NovelToon NovelToon
GOD OF RINGS

GOD OF RINGS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Epik Petualangan
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Rein.Unknown

MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.

Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.

Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.

Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog MANBO [GOD OF RINGS] Part 1

--- PORTAL MENUJU MENARA ---

Langit pagi itu begitu cerah untuk hari yang tidak berpihak.

Marva Ravara berdiri di depan gerbang REX INTERNASIONAL SCHOOL, seragamnya rapih namun jelas bukan yang mahal Apalagi lagi branded. Kainnya sudah mulai pudar di beberapa bagian, dan sepatu tidak pekat berwarna hitam—meski sudah disemir—menyiratkan retakan halus di sisi tumit. Ia berdiri sedikit terpisah dari kerumunan siswa lain yang datang dengan mobil mewah, supir pribadi, atau setidaknya tawa yang terlalu bebas untuk dimiliki seseorang sepertinya.

Di tempat ini, Marva tahu satu hal dengan sangat jelas:

Ia sepertinya tidak cocok berada di sini.

Bukan karena ia bodoh.

Bukan karena ia tidak mau.

Tapi karena dunia ini menilai seseorang dari apa yang ia pakai, bukan Apa yang ia pikirkan.

Marva sudah hafal polanya. Tatapan sinis, tawa menghina dan julukan-julukan sarkas yang selalu dilearkan padanya pas guru nggak ada.

“Eh, lihat tuh.” Bisikan pertama datang dari arah kanan.

“Anak miskin.”

“Masih aja maksa datang kesini.”

“Jalur beasiswa, kan?”

Tawa pun menyusul. Tidak keras. Tidak frontal. Tapi cukup untuk menusuk.

Marva tidak menoleh. Ia sudah belajar satu hal sejak tahun pertamanya bersekolah disini:

Menoleh hanya akan membenarkan hinaan mereka sebagai siswa miskin dan tidak pantas berada di sekolah mewah ini.

Ia berjalan melewati gerbang, melewati patung-patung mewah lalu menuju gedung utama. Aula besar sudah dipenuhi siswa. Layar-layar digital menailkan agenda hari ini: simulasi debat internasional, ujian persiApan universitas luar negeri, dan presentasi proyek teknologi. Semua hal yang seharusnya bisa ia gapai dan menjadi masa depannya.

“Marva.”

Suara dingin itu membuat langkahnya terhenti.

Ia mengenali suara itu tanpa perlu menoleh.

Elrian Vox.

Siswa kaya, pewaris perusahaan multinasional, dan memiliki status sosial tinggi dari hierarki tak tertulis di sekolah ini.

“Ada Apa?” jawab Marva singkat.

Elrian berdiri bersama dua siswa lain. Senyum tipis menghiasi wajahnya—bukan senyum ramah, tapi senyum orang yang tahu posisinya diatas Marva.

“Kau tahu hari ini kelompok kita akan presentasi projek ilmiah sekolah, kan?” kata Elrian santai.

“Aku harap kau tidak memalukan kami.”

“Aku sudah mengerjakan bagianku,” jawab Marva.

“Oh, tentu.” Sambil melirik sepatu Marva. “Dengan cara seadanya kan.”

Tawa kecil kembali terdengar.

Marva sempat mengepalkan tangan, lalu mengendurkannya. Ia tahu ini tidak akan mengubah Apapun.

Tanpa berkata Apa-Apa lagi, ia segera melangkah pergi.

Di lorong, ia melewati Kaela Naradis—atlet nasional yang selalu dikelilingi sorotan. Kaela meliriknya sekilas. Tidak mengejek. Tidak menyapa. Tatapan netral, seperti melihat orang asing yang kebetulan lewat.

Bagi Kaela, Marva tidak penting.

Bagi dunia, Marva tidak relevan.

Atau setidaknya… begitu yang ia kira.

Marva lalu masuk kedalam kelas dan memulai palajaran hari itu. Kelompok mereka maju, ia lalu berdiri di depan untuk menyampaikan presentasi kelompoknya. Slide belum habis tapi suara tawa kecil terdengar dari barisan belakang.

“Presentasi nya jelek!” tegur seseorang dari arah belakang.

Beberapa siswa tertawa.

Guru pembimbing hanya melirik singkat, lalu berkata datar, “Marva, presentasimu tidak… menarik.”

Tidak menarik.

Kata itu seperti tamparan.

Ia tahu maksudnya.

Bukan materinya yang salah.

Tapi siapa yang menyampaikannya.

Ia bisa menjawab. Ia bisa membantah. Tapi untuk apa? Di tempat ini, logika kalah oleh nama besar keluarga.

Saat ia kembali ke bangkunya, terdengar bisikan: “Anak beasiswa sok pinter.” “Kalau nggak ada subsidi, udah di kampung kali.”

Marva duduk. Menatap mejanya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bertanya dalam hati:

Kenapa aku terlahir miskin?

Dan untuk pertama kalinya juga… Ia berharap dunia ini runtuh.

Bel pertama berbunyi.

Para siswa lalu pergi ke aula utama untuk arahan dari Kepala Sekolah. Kepala sekolah berdiri di podium, wajahnya serius namun tetap profesional.

“Selamat pagi, siswa-siswi terbaik,” katanya. “Hari ini kita akan—”

Kata-katanya segera terputus.

Lampu di aula mulai berkedip.

Satu kali.

Dua kali.

Lalu mati.

Suara teriakan dan kepanikan langsung memenuhi ruangan.

“Ada Apa ini?”

“Listrik padam?”

“Aula inikan seharusnya pakai generator?”

Jawab siswa yang lain. Belum sempat bergerak, udara tiba-tiba berubah.

Marva merasakannya suasana yang aneh.

Seperti tekanan berat di dada mereka. Seperti dunia sedang menarik seluruh napas… lalu terasa pelan dihembuskannya kembali.

Lantai mulai bergetar.

Tapi bukan gempa.

Lebih seperti… sesuatu ada yang bangkit.

Di sisi aula, dinding mulai retak.

Retakan itu seperti kaca tak kasat mata yang dipaksa terbuka dari dalam.

Cahaya misterius tiba-tiba muncul keluar, berputar, membesar, membentuk lingkaran sihir yang melayang di lantai aula.

Seseorang berteriak, “Apa itu???!!! Portal!!!”

Lalu kekacauan pecah.

“Apa, Portal????!!!!”

“Ini hologram kan?!”

“TIDAK—!”

“LARI—!”

Tapi semua terlambat. Tarikan kuat menyapu seluruh isi gedung. Kursi terangkat. Meja melayang. Satu persatu mereka terseret ke arah portal.

Marva terhuyung. Ia mencoba meraih pegangan di dinding, tapi tarikan nya terlalu kuat.

Ia melihat Elrian berteriak meminta tolong. Kaela berusaha berdiri melawan tarikan portal.

Guru-guru coba mengendalikan situasi, tapi semua tenggelam oleh portal misterius itu. Menegaskan bahwa portal itu tak berasal dari dunia ini.

Marva melihat bahwa kakinya telah terangkat.

Dadanya sesak.

Pikirannya kosong.

Dan kemudian—

Pandangan Menjadi Gelap.

Beberapa saat kemudian, ia tersadar. Ketika Marva membuka matanya, ia tak lagi berada di aula sekolah.

[BERSAMBUNG]

1
Ara putri
bagus ceritanya
Rein Unknown: Terimakasih Kak sudah support dan mampir 😇😇😃😃
total 1 replies
Ara putri
Hay kak jika berkenan saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Rein Unknown: okok Kak, sudah mampir ya😇🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!