NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.20 Kebebasan

Pukul enam pagi di pinggiran Berlin, udara terasa seperti jarum-jarum es yang menusuk kulit. Salju terakhir musim dingin masih menyelimuti trotoar, nampak kusam dan abu-abu di bawah lampu jalan yang mulai memudar.

Suara dentum pintu besi yang berat bergema di lorong beton, sebuah suara yang selama tiga tahun terakhir menjadi detak jantung kehidupan Sekar. Namun hari ini, suara itu diikuti oleh bunyi kunci yang diputar untuk terakhir kalinya.

"Tahanan nomor 8802, Sekar. Kau bebas."

Suara tegas nan lantang itu membawa angin segar bagi Sekar. Setelah tiga tahun lamanya ia mendekam, akhirnya Kebebasan itu datang juga.

Sipir wanita yang biasanya kasar itu kini menyerahkan sebuah kantong plastik transparan berisi barang-barang lama Sekar.

Jam tangan yang mati, cincin perak yang kusam, dan kalung berisi pasir Alpen. Sekar menatap barang-barang itu seolah mereka adalah artefak dari peradaban kuno yang sudah musnah.

Ia tidak merasa bahagia. Tidak ada rasa lega yang membuncah. Yang ada hanyalah sebuah rongga besar di dadanya, sebuah ruang hampa yang kini harus diisi oleh ketidakpastian.

Sekar melangkah keluar melewati gerbang kawat berduri. Di luar, tidak ada kerumunan wartawan lagi.

Dunia sudah lama melupakan skandal Wijaya. Bagi publik, Sekar hanyalah catatan kaki dalam sejarah farmasi yang kelam. Ia berjalan menuju halte bus terdekat, tas ranselnya terasa ringan, namun langkah kakinya terasa begitu berat.

Ia memiliki satu tujuan sebelum meninggalkan benua ini.

Perjalanan menuju Austria memakan waktu sepuluh jam dengan kereta api. Sekar duduk di kelas ekonomi, menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin.

Ia melihat lanskap Jerman yang berubah dari industri menjadi hutan-hutan pinus yang tertutup salju.

Pikirannya melayang pada Rahman. Kabar terakhir menyebutkan pria itu sudah tidak bisa meninggalkan tempat tidurnya di klinik penjara Hamburg. Penyakit vaskular itu telah memakan sistem sarafnya, membuatnya lumpuh dan perlahan kehilangan kemampuan bicara.

Hukuman yang adil, bukan? pikir Sekar pahit. Dia kehilangan suaranya, persis seperti dia membungkam suaraku selama sepuluh tahun.

Namun, kebencian itu kini terasa hambar. Seperti abu yang tertiup angin, amarah Sekar telah kehabisan bahan bakar.

Setibanya di desa kecil di Alpen, Sekar mendaki bukit menuju pemakaman tua di belakang gereja kayu.

Napasnya tersengal, bukan hanya karena pendakian, tapi karena beban emosional yang menghimpitnya setiap kali ia mendekati tempat persemayaman Lukas.

Gundukan tanah itu kini telah rata dengan bumi, ditumbuhi rumput liar yang membeku. Salib kayunya sudah mulai lapuk dan miring. Sekar berlutut di sana, membersihkan sisa-sisa salju dengan tangannya yang polos.

"Ibu pulang, Lukas," bisiknya. Suaranya hilang ditelan angin gunung yang menderu.

Ia mengeluarkan guci kecil berisi abu Lukas—bagian yang selalu ia simpan di kalungnya—dan menaburkannya di atas tanah itu. Ia ingin Lukas menyatu sepenuhnya dengan tempat ini. Ia ingin anaknya benar-benar bebas dari botol, kaca, dan laboratorium.

"Ibu punya kabar untukmu," lanjut Sekar, air matanya jatuh dan segera membeku di pipinya. "Kamu punya adik perempuan. Namanya Arini. Ibu akan pergi menjemputnya. Ibu tidak tahu apakah dia akan menyukai Ibu, tapi Ibu berjanji... Ibu tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya seperti mereka menyakitimu."

Sekar mencium salib kayu itu. Sebuah perpisahan yang permanen. Ia tahu ia mungkin tidak akan pernah kembali ke tempat ini lagi. Hidupnya yang di Eropa telah selesai, dikubur bersama Lukas dan sisa-sisa ambisi keluarga Wijaya.

Penerbangan menuju Jakarta memakan waktu belasan jam, namun bagi Sekar, itu terasa seperti perjalanan melintasi waktu.

Saat pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, aroma udara Jakarta yang lembap, bau asap knalpot, dan hawa panas yang menyengat langsung menyerbu indranya. Ini adalah aroma pengkhianatan. Ini adalah tempat di mana ia pertama kali dihancurkan.

Sekar menggunakan paspor aslinya yang telah diaktifkan kembali setelah masa hukuman selesai. Petugas imigrasi menatapnya agak lama, mungkin mengenali wajah yang pernah menghiasi layar televisi, namun akhirnya membiarkannya lewat. Bagi otoritas, Sekar adalah mantan narapidana yang sudah menebus dosanya.

Ia tidak tinggal di Jakarta. Ia langsung menuju stasiun kereta api Gambir, membeli tiket menuju Bandung.

Di dalam kereta Argo Parahyangan, ia melihat pegunungan Priangan yang hijau. Pemandangan yang seharusnya menenangkan, namun bagi Sekar, setiap lekuk bukit itu mengingatkannya pada surat terakhir Rahman.

Bandung. Panti Asuhan Kasih Bunda.

Sekar turun di Stasiun Bandung saat senja mulai turun. Kota ini terasa lebih dingin dan tenang dibandingkan Jakarta, namun jantung Sekar berdegup kencang hingga telinganya berdenging.

Ia memesan taksi menuju sebuah alamat di pinggiran kota, daerah yang dipenuhi oleh pepohonan rindang dan rumah-rumah tua peninggalan Belanda.

Taksi berhenti di depan sebuah pagar besi bercat putih yang sudah mengelupas. Sebuah papan kayu bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Bunda" tergantung miring di gerbang.

Sekar berdiri di sana, di balik trotoar yang remang-remang. Ia tidak berani masuk. Tangannya mencengkeram tali tasnya hingga buku-bukunya memutih. Di dalam sana, ada darah dagingnya. Ada potongan jiwanya yang selama ini ia anggap hilang.

Suara tawa anak-anak terdengar dari halaman dalam. Sekar mengintip melalui celah pagar. Beberapa anak sedang bermain kejar-kejaran di bawah lampu taman yang temaram. Dan di sana, duduk di bangku semen di bawah pohon kamboja, ia melihatnya.

Seorang anak perempuan mengenakan kaos biru lusuh dan celana panjang hitam. Ia sedang memegang sebuah buku gambar, jemarinya bergerak lincah menggoreskan pensil warna. Rambutnya dikuncir kuda, persis seperti cara Sekar menguncir rambutnya saat masih di panti asuhan dulu.

Anak itu mendongak, menatap ke arah gerbang.

Sekar tersentak dan segera bersembunyi di balik pilar tembok. Jantungnya seolah mau melompat keluar. Wajah itu...

Arini memiliki mata Sekar, namun bentuk bibir dan dagunya adalah milik Rahman. Sebuah perpaduan yang menyakitkan untuk dilihat.

Arini adalah monumen hidup dari cinta yang beracun, namun ia nampak begitu murni, begitu tak berdosa di tengah kekacauan yang diciptakan orang tuanya.

"Arini! Ayo masuk, sudah waktunya makan malam!" teriak seorang wanita paruh baya dari teras bangunan.

"Iya, Bunda!" sahut anak itu. Suaranya bening, menghancurkan sisa-sisa pertahanan mental Sekar.

Arini membereskan buku gambarnya dan berlari masuk ke dalam gedung. Sekar tetap berdiri di sana, di dalam kegelapan, terisak tanpa suara.

Rasa bersalah menghujamnya. Bagaimana mungkin ia bisa masuk ke sana dan mengatakan, "Aku ibumu, orang yang membiarkanmu tumbuh di sini sementara aku sibuk membalas dendam di benua lain"?

Bagaimana ia bisa menjelaskan tentang Lukas? Tentang Rahman? Tentang darah Wijaya yang mengalir di tubuh anak itu?

Sekar check-in di sebuah hotel melati dekat stasiun. Malam itu, ia membuka ponselnya dan menemukan sebuah email baru. Alvin. Pria itu seolah tahu setiap gerak-geriknya.

"Aku melihatmu di depan gerbang tadi, Sekar. Kamu tampak seperti hantu yang ketakutan. Jangan terlalu lama ragu. Panti asuhan itu sedang dalam masalah keuangan. Pengurusnya berencana memindahkan beberapa anak ke yayasan lain di luar kota bulan depan. Jika kamu tidak bergerak sekarang, kamu mungkin akan kehilangan jejaknya lagi."

Sekar meremas ponselnya. Alvin selalu punya cara untuk memaksanya mengambil keputusan paling sulit. Pria itu benar. Ia tidak punya waktu untuk berduka atau merasa tidak pantas.

Sekar bercermin. Ia melihat wanita berusia tiga puluh lima tahun dengan gurat kelelahan dan kesedihan yang tak bisa disembunyikan.

Ia memotong rambutnya sendiri malam itu, membuatnya menjadi bob pendek yang lebih rapi. Ia menghapus sisa-sisa kelelahan di wajahnya dengan riasan tipis.

Ia harus menjadi seseorang yang baru. Ia tidak bisa menjadi Sekar sang narapidana, atau Sekar sang dokter buronan. Ia harus menjadi seorang wanita yang ingin mengadopsi, atau setidaknya seorang sukarelawan.

Keesokan paginya, Sekar kembali ke panti asuhan itu. Kali ini, ia melangkah masuk melalui gerbang. Ia disambut oleh wanita paruh baya yang ia lihat kemarin, yang ternyata adalah Ibu Eni, kepala panti.

"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ibu Eni ramah.

"Selamat pagi, Bu. Nama saya... Maria," Sekar menggunakan nama samaran yang ia gunakan di Eropa. "Saya seorang tenaga medis yang baru kembali dari luar negeri. Saya tertarik untuk menjadi sukarelawan di sini, mungkin membantu memeriksa kesehatan anak-anak."

Ibu Eni tampak sangat antusias. "Oalah, kebetulan sekali! Kami memang jarang dikunjungi dokter. Mari masuk, mari."

Ibu Eni membawa Sekar berkeliling, dan akhirnya mereka sampai di ruang tengah di mana anak-anak sedang berkumpul untuk belajar mandiri. Arini ada di sana, duduk di sudut, sedang serius membaca buku cerita.

"Arini, kemari sebentar," panggil Ibu Eni.

Arini berdiri dan berjalan mendekat. Ia menatap Sekar dengan pandangan ingin tahu. Mata itu... mata yang sama yang menatap Sekar melalui kaca laboratorium di Hamburg, namun kali ini penuh dengan rasa ingin tahu, bukan penderitaan.

"Ini dr. Maria. Dia akan membantu kita di sini mulai sekarang," kata Ibu Eni.

Arini tersenyum sopan dan mengulurkan tangannya. "Halo, Dokter. Nama saya Arini."

Saat jemari kecil Arini menyentuh telapak tangan Sekar, Sekar merasa seluruh dunianya yang hancur perlahan-lahan mencoba untuk menyatu kembali.

Rasanya hangat, nyata, dan sangat rapuh. Sekar harus mengerahkan seluruh kekuatannya agar tidak langsung memeluk anak itu dan menangis.

"Halo, Arini. Senang bertemu denganmu," suara Sekar bergetar.

1
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!