Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan singkat
Bel sekolah berbunyi seperti biasa.
Tapi hari ini bunyinya terasa berbeda... atau mungkin Yuna yang berbeda, karena ia berjalan keluar dari gerbang dengan kepala yang masih penuh oleh satu pertanyaan yang tidak bisa ia singkirkan sejak meninggalkan ruang guru tadi siang.
"Di mana Lily?"
Mega berjalan di sebelahnya dengan tas yang disandang di satu bahu dan wajah yang mencerminkan hal yang persis sama. Mereka tidak banyak bicara sejak keluar dari ruang Bu Wening. Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, justru sebaliknya. Terlalu banyak. Dan tidak ada yang tahu harus memulai dari mana.
Halaman depan sekolah masih ramai... Yuna baru saja meraih kunci mobilnya ketika suara memanggil dari arah berlawanan.
"Mbak—mbak, permisi."
Keduanya menoleh.
Dua orang dewasa berjalan cepat ke arah mereka dari sisi parkiran... seorang perempuan berbaju batik dengan rambut yang sudah mulai memutih di pelipis, dan seorang pria berkemeja lengan panjang yang sudah dilipat hingga siku, wajahnya menyimpan kelelahan yang bukan jenis kelelahan setelah bekerja seharian, melainkan jenis yang lebih dalam dan lebih lama dari itu.
Yuna mengenali mereka, meski tidak langsung.
Ia pernah melihat foto mereka di ponsel Lily. Sekali, dua kali... latar belakang lebaran atau momen makan malam keluarga yang Lily tampilkan dengan ekspresi campuran antara sayang dan lelah.
Orangtua Lily.
---
"Kalian teman Lily, ya?" Sang ibu bicara lebih dulu, suaranya terlalu terkontrol untuk ukuran seseorang yang anaknya menghilang. Terkontrol dengan cara yang terasa seperti seseorang yang sudah menangis terlalu banyak hingga tidak ada yang tersisa.
"Iya, Bu." Mega menjawab sebelum Yuna sempat. "Kami sekelas."
"Kalian teman dekatnya?"
"Ya."
Sang ibu mengangguk. Menggenggam tangan suaminya sebentar, lalu melepaskannya lagi. "Kami sudah ke kantor polisi tadi pagi. Laporan sudah masuk. Tapi kata mereka masih perlu waktu." Nadanya datar menyebut itu, datar dengan cara yang menyembunyikan seberapa absurd prosedur itu terasa ketika anakmu tidak ada di rumah dan jam terus berjalan. "Kami ke sini karena... mungkin kalian tahu sesuatu yang tidak kami tahu."
Yuna dan Mega bertukar pandang.
"Terakhir Lily ngomong apa ke kalian?" sang ayah bertanya. Suaranya lebih rendah dari istrinya, tapi ada getaran di sana yang ia tidak sepenuhnya berhasil sembunyikan. "Cerita tentang apa. Mau ke mana. Siapa pun yang mungkin..."
"Kami juga tidak tahu, Pak." Yuna menjawab dengan jujur, dan ia merasakan betapa tidak memadainya kalimat itu begitu keluar dari mulutnya. "Kami sudah coba menghubungi Lily sejak beberapa hari lalu. Tidak ada balasan. Semua nomor tidak aktif atau tidak diangkat."
Sang ibu menutup matanya sebentar.
Hanya sebentar. Lalu membuka lagi.
"Tidak ada yang Lily ceritakan sebelumnya? Tidak ada yang aneh? Perubahan perilaku, mungkin, atau..."
"Lily terlihat baik-baik saja minggu lalu," kata Mega pelan. "Maksud saya...dia normal. Seperti biasa. Kami tidak melihat tanda-tanda apa pun."
Yuna tidak sepenuhnya setuju dengan itu, tapi ia memilih diam. Karena apa yang akan ia katakan sebagai gantinya? Bahwa Lily pernah menyebut sesuatu yang terasa tidak penting waktu itu tapi sekarang terasa seperti potongan teka-teki yang ia buang tanpa sadar? Bahwa ia mungkin kurang mendengarkan?
Tidak ada kalimat yang cukup untuk diucapkan di sini.
"Kalau kalian ingat sesuatu," katanya. "Apa pun. Tolong hubungi kami."
Yuna mengambil kartu itu. Mengangguk. Dan berdiri di trotoar bersama Mega menonton pasangan itu kembali ke mobil mereka dengan langkah yang terasa seperti orang yang membawa sesuatu yang sangat berat tapi tidak punya pilihan lain selain terus berjalan.
---
"Om Juan."
Mega mengucapkan nama itu duluan, ketika suara mesin mobil orangtua Lily sudah menghilang di tikungan.
Yuna menoleh ke arahnya.
"Kita harus ke Om Juan." Mega menyandang tasnya lebih tinggi. Rahangnya mengeras sedikit, ekspresi yang Yuna kenali sebagai Mega mode serius, versi gadis itu yang muncul ketika ia sudah memutuskan sesuatu dan tidak ingin berdebat panjang tentangnya. "Kalau ada orang yang tahu di mana Lily sekarang, itu dia."
Yuna tidak langsung menjawab.
Om Juan...begitu Lily memanggilnya, dengan nada yang berbeda tergantung situasi. Kadang lembut, kadang frustrasi, kadang dengan keengganan tipis yang Lily sendiri mungkin tidak sadar ia perlihatkan. Pria tiga puluh lima tahun, duda, bekerja sebagai manajer di perusahaan yang Yuna tidak terlalu ingat bergerak di bidang apa. Lily tidak banyak bercerita tentangnya secara detail... hanya potongan-potongan kecil yang muncul di sela percakapan lain.
Tapi dari potongan-potongan itu, Yuna punya gambaran yang cukup.
"Kamu tahu alamatnya?" tanya Yuna.
"Lily pernah share lokasi kantornya waktu itu. Masih tersimpan di chat kita." Mega sudah membuka ponselnya. "Masih jam kerja. Harusnya dia masih di sana."
Yuna menatap kunci mobil di tangannya.
Lalu mengangguk. "Ayo."
Kantor tempat Juan bekerja terletak di gedung perkantoran delapan lantai di kawasan bisnis yang tidak terlalu jauh dari sekolah mereka, cukup jauh untuk ditempuh jalan kaki, cukup dekat untuk tidak terasa seperti perjalanan jauh. Yuna memarkir mobilnya di basement gedung, dan mereka naik lift ke lantai lima dengan diam yang berbeda dari diam di trotoar tadi.
Yang ini lebih tegang.
Resepsionis di lantai lima memandang mereka dengan tatapan yang jelas menggambarkan apa yang ia pikirkan... dua siswi SMA dengan seragam yang belum sempat diganti meminta menemui seorang manajer tanpa janji temu sebelumnya. Tapi Mega berbicara dengan nada yang tidak meninggalkan banyak ruang untuk penolakan, dan tiga menit kemudian mereka duduk di kursi tunggu dengan kartu pengunjung tergantung di dada.
Juan keluar dari ruangannya lima menit kemudian.
Yuna menilainya dalam diam, seperti yang selalu ia lakukan terhadap orang baru. Tinggi, rapi, dengan wajah yang tampan dalam definisi yang tidak mencolok. Ada kantung tipis di bawah matanya yang bisa berarti kurang tidur atau terlalu banyak pikiran, dan ia berjalan ke arah mereka dengan cara seseorang yang sudah menduga bahwa kedatangan dua orang ini tidak akan membawa kabar baik.
"Teman-teman Lily?" tanyanya begitu cukup dekat. Suaranya lebih muda dari yang Yuna bayangkan.
"Iya." Mega berdiri. "Maaf datang langsung ke sini. Kami..."
"Lily hilang." Ia mendahului. Bukan pertanyaan.
Keduanya terdiam.
Juan menghela napas panjang melalui hidung. Ia melirik ke arah resepsionis sebentar, lalu mengangguk ke arah sudut ruangan yang lebih sepi. "Mari ke sana dulu."
Mereka duduk di sofa sudut ruang tunggu yang setengah tersembunyi di balik sekat kaca buram. Juan duduk di seberang mereka, siku di lutut, jari-jarinya dikaitkan di depannya.
"Terakhir kali aku mendengar kabar dari Lily," katanya tanpa basa-basi, "seminggu yang lalu. Malam Selasa. Dia kirim pesan bilang butuh waktu sendiri. Setelah itu..." Ia menggeleng sedikit. "Tidak ada lagi."
"Nomor teleponnya tidak aktif," kata Yuna.
"Aku tahu. Aku sudah coba." Sesuatu bergerak di wajah Juan... sebentar saja, tapi cukup untuk tertangkap. "Berkali-kali."
Mega menyandarkan diri ke sofa, memandang pria itu dengan intensitas yang ia tidak berusaha sembunyikan. "Sebelum itu, apa ada yang tidak beres? Sesuatu yang terjadi antara kalian, atau..."
"Tidak." Cepat. Terlalu cepat, mungkin... tapi kemudian Juan mengulang dengan nada yang lebih pelan, lebih hati-hati. "Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada yang..." Ia berhenti. Menggosok rahangnya. "Kami baik-baik saja. Atau setidaknya, aku pikir kami baik-baik saja."
Kalimat terakhir itu keluar dengan cara yang terdengar seperti seseorang yang baru menyadari bahwa pikir dan tahu adalah dua hal yang sangat berbeda.
Yuna mengamatinya.
Ada bagian dari dirinya yang datang ke sini dengan sudah menyiapkan skeptisisme, karena mudah saja bagi seseorang seperti Juan untuk mengatakan semua hal yang tepat dengan ekspresi yang tepat. Tapi ada sesuatu di cara pria itu duduk, di kantung di bawah matanya, di cara jarinya dikaitkan terlalu erat, yang terasa sulit untuk dipalsukan.
Ia terlihat seperti seseorang yang juga tidak tidur nyenyak dalam seminggu terakhir.
Mereka bertanya beberapa hal lagi, pertanyaan-pertanyaan yang masing-masing dijawab Juan dengan versi yang berbeda dari aku tidak tahu... sebelum akhirnya tidak ada lagi yang bisa ditanyakan.
Mereka pulang dengan tangan kosong.
---
Sore sudah sepenuhnya turun ketika Yuna mengemudi keluar dari basement gedung. Lampu-lampu jalan mulai menyala, langit berubah warna menjadi campuran jingga dan abu yang terlihat indah dengan cara yang tidak adil untuk hari yang terasa seperti ini.
Mega duduk di kursi penumpang dengan lutut ditekuk dan dagu ditopang di atas lutut, menatap ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun.
"Kamu percaya dia?" tanya Mega akhirnya.
Yuna tidak langsung menjawab. Jarinya mengetuk setir pelan... satu dua tiga, satu dua tiga... kebiasaan yang muncul tanpa disadari ketika ia sedang memproses sesuatu.
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Tapi... ya. Ekspresinya susah untuk dibuat-buat."
Mega menghembuskan napas. "Jadi benar-benar tidak ada yang tahu di mana dia."
"Terlihat begitu."
"Lalu Lily di mana?"
Tidak ada jawaban untuk itu. Yuna tidak punya. Mega tidak punya. Dan keheningan yang mengisi celah setelah pertanyaan itu terasa seperti sesuatu yang bisa diraba...berat dan tidak nyaman di udara antara mereka.
Yuna berbelok ke arah perumahan tempat Mega tinggal. Masih sepuluh menit lagi. Lampu merah di depan menyala, dan ia berhenti, menonton kendaraan dari arah berlawanan melintas satu per satu.
Ponsel Mega berbunyi.
Notifikasi pesan biasa... tapi Mega tidak langsung membukanya seperti biasanya. Yuna hampir tidak memperhatikannya ketika Mega tiba-tiba tegak.
"Yuna."
Nada suaranya membuat Yuna langsung menoleh.
Mega menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang tidak bisa langsung Yuna baca.
"Apa?"
Mega memutar layar ponselnya ke arah Yuna.
Nomor tidak dikenal. Pesan pendek. Tapi nama pengirim yang tertulis di baris pertama membuat dada Yuna serasa ditekan dari dalam.
["Ini Lily. Pakai nomor baru. Jangan bilang siapa-siapa dulu. Aku baik-baik aja tapi aku butuh kalian. Bisa datang ke alamat ini?"]
Di bawahnya, sebuah alamat. Nama jalan yang Yuna tidak langsung kenali, di kawasan yang terasa familiar tapi tidak bisa ia tempelkan pada peta yang ada di kepalanya.
Lampu lalu lintas di depan berganti hijau.
Yuna tidak langsung menginjak gas.
Ia membaca pesan itu sekali lagi. Dua kali. Matanya berhenti di tiga kata di tengah kalimat itu...kata-kata yang seharusnya menenangkan tapi entah kenapa justru tidak sepenuhnya melakukan itu.
"Aku baik-baik aja."
Orang yang benar-benar baik-baik saja biasanya tidak perlu menghilang dulu untuk mengatakannya.
Klakson dari mobil di belakang membuatnya sadar bahwa lampu sudah hijau cukup lama.
Yuna menginjak gas.
"Kita ke sana," katanya. Bukan pertanyaan.
Mega mengangguk. Sudah mengetik balasan.
Dan malam mulai turun sepenuhnya di atas kota yang tidak tahu bahwa dua orang sedang melaju ke arah sesuatu yang belum jelas bentuknya, hanya sebuah alamat, sebuah pesan dari nomor asing, dan nama seorang sahabat yang sudah seminggu tidak ada.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya