David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 34) Menuju Brazil
"Minggu depan... Kita akan menghadiri acara pembukaan kantor cabang Miu Corp."
"Sebagai salah satu investor, aku tidak boleh melewatkan agenda penting itu."
Deggg!!
Ketika mendengar penuturan tersebut, Laila langsung terhentak. Seperti batu yang dijatuhkan ke permukaan air tenang, hingga menciptakan cipratan besar dalam pikirannya.
Laila perlahan mengangkat kepalanya. Dalam hati ia berkata, "ini berarti..."
Kalimatnya belum sempat terselesaikan. Laila perlahan mengangkat kepalanya, lalu menatap David yang saat itu sedang menyeringai. Seolah pria itu menikmati reaksi yang diberikan Laila.
David tampak bersandar santai di kursinya, menumpukan dagu di punggung tangannya, sementara mata tajamnya menyipit penuh rasa ingin tahu.
"What the fvck for this reaction?" gumam David dengan nada ringan namun penuh arti. "Kenapa kau malah memasang raut wajah seperti itu?"
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, "harusnya kau senang, bukan?" lanjutnya santai. "Sebab kau... akan bertemu kembali dengan mantan atasan dan juga temanmu itu."
Memang benar. Apa yang dikatakan David tidak salah sedikit pun. Tetapi justru itulah yang membuat Laila tidak menyangka bahwa waktu telah berjalan begitu cepat, sampai tiada terasa—gedung yang dulunya dalam tahap pembangunan, akan segera diresmikan.
Laila masih ingat betul bagaimana dirinya harus bekerja keras menyebar brosur kesana-kemari di acara black hot party, demi mempromosikan perusahaan tersebut. Disana adalah tempat dimana ia dan David bertemu untuk pertama kalinya. Semua ia lakukan agar bisa mendapatkan bonus seratus juta rupiah, guna membantu biaya pengobatan Dio kala itu.
Dan kini, proyek tersebut sudah selesai.
Laila menundukkan kepala, memejamkan mata sejenak. Hatinya diselubungi percikan harapan yang mengalunkan, "Semoga Aini ikut dalam acara kali ini…"
"Karena aku ingin tahu bagaimana keadaan Dio… dan ibu mertua," lanjutnya dalam hati disertai doa-doa yang tiada berhenti menggema, supaya orang tersayangnya baik-baik saja dimana pun mereka berada.
Sementara itu, tatapan David kian memicing tajam terhadap Laila. Isi hatinya berkecamuk, seolah mencari-tahu kira-kira apa yang sedang dipikirkan istri kontraknya tersebut.
"Kali ini... apa yang bakal kau lakukan bila nanti bertemu teman-teman lamamu, Laila?" batinnya menggertakkan gigi. "Apa kau berencana untuk kabur diam-diam?"
"Heh," David tiba-tiba tersenyum sinis.
"Jangan harap kau bisa lepas dari belengguku."
***********
Hari berikutnya, di sebuah cafe yang terbangun kokoh ditengah hiruk-pikuk kota Jakarta, terlihat dua pria tampak duduk saling berhadapan di salah satu meja.
Mereka adalah Dio Hardi dan Hanum Cakrawala. Di atas meja kayu kecil yang menjadi pembatas di antara mereka, dua cangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis. Dan kedua pria itu nampaknya tengah sibuk membicarakan sesuatu. Kentara dari ekspresi mereka yang serius.
"Lusa ini aku akan ke Brazil," ucap Dio, memecah keheningan yang sempat menggantung di antara mereka.
Hanum mengangguk-anggukkan kepala. "Begitu rupanya..."
"Apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai titik keberadaan Laila, di Sao Paulo?" lanjut Dio tanpa basa-basi.
Pertanyaan itu membuat Hanum terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Melainkan cuman menatap cangkir kopinya sejenak sebelum akhirnya menarik napas panjang.
Beberapa detik kemudian, Hanum membuka tas kulit yang ia bawa, dan setelahnya mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat tebal.
Map itu ia letakkan di atas meja dengan bunyi pelan. Katanya, "berdasarkan hasil penelusuran kenalanku di sana… hingga kini mereka masih belum menemukan Laila."
Pernyataan tersebut menimbulkan hantaman kuat di hati Dio.
Hanum melanjutkan dengan nada yang semakin berat. "Padahal mereka sudah menelusuri hampir seluruh tempat di Sao Paulo."
Ia mengetuk ringan map dokumen tersebut dengan jari telunjuknya. "Hanya ada beberapa lokasi yang belum mereka datangi."
Dio mengerutkan kening. "Kenapa?"
Hanum menghela napas. "Karena itu merupakan tempat-tempat yang dikuasai oleh para kriminal, gangster dan organisasi kartel. Jadi tidak sembarang orang bisa mendapat akses untuk masuk ke sana."
Suasana di meja itu mendadak terasa lebih dingin. Mata Dio menajam. Ia lantas berkata, "berarti besar kemungkinan kalau Laila berada di tempat yang sulit dijangkau itu?"
Hanum menatap Dio lurus-lurus. Kemudian ia mengangguk pelan. "Kau benar." Ia lalu menunjuk nama-nama lokasi yang tercetak di dokumen tersebut.
"Beberapa tempat yang sulit dijamah antara lain Dermaga Aloha..."
Jari Hanum bergeser ke bagian lain dari dokumen. "Dark Wings Territory..."
Kemudian berhenti di nama terakhir yang tertulis dengan huruf tebal. "Dan lokasi yang paling menakutkan adalah... The Mendoza Palace."
Hanum mengetuk dokumen itu sekali lagi. "Semua sudah tertera di dalam berkas ini."
Dio tidak mengatakan apa pun. Tetapi tangannya perlahan mengepal di atas meja. Otot rahangnya menegang, dan sorot matanya berubah semakin dalam.
Di dalam kepalanya, satu pikiran terus berputar. "Laila…"
Ia menelan ludah dengan berat. "Apa yang sebenarnya sudah terjadi hingga kau mendadak hilang kabar begini?"
"Apa sungguh kau baik-baik saja?" Bayangan wajah Laila muncul jelas di pikirannya. Sesosok wanita yang selalu melebarkan senyum dengan banyak tingkah randomnya.
"Atau malah kau sudah…" Dio mulai berpikiran yang aneh-aneh. Jauh lebih suram dan gelap. Kegelisahannya kian memuncak. Entah dimana belahan jiwanya berada. Ia bahkan tiada mampu menyelesaikan kalimat itu meski dalam pikirannya sendiri. Wajahnya semakin murung.
Hanum yang melihat perubahan ekspresi itu, spontan mengulurkan tangan dan menepuk pundak Dio pelan. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk menarik Dio kembali dari pikirannya yang semakin kelam.
"Jangan khawatir," ujar Hanum dengan suara tenang. "Laila pasti baik-baik saja." Ia menatap Dio dengan keyakinan yang kuat. "Aku yakin itu."
Dalam jangka waktu yang cukup lama, keduanya hanya diam membisu.
Akhirnya Hanum kembali berbicara. "Hari Minggu aku berencana menyusulmu ke Brazil."
Dio mengangkat wajahnya.
"Aku akan segera mengabarimu dimana kita akan bertemu untuk mendiskusikan langkah selanjutnya mengenai pencarian Laila ketika kita sudah disana," lanjut Hanum. "Kau maupun aku... harus menemukan Laila adikku, tak peduli dalam keadaan apapun..."
Perlahan, sorot mata Dio yang tadinya sayu mulai berubah menjadi teguh. Didalam lubuk hati terdalamnya, ia sudah siap menanggung segala resiko. Bahkan sejauh manapun Laila berada, dia akan terus mencari hingga menemukannya.
Tanpa disadari, hari sabtu telah menyambut. Udara siang itu terasa sejuk, meskipun teriknya mentari terlihat menderu.
Di bandara internasional Soekarno-Hatta, Dio yang sudah stay dengan koper juga ransel, terlihat sedang bersiap-siap menyambut penerbangan menuju Sao Paulo, bersama Bella dan Aini serta segelintir karyawan lainnya.
Dio nampak gelisah. Ia kedapatan melihat jam tangannya berkali-kali, seakan menginginkan pesawat yang akan mereka tumpangi langsung tiba dan kemudian berangkat ke Brazil tanpa basa-basi.
Bella yang berada tepat disebelahnya menyadari itu. Dengan elegan dan tanpa menunjukkan ekspresi berlebihan, ia berkata kepada Dio, "santai saja Pak Dio."
"Soalnya penerbangan ke Brazil, cukup memakan banyak waktu."
"Anda kenapa kelihatan terburu-buru begitu?" lanjutnya bertanya.
Dio tersentak. Tawa canggungnya menggema. "Haha maaf Bu CEO. Saya cuma agak gugup karena ini merupakan penerbangan pertama saya ke luar negeri," jawabnya menyembunyikan isi hati yang sebenarnya.
"Ohh," Bella mengangguk seraya merekahkan senyum geli akan hal itu. Namun sesungguhnya, ia tahu apa yang benar-benar dipikirkan pria tersebut.
Sudut bibir Bella, mengibarkan seringai yang samar.
"Benar, gara-gara gugup... Atau malah karena tidak sabar mau ketemu Laila, Pak Dio?" ucapnya dalam hati. Yang tiada lama dilanjutkan dengan, "ini akan menjadi tontonan yang seru."