NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desas desus kematian Mbah Sanur

"Eh, dengar-dengar Mbah Sanur, dukun sakti mandraguna dari desa sebelah meninggal bertepatan dengan meninggalnya Seno." Cerita salah satu warga.

"Katanya dia mati mengganskan." Sahut lainnya.

"Iya, padahal ada yang melihat, sehari sebelumnya, dia sempat ke rumah Pak Sugeng untuk mengobati Seno."

Beberapa warga yang sedang duduk di warung kecil Bu Rati langsung menoleh.

"Serius kamu?" Tanya seorang pria sambil menaruh gelas kopinya.

"Iya, aku dengar dari orang desa sebelah." Jawab warga itu pelan.

"Mbah Sanur datang ke rumah Pak Sugeng. Aku sempat melihatnya."

"Terus?" Tanya yang lain penasaran.

Orang itu mendekat sedikit, menurunkan suaranya.

Beberapa orang mulai memperhatikan dengan serius.

"Besok paginya, dia ditemukan sudah meninggal."

"Bagaimana meninggalnya?" Tanya seseorang lagi.

Warga itu menggeleng pelan, wajahnya terlihat ngeri.

"Katanya… mengerikan."

"Di tertikam oleh parang miliknya sendiri." Beberapa orang langsung merinding.

Suasana warung mendadak sunyi.

Salah satu warga akhirnya berbisik pelan.

"Kalau begitu, jangan-jangan ada hubungannya dengan Seno."

Yang lain hanya saling berpandangan. Tak ada yang berani menjawab.

Menjelang sore hari, suasana di balai desa terlihat begitu ramai. Warga mulai berdatangan satu per satu setelah Pak Warsito memberi kabar jika mereka akan mengatakan pertemuan, rapat. Untuk membahas kejadian desa.

Di bagian depan ruangan, Pak Desa sudah duduk di kursinya. Di sampingnya ada Pak Warsito selaku RT, Pak Yuda, dan beberapa tokoh warga lainnya.

Suasana sempat riuh oleh bisik-bisik warga, sampai akhirnya Pak Warsito berdiri dan mengangkat tangan memberi isyarat agar semua tenang.

"Bapak-bapak… tolong tenang dulu." Katanya.

Perlahan suara percakapan mereda.

Pak Warsito lalu menoleh ke arah Pak Desa.

"Pak," Katanya dengan suara jelas.

"Kita semua tahu keadaan desa kita sekarang sedang tidak baik-baik saja. Sudah tiga pemuda meninggal dengan cara yang tidak wajar."

Beberapa warga langsung mengangguk setuju.

"Saya sebagai RT merasa perlu meminta arahan dari panjenengan." Lanjut Pak Warsito.

"Kira-kira langkah apa yang sebaiknya kita ambil demi keamanan warga desa."

Pak Desa tampak mengangguk pelan, namun sebelum ia sempat berbicara, seorang lelaki paruh baya berdiri dari deretan kursi warga.

Ia adalah ayah Sapri.

Wajahnya terlihat lelah dan penuh kesedihan.

"Pak Desa." Katanya dengan suara berat.

"Kami para orang tua ingin keamanan desa diperketat."

Beberapa warga menoleh ke arahnya.

"Anak saya, Sapri, sudah jadi korban" Ujarnya.

Tak jauh dari situ, ayah Herman juga ikut berdiri.

"Iya, Pak." katanya lirih.

"Anak saya juga."

Suasana balai desa mendadak terasa semakin berat.

"Kami tidak ingin apa yang menimpa Sapri, Herman, dan Seno, terjadi pada anak-anak yang lain." Lanjut ayah Herman dengan suara yang tertahan.

Beberapa warga langsung mengangguk setuju.

"Betul itu."

"Iya, keamanan harus diperketat."

Bisik-bisik persetujuan mulai terdengar di seluruh ruangan.

Kini semua mata tertuju pada Pak Desa, menunggu keputusan yang akan ia ambil.

Tapi, belum sempat Pak Desa membuka mulut untuk berbicara, tiba-tiba terdengar suara perempuan.

"Lalu bagaimana dengan anak saya?" Suara itu lantang dan bergetar.

Semua orang langsung menoleh.

"Bagaimana dengan kematian Aning?" Teriaknya lagi.

Beberapa warga langsung saling berpandangan.

"Apakah kematiannya tidak perlu diusut? Dibiarkan saja terkubur tanpa tahu penyebabnya!"

Dia adalah Bu Darsia. Untuk pertama kalinya sejak kematian anaknya, ia keluar dari rumah.

Suasana balai desa mendadak sunyi. Tak ada yang berbicara. Semua hanya menatap wajah Bu Darsia yang dipenuhi kemarahan dan kesedihan.

Tak lama kemudian, ayah Herman yang sejak tadi duduk di depan berdehem pelan.

"Bu Darsia…" Katanya.

"Tapi kematian Aning itu sudah jelas."

Beberapa warga menoleh ke arahnya.

"Itu kemungkinan besar pencurian, para penjahat tahu dia pulang dari pasar malam dan jualannya laku keras, jadi dia di cegat untuk di rampok." Lanjutnya.

"Begitu kata polisi waktu itu."

Bu Darsia langsung menatap tajam ke arahnya.

Ayah Herman kembali melanjutkan.

"Sementara kematian Herman dan Sapri sampai sekarang belum diketahui penyebabnya."

Beberapa warga mulai berbisik pelan.

Namun wajah Bu Darsia justru semakin tegang.

"Jelas dari mana?" Katanya lirih namun penuh tekanan.

"Anak saya ditemukan mati di dengan tragis! Sedang polisi hanya menebak saja! Dan kalian semua melupakan kematiannya!" Matanya memandang satu per satu warga yang ada di balai desa.

Balai desa sunyi setelah ucapan Bu Darsia menggema di ruangan itu. Wajah para warga terlihat tegang. Beberapa menunduk, yang lain saling berpandangan tanpa berani berbicara.

Pak Desa akhirnya mengangkat tangannya.

"Bu Darsia, tolong tenang dulu." Katanya dengan suara berat namun berusaha lembut.

"Silakan duduk dulu, Bu."

Namun Bu Darsia masih berdiri dengan napas yang naik turun.

Melihat keadaan itu, Pak Warsito segera berdiri dari kursinya dan mendekat.

"Bu Darsia, mari duduk dulu." ujarnya pelan sambil menenangkan.

"Kita semua di sini juga ikut berduka atas kematian Aning."

Beberapa warga perempuan yang hadir di balai desa ikut berdiri untuk menenangkan.

Pak Desa menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali berbicara.

"Bapak-bapak dan ibu-ibu." Katanya sambil memandang seluruh warga yang hadir.

"Untuk kematian Aning, sebenarnya kasus itu sudah ditangani oleh pihak polisi."

Beberapa warga mendengarkan dengan serius.

"Dari keterangan yang ada, kemungkinan besar itu adalah kasus perampokan." Lanjutnya.

"Apalagi waktu itu Aning pulang dari pasar malam dan membawa hasil jualan."

Pak Desa berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

"Dan menurut kabar dari pihak kepolisian, pelakunya kemungkinan orang luar desa. Jadi perkara itu sudah menjadi urusan polisi."

Warga hanya diam mendengarkan.

"Sementara kematian Sapri, Herman, dan Seno." Lanjut Pak Desa dengan wajah serius,

"Sampai sekarang memang masih menjadi tanda tanya."

Beberapa orang langsung mengangguk pelan.

"Karena itu, untuk mencegah kejadian yang tidak kita inginkan terulang kembali." Kata Pak Desa tegas,

"saya meminta agar keamanan desa diperketat."

Ia lalu menoleh ke arah para lelaki yang memenuhi balai desa.

"Mulai malam ini, para pria di desa ini akan melakukan ronda malam secara bergilir."

Beberapa warga langsung saling berpandangan.

"Setiap malam akan ada beberapa orang yang berjaga sampai pagi."

Pak Warsito mengangguk setuju.

"Iya, Pak Desa benar." Katanya.

"Nanti saya yang akan mengatur jadwalnya."

Beberapa warga mulai menyetujui dengan anggukan.

"Betul itu."

Namun Bu Darsia hanya duduk diam. Tatapannya kosong.

Seolah masih menyimpan satu keyakinan dalam hatinya.

Bahwa kematian Aning seperti di tutupi oleh beberapa orang. Seperti mereka sengaja menguburnya tanpa ingin lagi membuka kematian anak perempuan semata wayangnya itu.

1
Gadis misterius
Jngn ikut cmpur tomo biarkan aning blas dendam dan mencari siapa membunuh dia dan ngasih pelajaran untuk orang2 bodoh itu....jaka udin jngn sok atuh ayo klian kn sering melihat kematin yg diluar bhkn sering lht hntu aning dlm wujud korban lainya🤣🤣🤣🤣
Gadis misterius
trs yg membunuh aning siapa klu bkn herman cs ...kyk masih ada orang lain yg terlibat
Gadis misterius
mampusss kau karmin
Gadis misterius
Karmin2 sama bejat dngn anakmu ternyata
Gadis misterius
Kuku dan giginya cabut pksa aning dia terlalu jumawa sbangai manusia trs seret dijalan yg berbatu smpai mati hbis itu datangi wrga yg bodoh itu terorr kasih pelajaran yg setimpal
Aisyah Ashik
kenapa balas dendamnya aning menunggu ibunya mati, kapan semua orang tahu bahwa matinya aning karena diperkosa
Gadis misterius: aneh memang yg dibahas krmin cs trs
total 1 replies
Mega Arum
sblm mati seharusnya mereka tau anak2nya pembunuh Aning..
Gadis misterius
Jngn ksih ampun aning ratakn smuanya
Cucu Doank
kenapa aning ga menolong di saat ibunya di siksa ya?
Gadis misterius
Bnrkah aning dtng ,ataukah msih dlm perjlanan
Gadis misterius
Bpkmu itu sengaja pergi tomo dia sebangai kpl desa tk pnya hati dan kau mau jd pahlawan kesiangan sdh terlambatt krb aning akan membasmi mereka smua kecuali jaka udin dan asep yg akan selamat
Gadis misterius
Ya Allah teganya mereka
Agus Tina
Baguus
Agus Tina
Ini yang kutunggu, arwqh Aning membalaskan dendamnya. Ayo Aning tunjukan siqpa saja orqng yang telah membuatmu menderita, dan jika afa yang masih hidup buat dia hidup segan mati tak mau ...
Gadis misterius
Knp merasa barsalah kau warsito bknkah itu keinginanmu juga...kmn kpl desa kok tdk muncul dikala rakyatnya butuh pertolongan dasar manusia2 laknatt
Gadis misterius
Author yg baik serta budiman ,kpan karmin keparat itu mati rasanya awak sdh sngat muaak dngn segala tingkah lakunya dan lagi biarkan aning menampakkan diri kpd warga yg tdk pnya otak itu agar mereka tau klu aning mencari keadilan untuk dirinya dan ibunya ....sekian terimakasih🤭😍🤣😍
Agus Tina
Thor sisakan 1 agar bercerita kalau arwah Aning lah yg menuntut bakas pd mereka
Aisyah Ashik
hukum mereka semua aning, karena hukum dunia telah buta💪
Gadis misterius
Jaka udin gk usah dbntu biarin aza'di urus warsito dan kau karmin cs akan mati lebih mengenaskan di tngan aning
Gadis misterius
Sdh berkurang nunggu yg lainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!