"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Viola Gagal Mendekat
"Saat seorang wanita berpikir ia bisa memikat dengan kecantikan, ia lupa bahwa beberapa pria hanya bisa ditaklukkan oleh kecerdasan."
---
Puisi: Mawar Palsu di Taman Berlian
Ia datang dengan senyum yang diukir penuh perhitungan
Membawa rayuan dalam balutan gaun mahal
Langkahnya penuh percaya diri, seolah dunia adalah panggungnya
Namun lupa—di hadapan singa, rubah takkan pernah menang
Karena beberapa pria bisa melihat topeng di balik bedak
Mereka tak silau oleh kilau palsu
Hanya hati yang tulus yang mampu memikat mereka
Dan Viola, sayang sekali—kau hanya membawa racun dalam botol kristal
Di taman berlian ini, mawar palsumu layu sebelum sempat mekar
Dan cemoohan itu... oh, cemoohan itu akan membekas
Bukan di dinding ruangan mewah ini
Tapi di relung terdalam egomu yang hancur
Malam itu, Lampu kristal di Grand Ballroom Hotel Indonesia memantulkan jutaan titik cahaya ke setiap sudut. Para elit Jakarta berhamburan seperti kupu-kupu malam, masing-masing dengan agenda tersembunyi di balik senyum mahal mereka. Viola Santoso berdiri di depan cermin rias toilet wanita, menatap bayangannya sendiri dengan penuh kepuasan.
"Kau cantik, Viola. Kau sempurna. Nathan akan jatuh."
Gaun merah marun tanpa punggung itu ia beli dengan kartu kredit Richard—tanpa sepengetahuannya, tentu saja. Rambut panjangnya disasak sempurna, riasan matanya tajam seperti elang yang siap menerkam mangsa. Ia mengoleskan lipstik merah darah sekali lagi, meski bibirnya sudah sempurna.
"Alana pikir dia bisa mendapatkan segalanya? Bahkan Nathan?" desisnya pelan. "Dia hanya janda miskin yang kebetulan dapat warisan. Aku yang pantas duduk di samping pria seperti Nathan Pramana."
Ia melangkah keluar toilet dengan anggun, matanya segera memindai ruangan mencari satu target: Nathan.
Nathan Pramana berdiri di dekat bar, setengah tubuhnya membelakangi keramaian. Jas navy custom-made itu membalut sempurna bahu bidangnya, dan cara ia memegang gelas wiski—dengan jari-jari panjang yang jenaka—membuat beberapa wanita di sekitarnya salah tingkah. Tapi Nathan tidak peduli. Matanya sesekali melirik arloji, lalu ke arah pintu masuk.
"Mencari seseorang, Pak Nathan?" suara manis tiba-tiba muncul dari sampingnya.
Nathan menoleh. Viola berdiri di sana, tersenyum dengan jarak yang ia hitung tepat—cukup dekat untuk terlihat intim, cukup jauh untuk tidak terkesan memaksa. Cahaya lampu jatuh sempurna di belahan dadanya.
Nathan menatapnya datar. Hanya itu. Datar. Tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.
"Viola Santoso," ucapnya, bukan bertanya. Suaranya dingin seperti es yang baru dikeluarkan dari freezer.
Viola berusaha tidak goyah. "Wah, Pak Nathan kenal saya? Saya merasa terhormat." Ia tertawa kecil, suara yang ia latih berhari-hari agar terdengar merdu dan bersahaja.
Nathan menyesap wiski-nya. "Saya kenal semua orang yang pernah mencoba mendekati Alana dengan niat buruk."
Seketika, senyum Viola membeku. Tapi ia terlalu percaya diri untuk menyerah. "Astaga, tuduhan yang berat. Saya hanya ingin berbincang santai dengan pengusaha sukses seperti Anda. Apa salahnya?"
Nathan menatapnya tajam. Saking tajamnya, Viola merasa seperti sedang di-X-ray. Semua lapisan bedak, semua senyum palsu, semua niat jahatnya seolah terbaca jelas oleh pria di hadapannya.
"Kau tahu bedanya aku dan pria-pria lain di ruangan ini?" tiba-tiba Nathan berkata, suaranya tenang tapi menusuk.
Viola mengedip. "Apa?"
Nathan tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Senyum yang membuat Viola merinding. "Pria lain mungkin akan terkesan dengan gaun mahal dan senyum murahan. Tapi aku? Aku lebih tertarik pada wanita yang punya otak, bukan sekadar keberanian memakai belahan dada."
Wajah Viola memerah. Tapi belum selesai di situ.
Dengan suara yang cukup keras untuk didengar beberapa orang di sekitar mereka, Nathan melanjutkan, "Kau tinggal di rumah Alana selama tiga tahun. Tidur dengan suaminya. Memakai pakaiannya. Makan dari uangnya. Dan sekarang kau datang padaku untuk menjatuhkannya?" Ia menggeleng pelan, bibirnya melengkung sinis. "Bahkan ular pun tahu diri kapan harus bersembunyi. Tapi kau?"
Viola merasa semua darah di tubuhnya mengalir deras ke wajah. Beberapa pasang mata mulai menoleh. Bisik-bisik mulai terdengar.
Seorang wanita paruh baya di dekatnya berbisik cukup keras pada temannya, "Itu Viola? Sahabatnya Alana yang kabarnya..."
"Astaga, jadi itu benar?"
"Memalukan sekali..."
Viola mengepalkan tangannya di samping tubuh. Kukunya yang panjang hampir menembus telapak tangan. Tapi ia masih berusaha bertahan. "Pak Nathan, saya tidak tahu dari mana Anda mendapat informasi—"
"Cukup."
Satu kata. Satu kata dari Nathan yang membuat seluruh tubuh Viola membeku.
Nathan meletakkan gelas wiski-nya di meja bar dengan bunyi thok pelan. Lalu ia menatap Viola sekali lagi—tatapan terakhir yang penuh penghinaan halus.
"Kau datang padaku dengan harapan bisa memanfaatkanku untuk menghancurkan Alana. Tapi biar aku beri tahu sesuatu, Nona Viola." Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya turun hingga hanya Viola yang bisa mendengar, tapi bobotnya seperti palu godam. "Aku lebih suka berlutut di depan Alana yang sedang terpuruk daripada berdiri sejajar dengan perempuan sepertimu di puncak dunia sekalipun. Setidaknya dia punya harga diri. Kau? Kau bahkan tak pantas disebut wanita—kau hanya rumput liar yang kebetulan bisa berbicara."
Nathan mundur selangkah, merapikan jasnya, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Viola yang membatu di tempat.
Dunia Viola berhenti berputar.
Untuk beberapa detik, ia tidak bisa mendengar apa-apa selain desiran darah di telinganya. Tapi perlahan, suara-suara di sekitarnya mulai merambat masuk.
"Kasihan banget..."
"Tega amat si Nathan, tapi memang bener sih..."
"Dia kira dia bisa apa? Ngadepin Nathan Pramana?"
"Mending pulang, Mbak. Malu-maluin."
Viola menegakkan bahunya. Ia memaksakan senyum—senyum yang paling palsu dalam hidupnya—lalu berjalan menuju pintu keluar dengan kepala tegak. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Setiap bisikan terasa seperti cambukan.
Baru setelah ia berada di dalam mobilnya, di tempat parkir basement yang sunyi, topeng itu jatuh.
BAM!
Tangannya menghantam setir. Berkali-kali. Sampai tangannya memar, sampai air matanya tumpah.
"Nathan... Nathan... kau akan lihat... kau akan lihat..."
Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Tapi satu hal yang pasti: malam ini, Viola Santoso tidak hanya dipermalukan. Ia dihancurkan. Dan dari kehancuran itu, sesuatu yang lebih gelap mulai lahir.
Di lantai atas, di dalam ballroom yang masih gemerlap, Nathan menerima telepon. Suara di seberang sana: Alana.
"Dengar kau berhasil mempermalukan Viola di depan umum?"
Nathan tersenyum kecil. "Cepat sekali beritanya sampai padamu."
"Lucas selalu memberitahuku semuanya." Ada jeda. Lalu suara Alana berubah, lebih lembut, hampir tak terdengar. "Terima kasih, Nathan. Kau tidak perlu melakukan itu."
Nathan menyesap wiski-nya, matanya menerawang ke arah jendela besar yang memperlihatkan gemerlap Jakarta di malam hari. "Aku tidak melakukannya untukmu, Alana. Aku melakukannya karena dia menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi wanitamu. Dan itu dosa."
Jeda panjang. Cukup lama bagi Nathan untuk membayangkan ekspresi Alana di seberang sana.
"Kau... aneh."
"Aneh yang baik atau aneh yang perlu dilaporkan ke polisi?"
Alana tertawa. Tawa kecil yang jarang sekali Nathan dengar. Suara itu hangat, berbeda dari ketajaman biasanya. "Aku belum tahu. Aku akan mengawasimu."
"Silakan. Aku suka diperhatikan."
"Selamat malam, Nathan."
"Selamat malam, Alana. Mimpikan aku."
"Klik."
Nathan menatap ponselnya, senyum tipis masih terukir. Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nathan Pramana—pria dingin yang tidak pernah percaya cinta—merasa ada sesuatu yang hangat tumbuh di dadanya.
Sesuatu yang sangat berbahaya.
Sesuatu yang bernama Alana.
Di sisi lain kota...
Viola duduk di tepi tempat tidurnya, meremukkan tisu basah oleh air mata dan maskara. Richard tidak ada di rumah—entah di mana, ia tidak peduli. Matanya menerawang kosong ke dinding, tapi di kepalanya, satu adegan berputar terus-menerus: senyum sinis Nathan, tatapan tajamnya, kata-kata tajam yang masih terasa seperti luka terbuka.
"Kau bahkan tak pantas disebut wanita."
Viola menggigit bibirnya sampai berdarah. Lalu perlahan, sangat perlahan, senyum aneh mengembang di wajahnya.
"Baik, Nathan. Kau pilih Alana. Kau bela Alana. Kau hina aku demi Alana."
Ia bangkit, berjalan ke meja rias, dan menatap bayangannya sendiri di cermin. Wajahnya kusut, maskara luntur di mana-mana, bibirnya pecah-pecah.
Tapi matanya... matanya menyala.
"Kalau begitu, aku akan hancurkan Alana dengan caraku sendiri. Dan saat dia sudah rata dengan tanah, aku ingin lihat ekspresimu saat kau sadar—wanita yang kau bela itu, pada akhirnya, tidak lebih baik dariku."
Viola mengambil ponselnya. Menekan satu nomor yang tidak pernah ia hubungi selama bertahun-tahun.
Nomor itu berdering. Dijawab setelah nada ketiga.
"Halo?" Suara berat di seberang sana.
"Halo, Om. Ini Viola. Saya butuh bantuan."
Jeda. Lalu suara itu tertawa pelan—tawa yang membuat bulu kuduk Viola merinding, tapi ia terlalu nekat untuk mundur.
"Akhirnya. Sudah kuduga kau akan menghubungiku cepat atau lambat. Ada apa, Viola? Masalah keluarga?"
Viola tersenyum dingin. "Bukan. Masalah sahabat."
Di luar, angin malam bertiup kencang, menggoyangkan pohon-pohon di taman. Dan di langit Jakarta yang gemerlap, awan hitam mulai berkumpul—pertanda badai akan segera datang.
Bersambung...(ノ゚0゚)ノ→
"Duri mawar tidak pernah tumbuh untuk melukai tanpa sebab. Ia tumbuh karena mawar tahu—dunia ini penuh dengan tangan-tangan yang ingin memetiknya tanpa izin."
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄