NovelToon NovelToon
Father'S Beloved Adopted Daughter

Father'S Beloved Adopted Daughter

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Roh Supernatural / Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: sky tulip

Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak laki-laki itu, anaknya

Baru sehari anaknya sudah menemukan pria lain dalam hidupnya.

James tak bisa biarkan ini.

Tatapan Anisa semakin kesal di samping ayahnya dengan baju tidur panjang lengan dan menutupi lututnya.

James menatap lurus kedepan setelah mendengarkan cerita Anisa di hari pertama kelasnya.

"Aku perlu cari tahu anak siapa itu. "

"Ah~ terserah ayah aku sudah bilang tidak perlu besok pasti akan berbeda, anak-anak biasa akan lupa dengan hal yang terjadi kemarin, itu normal untuk anak-anak. "

"Kau tidak lupakan, kau kan selalu ingat. "

Anisa yang baru akan membaringkan kepala di atas paha James mengangkatnya lagi berubah posisi tengkurap.

"Iyaa, aku tidak lupa. " Jawabnya Anisa lagi-lagi membuat James berpikir lagi.

****

Setelah ceritanya berlanjut sampai Anisa benar-benar tidur dengan kepala diatas paha James.

"Jadi aku membaca puci tentang perang batin di situ aku banyak bilang kalo bertahan hidup menghadapi makian itu penting... Trus hoam.. Aku di tertawa kan, katanya Anisa itu bukan puisi kamu menjelaskan kalo kamu hoam. "

"Sudah... " James mengusap kepalanya.

"Tapi, kalo ayah ingin Anisa sampe enam bulan Anisa akan paksakan sampai enam bulan selesai.. "

Setelah benar-benar tidur pulas. Bangkit dan perlahan menggendongnya.

Membawa kekamar ditemani Mina dan Nena.

"Tidur yang nyenyak. " Kecupan di pucuk kepalanya sebelum keluar kamar dan menepuk selimutnya .

Didalam ruang kerjanya, seseorang sudah menunggunya.

" Rudolf, kau selesai?"

"Sudah Tuan, beliau anak dari Continens, namanya Leo Ignis Continens, anak yang melakukan kontak dengan nona, Orang tuanya bernama Manuel speculum Continens ayahnya dan ibunya Zellsy Speculum Continens. "

"Mereka salah satu dari orang-orang pengurus yang ada di bawah yayasan yang bank Pacificum dirikan, Mereka pimpinannya dan untuk Tuan Manor ia mengurus beberapa pembangunan yang Bank Pacificum mulai dirikan, apartemen Hindia."

Terdiam James berpikir mengusap dagunya yang sedikit jadi kebiasaannya.

Pagi ini setelah mengantar Anisa, James pergi ke lokasi apartemen Hindia yang baru saja berdiri belum masuk dalam pemasaran atau promosi pasar secara luas baru beberapa kali promosi biasa.

Tepat mobilnya berhenti Manuel yang mendengar kabarnya langsung menyambutnya bersama dengan para bawahannya juga staf khususnya.

Di depan James Manor berdiri dengan ramah tanpa sedikit getar padahal James tahu kalo ia sedang menahan diri untuk tidak terlihat buruk didepannya.

"Namamu Manuel Speculum Continens ?"

Menyebutkan nama panjang serta nama keluarga yang terdengar jelas.

Beberapa staf semakin gemetar.

"Tentu Tuan, itu saya. "

Mengangguk.

"Sebenarnya aku bertemu dengan mu karena aku mau bicara bukan masalah bisnis atau mengenai pekerjaanmu selama ini, kau cukup waktu?"

Manuel terdiam wajah yang sangat terlihat populer karena ketampanan yang tidak kalah tampannya dengan seorang James atau keturunan Oceanus di keluarga inti lainnya.

Manuel terkenal dengan rambut hitam sedikit kemerahan dan juga memiliki garis rahang tegas.

Sebenarnya para keduanya kalo di hadapkan tidak bisa di tanya kurangnya dimana mereka berdua dalam nilai ketampanan yang sangat seri.

"Iyaa Tuan tentu ada, mari kita bicara di ruangan atau luar ruangan."

"Kita bicara di mobil ku saja aku akan mengajakmu melihat hasil kerjamu di lingkungan apartemen Hindia ini." Jawaban James membuat Manuel tersenyum kikuk, terpaksa iya menjalankannya kemauan atasannya ini.

Didalam mobilnya sekarang.

"Putramu Leo Ignis Continens, menggoda putriku."

"Apa!" Tanpa basa basi Obrolan di buka dengan pernyataan fakta sesuai dengan yang James lihat kemarin.

"Putra? Put-tra saya tuan?"

Mengangguk apa adanya .

"Manuel, kalian pasti mendidiknya dengan baik aku sarankan putramu untuk tidak terlalu dekat dengan putriku tapi, jika murni pertemanan aku akan menerimanya, kalian bisa menjalin ya bersama putrinya tapi, jika sampai menyakiti hatinya aku akan menghabisi kalian semua sekeluarga."

Ancaman mencekiknya? Pertemuan pertama dengan James benar-benar membuatnya serasa di interogasi petugas.

"Saya minta maaf kalo menyinggung Nona, saya tidak tahu bagaimana putra saya yang akan menginjak usia dua belas tahun itu bertindak, saya sibuk dan dia sudah memaksa untuk tinggal terpisah dengan saya dan ibunya."

"Kau tahu anakmu menjadi pemulung mengambil botol bekas dan juga beberapa kardus bekas."

Semakin syok Manuel mendengarnya bagaimana ini. Silva semakin menghela nafasnya ia tak tahu bagaimana ucapan Tuannya sangat terang-terangan tanpa ada basa basi sama sekali.

"Iyaa dia bilang dia bisa mencari uang sendiri, tapi saya kira ia melakukan jualan seperti transaksi kecil antara teman-teman di lingkungan biasa ia tinggal atau di pasar, saya juga menempatkan pelayan paruh baya sebagai perwakilan saya."

"Kau terkejut Manuel?"

Bagaimana bilangnya ya, Manuel benar-benar terkejut karena ia sedikit tak memeriksa putranya yang ternyata sudah menjadi sosok pemulung sejauh ini, perasaannya kemarin ia memeriksanya jika putranya tak sampai seperti pemulung.

"Saya benar-benar minta maaf atas masalah yang putra saya timbulkan, sebagai gantinya anda bisa membawa nona kerumah kami dan menerima permintaan maaf dari mulut anak kurang ajar itu secara langsung, kami juga ada anak sepantaran nona, Namanya Qillya."

Sedikit berpikir James menatap kedepan spion didekat Silva.

Anggukan samar Silva.

"Tentu atur saja jadwalnya, aku lebih suka ia menjalin pertemanan dengan sesama anak perempuan, putriku terlalu mandiri bahkan seperti anak laki-laki yang tak takut apapun atau jarang menangis karena hal kecil."

Waktunya selesai dan James menurunkan Manuel didepan gedung yang sama saat mereka menyambut James yang baru saja tiba.

Di tempat belajar Mewah Anisa berlari kearah James.

"Wah lihat taraaa ayah aku membuat pin dari bunga kering, aku membuatnya khusus untuk ayah, boleh ayah buang jika tidak suka."

James berlutut menyamakan tingginya.

"Pasangkan ayah harus membayar untuk barang ini karena bukan dari uangku, tapi ini pasti dari kebun Tempat belajar, atau sama sajakah?"

"Ayah mulai perhitungan yaa, aku sengaja terlihat manis memberikannya sini kemarilah biar aku buang saja kalo di bilang begitu !" Marah-marah dengan James sampai membuat orang-orang yang menjemput anak-anaknya menoleh.

"Saat ini aku menerima harta paling tak ternilai."

Anisa diam mendengar ucapan ayahnya yang sangat menyenangkan bahkan wajah ayahnya terlihat senyuman lembut itu menghangatkan dadanya.

Angin yang menggerakkan rambutnya dan membuat gaun harian santai yang di pakaiannya sedikit terbang di biarkan ya begitu saja.

Suara dari angin sejuk juga membuat dedaunan dari pohon di sekitar Taman belajar terdengar bergesekan. Suara yang sangat menyenangkan rasanya seperti ada hal yang baik yang akan didengarnya atau menjadi hal menyedihkan.

Dari mobil hitam yang baru saja di naikinya tatapannya mengarah keluar.

"Sekarang ia di jemput lebih awal ya?"

"Tuan kita pulang sekarang?"

"Yaa pulang kerumah saja aku sudah lelah tinggal menyendiri."

Sopir dan pengawalnya menganggukinya.

Anisa masih memperhatikan wajah ayahnya yang rasanya ia tak mau menjauh dari orang yang ia sebut ayah sejak awal.

Perasaannya berdebar penuh rasa senang juga sedih yang tidak menyakitkan, sepertinya inilah namanya terharu.

Usapan di kepalanya seketika terasa sedikit aneh sampai rasanya bukan di usap tapi, sedang di tahan.

Perasaannya tak enak.

"Ayah ngajak ribut aku hah! Ayah kira aku banteng! Ayah!"

"Theo, aku datang tepat waktu?"

"Iya Tuan."

Mengabaikan emosi Anisa yang ditahan kepalanya seperti banteng, tiba-tiba rambutnya di remas berantakan.

"Rambutku Ayah!"

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
jangan kasih ampun
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
hajarrr
Jijah Atul
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!