NovelToon NovelToon
BUKAN CINTA SESAAT

BUKAN CINTA SESAAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Konflik etika / Romansa
Popularitas:336
Nilai: 5
Nama Author: Anyue

Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .

"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .

Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?

ikuti kisahnya hanya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 13. BCS

Ketika sampai di rumah Prasasti langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Tante Sofia membawa barang-barang dibantu bibi pembantunya.

“Terimakasih, Bi," ucap Tante Sofia.

"Sama-sama, Nyonya," sahut bibi berjalan ke dapur.

Tante Sofia mengambil air mineral dari teko yang ada dimeja makan menuangkan ke dalam gelas dan membawa ke ruang keluarga dimana Prasasti merebahkan tubuh.

Tante Sofia meneguk minuman sampai setengah gelas lalu meletakkan diatas meja.

“Tante tadi melihat calon suamimu berjalan sama seorang perempuan muda dan cantik, mereka terlihat sangat mesra," ucap Tante Sofia melirik Prasasti.

Prasasti terkejut mendengar tantenya membicarakan Albi. Ia duduk memastikan kalau apa yang didengarnya benar. Tante Sofia tersenyum penuh arti, Prasasti merasa dibohongi berdecak.

"Tante melihat dimana, kok aku tidak tahu," kata Prasasti ingin tahu.

"Waktu kita pulang tadi, mereka masuk showroom sambil bergandengan dengan sangat mesra," jawab Tante Sofia yakin.

Prasasti nampak berpikir siapa perempuan yang bersama Albi, ia berencana ingin mengetahui latar belakang Albi, tapi nanti.

“Terimakasih atas informasinya, Tante," Prasasti kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.

"Tante pulang dulu, barang-barang yang kamu perlukan sudah Tante pisahkan tinggal caramu saja yang merapikan, jangan sampai keliru," pesan Tante Sofia setelah menghabiskan minumannya.

Prasasti membuka mata melihat Tante Sofia berjalan ke wastafel mencuci gelas bekas minumannya.

“Masih lama," sahut Prasasti.

"Kamu kalau dibilangin ngeyel terus, lihat saja nanti kamu pasti akan berterimakasih sama Tante," balas Tante Sofia berjalan keluar rumah.

Prasasti kepikiran perkataan tantenya. "Apa benar Albi pergi dengan perempuan lain, atau jangan-jangan mereka punya hubungan atau Albi itu sudah punya istri?"

Biasanya Prasasti tidak pernah memikirkan soal pria tapi sekarang berbeda. Ia merasa heran, kenapa disaat akan menikah justru dikabarkan kalau calon suaminya bersama perempuan lain membuat dirinya merasa tidak dihargai.

___________

"Albi," panggil seseorang.

Albi menoleh ke sumber suara ternyata Dania berdiri tak jauh darinya.

Albi mengalihkan pandangannya merasa jengah. Dania menghampirinya dengan senyum manis. Wajahnya yang dulu biasa saja sekarang terlihat nampak mulus dan sangat cantik setelah operasi plastik.

"Kamu mau kemana, mau aku temani?" Dania menawarkan diri.

"Apa kamu ada urusan disini?" tanya Albi tanpa melihatnya.

“Iya, ada. Tapi sudah selesai, bagaimana kalau kita pergi bersama," katanya sambil mendekatkan tubuhnya dekat dengan Albi.

Albi sedikit menjauh karena merasa risih didekati Dania. Namun, Dania tidak membiarkan kesempatan didepan mata. Ia berusaha mendekati Albi lagi meluluhkan hatinya.

Albi masuk ke dalam mobil diikuti Dania masuk lewat pintu samping. Albi merasa geram dengan sikap Dania yang pemaksa.

"Keluar dari mobilku," usir Albi dengan tegas.

Dania terkejut mendengar suara Albi, ia langsung keluar dengan wajah kesal sambil menggerutu.

"Lihat saja nanti, aku akan gagalkan pernikahan kalian," ancam Dania kemudian pergi ke mobilnya diparkir.

“Kita pergi ke kantor om Alba dulu," perintah Albi kepada sopirnya.

"Baik, Tuan," sahut sang sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.

Sampai di perusahaan Alba,.Albi turun dari mobil melangkah masuk ke perusahaan dengan wajah serius. Beberapa karyawan berbisik membicarakan Albi.

"Kerja, kerja, orang ganteng mau lewat, awas kerjaan tidak fokus," kata salah seorang OB yang sedang melintas didepan para karyawan.

“Minggir kamu, Yudi. merusak pemandangan saja," ucap salah seorang staf mengusir Yudi.

"Yaelah, Kak. Aku juga tiap hari keliling jalan ini milik umum," sahut Yudi berjalan melewati mereka.

“Sudah sana kembali ke tempatmu," usir yang lain ikut menimpali.

“Awas matanya belek loh," sindir Yudi kemudian berlari dengan kencang menghindari amukan para staf karyawan.

Albi masuk ke ruang direktur tanpa mengetuk pintu. Alba sedang berbicara dengan asistennya terkejut melihat Albi masuk.

"Kebiasaan tidak mengetuk pintu kantor orang, tidak punya sopan santun. Sudah mau nikah sikapmu tidak berubah, bagaimana jika sama istrinya nanti," kata Alba.

"Saya permisi, nanti kalau tuan ingin melanjutkan, bisa beritahu saya," kata Asistennya beranjak meninggalkan ruangan.

Setelah asistennya keluar Alba pindah tempat duduk di sofa. "Apa yang kamu pikirkan?"

“Bisa tidak ada laki-laki menggantikanku jadi pengantin?" tanya Albi mengungkapkan apa yang ada dibenaknya.

Alba melihat wajah Albi seperti tertekan. Ia tersenyum kemudian berkata." Kamu butuh pencerahan seroang ustadz agar pikiran dan hatimu seimbang,"

"Om pasti tahu apa yang aku pikirkan saat ini, tolong aku-lah Om," sahut Albi.

“Enak saja mau lepas dari tanggung jawab, bukankah sudah lamaran. Jangan jadi pengecut kamu, Albi,“ bentak Alba tidak suka dengan jalan pikiran Albi.

Albi terkejut Alba membentaknya langsung diam. Ia tidak berani menatap Alba karena wajah Alba kalau sudah marah tidak main-main bisa saja Albi menjadi sasarannya.

“Ikut Om, ayo jalan,“ ajak Alba berjalan keluar dari ruangan.

Albi tidak bisa berkutik seperti dihipnotis berjalan dibelakang Alba. Mereka keluar menuju parkiran dimana mobil Alba terparkir. Saat berada disamping mobil Alba melihat Albi berdecak.

“Anak muda lihat kesana," perintah Alba menunjuk ke arah jalan.

Albi nurut perkataan Alba melihat ke arah jalan. Disana ada orang gila berkeliaran sambil tertawa kemudian berbicara sendiri. Orang gila itu melihat ke arah Albi sambil tersenyum, sepersekian detik berubah marah seperti hendak mengancam membuat Albi bergidik kemudian masuk ke dalam mobil dengan perasaan takut.

Alba tertawa melihat sikap Albi yang ketakutan masuk ke dalam mobil. Albi melirik omnya lalu mengalihkan pandangannya ke belakang melalui kaca spion. Alba mengemudikan mobilnya melaju keluar dari parkiran.

“Kamu tahu apa yang kamu lihat barusan? Itu adalah cermin buat kita ketika putus asa. Kita akan selalu diuji dengan kehidupan yang akan terus berjalan. Kita tidak bisa lari dari masalah, apalagi soal urusan tanggungjawab kemanapun kita pergi pasti akan dituntut dan dihantui rasa bersalah," kata Alba.

Albi mendengar dengan serius. baru kali ini ia mendengar Alba menasehatinya soal kehidupan dan memberi penjelasan tentang orang gila yang menurutnya hal konyol untuk dijadikan nasehat, karena dia manusia normal.

"Kamu akan merasa asing ketika berada ditempat yang tidak kamu kenal, kamu merasa dirimu lebih baik dari orang sekitar, apalagi kamu anak orang terkenal pasti orang lain menyanjungmu," katanya lagi.

Mobil berhenti di depan rumah mewah kemudian mereka turun. Albi terkejut melihat rumah tersebut lalu melihat omnya.

"Ayo kita masuk!" ajaknya sambil berjalan mendahului.

Seorang satpam membukakan pintu untuk mereka kemudian bertanya. “Ada yang bisa saya bantu?“

"Kami ingin bertemu bapak Fabio, apakah beliau ada?" jawab Alba dengan sopan.

"Beliau ada, mari saya antar," jawabnya lalu mengantar mereka masuk ke rumah.

1
sakura
.....
Anyue: kenapa titik-titik
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!