Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-13
Cahaya matahari mulai masuk ke dalam celah gorden kamar seorang remaja, Kilauan cahaya nya menusuk nusuk kelopak mata sang empu kamar, hingga membuat tubuhnya menggeliat saat cahaya matahari mulai membangunkan nya.
"Siall! Aku kesiangan!!" pekik Hajeera saat melihat matahari mulai terbit dan jam menunjukkan pukul 7 pagi.
Dengan langkah kilat ia masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri sebenar lalu duduk di meja rias memakai riasan coklat kusam yang langsung membuat wajahnya berbeda 180 derajat, tak lupa ia juga memakai foundation di tangannya agar terlihat sama kusam nya.
Tukk,tuk,tuk,tuk..
"Mahh, pah, Jera berangkat Assalamualaikum..." Hajeera berteriak seraya menuruni anak tangga satu persatu, tatapan nya lurus ke depan tanpa menoleh ke arah samping tempat seluruh anggota keluarga nya sarapan.
"Jera!, sarapan dulu sayang!!!" Bu Selyn berteriak seraya mencoba mengejar Hajeera, namun Hajeera sudah masuk ke dalam mobil dan mobil mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah mereka.
"Cepetan pak, ngebut dikit gak papa..." ucap Hajeera pada Pak Darso agar mempercepat laju mobilnya.
"Baik non..."
Dalam perjalanan Hajeera masih sempat membuka tablet miliknya mengulas kembali pelajaran yang akan di pelajari hari ini.
Namun sebuah pesan masuk ke dalam ponsel di sakunya. Ia buru buru memeriksa ponselnya mencaritahu siapa gerangan yang mengiriminya pesan di pagi hari.
Pak Romi : "Selamat pagi Non, sore nanti jika anda senggang mohon untuk mampir ke kantor bapak."
Hajeera menatap layar ponselnya sejenak sebelum membalas kembali isi pesan dari asisten pribadi keluarga nya dahulu, sebenarnya ia tahu apa yang ingin dibicarakan oleh asisten ayahnya itu tidak jauh membicarakan tentang pembagian harta dan kekuasaan, ia cukup muak saat mengetahui jika keluarga nya memberikan Indri Silvana Advi Izin mengakses perusahaan nya seperti dirinya.
Keluarga nya dahulu berpesan jika Indri memang hanya diberi beberapa harta berupa tanah dan rumah saja, hanya saja sebelum Hajeera menikahi Aaron, Indri bisa mengakses perusahaan seperti Hajeera karena bagi keluarga nya tidak ada yang bisa melindungi Hajeera selain Indri yang sudah mereka besarkan layaknya seorang kakak untuk Hajeera.
Keluarga Manopo berpesan jika putrinya bisa mengakses perusahaan sepenuhnya jika menikahi putra tunggal keluarga Dirgantara yakni Aaron, namun apabila Hajeera tidak menikahi Aaron maka Indri tetap bisa mengakses perusahaan untuk membantu Hajeera mengurusi perusahaan.
Karena bagi keluarga Manopo tidak ada yang bisa mereka percayai selain keluarga Dirgantara untuk masa depan putrinya, jika di masa depan putrinya tidak menikahi putra mereka maka Indri putri seorang supir keluarga nya yang akan membantu Hajeera mengelola perusahaan milik keluarga Manopo.
"Non, turun di sini?" tanya pak Darso, menghentikan mobilnya di tempat biasa tempat Hajeera turun dari mobilnya.
Hajeera melihat ke arah luar jendela, "Turunkan di dalam sekolah pak,..." jawab Hajeera yang membuat pak Darso sedikit terkejut namun tak ayal ia tetap melanjutkan mobilnya memasuki area sekolahan elit tempat Hajeera menimba ilmu, ini kali pertama Hajeera di antar olehnya menggunakan mobil mewah nya memasuki pekarangan sekolah setelah hampir tiga tahun Hajeera bersekolah di sana.
"Terimakasih pak..." ucap Hajeera sebelum akhirnya ia meninggalkan mobil yang dikendarai sopir pribadi keluarga nya.
Seluruh siswa menatapnya dari arah dalam jendela kelas, bel baru saja berdenting dan Hajeera telat sekitar 5 menit setelah jam masuk kelas di mulai.
"Benarkah itu Hajeera?"
"Mengapa ia datang menggunakan mobil Rolls-Royce phantom?"
"Apakah keluarganya sama kaya raya seperti chelsea?"
"Atau ia hanya gundik?"
"Tapi tidak mungkin, ada gadun yang mau memelihara nya.."
Hampir semua siswa membicarakan kedatangan nya dan mempertanyakan tentang kehidupan nya, namun Hajeera malas menanggapi ocehan murahan teman teman sebayanya, ia tetap berjalan menyusuri koridor demi koridor untuk menuju ke kelasnya.
"Tumben bintang kelas kita terlambat..." sindir Chelsea menghalangi jalan Hajeera tepat di depan pintu kelas.
"Minggir..." ucap Hajeera datar, dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Why,why,why,why,why!!!!!!" ujar Chelsea bertanya dengan nada ganjennya.
"Bintang kelas kita ternyata cukup pemarah, apakah hanya karena Rolls-Royce phantom itu kamu bertingkah Nona?" tanya Chelsea membuntuti Hajeera yang berjalan melangkahi kakinya.
"Jadi, pria hidung belang mana yang mau memelihara mu gundik?" tanya Chelsea lagi dengan wajah menyebalkan nya yang ia simpan di atas meja dengan tangan tapi yang menyangga mukanya.
"Why? Apakah kamu takut, pamor mu terkalahkan oleh Rolls-Royce phantom ku?" ucap Hajeera bertanya balik pada Chelsea dengan wajah dingin dan bibir yang sedikit tersungging membentuk sebuah senyuman mengejek.
Wajah Chelsea memerah, darahnya mendidih seolah di tubuhnya terletak pemanas yang siap kapan saja membuatnya membeledak.
"Wh-whatt?" tanya Chelsea ambigu sedikit terbata.
"Apakah gadun mu tidak memberikan Rolls-Royce phantom padamu?" tanya Hajeera dengan wajah tengil mengejeknya
"Upss... Sorry level kita berbeda,... Kamu hanya mengejar Lamborghini sedangkan aku mengejar posisi istri sah sebagai tameng kekuasaan..."
"Ya!!!!!!!!" Chelsea berteriak membentak Hajeera hingga terbangun dari duduknya.
Plakkkkk
Tiba tiba saja Hajeera menampar pipi Chelsea dengan kasar.
"Sialannn!!!!" pekik chelsea tak terima yang langsung mencoba menyerang Hajeera, namun seorang guru yakni pak Amin menghentikan nya tepat sebelum ia menyerang balik Hajeera.
"Sudah cukup!!!" bentak pak Amin pada keduanya.
"Duduk di bangku mu Chelsea! Kita mulai pelajaran dengan khidmat..." lanjut pak Amin lalu berjalan ke arah depan dan duduk di kursi guru.
Pelajaran pun di mulai semua siswa mengikuti mata pelajaran hari ini dengan baik tanpa perkelahian dan tanpa kebisingan, semua tertib menjalankan tugasnya sebagai siswa yang tengah menimba ilmu.
Tetttttt....
Tak terasa bell sekolah sudah berdenting kembali, seluruh siswa dan siswi memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas, setelah nya seluruh siswa membaca doa sebelum pulang lalu keluar kelas dengan teratur.
"Jer, kenapa sih loh hari ini diam terus?" tanya Livia yang sedari tadi menyadari jika teman nya lebih banyak diam.
"Are you okey?" tanya Maspupah, menggandeng pundak Hajeera dengan lembut mencoba meringankan beban temannya.
"Entahlah saat ini Indri berulah apalagi..." jawab Hajeera seolah malas menceritakan perasaan nya.
"Si jalang sialann!!!" umpat Livia dan Maspupah berbarengan.
"Aku dengar dari ayah Aaron sudah kembali, benarkah?" tanya Livia yang langsung mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari Hajeera.
"Upss ... pantas saja bebanmu benar benar terlihat menonjol, ternyata masalah mu bertambah...." ujar Livia dengan suara lirih dan tenaganya yang hampir habis.
"Lalu Indri melakukan apalagi?" tanya Maspupah.
"Entahlah, paling paling ia meminta investasi yang tidak masuk akal lagi pada perusahaan,.. dan lagi lagi tebakanku pasti Simon yang memintanya..."
"Siall! Padahal saat itu di kelab malam aku sudah membuat Simon kesal pada Indri si jalang!!" umpat Maspupah berdecih.
"Jadi, kamu sengaja menumpahkan minuman pada Indri?" tanya Livia yang di jawab anggukan lagi oleh temannya yakni maspupah.
"Sialannn!!!" umpat Livia dan Hajeera