NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Pria Desa Mempesona

Suami Kontrakku Pria Desa Mempesona

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Pernikahan Kilat / Nikah Kontrak
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Whidie Arista

Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.

Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?

Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!

“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Ziya dan Siti

“Ngomong-ngomong kamu ngapain disini?” tanyanya.

“Joging,” sahut Ziya.

“Joging, jam segini? Ini udah panasa atuh,” komentar Siti.

“Gak papa biar cepet berkeringat.”

“Kamu teh katanya orang Jakarta ya, ko bisa kamu kenal sama Kang Asep?” tanya Siti ingin tahu.

“Aku udah kenal dia dari kecil,” ungkap Ziya.

“Hah dari kecil?” Siti nampak terkejut, namun kemudian dia merubah kembali mimik wajahnya, “jangan bohong kamu, saya gak percaya.”

“Ya udah kalau gak percaya,” Ziya hendak berlalu, namun tiba-tiba Siti menahan tangannya.

“Eh tunggu, saya akan dengarkan sok atuh kamu cerita,” ucapnya, namun tak berani menatap kearah Ziya.

Ziya menatap sekeliling, matahari pun sudah mulai terik tubuhnya juga sudah mulai berkeringat, namun bukan hanya karena olahraga itu karena dia berdiri di bawah sinar matahari.

“Jangan disini lah ceritanya, aku haus laper pula,” ungkap Ziya.

“Ck, sok atuh saya akan kasih kamu minum,” dia memimpin jalan, ternyata dinding rumah tempat Ziya bersembunyi itu adalah rumahnya Siti, pantes aja dia tiba-tiba muncul begitu saja.

Ziya duduk di bale bambu depan rumah Siti, tak lama setelahnya gadis itu pun muncul dengan teko air dan gelas di atas nampan juga sepiring pisang goreng.

“Sok atuh diminum,” dia mempersilahkan.

“Thanks,” ucap Ziya sambil mengisi gelas dengan air dari teko tesebut.

“Hah? Makasih maksudnya?”

Ziya hanya mengangguk sebagai tanggapan, karena dia tengah menenggak air dari gelas.

“Sok atuh katanya kamu mau cerita,” ungkapnya tak sabar.

“Bentar napa, aku lagi makan pisangnya dulu,” keluh Ziya sambil mengunyah pisang goreng di mulutnya.

“Ck, sambil makan juga bisa kan,” gerutu Siti dengan bibir sedikit maju kedepan.

“Kamu tahu soal almarhum Mang Wawan yang kerja di Jakarta?” Ziya memulai percakapan, membuat Siti seketika menoleh dan mengangguk cepat.

“Iya tahu atuh, bahkan katanya Majikannya itu baik banget, Kang Asep juga sering dibawa kesana kalau libur sekolah,” tanggapnya antusias.

“Iya nama Majikannya itu Pak Arman, dan saya adalah anaknya,” ungkap Ziya.

Seketika rasa penasaran di wajah Siti pun sirna, dia tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Ziya, “Hahaha kamu teh lucu pisan atuh ya, kamu pikir saya bakalan percaya gitu kalau kamu ngaku jadi anaknya Pak Arman, meskipun saya gak tahu atuh ya sama Anaknya Pak Arman atau pun Pak Arman nya tapi saya yakin itu bukan kamu.”

“Oh ya, kenapa kamu bisa seyakin itu kalau aku bukan anaknya Pak Arman?”

“Pak Arman itu orang kaya jelas atuh gak mungkin mau anaknya nikah sama orang Desa, meskipun Kang Asep termasuk orang berada di kampung ini tapi sama anaknya Pak Arman mah jauh atuh levelnya juga.”

Ziya tersenyum tipis, selama ini keluarganya tidak pernah memandang yang namanya kasta, bagi dia dan keluarganya semua orang itu setara, tidak ada yang namanya kaya atau pun miskin, hanya mungkin keluarganya diberi kelebihan dalam usahanya.

“Kenapa gak mungkin, kamu kenal Pak Arman aja enggak kan, apa lagi Putrinya. Sebenarnya Pak Arman mau pun Putrinya gak pernah tuh mandang yang namanya kasta atau kedudukan apa lagi dia orang Desa atau bukan, bagi mereka yang namanya manusia ya sama saja mau dari kampung atau dari kota, soal harta bukan jadi tolak ukur kehidupan manusia, lagi pun semua orang juga bisa jadi kaya kalau mau berusaha, contohnya Asep,” terang Ziya.

“Iya kamu bener juga. Tapi kamu emang bener-bener kenal sama keluarganya Pak Arman?”

“Dibilangin saya Putrinya kamu gak percaya, ya sudah,” Ziya mengangkat bahu ringan.

“Eh aku mau minuman dingin dong, tenang aja kali ini aku bawa uang, kamu juga kalau mau ambil aja, nanti aku yang bayar.”

“Ck, buat apa atuh orang saya yang punya warungnya,” ucap Siti sambil beranjak mengambil minuman dingin yang diminta Ziya.

“Yakin punya kamu, bukannya punya Ibumu.”

“Ck, sama aja kan,” sahutnya sambil memberikan minuman botolan rasa jeruk pada Ziya.

“Ya beda dong, usaha orang tua ya usaha orang tua, kita ya kita, sebenarnya aku juga sempet mau buka usaha, tapi keburu nikah jadinya malah berakhir disini,” ungkap Ziya sambil menengadah menatap langit.

“Saya juga dulu sempet kerja di kota, disuruh pulang karena gak ada yang jaga warung, sementara orang tua saya sibuk di sawah," cerita Siti.

Entah mengapa Ziya dan Siti bisa berubah menjadi akrab mereka mengobrol cukup lama disana.

Tak jauh dari mereka Asep dan Udin berjalan hendak pulang dari ladang, “Eh Sep, itu bukannya Neng Ziya ya?”

“Mana?”

“Itu yang lagi ngobrol sama Siti,” tunjuknya.

“Wah iya Din, ko bisa?”

“Mana saya tahu atuh, Awewe emang luar biasa atuh ya, baru kemarin mereka berantem eh sekarang malah ngobrol berdua kaya yang akrab pula,” komentar Udin.

“Iya Din, saya juga gak ngerti atuh.”

“Mungkin mereka udah berdamai kali, capek juga terus-terusan berebut satu laki-laki,” Kekeh Udin.

“Kamu teh apan sih Din.”

“Eh Kang Asep, Kang Udin, udah pulang dari ladangnya?” Sapa Siti, Ziya pun sontak ikut menoleh.

Seketika dia pun memalingkan wajahnya kembali, karena dia teringat kejadian semalam.

“Iya, tumben atuh kalian berdua akur begitu,” Udin berucap ingin tahu.

“Ya lagi akur aja, nanti kalau mau berantem kita berantem lagi, ya kan?” Siti menyikut lengan Ziya.

“Hem, bener kata Siti, aku juga lagi males berantem sekarang,” sahut Ziya masih enggan menoleh.

“Neng kenapa, leher Neng sakit?” tanya Asep karena melihat Ziya menatap ke satu arah sejak tadi.

“Hmh, leher gue lagi sakit, salah posisi tidur kayanya,” nada bicaranya berubah seketika.

“Gue?” Siti yang duduk di sebelah Ziya nampak terkejut.

“Eh salah, Aku maksudnya. Lupa udah kebiasaan soalnya,” ralat Ziya.

“Mau saya panggilin tukang urut Neng?”

“Gak usah lah, nanti juga sembuh sendiri.”

‘Perasaan tadi dia gak papa, kenapa sekarang jadi sakit leher?’ batin Siti bergumam.

Ziya bangkit, “berapa semuanya?” tanya Ziya.

“Sepuluh ribu aja, air sama pisang gorengnya saya gak jual,” sahut Siti.

Ziya merogoh uang dari saku celananya, kemudian memberikannya pada Siti.

“Kembaliannya ambil aja,” ujarnya kemudian berlalu setengah berlari.

“Neng tunggu!” teriak Asep.

“Istri kamu kenapa Sep?”

“Gak tahu saya juga,” Asep menatap bingung punggung Ziya yang kini telah menjauh, tiba-tiba dia ingat kejadian semalam, ‘wah kayanya Neng Ziya benar-benar salah faham soal kejadian semalam.’ batinnya bergumam.

“Eh ini kegedean Kang, sebentar saya ambil kembaliannya dulu,” Siti beranjak.

“Gak usah Teh, tadi kata Istri saya ambil aja kembaliannya buat Teteh, permisi saya duluan.”

Tinggal Udin dan Siti yang berada disana, “kayanya ada sesuatu diantara mereka,” terka Udin.

“Kang Udin, saya mau tanya tentang Istrinya Kang Asep,” ungkap Siti.

“Nanya apa atuh Teh?”

“Apa bener dia itu anaknya Pak Arman yang dulu majikannya Bah Wawan?”

“Iya bener atuh, Neng Ziya emang Putrinya Pak Arman.”

“Astaga, jadi beneran dia itu Putrinya Pak Arman, jadi disini siapa atuh yang beruntung, Kang Asep atau Neng Ziya,” Siti berucap sembari masuk kedalam warungnya.

***

Sementara Ziya, sesampainya di rumah dia langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.

‘Wah Ziya, kenapa lu harus lari segala? Tapi gue belum siap ketemu Asep.' Ziya berdecak pelan.

Tak berselang lama pintu depan terdengar di buka, siapa lagi kalau bukan sang pemilik rumah yang datang.

“Neng!” Panggil Asep diiringi suara ketukan pintu.

“Kita harus bicara, sok atuh Neng keluar dulu,” pintanya.

1
Arin
Bagus itu Ziya makin cepat makin bagus putusin tuh si Regan....
Biar si benalu cari duit sendiri
juwita
Ziya org tua g ngerstui sm pacar km. mgkn ada sebabnya.
Susi Akbarini
lanjuttttt...
❤❤😍😍💪💪
Susi Akbarini
ziya jga kurang oeka gk ada yg menjaga seperti Asep..
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
Susi Akbarini
lanjutttttt❤❤😍😍😍💪💪💪
Susi Akbarini
🤣🤣😄😄😄😍❤❤💪💪💪
Rubyred
lanjut makin seru ceritanya..🤭🤭
Rubyred
menarik
Susi Akbarini
asep lagi ganti baju..
ziya auto njerittt..

aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
Susi Akbarini
waaaahhhh..
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
Whidie Arista 🦋: Nggak Kak, Bapaknya Asep itu baik ko yang serem cuma penampilannya aja hehe
total 1 replies
Arin
Jawab Ziya...... iya gitu. Jangan sampai bapak mertua berusaha misahin. Karena gak ada cinta buat Asep😁😁😁
Susi Akbarini
waaaddduuuuhhhh..

jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..

🤣🤣😄😍❤❤❤❤
Whidie Arista 🦋: /Facepalm/
total 1 replies
Rubyred
haha.....matilah kau ziya bisa ketahuan tu bohongnya....🤭🤭🤭
Susi Akbarini
lanjutttt...
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
Rubyred
kasian ziyanya cemburu tu asep🤭🤭🤭
Susi Akbarini: betul3..

🤣😄😄😍😍❤❤
total 1 replies
Ayu
menarik dan tidak membosankan bacanya /Smile/
Susi Akbarini
lanjutttt❤❤❤💪😍😍❤❤
Susi Akbarini
waahhhh..

aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
Susi Akbarini
lanjuttttt❤❤💪😍😄
Susi Akbarini
waduhhhh...
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..


❤💪💪💪😍😍😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!