Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Di Rumah Sakit
Di balik kursi kerja itu, terlihat Dominic memandangi pemandangan pencakar langit terlihat megah dengan biru nya lain, sedang menunggu Robert menyampaikan sesuatu. Hatinya terasa kacau saat ini, berharap memberikan jawaban yang sesuai saat ini.
"Maaf Tuan..." itu jawaba Robert pertama kali membuat Dominic berbalik dengan cepat kearah Robert di sertai tatapan nyalangnya sebab itu bukan jawaban yang dia inginkan.
Robert melihat Dominic menaikkan alisnya sebelah membuat Robert menarik liur kasar sebelum berbicara, "Tuan, kami sudah menyisir beberapa tempat yang potensi, sedangkan rumah sakit belum ingin memberikan informasi lengkap mengenai Nyonya, mereka takut menyalahi kode etik sehingga kita perlu alasan yang spesifik,"
"Spesifik apa lagi? Apakah menemukan istriku tidak penting!" geram Dominic.
Dia tiba-tiba berdiri dari duduknya dan merapikan jasnya, Robert yang melihat berkeringat dingin di buat Dominic. Sebab jika Dominic yang turun langsung maka habis mereka mendapatkan hukum sebab tidak becus dalam bekerja.
"Aku akan datang langsung kerumah sakit itu," ujar Dominic dengan dingin melangkah tegas menuju kearah tempat parkir VVIP, terdengar jelas dari sepatu pantofelnya.
Selepas sampai ke parkiran Robert membuka pintu mobil dengan cepat takut Dominic bertambah marah dan langsung masuk keruang kemudi dengan terburu-buru. Tidak dalam lama kemudian, Robert membelokkan mobil menuju rumah sakit.
*
Tidak berselang lama sampai mereka sampai di sebuah rumah sakit yang tidak terlalu besar di banding rumah sakit yang selalu mereka datangi serta danai untuk investasi.
"Ini rumah sakitnya, Tuan," ujar Robert menujuk dengan jempolnya serat akan kesopanan.
"Ini rumah sakitnya, memang sangat pas untuk mengelabui ku," gumam Dominic memicingkan matanya yang tentunya masih menatap dengan dingin.
Mereka kemudian mulai memasuki rumah sakit itu, beberapa orang sedikit penasaran apa yang dilakukan orang dengan setelan jas yang cukup mewah itu, tapi ada beberapa yang berpikiran pula mereka hanya punya keperluan di rumah sakit sebab rumah sakit adalah fasilitas umum.
Dominic dan Robert mendatangi bagian informasi, dengan pria itu langsung memukul meja itu kuat membuat perawat iru kaget. Meskipun perasaannya datar yang bisa sebab dia terbiasa untuk menghadapi berbagai jenis pasien dan keluarganya yang rendom.
"Ada apa ya pak?" tanya perawat itu memulai topik.
"Aku ingin tau tentang pasien yang bernama Seraphina Gunawan sekarang juga?!"
Perawat itu mengerutkan keingnya, kemudian matanya menoleh pada orang berada di belakang Dominic. Lalu, dia sadar bahwa pria itu adalah pria yang juga bertanya hal yang sama padanya dengannya tentang hal yang sama yaitu, Nyonya Seraphina Gunawan yang sedang viral karena video pertikaian dengan seorang artis beberapa hari lalu.
"Maaf pak, kami tidak bisa memberikan identitas pada pasien pada orang asing untuk keperluan apapun," perawat itu mencoba memberikan penjelasan yang mudah di pahami dan berharap Dominic mengerti.
Dominic mengerti tapi dia tidak menerima penolakkan yang di berikan perawat itu, Dominic terlihat memegang pingangnya dengan tidak nyaman dan berdecak kesal, mencari cara agar dia bisa mendapatkan informasi.
Bukan karena dia tidak bisa mencari sendiri, Dominic berharap jika mendapat informasi dengan cepat agar bisa bertemu dengan Sera, "Aku ingin bertemu dengan kepala rumah sakit ini, bisa atau tidak?" tanya Dominic akhirnya.
"Kalau itu, kami perlu menghubungi sekertaris nya terlebih dahulu untuk memastikan kepala rumah sakit ada di tempatnya ada atau tidak," jelas perawat itu.
"Iya, cepat lah..." ujar Dominic melipat tangannya dan menunggu dengan tidak tenang.
Tidak berselang lama, Perawat itu meletakkan gagang telponnya pada tempat semula, kemudian menatap Dominic yang sudah terbaca dari ekspresinya, "Pak, mohon maaf sepertinya kepala rumah sekit sedang tidak ada tempat, namun sekertaris menyampaikan pada saya tadi bahwa ada cara lain,"
"Cara apa?!" ujar Dominic berburu-buru dengan menekan meja perawat itu dengan raut wajah dinginnya, namun serat akan harapan.
"Anda bisa mecari kelewat jaringan hukum, atau mudahnya menunjukkan bukti hubungan keluarga denga membawa berkas-berkas seperti buku nikah, ktp dan surat penyataan beserta materai," perawat itu mencoba menjelaskan dengan raut wajah yang gugup melihat Dominic dengan wajah yang memerah.
"Aku adalah suaminya! Bukankah itu sudah cukup membuktikan aku adalah kelurganya," geram Dominic, membuat beberapa pengunjung rumah sakit itu menoleh heran pada Dominic.
"Iya pak, tapi kalau sudah prosedur, harus di ikuti oleh semua orang termasuk saya," jelas perawat mencoba menengkan amarah Dominic.
Dominic mulai terdiam dan menetralkan amarahnya, benar kata perawat itu bahwa dia bukan akan mendapat informasi malah akan kehilangan jejak Sera yang sudah di depan matanya.
Dominic lalu menoleh pada Robert, "Robert, perintahkan orang untuk datang membawa berkas yang dibutuhkan, segera! aku tidak ingin kehilangan jejaknya,"
Robert tidak berbicara hanya mengangguk patuh, kemudian berbalik guna menelpon seseorang di ujung sana. Tidak lama hanya beberapa saat lalu kembali lagi kearah Dominic.
"Tuan, dia akan sampai lima menit lagi," ujar Robert menyampaikan dan kembali diam.
Dominic tidak tahan lagi menunggu dan melipat tangan serta berjalan bolak-balik merasa tidak tenang dengan orang yang dia tunggu. Rasa lima menit seperti ribuan jam, sebab dia tidak bisa menunggu Sera terlalu lama.
Hingga beberapa menit berselang, dan tidak ada yang terlewat dari pria yang kini berjalan cepat dengan tas briefcase di tangannya. Dia mencoba merapikan jas hitam nya yang sedikit kusut sebab terburu-buru sebab mendengar penjelasan Robert tadi.
"Tuan, saya sudah mengurus semua yang di minta Tuan," sahut pengacara itu setelah menghadap Dominic.
Dia mengluarkan map dari tasnya, dan mempelihatkannya pada Domini, kemudian mengambil pulpen dari saku jasnya, "Tuan, tolong tanda tangani surat penyataan ini dulu,"
Dominic tidak mengangguk atau berbicara langsung mengambil pulpen itu dari tangan sang pengacara, dan langsung menanda tanganinya dengan tatapan dingin.
Selepas Dominic memberikan tanda tangan, pengacara itu kemudian memberikan nya pada perawat dengan sedikit keramahan yang di tunjukkan engan senyuman singkat agar keadaan tegang tadi sedikit mereda.
"Baik pak, mungkin ada harus sedikit menunggu sebentar lagi, jika disetujui Anda bisa melihat datanya hari ini," jawab perawat itu mengambil map yang di berikan dengan mengecek sebentar.
"Kau tidak bisa berusaha lebih cepat, istriku itu sedang hamil dan dia sendirian di luar sana, tanpa saya!" tegas Dominic, rasanya Dominic ingin menarik kerah baju perawat itu. Namun, sebagai seseorang yang bermartabat dia tidak boleh melampiaskan amarah pada orang lain.
"Tuan, Anda tenang saya akan mengurus semuanya, ada bisa istirahat disana sebenatar," ujar pengacara tersebut melihat perawat yang mulai habis kesabaran pula.
Pengacara itu lalu menolah pada Robert, memberikan kode pada pria itu untuk menangkan Tuan mereka. Robert menganggukkan kepala meskipun tidak tau, dia mampu atau tidak. Robert mencoba mengarahkan Dominic meskipun pria itu sedikit memberontak dan menepis tangan Robert hingga akhirnya Dominic mengalah.