Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam
Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.
Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.
Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin
Tepat pukul tujuh malam Dian wulandari pulang dengan setumpuk tugas yang belum dinilai dan sakit kepala sudah menjadi teman setia sejak dia memutuskan untuk tidak memilih siapapun juga, 10 tahun lalu.
Dian, wanita berusia sekitar 38 tahun, memiliki pesona yang memikat namun tidak mencolok secara berlebihan. Wajahnya oval dengan tulang pipi jelas dipenuhi oleh kulit masih terawat rapi, sedikit garis halus di sekitar mata menunjukkan pengalaman hidupnya. Matanya coklat tua tajam dan menyelami, seolah-olah bisa membaca pikiran siapa saja yang menatapnya.
Bibirnya tipis dan sering kali sedikit menekuk ke bawah, memberikan kesan sikap yang tegas bahkan terkadang terkesan judes saat dia sedang fokus atau tidak mengenal orang baru.
Ia berhenti di depan apartemennya — unit sudut A-12B hampir tidak ada yang tahu karena dia sangat, sangat menjaga privasi — dan melihat kotak kecil di depan pintu.
Matanya membesar, alisnya naik beberapa senti karena ini bukan waktu pengiriman, nama pengirim yang dia kenal atau suara langkah yang dia hapal.
Dian mengambil kotak itu dengan hati-hati, seolah-olah bisa meledak. Ia masuk ke dalam apartemennya yang rapi steril — sofa kulit hitam jarang diduduki tamu, meja kerja tanpa debu, rak buku tersusun berdasarkan abjad — dan duduk dengan postur yang diajarkan ibunya 30 tahun lalu: tegak, kaku, tidak boleh menunjukkan kelemahan.
Ia mengambil gunting kecil dari dapur membuka kotak dengan jantung berdebar,
sebuah cincin perak berkilau muncul di telapak tangannya dengan batu biru di tengah — safir sintetis berkilau, dan anehnya tidak palsu di matanya
" Cincin ? bisiknya bingung membuka lipatan kertas kecil tinta hampir luntur, tidak terbaca, tapi cukup untuk dipahami:
"Maaf belum bisa kasih yang terbaik..."
Dia membaca berkali kali, mengulang setiap kata, dan untuk pertama kali dalam umur 38 tahun, Dian Wulandari, M,Si merasakan sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan regresi linear, tanpa bisa dianalisis dengan chi-square membuat jantungnya berdetak lebih cepat — 72 BPM, 85 BPM, 102 BPM — dan wajah memanas — suhu naik 0.7 derajat — dan tangannya — tangannya yang selalu stabil saat menulis rumus kompleks di papan tulis — gemetar tak terkendali.
Kilatan di batu biru itu seolah bertanya siapa yang mengirim ini?
Dan dia, untuk pertama kali dalam hidupnya, ingin tahu jawaban tidak sebagai dosen statistikawan. Tapi sebagai wanita baru saja menerima benda khusus untuknya
" Aku coba pasang," ucapnya
mencoba memakai di jari manis kiri, pas, sangat pas seolah cincin itu dibuat untuknya.
"Siapa pun orang yang mengirim cincin ini telah membuat satu kesalahan besar. Dan saya akan mencari."
Di kosan kecil Dewa, ponsel tetap diam di meja kasur. Sasa tidak menelepon, mengirim pesan atau "Call me" yang dijawab.
Ia tidak tahu bahwa cincinnya melenceng tidak tepat sasaran kepada seorang dosen galak sedang menatap cincin di jarinya dengan mata berkaca-kaca, dan bertanya pada bayangan di dinding: "Mengapa baru sekarang ada yang mengirim?"
Dan bayangan itu, tentu saja, tidak menjawab.
Hari keempat setelah pengiriman. Dewa duduk di bangku taman kampus dengan posisi melankolis — menggigit kuku, mengecek ponsel setiap 30 detik, dan mengutuk diri sendiri karena tidak bisa berhenti berharap.
Sasha belum menelepon.
"Mungkin belum nyampe," pikirnya untuk kesekian kalinya. "Atau mungkin... dia masih berpikir, terharu menerima nya."
Atau mungkin dia melihat cincin perak dengan harga murah itu sambil tertawa ngakak "Cincin murahan dari mantan miskin."
Dewa menggeleng keras tidak. Sasha bukan orang seperti itu. Ia perempuan.. realistis, dalam hidupnya. Dan cincin ini — meskipun murah — adalah yang terbaik, bukan hasil uang ayahnya, nama keluarga, tapi dengan keringat sendiri, si Burik yang kabur, badut yang dicoret, lemari yang hancur. Semua ada di cincin itu di batu safir sintetis yang berkilauan.
"Dia pasti telepon," katanya pada daun-daun kering di trotoar. "Hari ini atau besok paling lambat minggu depan."
Daun-daun itu tidak menjawab. Mereka hanya terbawa angin, tidak peduli dengan cinta yang tidak berbalas.
Di Apartemen Anggrek A-12B, Dian Wulandari tidak tidur semalaman bukan karena tugas — yang biasanya menjadi alasan, tapi cincin di jari manis kirinya terus berkilau di kegelapan.
Dia sudah mencoba melepaskannya tiga kali, Tapi setiap kali, tangannya berhenti di tengah jalan. Seolah-olah cincin itu punya gravitasi sendiri, menariknya kembali.
"Gila," gumamnya pada bayangan di cermin kamar mandi. "Aku gila pada sebuah cincin murah dari pengirim tidak dikenal."
Tapi kenapa? ia bertanya pada bayangan yang sama bingungnya — kenapa cincin murah dari orang tidak dikenal bisa membuatnya seperti wanita agung?
bukan Dian yang galak, ditakuti. Tapi Dian yang... diinginkan.
Dia mengusap cincin dengan ibu jarinya rapuh. "Siapa kamu?" bisiknya. "Dan kenapa kamu kirim ini ke saya?"
Pertanyaan yang tidak terjawab. Misteri yang mengganggu. Dan Dian — selau menyelesaikan setiap masalah dengan rumus dan logika — menemukan dirinya terjebak dalam persamaan variabel yang tidak jelas.
Pagi hari, jam 7:30.
Perempuan itu masuk kampus dengan langkah sedikit berbeda, lebih ringan dan lebih... goyah seakan akan dia tidak yakin dengan gravitasi bumi.
Cincin itu dipakai tentu saja, tapi tersembunyi di balik sarung tangan hitam untuk pertama kali sejak... cuaca Jakarta tidak pernah dingin cukup untuk sebuah sarung tangan.
Tapi hari ini, dia membutuhkan penutup. menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin dijelaskan.
"Bu Dian, memakai sarung tangan?" tanya Pak Surya, dosen Matematika Diskrit, di koridor.
"Alergi Pak," jawabnya pelan "Kontak dermatitis."
Pak Surya mengangguk lambat, tidak yakin tapi tidak berani bertanya lagi, karena semua orang tahu, dikampus ini tahu, tidak ada yang berani bertanya dua kali kalau tidak kena semprot.
Namun Dian berharap ada seseorang berani menanyakan cincin itu, memberikan jawaban yang dia cari.
Tapi tidak ada yang bertanya.