kira sambil menguncir rambutnya, masih mengenakan piyama satin pemberian Arlan tahun lalu.
Arlan menghela napas panjang, lalu memutar tubuhnya menghadap Kira. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak keruh. "Ibu, Ra. Dia minta aku pulang siang ini. Katanya ada acara keluarga besar."
Kira mengerutkan kening. "Lho, bukannya biasanya acara keluarga besar itu bulan depan? Kok mendadak?"
Arlan terdiam sejenak, jarinya mengetuk-ngetuk layar ponsel. "Ada tamu khusus dari Surabaya.
Anak teman Ayah. Namanya... siapa tadi, Safira kalau nggak salah. Ibu bilang aku harus ada di sana."
Deg. Jantung Kira serasa merosot ke perut.
Kalimat itu—anak teman Ayah—adalah kode universal dalam kamus keluarga besar Arlan untuk kata "perjodohan". Selama sebelas tahun bersahabat, Kira sudah sering mendengar Ibu Arlan mencoba menjodohkan putranya, tapi biasanya Arlan selalu punya seribu satu alasan untuk menghindar. Namun kali ini, nada bicara Arlan terdengar berbeda. Ada beban yang lebih berat.
"Kamu mau pulang?" tanya Kira lirih.
Arlan bangkit, mendekati Kira, lalu menggenggam kedua bahunya. Tatapannya dalam, mencoba meyakinkan. "Aku harus pulang, Ra. Kalau aku nggak datang, Ibu bakal makin curiga. Tapi aku janji, ini cuma makan siang biasa. Aku nggak akan membiarkan apa pun terjadi."
Kira memaksakan senyum. "Iya, aku tahu. Aku percaya kamu, Lan. Tapi... apa nggak sebaiknya kita kasih tahu Ibu sekarang saja? Maksudku, soal kita?"
Arlan tampak ragu. Ia mengusap tengkuknya—kebiasaan saat ia sedang merasa terpojok. .
"Jangan sekarang, Ra. Suasananya lagi nggak tepat kalau ada tamu asing di sana. Aku cari waktu yang lebih tenang, ya? Aku nggak mau Ibu malah menyerangmu karena merasa kita membohonginya selama ini."
Kira mengangguk, meski ada bagian dari dirinya yang merasa sedikit kecewa. Sebelas tahun menjadi sahabat, ia tahu betapa dominannya sosok Ibu Arlan. Wanita itu sangat menyayangi Kira sebagai "anak angkat", tapi apakah ia akan tetap menyayangi Kira jika statusnya berubah menjadi "menantu"?
Rumah keluarga Arlan di pinggiran Jakarta tampak ramai. Tiga mobil terparkir di halaman yang luas. Aroma masakan khas Jawa—ayam lodho dan sambal goreng ati—menyeruak hingga ke teras. Arlan melangkah masuk dengan perasaan waswas.
"Nah, ini dia arsitek kebanggaan Ibu!" seru Bu Rahmi, ibu Arlan, begitu melihat putranya muncul.
Arlan mencium tangan ibunya, lalu menyalami beberapa kerabat yang duduk di ruang tamu. Di sudut sofa, seorang gadis dengan jilbab berwarna pastel dan senyum malu-malu duduk bersama orang tuanya. Gadis itu cantik, dengan pembawaan yang sangat tenang dan tutur kata yang lembut.
"Lan, kenalin ini Safira. Dia baru saja menyelesaikan S2-nya di Surabaya. Safira, ini Arlan," Bu Rahmi memperkenalkan mereka dengan mata berbinar-binar.
Arlan hanya mengangguk sopan. "Arlan."
"Safira," jawab gadis itu pelan.
Makan siang berlangsung dengan penuh tawa dari orang tua, namun terasa seperti interogasi bagi Arlan. Setiap pertanyaan yang dilontarkan Ayah Safira selalu mengarah pada kemapanan dan rencana masa depan. Arlan menjawab seperlunya, pikirannya justru melayang pada Kira yang mungkin saat ini sedang makan sendirian di apartemennya sambil menunggu kabar darinya.
"Arlan ini kerjanya keras sekali, Jeng," ucap Bu Rahmi pada Ibu Safira. "Kadang sampai lupa cari pasangan. Padahal Ibu sudah bilang, sukses itu nggak lengkap kalau nggak ada yang menemani."
"Betul itu, Bu Rahmi. Apalagi kalau pasangannya juga mengerti agama dan keluarga, pasti makin berkah," timpal Ibu Safira sambil melirik putrinya.
Arlan meremas serbet di bawah meja. Ia merasa seperti barang dagangan yang sedang dipamerkan. "Ibu, Arlan sebenarnya sudah punya rencana sendiri," ucapnya tiba-tiba, membuat suasana meja makan mendadak hening.
Bu Rahmi tertawa renyah, mencoba mencairkan ketegangan. "Rencana desain gedung baru maksudmu? Duh, Arlan ini memang gila kerja. Jangan bahas kerjaan dulu, ya, Nak."
Setelah makan siang, Bu Rahmi menarik Arlan ke taman belakang. Wajahnya yang tadi penuh senyum kini berubah serius. "Lan, Ibu tahu apa yang mau kamu omongkan tadi. Tapi Ibu mohon, tolong hargai tamu kita. Safira itu anak baik-baik. Ayahnya banyak membantu Ayahmu dulu saat memulai bisnis."
"Bu, Arlan nggak bisa. Arlan nggak mau memberi harapan palsu pada siapa pun," tegas Arlan.
"Kenapa? Apa karena Kira?"
Pertanyaan ibunya membuat Arlan mematung.
"Ibu tahu kalian dekat, Lan. Ibu juga sayang sama Kira. Dia sudah seperti anak Ibu sendiri. Tapi kalian itu sahabat. Persahabatan kalian itu indah karena tidak ada ikatan asmara di dalamnya. Kalau kalian pacaran lalu putus, Ibu kehilangan dua-duanya. Lagipula, apa kamu yakin Kira bisa menjadi istri yang kamu butuhkan? Dia itu ceroboh, belum dewasa..."
"Ibu nggak tahu apa-apa soal Kira!" suara Arlan sedikit meninggi, membuat ibunya tersentak. "Kira adalah orang yang selalu ada buat Arlan saat Arlan hancur. Dia yang menemani Arlan lembur semalaman, dia yang mengerti visi Arlan. Dan Arlan mencintainya, Bu. Bukan sebagai sahabat, tapi sebagai wanita."
Bu Rahmi menggelengkan kepala, matanya berkaca-kaca. "Kamu sedang terbawa suasana, Lan. Itu cuma rasa nyaman karena kalian terlalu lama bersama. Pikirkan lagi. Jangan sampai kamu menyesal karena merusak persahabatan demi nafsu sesaat."
Sementara itu, di apartemennya, Kira merasa gelisah yang luar biasa. Ia mencoba membaca buku, menonton televisi, hingga membersihkan dapur, tapi fokusnya tetap pada ponselnya. Tidak ada pesan dari Arlan selama empat jam terakhir.
Biasanya, Arlan akan mengirimkan foto makanan yang ia makan atau sekadar mengeluh betapa membosankannya acara keluarganya. Tapi hari ini? Sunyi total.
Ketakutan-ketakutan lama mulai muncul kembali. Bagaimana jika orang tua Arlan benar-benar menjodohkannya? Bagaimana jika Arlan menyadari bahwa Safira lebih cocok untuknya? Bagaimana jika Arlan menyerah pada tekanan ibunya?
Kira tidak tahan lagi. Ia menyambar kunci mobilnya. Ia tidak akan pergi ke rumah Arlan dan membuat keributan, tapi ia butuh berada di dekat sana. Ia butuh melihat Arlan keluar dari rumah itu.
Ia memarkir mobilnya di sebuah taman kecil beberapa blok dari rumah Arlan. Ia menunggu di sana, di bawah lampu jalan yang baru saja menyala karena hari mulai gelap. Gerimis mulai turun, mengingatkannya pada Bab 1—saat Arlan menjemputnya dengan payung.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Arlan.
"Halo, Lan?"
"Ra, kamu di mana?" suara Arlan terdengar sangat lelah, hampir pecah.
"Aku... aku dekat rumahmu. Di taman yang ada air mancurnya."
"Tunggu di sana. Aku ke sana sekarang."
Sepuluh menit kemudian, mobil Arlan berhenti tepat di depan mobil Kira. Arlan keluar dari mobil tanpa payung, membiarkan gerimis membasahi kemeja putihnya yang kini tampak kusut. Begitu melihat Kira turun dari mobil, ia langsung menghambur dan memeluknya dengan sangat erat.
Kira bisa merasakan tubuh Arlan bergetar. "Ada apa, Lan? Apa yang terjadi?"
"Ibu sudah tahu, Ra," bisik Arlan di ceruk leher Kira. "Aku bilang ke Ibu kalau aku mencintaimu."
Kira tertegun. "Terus? Ibu bilang apa?"
Arlan melepaskan pelukannya, menatap mata Kira dengan tatapan yang sangat terluka. "Ibu menentangnya. Dia bilang kita nggak boleh bersama. Dia bilang aku harus memilih antara menuruti kemauannya atau... membuat dia kecewa selamanya."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Kira. Ketakutan terbesarnya menjadi nyata. Restu yang ia harapkan akan datang dengan mudah karena kedekatan mereka selama ini, ternyata menjadi tembok penghalang yang paling kokoh.
"Lalu kamu jawab apa?" tanya Kira, suaranya hampir tak terdengar.
Arlan menggenggam tangan Kira, membawanya ke dadanya. "Aku bilang ke Ibu kalau aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Dan kalau itu berarti aku harus berjuang lebih keras untuk membuktikannya, aku akan lakukan. Tapi aku nggak akan pernah melepaskan kamu, Ra. Tidak lagi."
Kira menangis, namun kali ini bukan tangis kesedihan semata. Ada rasa haru melihat keberanian Arlan. Namun di sisi lain, ia tahu bahwa mulai besok, hidup mereka tidak akan lagi tentang kencan manis dan tawa. Ini akan menjadi perjuangan panjang melawan restu yang tertunda.
"Kita akan hadapi ini bareng-bareng, kan?" tanya Kira.
Arlan mengecup kening Kira, membiarkan air hujan dan air mata mereka bercampur.
"Bareng-bareng, Ra. Sampai Ibu sadar kalau jodohku memang kamu."
Di kejauhan, lampu rumah keluarga Arlan masih menyala terang, seolah menjadi pengingat bahwa badai besar baru saja dimulai. Namun malam itu, di bawah gerimis yang sama dengan awal kisah mereka, Arlan dan Kira berjanji untuk tidak pernah melepaskan satu sama lain, sesulit apa pun jalan di depan mereka.