Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 21: Badai di Teluk Aurora
Langit di atas Teluk Aurora tidak pernah tampak sekelam ini. Awan kumulonimbus raksasa menggantung rendah, seolah-olah berat oleh beban kemarahan yang akan segera tumpah. Di permukaan air, kabut tebal yang dipanggil oleh sihir pelindung Avalon masih menyelimuti armada Elara, membuat kapal-kapal perang mereka tampak seperti hantu-hantu perak yang meluncur tanpa suara menuju jantung kekaisaran.
Elara berdiri di haluan kapal utama, The Sovereign Lane. Rambut putihnya berkibar liar tertiup angin laut yang kencang, dan jubah pertempurannya yang berwarna biru tua basah oleh percikan air garam. Di sampingnya, Alaric berdiri tegak dengan mata yang tak pernah lepas dari garis cakrawala tempat mercusuar ibu kota mulai terlihat samar.
"Lampu mercusuar itu merah," bisik Elara, suaranya hampir tertelan oleh suara ombak. "Artinya mereka sudah bersiaga penuh. Kaisar tahu kita akan datang."
"Dia mungkin tahu kita datang, tapi dia tidak tahu bagaimana kita datang," jawab Alaric. Ia menatap ke bawah, ke arah permukaan air yang gelap di samping lambung kapal. "Ksatria Perunggu sudah mencapai dasar teluk. Mereka tinggal menunggu sinyal."
Serangan dari Kedalaman
Tiba-tiba, suara terompet perang dari benteng pantai kekaisaran menggelegar, memecah kesunyian malam. Meriam-meriam besar yang ditempatkan di sepanjang dinding teluk mulai menyalak, memuntahkan bola-bola api yang menerangi langit malam dalam warna oranye yang mengerikan.
BOOM! BOOM!
Ledakan air terjadi di sekeliling kapal-kapal Avalon, namun Elara tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia mengangkat tangan kanannya, di mana cincin perak Valerius kini bersinar dengan cahaya ungu yang tajam.
"Sekarang!" teriak Elara.
Di dasar teluk, sepuluh Ksatria Perunggu yang dipimpin oleh energi Elara mulai bergerak. Mereka tidak berenang; mereka berjalan dengan langkah berat di atas pasir laut, mengabaikan tekanan air yang mematikan. Dengan kekuatan fisik yang melampaui logika, ksatria-ksatria itu menghantam rantai-rantai jangkar kapal perang kekaisaran yang sedang berlabuh.
Suara dentingan logam bawah air bergema hingga ke permukaan. Dalam hitungan menit, kapal-kapal raksasa milik armada pusat kekaisaran mulai terombang-ambing tak terkendali. Mereka kehilangan kendali atas posisi mereka, saling bertabrakan satu sama lain di tengah badai.
"Mereka panik!" Kael berseru dari dek bawah. "Kapal-kapal utama mereka saling menghancurkan diri sendiri!"
Menembus Gerbang Air
Memanfaatkan kekacauan di laut, armada Avalon melesat maju. Elara menggunakan relik Lane-nya untuk menciptakan perisai cahaya yang membelokkan proyektil meriam yang mengarah ke kapal mereka. Cahaya itu memantul di antara kabut, menciptakan pemandangan yang mistis sekaligus mematikan.
"Alaric, kita harus mencapai Gerbang Air dalam sepuluh menit, atau pasang akan surut dan kita akan terjebak di bawah meriam dinding," Elara memperingatkan.
Alaric menarik pedang Duskbringer. Aura hitam dari pedang itu mulai menyelimuti seluruh kapal, memberikan dorongan kecepatan sihir yang membuat The Sovereign Lane meluncur dua kali lebih cepat. "Siapkan pasukan pendarat! Kita akan merebut Gerbang Air terlebih dahulu!"
Saat kapal mereka mendekati pintu besi raksasa yang menutupi kanal masuk ke ibu kota, ribuan pemanah kekaisaran melepaskan hujan panah berapi dari atas dinding. Langit seolah-olah dipenuhi oleh bintang jatuh yang membawa kematian.
Elara melompat ke atas pagar kapal. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar, membiarkan energi dari reinkarnasinya—energi yang berasal dari ambang kematian—mengalir keluar. "Dinding Air, Bangkitlah!"
Sebuah gelombang raksasa setinggi sepuluh meter muncul dari teluk, menelan semua panah berapi itu sebelum sempat menyentuh dek kapal. Gelombang itu tidak berhenti; ia menghantam Gerbang Air dengan kekuatan ribuan ton air.
BRAKKK!
Pintu besi itu bengkok dan terlepas dari engselnya. Jalan menuju jantung ibu kota kini terbuka lebar.
Pendaratan Berdarah
Kapal-kapal Avalon menghantam dermaga ibu kota dengan keras. Alaric adalah orang pertama yang melompat turun, pedangnya menebas tiga ksatria ordo Matahari dalam satu gerakan melingkar yang sempurna. Ia bergerak seperti dewa kematian, setiap ayunan senjatanya membuka jalan bagi pasukan Avalon yang mulai merangsek masuk.
Elara turun dengan langkah yang lebih anggun namun tak kalah mematikan. Ia membawa beberapa botol alkimia peledak dan menyebarkannya ke arah formasi pertahanan musuh.
"Kalian tidak berjuang untuk Kaisar!" Elara berteriak kepada para prajurit kekaisaran yang mulai ragu melihat kekuatan mereka. "Kalian berjuang untuk seorang pria yang membiarkan rakyatnya kelaparan sementara ia menyembunyikan emas Solis Invicta di bawah takhtanya!"
Di tengah pertempuran dermaga yang riuh, sesosok pria dengan zirah emas yang sangat mewah muncul dari balik barisan musuh. Dia adalah Grand Duke Orpheus, pria yang namanya ada di daftar hutang Valerius.
"Elara Lane! Alaric von Ravenhurst!" suara Orpheus menggelegar. "Kalian membawa aib ke kota ini! Aku sendiri yang akan memancung kepala kalian!"
Orpheus menerjang Alaric dengan tombak besar yang berpendar cahaya emas. Pertempuran antara dua Grand Duke itu pecah dengan sangat dahsyat, menciptakan gelombang kejut yang menggetarkan bangunan-bangunan di sekitar dermaga.
Siasat Terakhir di Tengah Badai
Sementara Alaric tertahan oleh Orpheus, Elara melihat celah untuk bergerak menuju istana. Namun, ia menyadari sesuatu. Di menara tertinggi istana, sebuah cahaya merah tua mulai menyala dengan ritme yang aneh.
"Itu... bukan sihir pertahanan," Elara berbisik ngeri. "Itu adalah ritual penghancuran diri."
Kaisar, dalam keputusasaannya, tidak berniat menyerahkan takhtanya. Jika ia kalah, ia berencana untuk meledakkan seluruh ibu kota menggunakan cadangan kristal mana yang tertanam di bawah istana.
"Alaric! Selesaikan Orpheus sekarang! Kaisar akan meledakkan kota ini!" Elara berteriak sambil mulai berlari menuju arah menara, menembus kerumunan prajurit yang bertikai.
Alaric mendengar teriakan Elara. Dengan raungan yang memecah langit, ia membiarkan tombak Orpheus menggores bahunya agar ia bisa masuk ke jarak dekat. Duskbringer menusuk tepat ke jantung Orpheus, menembus zirah emasnya seolah-olah itu hanya kertas.
"Pergilah, Elara!" seru Alaric sambil mencabut pedangnya dari tubuh Orpheus yang jatuh tersungkur. "Aku akan menahan pasukan di sini! Hentikan kegilaan di atas sana!"
Elara terus berlari, napasnya tersengal, pakaiannya bersimbah darah musuh. Ia tahu bahwa waktu yang ia miliki tidak lebih dari lima menit. Di atas menara itu, ia tidak hanya akan berhadapan dengan seorang kaisar yang gila, tapi dengan takdir yang telah ia coba ubah sejak ia membuka matanya kembali di kehidupan ini.
Malam itu, di bawah hujan yang kini mulai turun dengan deras, Elara Lane menyadari bahwa dendamnya telah membawanya ke titik ini—bukan hanya untuk membunuh mereka yang menyakitinya, tapi untuk menyelamatkan ribuan jiwa dari penguasa yang telah kehilangan kemanusiaannya.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔