Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE DUA PULUH DUA
Mobil yang dikemudikan Bastian berbelok melewati pintu gerbang dan berhenti tepat didepan pintu masuk kediaman Ayah Alex.
Bergegas Rani, Dena dan Livia segera turun begitu mobil berhenti. Mereka seolah sengaja memberi ruang untuk Bastian dan Siena.
"Den, kamu merasa tidak kalau sikap Bastian itu berbeda?" ujar Rani berbisik
"Berbeda bagaimana maksud kamu, Ran?". Bukan Dena yang menyahut melainkan Livia
"Bastian seperti bukan layak nya bodyguard biasa yang profesional. Dia seperti-"
"Ssstt!! Sudahlah jangan dibahas lagi. Mau Bastian itu profesional atau tidak itu bukan urusan kita. Dia bodyguard yang ditugaskan khusus untuk menjaga Siena. Kita harusnya bersyukur saja karena tanpa Bastian, mungkin dua pria tadi akan menyerang kita". Sela Dena cepat
Rani mengerucutkan bibirnya, namun akhirnya memilih diam. Meski begitu, tatapannya tak lepas dari arah mobil yang masih terparkir di depan rumah megah itu.
Di dalam mobil, suasana justru jauh lebih sunyi.
Mesin telah mati, namun tak satu pun dari mereka langsung turun. Siena menatap ke arah Bastian yang masih memegang setir. Nafas pria itu terdengar sedikit berat, bahunya naik turun perlahan.
Baru saat itulah Siena menyadari jika bukan hanya lengan yang terluka. Tapi, wajah tampan Bastian juga dipenuhi lebam. Bahkan ada goresan tipis dipelipisnya dan darah merah samar mengalir melewati garis rahang tegasnya.
"Bas, kau benar baik-baik saja?" ujar Siena terus bertanya, raut wajahnya sedari tadi menunjukkan kekhawatiran.
Bastian menoleh menatap kearah Siena dengan sorot mata yang tajam namun teduh. Ia menggeleng kecil.
"Ya, saya baik-baik saja nona. Lebih baik anda segera turun dan beristirahat". Sahut Bastian
"Tapi luka mu?".
"Ini hanya luka kecil nona. Setelah ini saya pamit undur diri".
Kau ingin pulang?" ujar Siena, ia seperti tak menyukai jawaban itu.
Bastian tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras samar, seolah ada sesuatu yang ia tahan. Tangannya masih bertumpu pada setir, namun jemarinya perlahan mengepal hingga buku-bukunya memutih.
"Saya hanya perlu memastikan Anda aman, nona. Tugas saya selesai sampai di sini."
Nada suaranya datar. Terlalu datar.
Justru itu yang membuat Siena semakin tidak tenang.
"Selesai?" ulang Siena pelan. "Kau bahkan hampir—"
Kalimatnya terhenti saat Bastian tiba-tiba menarik napas dalam. Gerakan kecil, tapi cukup membuat bahunya bergetar. Ia memalingkan wajah, seolah tak ingin Siena melihat sesuatu.
Tapi, sayangnya Siena orang yang peka. Ia sontak mendekat dan menyentuh lengan Bastian lembut.
"Bas, kau baik-baik saja ?" tanyanya lagi, namun kali ini raut wajahnya semakin terlihat khawatir
"Hmm". Sahut Bastian berdehem tanpa menoleh menatap Siena.
"Bisakah saya pulang sekarang nona?" ujarnya dengan suara yang terdengar rendah dan tertahan.
Nafasnya pun terasa berat.
Sejujurnya, luka seperti ini bukan apa-apa bagi Bastian. Tubuhnya sudah terlalu akrab dengan rasa sakit.
Namun yang menguras tenaganya bukan pertarungan tadi, melainkan usaha menahan dirinya agar tidak berubah menjadi sosok yang selama ini ia sembunyikan dari Siena.
Hening kembali menyelimuti kabin mobil.
Siena menatapnya lama. Ada sesuatu yang berbeda malam ini. Bastian biasanya tegak, dingin, dan tak tergoyahkan—seperti tembok yang tak mungkin runtuh. Tapi sekarang, pria itu terlihat… manusiawi. Rapuh, meski hanya sedikit.
Dan justru itu membuat dada Siena terasa sesak.
"Kau tidak terlihat baik-baik saja," ucap Siena pelan, hampir seperti bisikan.
Bastian menghela napas berat. Tangannya terangkat hendak membuka pintu, namun gerakannya terhenti di tengah jalan. Untuk sepersekian detik, pandangannya mengabur.
Rasa nyeri menusuk dari sisi rusuknya.
Ia menahannya.
Selalu begitu.
Namun tubuh memiliki batas.
Siena refleks menahan lengannya. Sentuhan itu ringan, tapi cukup membuat Bastian membeku. Tatapannya jatuh pada tangan kecil yang menggenggam ujung kemeja nya.
"Jangan pulang dulu," kata Siena tanpa sadar. Suaranya lirih, tapi penuh kekhawatiran. "Setidaknya obati lukamu."
Bastian tersenyum tipis, senyum yang nyaris tak terlihat.
"Luka seperti ini tidak berarti apa-apa bagi saya, nona."
"Itu bukan alasan untuk membiarkannya." Sahut Siena cepat
Kalimat itu membuat Bastian terdiam.
Siena tidak tahu bahwa pria yang ada di sampingnya ini pernah berjalan keluar dari genangan darah tanpa mengerang sedikit pun. Bahwa luka tembak pun pernah ia abaikan hanya demi menyelesaikan urusan.
Namun sekarang, goresan kecil ini terasa jauh lebih berat.
Karena ada seseorang yang memperhatikannya.
Bastian menunduk sebentar, napasnya kembali berat. Rahangnya mengeras saat mendengar suara teriakan samar dari luar rumah terdengar, Rani dan yang lain memanggil Siena.
Kesempatan untuk pergi.
Seharusnya ia pergi.
Tapi tubuhnya tidak bergerak.
"Bas…" panggil Siena lagi, lebih lembut kali ini.
Dan sesuatu di dalam diri Bastian runtuh sedikit.
Ia akhirnya menoleh. Mata gelapnya menatap Siena dalam—terlalu dalam hingga membuat Siena kehilangan kata-kata.
"Apa anda selalu sepeduli ini pada bodyguard anda sebelumnya nona?" tanyanya rendah.
Siena terdiam.
Pertanyaan itu terdengar ringan, namun ada nada berbahaya tersembunyi di dalamnya.
"Aku peduli pada orang yang terluka karena melindungiku," jawabnya jujur.
Jawaban sederhana itu justru menjadi pukulan paling keras bagi Bastian.
Jemarinya kembali mengepal.
Bukan karena sakit.
Melainkan karena keinginan yang hampir lepas kendali. Keinginan untuk berhenti berpura-pura menjadi pria biasa di hadapan wanita itu.
Ia memejamkan mata sejenak, lalu membuka pintu mobil perlahan.
"Baik," ucapnya akhirnya, suara rendahnya sedikit serak. "Hanya sebentar."
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Siena melihat Bastian berjalan keluar mobil dengan langkah yang tidak sepenuhnya kokoh.
Seolah pria yang selalu berdiri paling kuat itu akhirnya mengizinkan dirinya terlihat lemah.
Hanya di depan Siena.
Melihat Bastian sudah turun, bergegas Siena menyusulnya. Dena dan lainnya segera mendekat.
"Na..." panggil Dena
"Bantu aku memapah Bastian masuk," pinta Siena pada ketiga sahabatnya lalu berdiri di sisi kanan pria itu. Tangannya dengan cepat melingkarkan lengan Bastian yang tidak terluka ke bahunya, sementara sebelah tangannya meraih pinggang Bastian untuk menopang tubuh pria itu.
Dena mengangguk dan segera membantu Siena. Namun, saat tangannya hendak meraih tangan Bastian dengan cepat pria itu langsung menjauh.
"Jangan sentuh aku, cukup nona Siena yang membantu ku masuk kedalam rumah". Tolak Bastian dengan tegas.
Ia tidak ingin disentuh oleh siapapun, kecuali Siena.
Mendengar suara bariton Bastian yang sedikit meninggi itu membuat Dena tersentak kaget. Refleks ia memundurkan langkah kakinya dan tangannya masih mengantung diudara.
"B-baik". Sahut Dena lirih
Tanpa banyak bicara lagi, Siena segera memapah tubuh besar Bastian dan membawanya masuk kedalam.
Sementara, Dena dan yang lain nya masih memaku ditempat melihat interaksi itu.
.
.
.
Haii temen-temen jangan lupa dukungannya yaa.... Like, vote dan komen.. Terimakasih ♥️🫶🏻
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut