Sebuah kisah cinta yang berakhir sia-sia, dimana ketulusan cinta Reina yang awalnya begitu penuh kebahagiaan bersama dengan Kevin yang diawali dari kisah LDR hingga pada tahun ketiga, tiba-tiba Kevin lost contact yang membuat Reina begitu kecewa dan sakit hati sehingga tak lagi bisa membuka hati untuk siapapun. Cinta Reina serasa habis dikisah cinta yang dia anggap akan berakhir bahagia. Apakah Reina bisa melupakan Kevin? Apakah Reina bisa membuka hati lagi? atau cintanya benar-benar habis dikisah 3 tahun yang sia-sia itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Devan
"Reina" Panggil Devan dengan suara yang khas di telinga Reina.
Reina yang mengenali suara itu pun sontak berbalik. Ia melihat sosok masa lalunya itu.
Devan berjalan kesamping kursi tempat Reina duduk.
"Lama nggak bertemu Na" Ucap Devan dengan panggilan yang familiar. Sejak mereka pacaran dulu, Devan selalu memanggil Reina dengan panggilan Na.
"Kamu ternyata di Jakarta juga Van?" tanya Reina.
"Iya aku baru beberapa hari balik dari Singapura, Minggu depan bakal balik lagi kesana" jelas Devan.
"Gimana kabar kamu Na?" Tanyanya lagi.
"Alhamdulillah Baik. Kamu sendiri gimana?"
"Aku juga sama" jawab Devan singkat.
Devan yang tadinya berdiri membelakangi Reina sambil menatap langit yang penuh dengan cahaya bintang-bintang, kini pun berbalik ke arah Reina dan memilih untuk duduk bersamanya.
Hembusan angin malam begitu sangat terasa. Reina sesekali mengelus bahunya sendiri karena hawa dingin malam yang menyapu lembut tubuhnya yang hanya mengenakan dress.
Devan yang menyadari itu pun membuka Jaket yang ia pakai dan mengenakan ke tubuh Reina.
"Jangan kelamaan menyendiri disini, ntar masuk angin lagi" ucap Devan.
Kata-kata yang sering terdengar ketikan mereka masih pacaran. Tidak ada yang berubah semuanya masih sama. Cowok yang penuh dengan perhatian yang pernah Reina sia-siakan selama ini, kini muncul tepat di depan matanya.
Reina terdiam dan memperbaiki jaket yang pasangkan Devan ke tubuhnya. Hawa malam itu memang sangat dingin. Mereka duduk berdua sambil menikmati bintang-bintang ditemani dengan hembusan angin malam.
Sementara itu pesat masih berlanjut.
"Kamu masih pacaran sama Kevin?" tanya Devan dengan posisi duduk bersedekap dada. Namun pandangannya tidak teralihkan sedikit pun dari langit indah malam ini.
Reina terdiam sejenak sambil menghela nafas panjang.
"Iya masih" jawabnya singkat.
"Malam ini ia tidak datang?" tanya Devan lagi.
"Katanya dia ada urusan penting, makanya nggak sempat kesini" jelas Reina
Terlihat jelas wajah yang tidak ceria itu terukir di wajah wanita itu. Malam perpisahan yang begitu penting bagi Reina, namun orang yang ia sayang tidak bisa hadir.
Devan yang mendengar penjelasan Reina pun hanya mengangguk.
"Oiya kamu kesini sama siapa, Van?" tanya Reina memecah keheningan diantara mereka.
Devan mengalihkan pandangannya, kini tatapannya tertuju pada sosok perempuan cantik di sampingnya itu.
"Aku kesini sendiri" jawabnya singkat
"Nggak sama pacar?" tanya Reina lagi
Devan memperbaiki posisi duduknya.
"Reina, Sejak kita putus 2 tahun yang lalu, aku hanya sibuk bekerja. Untuk menghilangkan rasa sakit ku aku memilih bekerja di Singapura dan berharap bisa cepat move on dari kamu. Namun nggak disangka ya kita kembali bertemu dengan cara seperti ini" Devan tersenyum kecil dan kembali menatap langit malam.
Reina terdiam dan hanya menunduk. Rasa bersalah pun kini mengusik pikirannya. Ternyata secinta ini Devan dengannya. Reina mengira kalau Devan sudah mempunyai kekasih.
"MaafIn aku ya, Van. Waktu itu...." ucapan Reina terhenti karena Devan menutup mulut wanita ini dengan jemarinya.
"Udah Na, Nggak usah di bahas itu hanya masa lalu" Devan tersenyum kecil.
Dalam hati Devan, ia masih berharap dengan Reina. Cinta pertama yang sulit ia lupakan. Sampai sekarang ini Devan masih ada rasa dengan Reina. Ia belum sepenuhnya bisa melupakan wanita itu.
Malam semakin larut. Devan berdiri dari tempat duduknya.
"Ayo Na. Kita masuk. Udara disini semakin dingin" ajak Devan.
Reina pun berdiri dari kursi itu. Ia berjalan di depan Devan . Sementara Devan mengikutinya dari belang namun tiba-tiba saja.
BRUUKK
Devan sontak menangkap tubuh Reina yang hampir jatuh itu. Reina kembali di pelukan laki-laki masa lalunya. Reina terdiam menatap Devan. Jantungnya kembali berdetak tak beraturan.
Devan meneguk ludahnya, jantungnya kini berpacu dengan ritme yang tak beraturan. Aliran darahnya terasa begitu cepat. Devan tersadar dari lamunannya.
"Kamu nggak apa-apa, Na?" tanya Devan sambil membantu Reina Berdiri sempurna.
"Maaf, Van tadi aku kesandung" Jawab Reina dan kembali berjalan menunduk Acara perpisahan yang digelar begitu meriah.
_
_
_
Acara perpisahan Mereka pun masih berlanjut dengan sangat meriah.
Dea, Wiwi dan Lala sedang asik menikmati alunan lagu. Sesekali mereka bernyanyi bersama. Sementara itu Seila dan calon menantunya hanya duduk sambil tertawa melihat keseruan acara ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 malam. Satu persatu tamu undangan mulai pulang. Devan yang berada disana pun berpamitan untuk pulang.
"Om, Tante, Bar, Reina. Aku pamit pulang dulu" ucap Devan sambil mencium tangan Seila dan Robi.
Sebelum Devan Melangkah pergi, ia menatap Reina dengan tatapan yang penuh arti, penuh harap dan pastinya tatapan mata yang sangat tulus.
"Oiya Van, Besok kamu mau ikut nganter Reina dan teman-temannya ke bandara?" Tanya Bara mengajak.
"Mmm,,,Boleh kebetulan besok aku kosong juga" ucap Devan tanpa berpikir panjang. laki-laki bertubuh kekar dan tinggi itu pun perlahan menghilang dari pandangan mereka.
Acara malam ini pun selesai, semua telah kembali untuk beristirahat.
Reina merebahkan tubuhnya. Ia begitu merasa sangat lelah, ditambah lagi Devan kini kembali mengusik pikirannya.
Reina meraih ponselnya dan ingin menelpon kekasihnya itu.
"Hallo, Vin. Kamu masih sibuk?" tanya Reina.
"Mmm, ini sayang aku baru sampai. Gimana Acaranya?" tanya Kevin.
"Mmm,,bagi aku nggak seru. Karena kamu nggak datang" Ucap Reina lesu.
"Maaf ya sayang, hari ini aku sibuk banget" bujuk kevin.
"Oiya, besok aku sudah mau kembali. Kamu ikut kan nganterin aku ke bandara?" tanya Reina penuh harap.
Kevin terdiam dan berpikir sejenak.
"Sepertinya tidak sayang, soalnya kerjaan di kantor aku sudah numpuk" Kevin menolak.
"Ya sudah, tidak apa-apa" ucap Reina kecewa.
Panggilan telepon mereka pun berakhir. Lagi-lagi Reina merasa sangat sedih. Padahal ia berharap bisa bertemu Kevin sebelum kembali. Namun akhir-akhir ini Kevin tidak ada waktu buat Reina. Selain disibukkan dengan kerjaan kantornya, Kevin juga setiap hari ke rumah sakit untuk melihat keadaan Yeni yang belum sadar dari komanya.
"Akhir-akhir ini rasanya ada yang beda dari Kevin. Semoga aja ini hanya perasaanku saja" Batin Reina.
Reina meletakkan Ponselnya di atas meja. Ia kembali merebahkan badannya yang sangat lelah itu. Ia harus tidur lebih awal supaya bisa bangun lebih pagi. Setelah kepulangan mereka, kini hanya Bara, Bu Siti dan Pak Dani yang tinggal di rumah ini. Viona pun hanya sekali-kali datang ke rumah Bara karena merasa tidak enak jika harus serumah sedangkan mereka belum resmi menikah.
Semua barang-barang yang akan di bawa pulang pun sudah mereka siapkan. Mereka akan berangkat pagi, jadi semua harus disiapkan malam ini juga.
_
_
_
🤗🤗🤗