NovelToon NovelToon
TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_va

Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.

Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.

Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.

Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.



Simak cerita selengkapnya 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

"Jia...." Sekar memberikan kode.

Jia maju dua langkah, memberikan paper bag pada Sekar. Lalu mundur lagi. Menahan tawa karena wajah Gita yang serupa hantu. Sekar memberikan paper bag itu pada Yuni.

"Oleh-oleh dari saya, Bu. Semoga suka."

"Nggak perlu repot-repot, Bu Sekar." Yuni tidak mau menerimanya. Mendorong pelan tangan Sekar.

"Ibu Yuni kan, masih kerabatnya Nara. Saya hanya ingin lebih mengenal. Tapi baiklah kalau tidak mau," kata Sekar.

"Baiklah kalau dipaksa," ujar Yuni mengambil paper bag itu. Tersenyum kaku, lebih mirip meringis seperti anak kecil karena pura-pura ramah.

Baik Yuni maupun Gita melihat Sekar dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gita menelisik perhiasan seperti anting, gelang, dan jam tangan. Yuni menyukai kulit Sekar yang mulus dan aroma wangi parfum yang lembut.

"Nggak dipersilakan masuk?" celetuk Jia.

"Oh...." Yuni yang gelagapan memandang ke arah Gita. Bagaimana bisa menyuruh masuk Sekar yang notabene adalah mertua Nara? Apapun yang berkaitan dengan Nara, Yuni tidak suka.

"Silakan masuk," ucap Gita.

"Tidak perlu. Terima kasih." Sekar tersenyum ramah.

"Ayo, Jia."

Sekar meninggalkan teras rumah diikuti Jia yang sempat melotot tajam ke arah Yuni.

"Dih, apaan sih tuh orang...." desis Gita.

Yuni masuk ke rumah, melempar paper bag itu ke atas sofa. Gita yang penasaran mengambilnya. Isi paper bag ada roti sisir, sebotol parfum, lilin aroma terapi, dan kemeja putih motif garis-garis halus biru muda.

"Itu buat mama!" Yuni mengambil kemeja, padahal tadi paper bag dilempar.

Gita membuka kotak parfum merek Miss Dior, berdecak sinis, mengatakan masih mampu beli parfum merek yang harganya kisaran satu juta lima ratus sampai empat jutaan rupiah itu.

Namun, terpapar fakta kalau harta Sekar tidak mampu ditandingi. Bahkan untuk beli dua bus mungkin harus menjual rumah dan mobil. Serta menguras tabungan.

Gita menghela napas. Andaikan dulu tidak minta putus... pasti punya mertua sebaik Sekar.

"Kayak apa sih rotinya, Pak RT bilang premium."

Yuni membuka kotak kardus roti, isinya ada sepuluh bungkus. Dia mulai mencicipi, rasanya enak di lidah.

Di luar rumah, Sekar berhenti sebentar melihat pagar yang memisahkan dua rumah. Lalu melanjutkan langkah kakinya.

Risna yang menunggu di teras rumahnya terlihat cemas. Karena tahu bagaimana tabiat Yuni. Khawatir diperlakukan tidak baik.

"Kenapa kalian semua ada di teras?" Sekar tertawa kecil melihat Rama dan yang lainnya berdiri di teras.

"Saya sudah terbiasa menghadapi orang-orang seperti Yuni. Bahkan lebih parah."

"Karena Yuni agak-agak, Bu," ucap Risna.

"Lah itu tadi ngintip."

"Ha ha ha iya ... Saya pamit dulu. Terima kasih untuk sotonya." Sekar dengan ramah menyalami Rahmat dan Risna. Yuda ditepuk pundaknya.

Nara menerima pelukan dari Sekar. Terasa hangat dan nyaman.

"Kapan-kapan mama ingin mengajakmu ke rumah mama." kata Sekar.

"Iya, Ma." Nara menyahut singkat.

Sekar beralih ke Rama, menepuk-nepuk lengan atas putranya. Memberikan nasehat supaya menjaga Nara dengan sebaik-baiknya.

Rama mengangguk. "Itu pasti, Ma."

"Nara, kalau Rama nakal, telpon mama," gurau Sekar.

"Baik, Ma." Nara mengulum senyum.

Rama bergegas membukakan pintu mobil untuk mamanya. "Sampai jumpa, Ma."

Mobil sedan yang dikemudikan sopir berseragam abu-abu tua itu, melaju meninggalkan halaman rumah Rahman.

Rama yang berdiri di dekat pagar depan rumah, memandangi mobil sampai di ujung jalan. Rama menarik napas dalam-dalam, betapa sangat mengasihi ibunya.

"Mas...." Nara mendekati Rama yang masih berdiri.

"Aku merasa ada yang tertinggal. Setahun lebih tidak bertemu dan minim komunikasi. Aku pikir, akan selamanya tidak bisa bertemu," kata Rama

Nara mengusap punggung suaminya. Untuk pertama kali melihat suaminya agak rapuh.

"Ayo, bantu ibu beres-beres," ajak Rama merangkul pundak Nara.

Nara sempat menoleh ke arah rumah sebelah, sempat terkaget-kaget melihat sosok di balik jendela berwajah putih. Lalu teringat Gita yang tadi terlihat memakai masker putih.

Yuda tengah mencuci kaus jersey di belakang. Diberikan pewangi pakaian kemudian digantung di jemuran.

"Yuda, jangan lupa dibawa masuk kaosnya. Nanti hilang." Nara mengingatkan.

Rama dan Nara memutuskan menginap karena malas balik ke rumah kontrakan. Masih jam delapan malam, keduanya tidur bersebelahan.

"Nara, jika aku tetap memilih kehidupan sehari-hari seperti saat ini, apakah kamu akan kecewa?" tanya Rama.

"Maksudnya Mas?" Nara tidur miring, menatap sang suami.

"Aku nggak mau balik ke keluargaku. Malas saja karena ada orang-orang yang culas. Biarkan Mas Radit yang memegang perusahaan," jelas Rama menghela napas pendek.

"Aku nggak keberatan, kok," ucap Nara.

"Aku nurut Mas Rama aja."

Rama miring menghadap Nara. "Aku senang sekali mendengarnya." Tangan kanannya yang nakal menyibak kaus Nara.

"Mas." Nara menahan tangan Rama.

"Katanya nurut ...." Telapak tangan itu menyusup di balik bra.

"Tapi masih jam segini ih... yang aku maksud nurut keputusan Mas Rama," tolak Nara, mendengar suara Yuda yang cekikikan entah apa yang ditertawakan.

Nara juga tahu, bagaimana suaminya cukup ganas ketika bercinta. Namun, tidak kuasa juga saat sang suami mulai menyusu. Hanya mampu menahan desah dan menjambak rambut suaminya.

...****************...

Sudah lama tidak bertemu dengan sahabatnya, Nara menerima ajakan Ajeng. Siang-siang, mereka jalan di mall. Intan tidak bisa ikut karena sedang mudik.

Nara belum memberitahu tentang identitas suaminya secara keseluruhan. Menunggu masalah internal di keluarga Rama selesai.

Mereka berdua memasuki toko pakaian. Melihat ke sana kemari, tidak ada yang menarik. Ajeng berhenti di bagian pakaian dalam wanita. Melihat-melihat beberapa model yang beragam warna.

"Nara, enak nggak punya suami?" tanya Ajeng, melangkah lagi menuju deretan rok.

"Jangan bilang enaknya cuma bercinta ...."

Nara tertawa kecil. Lalu menjawab pelan.

"Enak nggak enak. Karena aku harus beradaptasi dengan Mas Rama yang apa-apa selalu rapi dan terorganisir. Beda dengan aku yang agak ceroboh. Jarang sekali makan di luar, lebih suka memasak sendiri."

"Iya, ya, sikap lelaki kan, kadang beda dengan waktu pacaran ...."

"Aku nggak pacaran, jadi nggak tahu bedanya. Tahu-tahu jadi istrinya," ujar Nara.

Mereka berdua keluar dari toko pakaian, jalan keliling tanpa tujuan jelas. Lantas berhenti di kedai minuman, membeli es kopi.

Ajeng mengajak Nara ke rumah teman satu pekerjaan yang seminggu lalu melahirkan.

"Kamu nggak bawa kado?" tanya Nara saat mereka di dalam taksi. Nara menyedot es kopi sampai habis.

"Aku kasih uang aja untuk ibunya." Ajeng menunjukkan amplop cantik motif bunga.

"Si bayi belum tahu apa-apa. Nggak apa-apa, kan?"

Nara manggut-manggut. "Ada benarnya. Uang itu bisa juga kok digunakan untuk kebutuhan bayi."

"Aku mikir juga gitu." Ajeng tersenyum lebar.

Mobil taksi memasuki perumahan, melaju agak lambat karena melewati beberapa polisi tidur.

Nara turun dari mobil yang berhenti di depan rumah tanpa pagar. Ajeng menggandeng lengannya, menarik agar berjalan ke arah pintu rumah.

"Kamu itu, istri yang tidak becus!! Suami nggak pernah dimasakin!"

Ajeng yang kepo berhenti melangkah, memandangi rumah sebelah.

"Aku istri bukan pembantu!"

Nara menarik tangan Ajeng. "Ayo, Ajeng."

"Sepertinya pertengkaran antara ibu dan mertua," celetuk Ajeng.

"Eh, menantu dan mertua. Eh, suaranya juga familiar ya. Itu rumahnya si Git git?"

"Aku nggak tahu rumahnya. Mungkin itu memang rumahnya ." sahut Nara.

*

*

*

*

*

Sedikit dulu. 🙏

Di tempat kalian hujan angin juga kah ?

Buat kalian semua dimana pun kalian berada selalu hati². Cuaca lagi tidak menentu 😔

1
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
sepanjang jalan kenangan kak😂
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜: Nah itu masalah nya😭😭😭😭🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
꧁ռǟռǟ꧂
panggilan pak rete Kayak nama korea "suho eh suha" 😄😄😄
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Pingsan dong Bu😂😂😂

Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Hmmmmm kecelakaan Radit di sengaja,

Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨

Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Iri bilang bos 😂

Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,

Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
Tri Wahyuni: si gita minta di tampol 😭🤭
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
mulai kebongkar nih siapa Bianca...
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Yg banyak atuh kak,
nanggung kelanjutan nya 😬😬
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Bu Risna Shok ternyata memiliki menantu orang kaya😂😂
Tri Wahyuni: shik shak shock 🤭🤣
total 1 replies
꧁ռǟռǟ꧂
suka sama ceritanya tentang kehidupan sehari hari,, baca sambil bayangin, Kalo gk masuk di bayangan brati ceritanya kurang masuk di Hati......
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
syirik bgt sih nih orang.. 😂😂
Tri Wahyuni: minta di tampol kayanya 😭🤣🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
Nara maklumi saja suami mu ya dia kan polos...😂😂
Tri Wahyuni: pura² polos 🤣🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor..
Tri Wahyuni: baik. di tunggu updatenya kak 😍
total 1 replies
Poni Jem
sampai saat ini belum ada typo. masih baik untuk dibaca. semangat trs 👌
Tri Wahyuni
bagus 🥰
Tri Ayu
semangat berkarya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!