Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE DELAPAN BELAS
Dua hari berlalu Siena dirawat dirumah sakit dan hari ini ia sudah diperbolehkan pulang, luka ditubuhnya pun juga sudah membaik.
Bastian dengan setia menjaga dan menemani gadis itu, meskipun sakit tapi Siena tetap saja bertingkah yang membuat kesabaran Bastian seperti diuji.
Seperti hal nya sekarang. Sembari menunggu dokter visit, Siena mengajak Bastian untuk bernegosiasi.
"Bagaimana Bas, apa kau setuju?" ujar Siena seraya membenarkan posisi duduknya bersandar pada headboard ranjang.
Bastian menghela nafas pelan, mencoba untuk menahan kekesalannya. Bagaimana tidak kesal jika sejak Siena dirawat dirumah sakit gadis itu terus merengek pada nya untuk ia mengundurkan diri sebagai bodyguard, padahal ia tidak melakukan kesalahan sedikitpun.
Ia tetap menjaga dan mengawasi Siena dari jarak aman. Memastikan gadis itu tetap dibawah kendalinya.
"Tidak". Begitu saja kalimat yang Bastian ucapkan. Singkat, tegas dan tak terbantahkan.
Siena menghela napas panjang, kali ini bukan dengan nada merengek, melainkan serius.
"Bas, dengarkan aku dulu. Aku tidak menolak dijaga karena keras kepala, tapi karena aku tidak ingin hidupku bergantung terus pada orang lain.” Ucap Siena dengan suara yang melembut, mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Bastian terdiam tak bereaksi apapun. Tapi, sorot matanya yang tadi dingin kini sedikit melunak. Ia bisa melihat raut wajah sendu yang Siena pancarkan.
Gadis itu seperti mempelihatkan sisi lain yang jarang di perlihatkan didepan banyak orang.
Tapi, Bastian tetaplah Bastian. Ia tetap pada pendiriannya.
"Saya tau apa yang anda rasakan nona. Tapi, ini adalah pekerjaan saya. Tuan Hartmann mempercayakan nona dalam penjagaan saya". Ucap Bastian datar
"Saya justru beruntung jika anda bisa bergantung pada saya. Dengan begitu, tugas saya sebagai bodyguard berjalan dengan semestinya.." sambung nya, tapi setiap kalimat yang ia ucapkan seolah mengandung makna yang hanya dia sendiri yang tau.
Siena menghela nafas panjang, ekspresinya berubah kesal tetapi juga bercampur pasrah. Ia membuka mulut ingin menyahut namun suara ketukan pintu seketika membuatnya urung untuk berbicara.
Tok..
Tok..
Tok...
Ceklek!
Dokter yang bertugas visit melangkah masuk bersama asisten perawatnya.
"Selamat pagi nona Siena, bagaimana kabar mu hari ini?" tanya dokter pria muda yang mungkin usianya 3 tahun diatas Siena.
Dokter itu tersenyum ramah kearah Siena.
Senyum itu.
Bastian tidak menyukainya.
Ia dengan sigap langsung berdiri sedikit lebih tegak dari posisinya semula, rahangnya mengeras tipis. Tatapannya berpindah dari Siena ke dokter muda itu seperti menilai, mengamati, tapi tanpa menyembunyikan aura dominan yang selalu melekat padanya.
“Baik dokter,” balas Siena dengan nada yang entah kenapa terdengar lebih ringan daripada saat berbicara dengan nya beberapa menit yang lalu.
Dokter itu mendekat, membuka map rekam medis. “Lukanya sudah membaik cukup signifikan. Tapi tetap jangan banyak aktivitas berat dulu ya, terutama yang memicu stres.”
Siena terkekeh pelan. “Stres? Sepertinya itu sulit dihindari.” Sahutnya seraya ekor matanya melirik sekilas kearah Bastian.
Dokter muda itu kembali tersenyum tipis. Kemudian, ia mulai memeriksa kondisi luka Siena dengan profesional. Sesekali ia bertanya, dan Siena menjawab dengan santai.
“Masih terasa nyeri di bagian bahu?”
“Sudah jauh berkurang, dok.”
“Bagus. Tapi tetap jangan terlalu banyak bergerak dulu. Saya tidak ingin pasien saya keras kepala.”
Siena tertawa kecil. “Saya memang agak sulit diatur.”
“Terlihat,” balas dokter itu ringan.
Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat rahang Bastian mengeras.
Ia tidak suka bagaimana dokter pria itu berbicara seolah sudah mengenal Siena cukup dekat.
“Sebaiknya nona mengikuti anjuran dokter,” ucap Bastian tiba-tiba, suaranya tenang tapi berat.
Dokter menoleh pada Bastian, sedikit terkejut. “Oh? Anda keluarganya?”
Hening sepersekian detik.
Siena menoleh cepat ke arah Bastian, seperti menunggu jawaban apa yang akan keluar.
Bastian menatap dokter itu lurus-lurus.
“Orang terdekat,” jawabnya singkat.
Bukan jawaban bohong, tapi juga bukan penjelasan.
Dokter mengangguk pelan, menerima jawaban itu tanpa banyak tanya. “Baik. Kalau begitu tolong pastikan nona Siena tidak stres dan tidak banyak aktivitas. Pemulihan juga dipengaruhi suasana hati.”
“Saya tidak stres,” sela Siena cepat.
Dokter tersenyum lagi padanya. “Bagus. Tapi kalau butuh konsultasi di luar jadwal kontrol, Anda bisa langsung hubungi saya.” Ujarnya seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas dokternya.
Itu adalah sebuah kartu nama. Kemudian, ia menyodorkan nya pada Siena sambil terus melempar senyum.
Bukan senyum ramah yang Bastian tangkap, tapi lebih seperti senyum yang menyembunyikan kekaguman. Tatapan mata pria itu juga tak luput dari pandangan Bastian. Dan sesuatu dalam dirinya tidak menyukai hal itu.
Dan, dengan gerakan cepat Bastian langsung menyambar kartu nama itu sebelum sempat Siena menerima nya.
“Saya yang akan menghubungi,” ucap Bastian tenang tapi penuh penekanan
Dokter kembali menoleh. “Maaf?”
“Saya yang akan memastikan jadwal kontrol dan komunikasi berjalan dengan baik.” Kata Bastian, nada bicaranya tidak meninggi, tidak kasar tapi jelas jika ia menekankan batasan.
Siena yang mendengar itu, menoleh pelan kearah Bastian. “Bas…”
Dokter tersenyum tipis, seolah mulai menangkap dinamika yang ada didalam ruangan itu. “Tidak masalah. Yang penting pasiennya nyaman.”
Setelah memberikan beberapa instruksi tambahan, dokter itu akhirnya pamit keluar.
Ceklek.
Pintu tertutup.
Sunyi.
Siena menoleh perlahan. “Kenapa kau ambil kartunya?”
“Untuk keperluan medis.”
“Kau bahkan tidak memberi aku kesempatan menyentuhnya.”
Bastian menatapnya datar. “Tidak perlu.”
Siena menyipitkan mata. “Kau cemburu?”
“Saya tidak memiliki hubungan pribadi dengan anda nona untuk apa saya merasa cemburu.”
Jawaban yang terlalu formal.
Siena tersenyum miring. “Tapi kau bertingkah seperti pria yang tidak suka wanitanya diperhatikan orang lain.”
Bastian tak langsung menjawab, ia mendekat satu langkah, tidak agresif. Tapi cukup membuat jarak mereka menyempit.
“Saya hanya tidak suka,” ucapnya rendah, "cara dia menawarkan akses langsung kepada Anda.”
“Itu prosedur rumah sakit, Bas.”
“Tidak semua prosedur perlu dilakukan dengan senyum seperti itu.”
Siena terdiam sesaat, lalu tertawa pelan. “Astaga… kau benar-benar posesif, Bas".
“Protektif.” Sahut Bastian cepat
“Tipis bedanya.” Ujar Siena tak mau kalah
Bastian menghela nafas pelan seraya menatap wajah cantik Siena lekat-lekat.
“Selama saya masih berdiri di sini, tidak akan ada pria yang merasa bisa memiliki akses bebas kepada anda nona Hartmann, termasuk dokter tadi dan juga Evan kekasihmu".
Deg!
Nada itu terdengar bukan seperti sekadar kalimat profesional.
Siena menelan ludah tipis, tapi tentu saja gengsinya tidak membiarkan ia kalah.
“Kalau suatu hari aku memang ingin memberi akses pada orang lain?”
Hening.
Sorot mata Bastian berubah. Lebih dalam, lebih tajam, tapi tetap terkendali.
“Kalau itu terjadi, pastikan saya sudah tidak berdiri di posisi ini lagi.”
.
.
.
Haii temen-temen jangan lupa dukungannya yaa... Like, vote dan komen....terimakasih 🫶🏻♥️
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut